Logo KTF KupasTuntasFilm

Siap Bongkar Dalang Teror Pembunuhan di Desa Korup, Film "Lobang Buaya" Rilis Trailer dan Poster Menuju Tayang 1 Oktober Mendatang!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Menjelang jadwal tayang serentak di bioskop pada 1 Oktober 2026, film horor terbaru karya sutradara Hanung Bramantyo, "Lobang Buaya", resmi merilis official trailer dan final poster.

Diproduksi oleh Adhya Pictures dan Dapur Film, film ini mengangkat misteri pembunuhan berantai berlatar Indonesia tahun 1964. Karya ini menjadi wadah eksplorasi kreatif Hanung Bramantyo dalam menangkap perasaan “horror” kolektif yang kerap dirasakan masyarakat Indonesia setiap memasuki bulan September, serta kritik pedas untuk kondisi masyarakat yang relevan sampai saat ini.

Visual pada final poster langsung menampilkan kengerian yang menjadi benang merah cerita : sebuah tangan misterius tampak menembus punggung berlubang seorang wanita. Poster penuh teka-teki ini merefleksikan teror sentral yang akan dihadapi para penonton di dalam film.

Sementara itu, official trailer mengajak penonton mengikuti penyelidikan Letnan Soegeng, seorang anggota militer yang ditugaskan membongkar motif di balik pembunuhan berantai setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.

Baskara Mahendra, pemeran karakter Soegeng, menuturkan bahwa penonton akan diajak menyusun potongan petunjuk bersama karakternya

“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk ‘mencari dalang’ dibalik misteri pembunuhan berantai ini. Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang ga cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?” tutur Baskara Mahendra

Hanung Bramantyo menegaskan bahwa pendekatan horor dipilih secara sadar untuk membedah rasa takut yang dirasakan publik terhadap kondisi ketidakadilan yang terjadi pada masa tersebut, yang masih berlanjut sampai saat ini.

“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa ‘65? Jawabannya adalah horor. Saya memilih horor bukan hanya karena ingin membuat penonton merasakan ketakutan yang ada di dalam cerita, tetapi juga horor yang kita rasakan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan bagaimana manusia bisa saling menindas.” tutur Hanung.

Film Ini Menceritakan :

Setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai terhadap para tokoh desa. Korban ditemukan tewas mengenaskan dengan punggung berlubang serta sayatan kata-kata sindiran di tubuh mereka, seperti Tamak, Lamis, dan Maruk.

Saat rumor mengenai "Hantu Bolong" merebak dan tensi sosial kian memanas, Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) diutus mencari tahu dalang pembantaian tersebut.

Namun, teror tidak berhenti di situ. Istri baru Soegeng, Arum Wangi (Carissa Perusset), mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan. Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai Ronggeng membuka tabir bahwa kekacauan di desa maupun di rumahnya bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap berbahaya yang sengaja dirancang untuk mengubah arah sejarah.

Jadwal Tayang Film Lobang Buaya

Film "Lobang Buaya" dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga aktor kawakan Mathias Muchus.

Film "Lobang Buaya" dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai penjualan tiket dan materi promosi dapat diakses via media sosial resmi @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm.

More Recommendations

16 Tahun Setelah Berpisah, Film Thanapat Bertemu Bua Nalinthip sebagai Bos Stasiun TV dan Petugas Keamanan !
NEWS

16 Tahun Setelah Berpisah, Film Thanapat Bertemu Bua Nalinthip sebagai Bos Stasiun TV dan Petugas Keamanan !

Enam belas tahun setelah hubungan mereka berakhir, dua mantan kekasih dipertemukan kembali dalam keadaan yang jauh berbeda. Rangsiman telah menjadi pemimpin sebuah stasiun televisi, sedangkan Daran harus bekerja sebagai petugas keamanan demi menghidupi keluarganya.Pertemuan yang canggung itu menjadi awal cerita drama Thailand To Love and Cherish. Dibintangi Film Thanapat Kawila dan Bua Nalinthip Sakulongumpai, drama romantis ini kini dapat disaksikan di Viu dengan subtitle Indonesia.To Love and Cherish, yang memiliki judul asli Rak, mengikuti perjalanan Rangsiman dan Daran. Ketika masih muda, keduanya pernah saling mencintai. Namun, sebuah keputusan besar membuat Daran memilih mengakhiri hubungan tersebut dan meninggalkan luka yang terus dibawa Rangsiman hingga dewasa.Dalam wawancara dengan media Thailand Khaosod, Bua Nalinthip menjelaskan, “To Love and Cherish memperlihatkan berbagai bentuk cinta. Penggerak utama ceritanya adalah dua orang yang pernah menjadi cinta pertama satu sama lain, kemudian berpisah dan sama-sama membawa luka ketika kembali bertemu.”Menurut Bua, Daran merupakan karakter yang terbiasa menyimpan perasaan dan memikul semua persoalan seorang diri. Tantangan dalam memerankan karakter tersebut adalah menyampaikan tekanan batin Daran melalui ekspresi dan tatapan, terutama ketika ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara terbuka.Film Thanapat juga melihat Rangsiman sebagai karakter yang menyimpan banyak hal tanpa mengatakannya. Meskipun kehidupannya telah berubah setelah lebih dari satu dekade, sebagian dari dirinya masih membawa hati dan luka Rangsiman muda. Kebohongan enam belas tahunDikutip dari TrueVisions, kebohongan yang disampaikan Daran 16 tahun lalu melukai Rangsiman, tetapi pada saat yang sama melindungi sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Ketika keduanya kembali bertemu sebagai orang asing, rahasia yang selama ini disimpan Daran perlahan mulai sulit dipertahankan. Masa lalu tersebut kembali mendekati mereka ketika Daran menerima pekerjaan sebagai petugas keamanan di MJTV, stasiun televisi yang dipimpin Rangsiman. Bagi Daran, pekerjaan itu diperlukan untuk membantu biaya pengobatan ibunya dan menopang keluarganya. Namun, keputusannya bekerja di sana justru membawanya kembali kepada orang yang selama ini berusaha ia hindari.Perbedaan keadaan mereka membuat pertemuan itu semakin rumit. Daran yang dahulu dikenal sebagai pelajar berprestasi dengan masa depan menjanjikan kini harus mengesampingkan impiannya. Sementara itu, Rangsiman telah tumbuh menjadi figur berkuasa, tetapi belum sepenuhnya terbebas dari kemarahan akibat perpisahan mereka.Pertemuan Film dan Bua sekaligus menghadirkan pasangan baru dalam drama Thailand. Kepada Khaosod, Film mengaku belum pernah bekerja atau berbincang dengan Bua sebelum proyek ini. Namun, ketika mulai beradu akting, keduanya merasa mudah menyelaraskan permainan. Bua juga menilai Film sebagai rekan yang mampu berkomunikasi kuat melalui tatapan.Perjalanan Rangsiman dan Daran pada masa muda diperankan Aston Ratiphat Luengvoraphan dan Neeya Makela. Kehadiran dua aktor muda ini membantu penonton melihat perubahan hubungan mereka, dari cinta pertama yang hangat hingga pengalaman pahit yang membentuk kedua karakter ketika dewasa.Selain Film Thanapat, Bua Nalinthip, Aston Ratiphat, dan Neeya Makela, drama ini juga dibintangi Boss Chaikamon Sermsongwittaya, Pond Ponlawit Ketprapakorn, Carissa Springett, Pym Pympan Chalayanacupt, serta Freya Panisara Krittikulpakin.To Love and Cherish memperlihatkan bagaimana keputusan yang dibuat atas nama cinta dapat memengaruhi kehidupan banyak orang. Rangsiman dan Daran mungkin masih memiliki perasaan yang sama, tetapi mereka tidak dapat melanjutkan hubungan tersebut tanpa terlebih dahulu menghadapi kebohongan, kemarahan, dan konsekuensi dari pilihan 16 tahun lalu.Drama Thailand berjumlah 10 episode ini disutradarai Chudapa Chantakett dan diadaptasi dari novel Rak karya Ratree Prayer. To Love and Cherish dapat disaksikan di Viu dengan subtitle Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 05 Sep 2026
VIDEO
UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast
MOVIE
3.8

UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast

Undertone (2025) menjadi salah satu film horor produksi A24 yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan horor modern pada umumnya. Disutradarai oleh Ian Tuason, film ini tidak mengejar ketakutan instan melalui rentetan jumpscare. Sebaliknya, Undertone memilih membangun rasa cemas secara perlahan melalui atmosfer yang sunyi, desain suara yang presisi, serta tekanan psikologis yang terus meningkat hingga klimaks.Premis yang diangkat terasa segar dan tidak biasa. Cerita berpusat pada sebuah lagu misterius yang diyakini menyimpan pesan tersembunyi ketika diputar secara terbalik. Penemuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam sebuah podcast, namun semakin jauh mereka menyelidikinya, semakin banyak kejadian ganjil yang sulit dijelaskan secara logis. Ide mengenai backmasking dipadukan dengan dunia podcast membuat misteri yang disajikan terasa relevan dengan era digital, sekaligus memberikan identitas tersendiri di tengah banyaknya film horor bertema supranatural.Keheningan Menjadi Kunci Dari FilmYang paling menonjol dari Undertone adalah kemampuannya menciptakan rasa tidak nyaman melalui keheningan. Ian Tuason memahami bahwa rasa takut tidak selalu harus muncul dari sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul di layar. Sebaliknya, kamera yang diam terlalu lama, ruangan yang nyaris tanpa suara, hingga efek audio yang samar mampu membuat penonton terus berada dalam kondisi waspada. Ketegangan dibangun sedikit demi sedikit, sehingga ketika momen-momen penting akhirnya datang, dampaknya terasa jauh lebih efektif.Desain suara menjadi elemen yang sangat vital dalam film ini. Mengingat premisnya berkaitan erat dengan musik dan rekaman audio, setiap detail suara memiliki peran penting dalam membangun atmosfer. Bisikan, dengungan frekuensi rendah, hingga distorsi suara dimanfaatkan bukan sekadar sebagai efek, tetapi menjadi bagian dari narasi yang perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan halusinasi. Penggunaan audio yang minimalis justru memperkuat kesan mencekam dan membuat penonton ikut larut dalam paranoia yang dialami para karakter.Akting Dari Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, Nina Kiri memberikan performa yang sangat kuat sebagai Evy. Ia berhasil menggambarkan perubahan emosi karakternya secara bertahap, mulai dari rasa penasaran, kegelisahan, hingga ketakutan yang perlahan menggerogoti kondisi mentalnya. Ekspresi yang subtil dan permainan emosinya membuat perjalanan psikologis Evy terasa autentik dan mudah diikuti.Di sisi lain, Adam DiMarco sebagai Justin tampil lebih tenang, namun tetap mampu menghadirkan emosi yang dalam. Chemistry antara keduanya terasa natural, sehingga hubungan mereka menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat penonton semakin peduli terhadap nasib para karakter ketika misteri mulai berkembang menjadi ancaman yang nyata.Sinematografi Yang Simpel Namun Tetap TegangSecara visual, sinematografi Undertone juga patut diapresiasi. Dominasi pencahayaan redup, komposisi gambar yang rapi, serta penggunaan ruang kosong dalam banyak adegan berhasil memperkuat kesan isolasi dan kesunyian. Film ini memanfaatkan ruang negatif dengan efektif, membuat penonton terus merasa ada sesuatu yang mengintai meskipun layar tampak kosong. Pendekatan visual seperti ini selaras dengan tema psikologis yang diusung dan menjadi salah satu alasan mengapa atmosfer film terasa begitu melekat.Meski memiliki tempo yang relatif lambat, ritme tersebut justru menjadi bagian dari identitas film. Penonton yang menyukai horor penuh aksi mungkin akan merasa film ini berjalan terlalu perlahan. Namun bagi pencinta horor atmosferik dan psikologis, tempo tersebut memberikan ruang untuk menikmati setiap petunjuk, membangun teori sendiri, sekaligus merasakan tekanan yang terus meningkat hingga akhir cerita.KesimpulanPada akhirnya, Undertone bukan sekadar film tentang kutukan atau fenomena supranatural. Film ini mengeksplorasi rasa takut yang muncul dari obsesi, rasa penasaran, serta bagaimana suara—sesuatu yang biasanya dianggap biasa—dapat berubah menjadi sumber teror yang menghantui pikiran.Dengan penyutradaraan yang matang, desain suara yang luar biasa, sinematografi yang elegan, dan performa akting yang solid, Undertone berhasil menjadi horor psikologis yang meninggalkan kesan mendalam bahkan setelah kredit penutup bergulir.Film ini sukses menghadirkan pengalaman menonton yang menghantui, sekaligus menjadi salah satu horor atmosferik paling menarik di tahun 2025.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Jul 2026
VIDEO
Film Kung Fu Soccer : Stephen Chow Kembali dengan Kekocakan Kung Fu dan Sepak Bola!
MOVIE
3.5

Film Kung Fu Soccer : Stephen Chow Kembali dengan Kekocakan Kung Fu dan Sepak Bola!

Setelah cukup lama tidak menghadirkan film layar lebar sebagai sutradara, Stephen Chow akhirnya kembali dengan Kung Fu Soccer (2026).Film aksi, komedi, dan olahraga ini menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian karena membawa kembali formula yang pernah membuat Shaolin Soccer (2001) begitu ikonik: sepak bola, seni bela diri, aksi berlebihan, komedi absurd, serta karakter-karakter underdog yang berusaha membuktikan kemampuan mereka. Film ini juga menjadi film layar lebar pertama Chow sebagai sutradara setelah The New King of Comedy (2019).Namun, Kung Fu Soccer bukan sekadar mengulang cerita Shaolin Soccer. Kali ini Stephen Chow mengarahkan cerita kepada sebuah tim sepak bola wanita bernama Emei yang harus menghadapi berbagai tantangan dalam turnamen Supreme Invincible Cup. Tim tersebut dipimpin oleh Shuangshuang yang diperankan Zhang Xiaofei, bersama Yu Long yang diperankan Dilraba Dilmurat dan Xu Feng yang diperankan Yixing Zhang.Kembali Ke Formula Stephen ChowSalah satu alasan utama mengapa Kung Fu Soccer terasa menarik adalah karena film ini benar-benar membawa kembali gaya penyutradaraan Stephen Chow.Stephen Chow masih sangat memahami bagaimana menggabungkan komedi slapstick, ekspresi wajah yang berlebihan, dialog kocak, adegan aksi yang tidak masuk akal, serta momen-momen yang sengaja dibuat absurd. Bahkan ketika pertandingan sepak bola berlangsung serius, selalu ada saja kejadian yang membuat suasananya berubah menjadi komedi. Inilah yang membuat film ini terasa seperti karya Stephen Chow.Ada banyak adegan yang seolah-olah mengatakan kepada penonton bahwa mereka tidak perlu terlalu serius ketika menonton film ini. Logika dan hukum fisika bisa ditinggalkan sementara karena yang ingin diberikan Chow adalah hiburan.Konsep kung fu yang diterapkan ke dalam sepak bola juga menjadi daya tarik tersendiri. Tendangan, gerakan tubuh, dan berbagai teknik bela diri dikemas seperti sebuah pertarungan besar, tetapi tetap dengan sentuhan humor.Buat penggemar Shaolin Soccer, formula seperti ini tentu akan terasa sangat familiar.Bahkan secara konsep, Kung Fu Soccer bisa dianggap sebagai penerus spiritual Shaolin Soccer, bukan sekadar film olahraga biasa. Keduanya sama-sama memadukan seni bela diri dengan sepak bola dan menghadirkan kelompok underdog yang harus berjuang menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih kuat.Akting Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, jajaran pemain Kung Fu Soccer tampil cukup baik.Zhang Xiaofei sebagai Shuangshuang mampu menjadi pusat perhatian sebagai karakter utama. Ia bisa membawa sisi serius ketika cerita membutuhkannya, tetapi juga mampu mengikuti ritme komedi yang menjadi identitas film.Dilraba Dilmurat juga memberikan penampilan yang menyenangkan. Kehadirannya memberikan energi tersendiri, terutama ketika film mulai memasuki bagian pertandingan.Sementara Yixing Zhang juga cukup menarik sebagai bagian penting dari perjalanan tim.Selain ketiganya, film ini diperkuat oleh deretan pemeran pendukung seperti Mi Ai, Jin Au-Yeung, Louis Cheung, Sisley Choi, Jacob Gau, Carina Lau, Jiayue Li, Zhao Lina, Takeru Satoh, Larine Tang, Jimmy O. Yang, dan Isabelle Zhang.Menariknya, film ini juga membawa sejumlah nama besar Asia sebagai bagian dari jajaran pemainnya. Takeru Satoh dan Carina Lau menjadi salah satu nama yang cukup mencuri perhatian dari jajaran cast.Ceritanya Sederhana , Namun KuatDari segi cerita, Kung Fu Soccer tidak mencoba membuat alur yang terlalu rumit.Fokus utamanya adalah perjalanan tim sepak bola wanita Emei dalam menghadapi berbagai rintangan sampai mereka bisa membuktikan kemampuan di kompetisi besar.Cerita seperti ini sebenarnya sangat familiar namun, kesederhanaan tersebut justru membuat film mudah diikuti.Alurnya tidak berbelit-belit dan penonton bisa dengan cepat memahami tujuan setiap karakter. Film juga tidak terlalu sibuk memasukkan banyak konflik yang justru bisa mengganggu fokus utama.Meski begitu, Kung Fu Soccer tetap memberikan beberapa momen emosional sehingga film tidak hanya berisi komedi dari awal sampai akhir.Komedi Yang Kocak & AbsurdKalau ada satu hal yang paling terasa dari Kung Fu Soccer, tentu saja adalah komedinya.Stephen Chow masih menggunakan jenis humor yang menjadi ciri khasnya: absurd, slapstick, spontan, dan terkadang sengaja dibuat berlebihan.Ada beberapa part yang benar-benar berhasil membuat tertawa karena timing komedinya cukup tepat. Bahkan dalam beberapa adegan pertandingan, sesuatu yang awalnya terlihat serius bisa berubah menjadi lelucon hanya karena ekspresi karakter atau situasi yang tidak terduga.Yang menarik, humor dalam film ini tidak hanya muncul dari dialog. Banyak juga komedi visual yang memanfaatkan gerakan tubuh, editing, efek visual, hingga reaksi para karakter.Buat penonton yang memang cocok dengan gaya komedi Stephen Chow, bagian ini kemungkinan besar menjadi salah satu alasan utama menikmati filmnya.Ada Momen Sedih Di Balik KekocakanWalaupun identitas utamanya adalah film komedi, Kung Fu Soccer tidak melupakan sisi emosional.Beberapa bagian cerita memberikan ruang bagi karakter untuk memperlihatkan perjuangan, tekanan, kegagalan, dan alasan mereka tetap bertahan.Momen-momen tersebut membuat karakter terasa sedikit lebih manusiawi.Perubahan suasana dari komedi menuju adegan yang lebih emosional juga cukup menarik. Penonton yang awalnya tertawa bisa tiba-tiba diajak melihat sisi lain dari karakter-karakternya.Memang tidak semua momen emosionalnya memiliki kedalaman yang luar biasa, tetapi cukup untuk memberikan keseimbangan agar film tidak terasa seperti kumpulan sketsa komedi semata.Adegan Musikal Yang Menambah WarnaSelain kung fu, sepak bola, komedi, dan drama, Kung Fu Soccer juga mempunyai beberapa bagian musikal.Elemen ini memang bukan bagian terbesar dari film, tetapi cukup memberikan variasi.Bagian musikal membuat film terasa semakin ringan dan semakin dekat dengan gaya hiburan Stephen Chow yang memang sering mencampurkan berbagai elemen dalam satu film.Ketika sebuah film sudah mempunyai pertandingan sepak bola, aksi kung fu, komedi absurd, dan drama, kehadiran beberapa bagian musikal justru membuat pengalaman menontonnya semakin unik.Punya Sinematografi & CGI Yang BagusSecara visual, Kung Fu Soccer juga tampil cukup menarik.Adegan pertandingan sepak bola dibuat lebih spektakuler dengan penggunaan kamera yang dinamis serta koreografi yang menggabungkan gerakan sepak bola dengan seni bela diri.CGI juga digunakan untuk memperbesar skala aksi. Tendangan yang biasanya hanya terlihat sebagai tendangan biasa dapat dibuat menjadi sebuah serangan dengan efek yang jauh lebih fantastis.Memang, CGI dalam film seperti ini tidak harus selalu terlihat realistis karena sejak awal Kung Fu Soccer memang bermain di wilayah fantasi dan komedi.Justru visual yang berlebihan tersebut menjadi bagian dari identitas film.Hal ini juga mengingatkan kembali pada Shaolin Soccer, yang terkenal dengan penggunaan efek visual untuk membuat pertandingan sepak bola terasa seperti pertarungan superhero.Stephen Chow Masih Punya Sentuhan MagisnyaHal paling menarik dari Kung Fu Soccer adalah bagaimana Stephen Chow masih mampu mempertahankan identitasnya sebagai seorang filmmaker.Setelah bertahun-tahun, gaya khasnya masih sangat mudah dikenali.Film ini tidak berusaha menjadi film sepak bola yang realistis. Tidak juga mencoba menjadi film kung fu yang serius.Dan menurut MINPAS , keputusan tersebut adalah pilihan yang tepat.Film ini mungkin tidak akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi penonton yang sudah sangat mengenal karya-karya Stephen Chow. Beberapa formula bahkan terasa seperti nostalgia terhadap karya-karya lamanya. Tetapi justru di situlah kesenangannya.Menonton Kung Fu Soccer seperti kembali melihat Stephen Chow bermain dengan dunia yang absurd, karakter underdog, aksi yang tidak masuk akal, dan komedi yang sengaja dibuat kelewat batas.KesimpulanKung Fu Soccer (2026) adalah comeback yang cukup menyenangkan dari Stephen Chow sebagai sutradara.Cerita yang sederhana dan tidak berbelit-belit membuat film mudah dinikmati.Akting para pemainnya juga cukup bagus, sementara komedi absurd khas Stephen Chow menjadi salah satu kekuatan terbesar film.Untuk SOBAT KTF jangan berharap Kung Fu Soccer bisa sepenuhnya mengulang keajaiban Shaolin Soccer ya...Kung Fu Soccer cukup berhasil membawa kembali formula Stephen Chow ke layar lebar dan jelas terasa seperti surat cinta Stephen Chow kepada salah satu formula paling ikonik dalam kariernya.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Aug 2026
Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan
MOVIE
2.3

Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan

Film horor Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam menyampaikan rasa takut. Tidak semuanya harus mengandalkan jumpscare atau sosok menyeramkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Hasut mencoba mengambil jalur tersebut dengan menghadirkan psychological horror yang lebih banyak bermain dengan pikiran, ketakutan, prasangka, serta kondisi psikologis para karakternya.Film ini digarap sekaligus ditulis oleh Ilya Sigma, dengan bantuan Priesnanda Dwisatria. Hasut mencoba membangun kengerian melalui kondisi mental karakter dan bagaimana sebuah pikiran negatif dapat berkembang menjadi sesuatu yang semakin mengganggu.Psychological Horror yang Bermain dengan PikiranSalah satu hal yang cukup menarik dari Hasut adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan jumpscare sebagai sumber ketakutan. Film ini lebih banyak mengajak penonton masuk ke dalam kondisi psikologis karakter dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.Rasa takut dalam film ini muncul dari ketidakpastian. Penonton diajak untuk ikut merasakan kegelisahan, kecurigaan, dan tekanan yang dialami oleh karakter-karakternya. Pendekatan seperti ini membuat Hasut terasa berbeda dibandingkan film horor yang lebih konvensional.Ketika sebuah film psychological horror berhasil membuat penonton mempertanyakan apakah sesuatu yang terjadi benar-benar nyata atau justru merupakan bagian dari kondisi psikologis karakter, di situlah rasa tidak nyaman mulai terbentuk.Hasut memiliki beberapa momen yang mencoba memainkan hal tersebut. Film tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, sehingga penonton harus memperhatikan situasi dan perubahan karakter untuk memahami apa yang sedang terjadi.Musuh Terbesar Bisa Datang dari Pikiran SendiriPesan yang paling terasa dari Hasut adalah bagaimana terkadang musuh terbesar kita justru adalah pikiran kita sendiri.Ketakutan, prasangka, kecemasan, dan pikiran negatif yang terus berkembang dapat memengaruhi cara seseorang melihat keadaan di sekitarnya. Sesuatu yang awalnya mungkin terlihat sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan ketika terus dipenuhi oleh rasa takut dan kecurigaan.Inilah salah satu aspek yang membuat Hasut cukup menarik untuk dibahas. Film ini tidak hanya berusaha membuat penonton takut terhadap sesuatu yang berada di luar diri mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pikiran manusia sendiri dapat menjadi sumber teror.Konsep tersebut sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan. Ketika ketakutan dan pikiran negatif mulai mengambil alih, batas antara realitas dan persepsi menjadi semakin sulit dibedakan. Akting Dari Para PemainDari sisi pemain, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova mampu memberikan penampilan yang cukup bagus.Keempat pemain berhasil membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan, terutama ketika harus menunjukkan sisi emosional dan tekanan psikologis yang menjadi bagian penting dari film.Karena Hasut lebih banyak bermain pada kondisi mental karakter, ekspresi, gestur, serta perubahan emosi menjadi bagian yang cukup penting. Para pemain mampu memberikan energi yang sesuai dengan atmosfer film sehingga ketegangan yang dibangun tetap terasa.Chemistry antarpemain juga cukup membantu dalam membuat hubungan antarkarakter terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi bagian dari cerita horor.Sayangnya, Tidak Semua Misteri Terjawab dengan Memuaskan. Meskipun memiliki konsep yang menarik, Hasut masih memiliki beberapa kekurangan dalam eksekusinya.Ada beberapa elemen cerita yang terasa belum dijelaskan dengan cukup jelas. Latar belakang beberapa karakter juga terasa terlalu singkat sehingga perkembangan dan motivasi mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup. Hal tersebut kemudian membuat beberapa bagian film terasa menyisakan pertanyaan. Setelah film selesai, masih ada beberapa hal yang membuat bertanya-tanya mengenai maksud maupun alasan di balik kejadian tertentu.Sebenarnya, meninggalkan pertanyaan kepada penonton bukan sesuatu yang selalu menjadi masalah dalam film psychological horror. Justru, film dengan genre seperti ini memang sering memberikan ruang untuk interpretasi.Namun, perbedaannya adalah antara misteri yang sengaja dibiarkan terbuka dengan informasi yang terasa seperti belum mendapatkan penjelasan yang cukup. Hasut terkadang berada di antara keduanya, sehingga beberapa bagian terasa kurang maksimal dalam menyampaikan keseluruhan ceritanya.KesimpulanDengan konsep psychological horror yang menarik, pesan yang cukup kuat, serta penampilan para pemain yang solid, Hasut berhasil memberikan pendekatan horor yang berbeda. Namun, eksekusinya masih memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam memberikan penjelasan terhadap sejumlah elemen cerita dan latar belakang karakter.Film ini cocok untuk SOBAT KTF yang menyukai film horor psychological, cerita yang bermain dengan kondisi mental karakter, serta horor yang membuat penonton ikut berpikir dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pieter Siaahan 02 Oct 2026
VIDEO
Pemenang Palme D’Or Fjord Jadi Pembuka Jakarta World Cinema 2026 dan Inherit karya Banjong Pisanthanakun Jadi Penutup!
NEWS

Pemenang Palme D’Or Fjord Jadi Pembuka Jakarta World Cinema 2026 dan Inherit karya Banjong Pisanthanakun Jadi Penutup!

JAKARTA, INDONESIA (1 Oktober 2026) — Menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi utama bagi sinema dunia di Asia Tenggara, Jakarta World Cinema (JWC) hari ini mengumumkan program film edisi 2026 dalam acara konferensi pers di CGV Fx Sudirman, Jakarta. Tahun ini, JWC akan menghadirkan 207 film dari 69 negara, dengan lineup impresif yang mencakup 120 film peraih penghargaan dari berbagai festival film paling bergengsi di dunia.Kurasi JWC 2026 tahun ini semakin memperkuat komitmennya terhadap keberagaman dan film-film yang menjadi sorotan di kancah penghargaan internasional.Lineup tersebut mencakup 96 film Asia, 41 film yang disutradarai perempuan, serta 20 film yang menjadi perwakilan resmi negara masing-masing untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99.JWC 2026 akan dibuka secara resmi dengan pemutaran film Fjord karya Cristian Mungiu, yang baru saja meraih Palme d’Or Cannes 2026. Sementara itu, festival akan ditutup dengan pemutaran perdana di Indonesia film horor terbaru garapan sineas Thailand Banjong Pisanthanakun (The Medium, Shutter), Inherit, yang kembali menghadirkan kisah horor dengan ciri khasnya.Deretan film internasional yang hadir di festival tahun ini mencerminkan panorama sinema dunia paling menonjol sepanjang tahun. Audiens akan berkesempatan menyaksikan Minotaur karya Andrey Zvyagintsev, peraih Grand Prix Festival de Cannes 2026; All of a Sudden karya Ryūsuke Hamaguchi, yang mengantarkan aktris utamanya meraih Best Actress Cannes 2026; serta film terbaru Jesse Eisenberg, The Debut.Lineup tersebut juga mencakup Naza karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, peraih Special Jury Prize Venice 2026, serta Woman Unknown karya May el-Toukhy, yang baru saja memenangkan Golden Lion Venice 2026. Melengkapi pencapaian bersejarah tersebut, Yellow Letters karya Ilker Çatak, pemenang Golden Bear untuk Film Terbaik di Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026, juga masuk dalam program pemutaran daring JWC. Kehadiran ketiga pemenang penghargaan tertinggi dari Cannes, Venesia, dan Berlin dalam satu edisi menjadikan JWC 2026 sebuah perhelatan festival film internasional yang istimewa.Menambah bobot program festival tahun ini, sinematografer ternama Tudor Vladimir Panduru, penata sinematografi di balik visual memukau film pembuka Fjord, akan hadir secara langsung di Jakarta. Panduru akan memberikan sesi masterclass eksklusif, berbagi wawasan mendalam mengenai proses kreatif dan pendekatan sinematografinya kepada para sineas, pelaku industri, serta pecinta film Indonesia.“Visi kami untuk Jakarta World Cinema sejak awal adalah menjembatani sinema kelas dunia dengan audiens di Indonesia, sekaligus menempatkan Jakarta sebagai salah satu pusat cinema culture penting di kawasan Asia Tenggara,” ujar Frederica, Executive Director JWC. “Misi kami adalah menciptakan ruang yang inklusif, tempat keunggulan sinematik dapat melampaui batas-batas negara. Dengan menghadirkan film-film penting ini ke layar Indonesia, kami berharap dapat memantik percakapan, menginspirasi para pembuat film lokal, dan merayakan kekuatan sinema.”Festival Director JWC, Shandy Gasella, menekankan arti penting kurasi tahun ini bagi penonton Indonesia.“Menghadirkan 120 film peraih penghargaan saja sudah merupakan pencapaian besar. Namun, dapat menghadirkan sekaligus para pemenang Golden Bear, Palme d’Or, dan Golden Lion dalam satu edisi merupakan pencapaian tersendiri yang sangat berarti bagi kami,” ujar Shandy. “Bagi para penikmat film di Indonesia, JWC menjadi kesempatan langka untuk merasakan denyut utama sinema dunia kontemporer secara langsung. Film-film ini bukan sekadar karya sinema, tetapi suara-suara yang berani, dan relevan. Akses terhadap sinema dengan kualitas seperti ini di dalam negeri dapat membawa perubahan besar bagi perkembangan kultur sinema di Indonesia.”Program pemutaran daring tersedia melalui KlikFilm sepanjang 31 Oktober–21 November 2026. Dengan demikian, audiens dari berbagai penjuru Nusantara dapat turut menikmati rangkaian sinema dunia yang dihadirkan JWC 2026 tanpa harus datang ke Jakarta.Informasi tiket, jadwal lengkap festival, serta informasi lebih lanjut mengenai masterclass Tudor Vladimir Panduru akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang melalui situs web dan media sosial resmi Jakarta World Cinema.

Admin Kupas Tuntas Film 01 Oct 2026
Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!
NEWS

Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!

Tonton film Agensi Rumah Tangga mulai 10 September 2026 di bioskop!! Jakarta, 3 September 2026 — Setelah sukses dengan drama komedi dan drama keluarga, sutradara pencetak blockbuster Naya Anindita kini menggarap film komedi perdananya, Agensi Rumah Tangga, persembahan Starvision, bekerjasama dengan Legacy Pictures, Vortera Studios, dan Navvaros, dari produser Chand Parwez Servia. Film Agensi Rumah Tangga diadaptasi dari novel best seller Almira Bastari, dengan naskah yang ditulis oleh Upi dan Ayu Anggraini Putri. Film ini membawa kisah yang hangat dari Katia (Enzy Storia), yang kena PHK dan akhirnya membangun bisnis agensi penyaluran pekerja rumah tangga. Film Agensi Rumah Tangga menjadi eksplorasi terbaru Naya dengan genre komedi, yang menampilkan jajaran komika perempuan sebagai para ART yang ikonik. Mereka berhasil menyampaikan komedi-komedi baik secara dialog hingga adegan dengan penuh kekacauan yang membuat penonton terhibur dan ngakak.“Ini pertama kalinya ada 7 komika perempuan bermain dalam satu judul film. Agensi Rumah Tangga akan membuat penonton menikmatinya dengan cerita yang seru, komedi yang kocak, dan drama yang menyentuh,” ujar produser Chand Parwez Servia.Tak hanya menampilkan komedi, film Agensi Rumah Tangga juga membawa isu yang penting dan dekat. Lewat jajaran para pekerja rumah tangga serta para karakter pekerja perempuan, film ini juga berbicara mengenai pentingnya memberikan kelayakan hak untuk para pekerja domestik.“Aku melihat ART itu terkadang dianggap seperti sebuah fasilitas dalam rumah tangga. Padahal mereka ini juga pekerja, staf, sama seperti kita yang juga pekerja. Untuk itu, film ini juga ingin memantik diskusi bahwa sudah seharusnya kita memperlakukan para ART juga sama seperti kita. Film ini membawa kisah yang penting, meski dikemas dengan ringan dan komedi,” ujar sutradara Naya Anindita.Agensi Rumah Tangga dibintangi oleh Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, Unique Priscilla, Tike Priatnakusumah, Nada Novia, Dea Panendra, Astrid Juwita, Nury Zhafira, Farrell Rafisqy, Khalif Al Juna, Sheila Dara, Hesti Purwadinata, Lulu Tobing, Febby Rastanty, Dayu Wijanto, Nazira C Noer, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Niky Putra, Mario Caesar, Kev, Oline Mendeng, Yono Bakrie, Marchella FP, Rendha Rais, Reza Chandika, Arvino Ramadhan, Oki DM, Anyun Cadel, Elia Margaretha, Yudha Brajamusti, McDanny, Shela Lala, Vadie Akbar, Dian Iyoy, dll. Sementara itu, jajaran komika perempuan terbanyak hadir di film ini, mereka di antaranya adalah Ummi Quary, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Nury Zhafira, dan Mega Salsabila.“Ini cerita yang relate dan semoga untuk yang menonton jadi lebih bisa menghargai kerja para ART yang sudah banyak membantu pekerjaan sehari-hari kita. Film ini juga punya komedi yang sangat lucu dengan komedi-komedi yang diberikan para komika perempuannya. Semoga hangat dan tawanya sampai ke hati penonton,” ujar Enzy Storia.“Film Agensi Rumah Tangga menjadi penanda yang spesial bagi saya karena bertepatan dengan 18 tahun saya merayakan perjalanan bermusik. Di tahun ini, Naya memberikan kesempatan saya untuk mengeksplorasi tantangan baru lewat peran Kafka di film ini, bergabung bersama para pemeran yang luar biasa, dan ceritanya yang hangat, komedinya juga sangat menghibur,” ujar Afgansyah Reza.Ikuti perkembangan terbaru film Agensi Rumah Tangga melalui Instagram @FilmAgensiRumahTangga, @Starvisionplus, @LegacyPictures, @VorteraStudios, @Navvaros.entertainment dan TikTok @StarvisionOfficial.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
Arya Saloka Deg-Degan Baca Al-Qur’an, Ternyata Sudah Pendalaman Jadi Ustaz Duluan Sebelum Main Film Munafik: Melawan Iblis!
NEWS

Arya Saloka Deg-Degan Baca Al-Qur’an, Ternyata Sudah Pendalaman Jadi Ustaz Duluan Sebelum Main Film Munafik: Melawan Iblis!

Tonton film Munafik: Melawan Iblis di bioskop sekarang!Jakarta, 3 September 2026 — Film horor Munafik: Melawan Iblis persembahan Unlimited Production tayang mulai hari ini, 3 September 2026 di seluruh bioskopIndonesia! Sebelumnya, Munafik: Melawan Iblis sudah mendapat respons positif dengan terjual habis seluruh tiket special screening di berbagai kota.Film yang dibintangi Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, dan Nova Eliza ini membawa kisah yang menyentuh tentang keikhlasan dari takdir yang diberikan, dengan kemasan horor yang juga memberikan hiburan.Salah satu yang menarik di film ini adalah saat Arya Saloka berproses menjadi karakter utama, Ustaz Adam. Banyak penonton memuji perannya sebagai Ustaz Adam karena tampil meyakinkan dan mampu melafalkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara fasih.Namun, sebenarnya, untuk mencapai titik itu, Arya sempat harus belajar ulang bahkan dari level Iqro’. Arya juga selalu deg-degan saat membaca ayat Al-Qur’an di film Munafik: Melawan Iblis.“Yang membuat saya deg-degan adalah pelafalan saya membaca ayat-ayat Al-Qur’an.Selama persiapan, saya punya teman stres, dengan Dimas Aditya. Proses itulah yang sangat menyenangkan buat saya dari reading naskah, belajar tentang rukiah dan belajar dengan seorang ustaz yang membimbing dalam hafalan Al-Qur’an,” ujar Arya Saloka.“Saya belajar ulang dari Iqro’, jadi membenarkan pelafalan. Banyak obstacle, panjang-pendek, huruf per huruf, agar betul-betul ketika yang nonton film ini bisa merasakan bahwa kami memang seorang ustaz, dan fasih dalam membaca, jangan cuma sekadarnya,” tambah Arya.“Alhamdulillah saat proses ADR untuk dubbing ulang, untuk bacaan Al-Qur’annya minim sekali dubbing ulang, hampir semuanya murni dengan pelafalan kami yang ada di set syuting.”Sementara itu, Dimas Aditya, yang memerankan Ustaz Anwar di film ini, yang menjadi rekan rukiah Ustaz Adam, mengungkapkan bahwa Arya Saloka juga sebenarnya sudah lebih dulu melakukan pendalaman secara spiritual sebelum film Munafik: Melawan Iblis. Sehingga menurut Dimas, Arya sangat cocok menjadi Ustaz Adam dan ia takjub dengan hafalan Al-Qur’annya yang sangat cepat dalam waktu singkat.Saat memerankan Ustaz Adam yang mampu merukiah, Arya pun memiliki perspektif baru tentang proses rukiah. Sebelumnya, Arya melihat rukiah hanya sebagai proses pengusiran setan atau iblis di dalam tubuh manusia.“Saat saya masih kecil, pernah lihat langsung rukiah, di masjid dekat rumah saya saat ada rukiah massal. Dan memang yang terjadi ya orang-orang meraung, saat itu yang ada di kepala saya, yang saya lihat, mungkin hampir sama seperti tontonan yang ada di televisi. Namun ternyata setelah mempelajari secara khusus di film Munafik: Melawan Iblis, rukiah lebih dari itu, dan bukan soal pengusiran iblis. Tapi bagaimana proses rukiah juga berkaitan dengan psikologi,” terang Arya. Bagi Arya, film Munafik: Melawan Iblis memiliki kedekatan cerita dengan banyak orang. Film ini tak hanya mengandalkan horor jumpscare yang menakut-nakuti, tapi juga memiliki kedalaman cerita.“Mungkin hampir banyak manusia di alam ini masih dalam kategori munafik. Saya juga ada di dalam golongan itu, tapi mudah-mudahan Allah hindarkan. Terkadang apa yang kita bicarakan belum tentu sesuai dengan perilakunya. Di film ini tidak cuma masalah horor, ketakutannya, jumpscare, tapi lengkap. Dan dari karakter Ustaz Adam, kita bisa belajar untuk menerima dan ikhlas,” tutup Arya.Tonton film Munafik: Melawan Iblis di bioskop sekarang! Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026