Logo KTF KupasTuntasFilm

Rilis Poster Dan Trailer Ben, Made dan Saged Siap Mengajak Penonton Menebak Apa yang Sebenarnya Terjadi di Ketok Mejik

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita

By Admin Kupas Tuntas Film | | 57 views

Drama komedi terbaru dari HAHA Production memperlihatkan perjalanan tiga sahabat , Namun masih menyimpan banyak kejutan dan pertanyaan


Setelah mencuri perhatian melalui rangkaian kontennya, FILM KETOK MEJIK resmi meluncurkan official poster dan official trailer yang digelar di Plaza Senayan, Jakarta. Untuk pertama kalinya, publik diajak melihat sekilas dunia di balik sebuah bengkel yang tampak sederhana, sekaligus berkenalan dengan Ben (Ananta Rispo), Made (Tarra Budiman), dan Saged (Dodit Mulyanto), tiga sahabat yang menjadi pusat cerita. Namun alih-alih mengungkap keseluruhan kisah, poster dan trailer tersebut justru menyisakan rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.

Tidak hanya memperkenalkan karakter utamanya, official poster dan trailer FILM KETOK MEJIK mulai membuka dunia cerita yang menjadikan bengkel sebagai ruang untuk bercerita. Lewat interaksi Ben, Made dan Saged, film ini menghadirkan komedi dengan karakter-karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap menyimpan sisi emosional di balik setiap tawa yang hadir.

Disutradarai oleh Yogi S. Calam, FILM KETOK MEJIK hadir sebagai drama komedi yang mengutamakan kekuatan karakter dan hubungan antar tokohnya. Menghadirkan humor yang dekat dengan keseharian, film ini juga menyimpan lapisan drama tentang bagaimana seseorang berusaha memperbaiki keadaan ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.

Menurut Yogi S. Calam, trailer sengaja dibuat sebagai pengantar agar penonton mengenal karakter-karakter dalam film.

"Kami ingin penonton mengenal Ben, Made dan Saged terlebih dahulu. Masih banyak bagian dari perjalanan mereka yang belum kami tampilkan karena kami ingin pengalaman menontonnya tetap utuh ketika film ini tayang di bioskop."


Produser Handoko mengatakan bahwa hubungan antar tokoh menjadi salah satu kekuatan utama film ini

"Film ini berangkat dari kisah tiga sahabat yang sama-sama ingin memperbaiki hidup mereka. Official trailer baru memperlihatkan sedikit dari perjalananmereka. Sisanya akan berkembang seiring cerita di dalam film.


Diproduksi oleh HAHA Production bersama AZ Films dan Kita Films, Film ini didukung oleh Show Token, Iscorpio, dan EsaFX. FILM KETOK MEJIK dijadwalkan tayang dibioskop mulai 13 Agustus 2026.

Melalui perilisan official poster dan trailer, penonton telah mendapat gambaran awal mengenai dunia FILM KETOK MEJIK. Namun, rahasia apa yang sebenarnya masih disembunyikan oleh Ben, Made dan Saged? Official poster dan trailer kini sudah dapat disaksikan melalui akun Instagram resmi @filmketokmejik.

More Recommendations

VIDEO
Trailer & Poster Ungkap Visual yang Menawan Film Empat Musim Pertiwi Membawa Cinematic Experience yang Belum Pernah Tersaji di Layar Sinema Indonesia dari Sutradara Gadis Kretek Kamila Andini!
NEWS

Trailer & Poster Ungkap Visual yang Menawan Film Empat Musim Pertiwi Membawa Cinematic Experience yang Belum Pernah Tersaji di Layar Sinema Indonesia dari Sutradara Gadis Kretek Kamila Andini!

Empat Musim Pertiwi tayang mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia! Jakarta, 10 September 2026 — Forka Films merilis trailer dan poster film Empat Musim Pertiwi, yang menjadi karya terbaru dari sutradara Gadis Kretek, Kamila Andini. Melalui trailernya, Empat Musim Pertiwi menunjukkan skala produksi terbesar Forka Films, dengan penjelajahan artistik yang eksploratif, yang akan menawarkan cinematic experience yang hanya dapat dinikmati di layar bioskop.Mengikuti perjalanan Pertiwi (Putri Marino), yang pulang ke tanah kelahirannya, setelah puluhan tahun pergi. Pertiwi bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya, baik yang memberinya musim baik hingga mereka yang menjadi musim terburuk dalam hidupnya.Sementara itu, poster Empat Musim Pertiwi menampilkan sosok Pertiwi sebagai perempuan yang tampak telah melalui berbagai fase kehidupannya dan siap menghadapi berbagai peristiwa. Empat Musim Pertiwi, yang memiliki judul internasional Four Seasons in Java akan tayang perdana (world premiere) di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September ini. TIFF juga menandai kembalinya Kamila ke festival tersebut, setelah bersama film Yuni (2021) yang memenangkan Platform Prize.Dalam waktu yang bersamaan dengan rilisnya di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026, Empat Musim Pertiwi juga akan tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Di BIFF, Empat Musim Pertiwi akan tayang dalam program A Window On Asian Cinema, sebuah program yang mempresentasikan karya-karya yang akan menjadi zeitgeist dari para sineas Asia yang telah menepakkan jejaknya di peta sinema internasional serta para sineas Asia pendatang baru. “Senang rasanya film Empat Musim Pertiwi dapat tayang di bioskop Indonesia dalam waktu yang berdekatan ketika filmnya World Premiere di Toronto dan dalam waktu yang bersamaan dengan tayangnya di Busan. Kami berharap penonton dapat merasakan bersama perjalanan pulang Pertiwi dalam menemui musim-musim dalam hidupnya, lewat penjelajahan artistik terbaru Kamila Andini, yang juga didukung oleh jajaran kru yang telah bekerja sama sejak Gadis Kretek,” ujar produser Ifa Isfansyah.“Syutingnya dilakukan pada tahun 2025, dan ini menjadi skala produksi terbesar Forka Films. Kami syuting hampir sepenuhnya di Bromo, dengan berbagai titik yang kami gunakan mulai dari area permukiman, area persawahan, dan tentunya titik berpasir. Untuk berpindah dari satu titik ke titik lain tentu membutuhkan logistik yang besar. Belum lagi, secara post-production, kami juga memasukkan banyak detail yang membuat desain produksinya besar,” tambah Ifa.Bagi Kamila, membuat film selalu menjadi ruang pembelajaran baru baginya untuk memahami dunia sekitar bekerja. Di film Empat Musim Pertiwi, ia juga berupaya untuk menyuarakan apa yang tengah menjadi keresahannya, melalui balutan cross-genre yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Di film ini, salah satu yang baru baginya adalah sci-fi.“Sebenarnya, secara personal saya sangat menyukai film-film sci-fi. Namun, baru sekarang saya merasa punya kebutuhan untuk menampilkan sesuatu lewat sci-fi secara yang lebih luas dan universal. Setiap cerita memiliki kebutuhannya sendiri, dan bagi saya ini juga akan menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikan apa yang menjadi perjalanan Pertiwi dan orang-orang di sekitarnya,” ujar sutradara Kamila Andini.Ide pembuatan Empat Musim Pertiwi sudah ada sejak 2017, jauh sebelum Gadis Kretek dan Before, Now & Then. Putri Marino, sejak awal juga sudah diplot untuk menjadi Pertiwi. Saat itu, pendekatan awal terjadi pada saat Ifa mengerjakan film Losmen Bu Broto. Film ini sekaligus menandai reuninya tim Gadis Kretek antara Kamila Andini, Ifa Isfansyah, Putri Marino, serta Arya Saloka.Selain Putri dan Arya, film ini dibintangi oleh Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti. Dwika merupakan aktor dengan vitiligo, dan Hanna merupakan aktor tuli. Keterlibatan keduanya juga menjadi representasi keberagaman di film ini. Bagi Putri, untuk memerankan karakter Pertiwi cukup berat dan menguras energi.Putri pun kemudian mendapat bantuan dari Kamila untuk mendiskusikan tentang desain karakternya, salah satunya saat ia diberikan novel karya perempuan penulis Mesir, Nawal el-Saadawi.Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin. Salah satu yang juga sebenarnya membantuku untuk mengembangkan karakter Pertiwi adalah saat aku diberi bahan bacaan buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, dan aku akhirnya bisa memahami apa yang dilalui Pertiwi,” ujar Putri Marino.Menjadi proyek terbesar Forka Films, Empat Musim Pertiwi menjadi ko-produksi enam negara, Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Film ini juga turut didukung dan kolaborasi bersama dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Flm ini juga turut disponsori oleh Oriflame.Empat Musim Pertiwi juga resmi mendapatkan representasi internasional dari Goodfellas, salah satu international sales agent asal Prancis yang dikenal melalui katalog film-film auteur dengan perjalanan kuat di festival film dunia.Keputusan Goodfellas untuk menangani Empat Musim Pertiwi menjadi bagian penting dari perjalanan film ini. Bagi Forka Films, partnership tersebut bukan sekadar langkah distribusi internasional, tetapi juga sebuah bentuk kepercayaan terhadap kualitas artistik, skala produksi, dan potensi internasional film Indonesia.Goodfellas selama ini dikenal bekerja bersama filmmaker dengan visi artistik yang kuat dan menangani film-film yang memiliki perjalanan penting di festival internasional, termasuk karya-karya yang mendapat pengakuan di Cannes Film Festival dan Academy Awards.Empat Musim Pertiwi kini berada dalam katalog internasional yang sama dengan berbagai film auteur dari berbagai belahan dunia. Beberapa film yang sebelumnya ditangani oleh Goodfellas di antaranya adalah Pemenang Piala Oscar Pan’s Labyrinth (2006) karya Guillermo del Toro dan The Artist (2011) karya Michel Hazanavicius, dan film peraih Palme d’Or di Cannes Film Festival seperti Shoplifter (2018) karya Koreeda Hirokazu, Titane karya Julia Ducournau (2021) dan Fjord karya Cristian Mungiu (2026).Saksikan di layar lebar saat Pertiwi pulang. Empat Musim Pertiwi tayang 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru film Empat Musim Pertiwi melalui akun media sosial Instagram @forkafilms dan saksikan filmnya di bioskop pada tahun 2026!

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
VIDEO
Setelah Revisi Dua Kali Karena Foto Blur, GJLS: Berapi-Api Akhirnya Merilis Official Poster, Trailer, dan Original Soundtrack Barasuara Bersama Performance Memukau dari Damkar
NEWS

Setelah Revisi Dua Kali Karena Foto Blur, GJLS: Berapi-Api Akhirnya Merilis Official Poster, Trailer, dan Original Soundtrack Barasuara Bersama Performance Memukau dari Damkar

Jakarta, 2 Oktober 2026 — Setelah melalui dua kali proses revisi akibat drama menggelikan dari trio Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir dengan netizen penggemar GJLS, akhirnya poster GJLS: Berapi-api resmi diizinkan tampil jelas tanpa sensor. Dalam perhelatan konferensi pers yang riuh di Lippo Mall Nusantara, rumah produksi Amadeus Sinemagna resmi meluncurkan paket lengkap promosi: revisi kedua Official Poster, Official Trailer, serta lagu orisinal resmi garapan Barasuara untuk film komedi drama GJLS: Berapi-Api.Seremoni Nyaris Gagal: Hendak Tampil Heroik, Malah Diselamatkan Regu Damkar SungguhanSesuai tradisi komedi GJLS, acara pembukaan tirai hitam raksasa penutup poster dan trailer tidak dibiarkan berjalan normal tanpa bumbu kepanikan. Niat hati ingin bergaya bak pahlawan penyelamat dengan menarik tirai secara serentak, trio abang-abang ini justru tersangkut tali dan gagal mengeksekusi seremoni hingga memicu tawa penonton di area mal.Sadar situasi di panggung mulai melenceng dari naskah, Rigen langsung sigap menelepon panggilan darurat pemadam kebakaran. Suasana berubah drastis saat sirene berbunyi dan regu Algojo Api masuk dengan langkah tegap, mengambil alih panggung, lalu menarik tirai hitam tersebut secara sempurna diiringi tepuk tangan riuh para tamu undangan.Official Trailer: Realitas Tugas Damkar dari Ambil Rapor Sampai Kepala Nyangkut PagarMateri official trailer yang baru diputar memperlihatkan pahit-manis perjuangan tiga sahabat masa kecil yang bertekad menjadi petugas pemadam kebakaran yang gagah. Namun, setelah melewati gemblengan tanpa ampun bersama regu Algojo Api, trio GJLS justru dihadapkan pada tugas-tugas lapangan yang tak terduga: mulai dari operasi darurat mengambil rapor anak SD hingga penyelamatan krusial mengeluarkan kepala Yono Bakrie yang tersangkut di jeruji pagar.Misi mulia berbalut kekacauan tersebut ditegaskan oleh para pemeran utama. "Tujuan kami di film ini ga cuma ingin menunjukkan film GJLS yang lucu dan seru, tapi juga ingin membawakan aksi heroik pemadam kebakaran yang selalu siap membantu kita, dan cerita yang dekat dengan kita semua," papar Rigen Rakelna.Membawa momen haru ketika ditanya mengenai tema persahabatan yang dibawa dalam film terbaru dari trio komedian ini, Ananta Rispo ternyata meneteskan air mata di tengah panggung press conference. Sulit berkata-kata karena emosinya yang tak terduga pecah di atas panggung, Rispo menekankan pentingnya momen ini dalam hidupnya. “Saya sangat bangga bisa ada di sini bersama kedua sahabat saya,” sebut Rispo di tengah pelukan Rigen dan Hifdzi.“Intinya, di film ini kami mau membawakan sisi yang dicintai publik penggemar komedi di film pertama, tapi ke level yang lebih dalam segala hal,” ujar Hifdzi mengenai film terbaru mereka.“Ini adalah GJLS yang lebih lucu, lebih hangat, juga lebih bisa dinikmati berbagai kalangan dan usia.”Sutradara Monty Tiwa menambahkan, “GJLS: Berapi-Api adalah film baru dengan cerita baru yang berbeda dengan GJLS: Ibuku Ibu-ibu. Ceritanya di-design untuk bisa ditonton bersama keluarga.”Kemegahan Soundtrack Barasuara dan Jajaran Pemeran LengkapEnergi film ini kian meledak berkat iringan official original soundtrack bertenaga dari band rock Barasuara yang berjudul “Api dan Mimpi” membuktikan bahwa perseteruan perebutan lagu antara Hifdzi dan Iga Massardi tempo hari resmi tuntas secara musikal.Di bawah komando sutradara Monty Tiwa, film ini turut diperkuat oleh deretan bintang dan komika lintas generasi: Rigen Rakelna, Ananta Rispo, Hifdzi Khoir, Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Indira Ayu Maharani (Inayma), Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, dan Sadha Triyudha.Catat Tanggal Tayangnya!GJLS: Berapi-Api siap memadamkan stres dan mengocok perut penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026.Saksikan Official Trailer resmi di kanal YouTube Amadeus Sinemagna dan pantau terus kabar terbarunya melalui akun media sosial resmi @sinemagna, @gjlsberapiapi, dan @gjlsentertainment.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Oct 2026
VIDEO
Perpaduan Survival, Teror Hiu, dan Drama Keluarga yang Menegangkan
MOVIE
4.0

Perpaduan Survival, Teror Hiu, dan Drama Keluarga yang Menegangkan

Disutradarai oleh Renny Harlin dan ditulis oleh Pete Bridges, Shayne Armstrong, serta S.P. Krause, Deep Water (2026) hadir sebagai film thriller survival yang memadukan ketegangan bencana, drama keluarga, dan teror hiu dalam satu paket yang intens. Film ini dibintangi oleh Aaron Eckhart sebagai Ben, Ben Kingsley sebagai Rich, Angus Sampson sebagai Dan, Lucy Barrett sebagai Penny, Richard Crouchley sebagai Matt, Molly Belle Wright sebagai Cora, Wenhan Li sebagai Sam, Rosie Simei Zhao sebagai Lilly, Nashi sebagai Zoe, dan Lakota Jri sebagai Hutch.Sejak menit-menit awal, film ini langsung membangun atmosfer yang mencekam. Ceritanya berhasil menjaga tempo dengan sangat baik, membuat penonton terus dibuat penasaran mengenai nasib para karakter yang terjebak di tengah lautan setelah sebuah kecelakaan besar terjadi. Renny Harlin, yang dikenal lewat berbagai film aksi dan thriller, kembali menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan adegan-adegan penuh tekanan yang membuat jantung berdebar.Akting Dari Para Pemain Yang ApikAaron Eckhart tampil sangat meyakinkan sebagai Ben, sosok yang harus berjuang mempertahankan hidup sekaligus melindungi orang-orang di sekitarnya. Karisma dan emosi yang ia tampilkan terasa kuat sepanjang film. Ben Kingsley juga memberikan performa yang solid sebagai Rich, menghadirkan karakter yang berwibawa sekaligus emosional.Namun, salah satu kejutan terbesar justru datang dari para pemeran pendukung, terutama Molly Belle Wright sebagai Cora. Aktingnya sebagai karakter anak-anak terasa sangat natural dan menyentuh. Ia berhasil menyampaikan rasa takut, kepanikan, hingga kesedihan dengan sangat baik, sehingga membuat penonton semakin terhubung secara emosional dengan cerita. Interaksi antara para karakter dewasa dan anak-anak menjadi salah satu kekuatan utama film ini.Punya Visual Yang Menegangkan Salah satu adegan terbaik dalam Deep Water tentu saja adalah momen jatuhnya pesawat. Adegan tersebut disajikan dengan sangat intens, dramatis, dan menegangkan. Kamera bergerak cepat mengikuti kepanikan para penumpang, sementara efek suara dan musik latar semakin memperkuat suasana mencekam. Penonton akan dibuat seolah ikut merasakan ketakutan dan kepanikan para karakter saat berusaha bertahan hidup di tengah situasi yang semakin memburuk.Dari sisi visual, CGI yang digunakan juga patut mendapatkan apresiasi. Efek air, ombak, reruntuhan pesawat, hingga kemunculan hiu terlihat cukup realistis dan mampu mendukung atmosfer film. Renny Harlin berhasil memanfaatkan teknologi visual untuk menghadirkan adegan-adegan aksi yang spektakuler tanpa terasa berlebihan.Punya Sisi Komedi & EmosionalMeskipun didominasi oleh ketegangan, film ini tetap menyisipkan beberapa momen komedi ringan yang membuat suasana sedikit mencair. Humor yang muncul tidak mengganggu alur cerita, justru memberikan jeda bagi penonton sebelum kembali dibawa ke situasi yang menegangkan.Tak hanya menawarkan aksi survival, Deep Water juga menyimpan beberapa adegan emosional yang cukup menyentuh. Hubungan antar-karakter, pengorbanan, dan perjuangan untuk bertahan hidup berhasil menghadirkan momen-momen sedih yang terasa tulus dan menyayat hati.Serangan Hiu Yang BrutalTentu saja, elemen yang paling ditunggu adalah serangan hiunya. Film ini berhasil menghadirkan teror yang brutal dan sulit ditebak. Setiap kemunculan hiu selalu dibangun dengan ketegangan yang efektif, membuat penonton tidak pernah merasa aman. Beberapa adegan serangan bahkan hadir secara tiba-tiba dan mengejutkan, memberikan sensasi horor yang intens sepanjang film.KesimpulanDeep Water (2026) adalah film thriller survival yang sukses menghadirkan kombinasi aksi, drama, ketegangan, dan emosi dalam porsi yang seimbang. Dengan adegan pesawat jatuh yang spektakuler, performa para pemain yang solid, CGI yang memukau, serta teror hiu yang brutal dan tidak terduga, film ini menjadi tontonan yang layak bagi para penggemar film survival dan thriller.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film seperti The Shallows, 47 Meters Down, atau The Reef, Deep Water menawarkan pengalaman menonton yang seru, menegangkan, dan penuh kejutan dari awal hingga akhir.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Jul 2026
Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan
MOVIE
3.0

Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan

Rumah Singgah hadir sebagai film drama yang tidak hanya mengandalkan konflik emosional, tetapi juga berusaha memberikan ruang bagi hampir setiap tokohnya untuk memiliki cerita masing-masing. Digara​​p oleh Dyan Sunu Prastowo dan ditulis oleh Celvin Jaya Hadi, Raditya Kurnia, dan Aryo Wibianto, film ini menawarkan kisah tentang manusia, hubungan, serta arti sebuah tempat yang perlahan bisa berubah menjadi rumah bagi orang-orang yang sedang membutuhkan tempat untuk pulang.Sejak awal, film ini mampu membangun cerita dengan unsur drama yang cukup kuat. Menariknya, Rumah Singgah tidak hanya berfokus pada satu karakter utama, tetapi memberikan kesempatan kepada sejumlah tokohnya untuk diperkenalkan lebih jauh. Masing-masing memiliki latar belakang, persoalan, dan perjalanan emosional yang membuat keberadaan mereka terasa penting terhadap keseluruhan cerita.Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih manusiawi. Penonton tidak hanya diajak mengikuti satu konflik, tetapi juga melihat bagaimana berbagai karakter dengan permasalahan masing-masing bisa saling bertemu, berinteraksi, dan memberikan pengaruh satu sama lain.Bukan Sekadar Tempat PersinggahanSalah satu kekuatan terbesar Rumah Singgah justru terdapat pada judulnya. “Rumah Singgah” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat untuk tinggal sementara.Rumah dalam film ini menjadi ruang tempat para pasien menemukan sesuatu yang mungkin selama ini mereka butuhkan: keluarga, persahabatan, cinta, harapan, dan alasan untuk tetap tersenyum.Mereka mungkin datang sebagai orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit, tetapi rumah tersebut perlahan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang membuat perjalanan hidup terasa sedikit lebih ringan. Dari sinilah film menunjukkan bahwa rumah tidak selalu berbicara tentang bangunan atau tempat tinggal.Rumah bisa berarti orang-orang yang membuat kita merasa diterima.Makna tersebut menjadi salah satu pesan emosional yang membuat Rumah Singgah terasa dekat dengan kehidupan. Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan solusi besar untuk menghadapi masalahnya. Terkadang, kehadiran orang lain, sebuah percakapan sederhana, persahabatan, atau bahkan tawa kecil sudah cukup untuk memberikan alasan agar seseorang terus bertahan.Akting & Chemistry Dari Para Pemain Yang BagusFilm ini dibintangi oleh Adhisty Zara sebagai Karla, Devano Danendra sebagai Luki, Ciccio Manassero sebagai Toni, dan Messi Gusti sebagai Pika.Keempatnya mampu memberikan warna berbeda terhadap cerita. Adhisty Zara tampil dengan pembawaan emosional yang mampu membawa penonton lebih dekat dengan karakter Karla. Sementara Devano Danendra memberikan keseimbangan melalui karakter Luki yang memiliki dinamika tersendiri dalam cerita.Chemistry antara para pemain juga menjadi salah satu aspek yang membuat film terasa hidup. Hubungan antarkarakter tidak terasa sekadar dibuat untuk kebutuhan cerita, tetapi berkembang melalui interaksi dan berbagai momen yang mereka lalui bersama.Yang menarik, kekuatan akting film ini tidak hanya berasal dari pemeran utamanya. Para pemain pendukung seperti Aming, Dewi Irawan, Alex Abbad, dan Marthino Lio turut memberikan kontribusi besar terhadap atmosfer emosional film.Kehadiran mereka membuat cerita memiliki lapisan emosi yang lebih luas. Beberapa karakter pendukung bahkan mampu mencuri perhatian melalui ekspresi, dialog, maupun interaksi mereka dengan karakter lainnya.Unsur Drama & Komedi yang Berjalan SeimbangMeski membawa tema yang cukup emosional, Rumah Singgah tidak menjadikan dirinya sebagai film drama yang terus-menerus serius.Unsur komedi disisipkan di beberapa bagian dengan cukup baik sehingga film tidak terasa berat ataupun membosankan. Momen-momen ringan tersebut memberikan jeda dari konflik emosional yang sedang berlangsung.Perpaduan antara drama dan komedi ini menjadi salah satu alasan mengapa film tetap terasa nyaman untuk diikuti. Ketika cerita mulai membawa penonton ke situasi yang emosional, humor hadir untuk memberikan sedikit ruang bernapas sebelum cerita kembali membawa penonton kepada konflik utamanya.Keseimbangan tersebut juga terasa penting karena tema yang diangkat sebenarnya cukup sensitif dan emosional. Dengan adanya komedi, film tidak terasa terlalu melodramatis.Punya Sinematografi Yang Cukup BagusDari sisi visual, Rumah Singgah memiliki sinematografi yang cukup baik dalam mendukung suasana cerita. Pengambilan gambar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi turut membantu membangun atmosfer emosional di beberapa adegan.Salah satu bagian yang cukup menarik adalah scene origami. Adegan tersebut memiliki nilai visual sekaligus emosional yang kuat. Origami yang secara sederhana merupakan aktivitas melipat kertas dapat terasa memiliki makna lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks cerita.Visual pada bagian tersebut menjadi salah satu momen yang menunjukkan bahwa Rumah Singgah tidak hanya ingin bercerita melalui dialog. Ada beberapa hal yang disampaikan melalui gambar, gestur, serta objek yang digunakan oleh karakter.Keluarga Bukan Hanya Tentang Ikatan DarahRumah Singgah bukan hanya film mengenai para pasien dan tempat mereka tinggal sementara. Film ini berbicara tentang bagaimana manusia bisa menemukan keluarga di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Keluarga dalam film ini tidak selalu hadir melalui hubungan darah. Ia dapat terbentuk melalui persahabatan, kepedulian, kasih sayang, dan keberanian untuk hadir bagi seseorang ketika mereka sedang berada di titik terendah.Film ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik seseorang yang terlihat kuat, bisa saja terdapat perjuangan yang sangat berat. Karena itu, sedikit perhatian dan kepedulian dari orang lain terkadang bisa memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.KesimpulanSecara keseluruhan, Rumah Singgah merupakan film drama yang berhasil menggabungkan cerita emosional, persahabatan, keluarga, cinta, serta komedi dengan cukup baik. Keputusan untuk memberikan cerita kepada hampir setiap karakter membuat dunia film terasa lebih luas dan membuat penonton memiliki kesempatan untuk memahami perjalanan masing-masing tokoh.Akting dan chemistry para pemain juga menjadi kekuatan utama, ditambah dengan sinematografi yang cukup menarik, mRumah Singgah mampu memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh.Film ini ingin menyampaikan pesan bahwa rumah tidak selalu berarti tempat untuk kembali. Terkadang, rumah adalah tempat di mana kita menemukan orang-orang yang membuat kita kembali memiliki alasan untuk berharap.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bergenre drama, persahabatan, dan keluarga , film ini bisa jadi tonton wajib buat kalian.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Aug 2026
VIDEO
Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !
MOVIE
4.0

Remake Julia’s Eyes (2010) dengan Sentuhan Korea yang Mencekam !

Industri perfilman Korea Selatan kembali menghadirkan adaptasi yang menarik lewat The Eyes (2026), film thriller psikologis garapan sekaligus ditulis oleh Yeom Ji-ho. Film ini merupakan remake dari film Spanyol Julia’s Eyes (2010) yang sempat menuai pujian berkat kisah misterinya yang menegangkan dan atmosfer psikologis yang kuat. Meski mengikuti garis besar cerita versi aslinya, The Eyes berhasil menghadirkan identitas tersendiri melalui pendekatan visual yang lebih modern, nuansa emosional yang lebih dalam, serta penampilan para pemain yang sangat meyakinkan.Sejak awal, film ini tidak berusaha menyembunyikan akar ceritanya sebagai remake. Justru, Yeom Ji-ho memanfaatkan fondasi cerita Julia’s Eyes untuk menghadirkan pengalaman yang terasa segar bagi penonton baru, sekaligus memberikan interpretasi baru bagi mereka yang sudah mengenal versi Spanyolnya.Shin Min-a Tampil Luar Biasa dalam Peran GandaDaya tarik terbesar film ini tentu berada di tangan Shin Min-a, yang memerankan saudara kembar identik Seo Jin dan Seo In. Memainkan dua karakter yang memiliki wajah sama tetapi kepribadian, emosi, dan perjalanan hidup berbeda bukanlah pekerjaan mudah, namun Shin Min-a mampu melakukannya dengan sangat meyakinkan.Perbedaan karakter keduanya terasa alami tanpa dibuat berlebihan. Melalui ekspresi, intonasi suara, hingga bahasa tubuh, Shin Min-a berhasil membuat penonton langsung mengenali siapa yang sedang muncul di layar meskipun keduanya memiliki wajah yang identik. Penampilannya menjadi pusat emosional film sekaligus alasan mengapa misteri yang dibangun terasa begitu kuat.Chemistry antar pemain juga berjalan sangat solid.Kim Nam-hee sebagai Detektif Do Hyeok tampil tenang namun penuh rasa penasaran, menjadi sosok yang perlahan membantu mengurai misteri. Sementara Kim Young-ah sebagai Detektif Mi Gyeong memberikan dinamika berbeda dalam proses investigasiKehadiran Lee Seung-woo sebagai Hyeon Min pun menjadi salah satu elemen yang membuat ketegangan terus meningkat. Karakternya dibangun secara perlahan hingga meninggalkan kesan yang mengganggu tanpa perlu tampil berlebihan.Misteri yang Terus Membuat Penonton MenebakSalah satu kekuatan terbesar The Eyes adalah cara film ini membangun misteri. Ceritanya tidak memberikan jawaban secara instan, melainkan mengajak penonton menyusun potongan demi potongan teka-teki bersama karakter utama.Setiap petunjuk yang muncul sering kali memunculkan pertanyaan baru, membuat alur cerita sulit ditebak hingga menjelang akhir film. Penonton akan terus dibuat mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya, apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seluruh kepingan misteri saling terhubung.Ritme seperti ini membuat film terasa sangat efektif sebagai thriller investigasi. Ketegangan lahir bukan dari adegan kejar-kejaran atau aksi berlebihan, melainkan dari rasa penasaran yang terus dipelihara sepanjang durasi.Konsep “Melihat dan Tidak Melihat” yang Menjadi Kekuatan CeritaYang membuat The Eyes berbeda dari thriller kebanyakan adalah penggunaan konsep “melihat dan tidak melihat."Film ini memanfaatkan keterbatasan penglihatan karakter utama sebagai bagian penting dari penceritaan. Penonton diajak merasakan bagaimana sulitnya membedakan kenyataan, firasat, hingga ancaman yang mungkin berada sangat dekat.Konsep tersebut tidak hanya menjadi gimmick visual, tetapi juga menjadi metafora mengenai bagaimana manusia sering kali gagal melihat kebenaran meskipun bukti sebenarnya berada tepat di depan mata. Pendekatan ini membuat pengalaman menonton terasa lebih imersif sekaligus meningkatkan rasa cemas sepanjang film.Sinematografinya pun mendukung konsep tersebut dengan sangat baik. Permainan fokus kamera, pencahayaan redup, sudut pengambilan gambar, hingga penggunaan ruang kosong berhasil menciptakan suasana yang membuat penonton merasa tidak pernah benar-benar aman.Thriller Psikologis yang Mengandalkan Atmosfer, Bukan JumpscareBagi penonton yang mengharapkan film horor penuh kejutan, The Eyes mungkin akan terasa berbeda. Film ini lebih memilih jalur thriller psikologis dibandingkan horor konvensional.Ketegangannya dibangun melalui suasana sunyi, rasa diawasi, tekanan mental, dan kecemasan yang perlahan meningkat dari satu adegan ke adegan berikutnya. Jumpscare memang ada, tetapi digunakan seperlunya sehingga tidak menjadi senjata utama film.Pendekatan ini justru membuat ketakutan yang muncul terasa lebih bertahan lama karena berasal dari kondisi psikologis karakter, bukan sekadar efek kejut sesaat.Remake yang Tetap Menghormati Versi AslinyaSebagai remake, The Eyes cukup setia terhadap inti cerita Julia’s Eyes (2010). Premis, struktur misteri, dan tema utamanya masih dipertahankan, tetapi Yeom Ji-ho memberikan sentuhan baru melalui pendekatan visual khas Korea, ritme yang lebih modern, serta pengembangan emosi karakter yang lebih kuat.Untuk SOBAT KTF yang belum pernah menyaksikan versi Spanyolnya, film ini akan menjadi thriller misteri yang sangat memikat. Sementara bagi penggemar Julia’s Eyes, adaptasi ini menawarkan pengalaman baru tanpa menghilangkan esensi yang membuat cerita aslinya begitu dikenang.KesimpulanThe Eyes (2026) merupakan contoh remake yang berhasil menghormati materi sumber sekaligus menghadirkan identitas baru. Didukung penyutradaraan yang matang dari Yeom Ji-ho, penampilan luar biasa Shin Min-a dalam peran ganda, akting solid dari seluruh pemain, serta cerita penuh teka-teki yang terus membuat penonton berpikir, film ini berhasil menjadi thriller psikologis yang efektif dan memikat.Alih-alih mengandalkan horor konvensional, film ini mengajak penonton larut dalam rasa cemas melalui konsep “melihat dan tidak melihat”, membangun misteri secara perlahan hingga mencapai klimaks yang memuaskan.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bertema thriller psikologis atau film misteri yang penuh intrik dengan atmosfer mencekam, The Eyes (2026) adalah salah satu remake yang layak untuk ditonton!!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
AGASKAR Siap Diadaptasi ke Layar, Jeremie Moeremans dan Vonzy Jadi Pemeran  Utama!
NEWS

AGASKAR Siap Diadaptasi ke Layar, Jeremie Moeremans dan Vonzy Jadi Pemeran Utama!

Jakarta, 02 September 2026 - Unlimited Production resmi mengumumkan jajaran pemeran utama dari series "AGASKAR". Jeremie Moeremans, Vonzy, dan Fahad Haydra dipastikan bergabung dalam proyek ini untuk membawa kisah Agaskar, Arazey, dan Wave ke layar.Jeremie Moeremans akan memerankan Agaskar, sosok ketua geng motor Wolviper yang dikenal keras, emosional, dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat. Di balik sikapnya yang penuh ego dan sulit dikendalikan, Agaskar menyimpan rasa keadilan yang membuatnya harus menghadapi pilihan besar dalam perjalanan hidupnya. Vonzy hadir sebagai Arazey, karakter perempuan cerdas, berani, dan memiliki pendirian kuat. Terjebak dalam perjodohan yang tidak ia inginkan, Arazey berusaha memperjuangkan keyakinannya sekaligus mencari kebenaran di balik kasus yang menyeret orang yang ia cintai.Sementara Fahad Haydra dipercaya memerankan Wave, pemimpin geng motor Walerus yang menjadi rival utama Agaskar. Meski dikenal sebagai sosok yang berseberangan dengan Agaskar, Wave memiliki sisi lain yang penuh kesetiaan dan pengorbanan."AGASKAR" menghadirkan kisah tentang perseteruan dua geng motor yang berubah menjadi perjalanan mengungkap kebenaran, menghadapi masa lalu, serta menemukan arti cinta dan pengorbanan. Pertemuan Agaskar, Arazey, dan Wave menjadi pusat konflik yang membawa cerita penuh emosi, rahasia, dan kejutan.Cerita "AGASKAR" sebelumnya telah mencuri perhatian pembaca melalui platform digital dengan jutaan pembaca dan menjadi salah satu kisah yang ramai diperbincangkan di media sosial. Kini, perjalanan Agaskar dan para karakter lainnya siap memasuki babak baru melalui adaptasi layar.Dengan Dinna Jasanti sebagai sutradara, "AGASKAR" dipersiapkan untuk menghadirkan pengalaman visual yang membawa atmosfer rivalitas, romansa, dan drama emosional yang menjadi kekuatan utama cerita. Series ini diadaptasi oleh MAXSTREAM TV dan diproduksi oleh Unlimited Production dengan Oswin Bonifanz sebagai produser, disutradarai Dinna Jasanti, serta ditulis oleh Cassandra Massardi. Deretan pemain yang membintangi Agaskar antara lain Jeremie Moeremans, Vonzy, Fahad Haydra, Shania Gracia, Marsha, Ratu Aulia, Adel Reva, Ryan Winter, dan beberapa pemain lainnya.Jangan lewatkan Series Agaskar, tonton hanya di MAXSTREAM TV.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Sep 2026
Ketika Persahabatan, Kriminalitas, dan Pesta Musik Bertemu!
MOVIE
3.0

Ketika Persahabatan, Kriminalitas, dan Pesta Musik Bertemu!

Film Indonesia kembali menghadirkan cerita kriminal dengan pendekatan yang cukup berbeda lewat Operasi Pesta Copet. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Edy Khemod, dengan bantuan Rino Sarjono dalam skenario, film ini tidak hanya menjadikan aksi pencopetan sebagai sumber konflik, tetapi juga mengemasnya menjadi cerita tentang persahabatan, kondisi sosial, ekonomi, dan kehidupan anak muda.Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, Kawai Labiba sebagai Melodi, dan Fauzan Lubis sebagai Silet, film ini terasa seperti sebuah perjalanan bersama sekelompok karakter yang memiliki persoalan dan latar belakang masing-masing.Edy Khemod Berhasil Membuat Cerita yang MenarikSalah satu kekuatan terbesar Operasi Pesta Copet terletak pada bagaimana Edy Khemod membangun cerita. Sebagai penulis sekaligus sutradara, Edy mampu menjaga agar film tidak hanya berfokus pada aksi kriminalnya saja.Cerita berkembang dengan cukup dinamis. Penonton diajak mengikuti karakter-karakternya secara perlahan, memahami hubungan mereka, melihat masalah yang mereka hadapi, sekaligus mengikuti bagaimana sebuah rencana pencopetan di tengah konser kemudian berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar.Menariknya, film ini tidak mencoba menjadikan aksi kriminal sebagai sesuatu yang terlihat keren semata. Ada alasan, tekanan, dan kondisi tertentu yang membuat para karakter mengambil keputusan tersebut. Pendekatan seperti ini membuat cerita terasa lebih manusiawi sekaligus memberikan ruang bagi film untuk menyampaikan kritik sosial.Punya Isu yang Sangat Relate dengan Kehidupan Sehari-hariPremis mengenai pencopetan di sebuah konser musik menjadi salah satu hal yang membuat Operasi Pesta Copet terasa dekat dengan realitas.Konser merupakan tempat yang identik dengan kerumunan, musik, kesenangan, dan euforia. Namun di tengah ribuan orang yang sedang menikmati pertunjukan, selalu ada kemungkinan munculnya tindakan kriminal seperti pencopetan.Film ini kemudian memanfaatkan situasi tersebut sebagai dasar cerita heist yang cukup menarik. Keramaian konser bukan hanya menjadi latar, tetapi juga menjadi bagian penting dari bagaimana aksi dan konflik dalam film berjalan.Hal ini membuat Operasi Pesta Copet memiliki premis yang sederhana tetapi mudah diterima penonton karena mengambil sesuatu yang memang bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Kritik Sosial tentang Ekonomi & KriminalitasDi balik unsur komedi dan keseruannya, film ini juga menyelipkan kritik sosial yang cukup terasa.Operasi Pesta Copet memperlihatkan bagaimana persoalan ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal. Film tidak serta-merta membenarkan tindakan tersebut, tetapi mencoba memperlihatkan bahwa kriminalitas terkadang lahir dari permasalahan sosial yang lebih kompleks.Inilah yang membuat konflik dalam film terasa lebih relevan dengan kondisi sosial di Indonesia. Ada sindiran-sindiran kecil mengenai kehidupan masyarakat, kesenjangan, kebutuhan ekonomi, serta bagaimana seseorang bisa berada dalam kondisi yang membuat pilihan hidupnya menjadi semakin sulit.Kritiknya memang tidak disampaikan secara terlalu berat. Justru film memilih menyampaikannya secara halus melalui dialog, situasi, dan perjalanan karakter sehingga pesan sosial tersebut tetap bisa diterima tanpa menghilangkan sisi hiburannya.Chemistry Pemain yang Natural & SolidDari sisi akting, Operasi Pesta Copet mendapatkan dukungan kuat dari jajaran pemainnya.Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal mampu menjadi salah satu pusat perhatian dengan pembawaan karakter yang terasa natural. Iqbaal berhasil membawa sisi serius sekaligus emosional dari karakternya tanpa membuatnya terasa berlebihan.Kemudian ada Kristo Immanuel sebagai Adut yang memberikan warna tersendiri. Interaksinya dengan Ijal menjadi salah satu elemen yang membuat dinamika persahabatan dalam film terasa hidup.Zulfa Maharani sebagai Tia juga tampil solid dan mampu memberikan keseimbangan dalam kelompok karakter utama. Sementara Kawai Labiba sebagai Melodi memberikan energi yang membuat dinamika kelompok semakin berwarna.Yang paling menarik adalah bagaimana kelima pemain tersebut memiliki chemistry yang terasa natural. Hubungan Ijal, Adut, Tia, Melodi, dan Silet tidak terasa seperti sekadar sekumpulan karakter yang dipertemukan oleh kebutuhan cerita, tetapi benar-benar seperti sebuah kelompok yang sudah memiliki hubungan dan dinamika satu sama lain.Fauzan Lubis Tampil Menjanjikan dalam Debut FilmSalah satu nama yang patut mendapatkan perhatian adalah Fauzan Lubis sebagai Silet.Operasi Pesta Copet menjadi debut Fauzan Lubis dalam sebuah film. Meski merupakan pengalaman pertamanya bermain dalam film, penampilannya tidak terasa kaku.Fauzan mampu mengikuti ritme permainan pemain lainnya dan memiliki kehadiran yang cukup kuat ketika berada dalam satu frame bersama Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, maupun Kawai Labiba.Untuk ukuran debut film, penampilan Fauzan bisa dibilang cukup bagus dan menjanjikan. Ia mampu memberikan identitas pada karakter Silet sekaligus menjadi bagian penting dari chemistry kelompok utama.Komedi Yang Berhasil Sampai ke PenontonSelain crime dan heist, Operasi Pesta Copet juga mengandalkan komedi sebagai salah satu daya tariknya.Komedi dalam film ini banyak lahir dari dialog dan interaksi antarkarakter. Candaan yang muncul tidak selalu terasa dipaksakan karena sebagian besar humor berasal dari kepribadian dan hubungan masing-masing karakter.Hal ini membuat komedinya terasa lebih natural. Beberapa dialog bahkan berhasil memberikan jeda di tengah situasi yang sedang menegangkan sehingga film tidak terasa terlalu berat.Keseimbangan antara drama, kriminalitas, persahabatan, dan komedi menjadi salah satu aspek yang membuat film ini tetap menghibur.Persahabatan Menjadi Jantung CeritaMeskipun membawa elemen heist dan crime, pada akhirnya Operasi Pesta Copet merupakan film yang sangat kuat berbicara mengenai persahabatan.Hubungan antara Ijal, Adut, Tia, Melodi, dan Silet menjadi bagian yang membuat perjalanan mereka terasa emosional. Penonton tidak hanya dibuat penasaran dengan bagaimana aksi mereka akan berakhir, tetapi juga dibuat peduli terhadap hubungan yang terbentuk di antara mereka.Ada rasa saling percaya, konflik, perbedaan pendapat, dan momen ketika mereka harus menentukan apakah akan tetap bersama atau memilih jalan masing-masing.Karena itu, aspek persahabatan dalam film terasa sebagai fondasi utama yang mengikat seluruh cerita.Punya Sinematografi & Transisi yang MatangSecara visual, Operasi Pesta Copet juga memberikan perhatian besar terhadap bagaimana sebuah konser musik ditampilkan.Salah satu hal yang menarik adalah penggunaan hampir 500 extras untuk menciptakan atmosfer konser yang besar dan meyakinkan. Jumlah extras tersebut membantu membangun suasana kerumunan sehingga adegan konser terasa lebih hidup dan tidak seperti sekadar latar buatan.Atmosfer yang ingin dihadirkan juga dibuat menyerupai pengalaman berada di konser PESTA PORA, sehingga penonton dapat merasakan bagaimana hiruk-pikuk, kepadatan, dan energi sebuah festival musik menjadi bagian dari cerita.Sinematografinya pun dibuat dengan cukup matang. Kamera tidak hanya digunakan untuk merekam aksi karakter, tetapi juga menangkap skala kerumunan dan energi konser..Yang juga patut diapresiasi adalah transisi antar-scene. Perpindahan dari satu adegan ke adegan berikutnya dibuat dengan cukup detail dan memiliki gaya visual yang estetik. Beberapa transisi terasa seperti dirancang secara khusus agar perpindahan adegan tetap memiliki ritme dan tidak terasa monoton.Pendekatan visual tersebut membuat Operasi Pesta Copet memiliki identitas tersendiri sebagai film yang memadukan cerita kriminal dengan atmosfer konser musik.Perpaduan Heist, Crime, Komedi, dan Musikal. Salah satu keberhasilan film ini adalah kemampuannya memadukan beberapa genre tanpa membuat salah satunya terasa terlalu dominan.Unsur heist memberikan rasa penasaran terhadap bagaimana aksi pencopetan tersebut dilakukan. Unsur crime memberikan konflik dan konsekuensi. Sementara komedi membuat perjalanan karakter terasa lebih ringan.Di sisi lain, unsur musikal dan latar konser memberikan pengalaman visual serta atmosfer yang berbeda dari film kriminal Indonesia pada umumnya.Semua elemen tersebut kemudian dipersatukan melalui tema persahabatan yang menjadi inti emosional film..KesimpulanOperasi Pesta Copet merupakan film yang berhasil memanfaatkan premis sederhana tentang pencopetan di konser menjadi sebuah cerita yang lebih luas mengenai persahabatan, kriminalitas, kondisi ekonomi, dan kehidupan sosial.Edy Khemod sebagai penulis sekaligus sutradara berhasil membuat cerita yang menarik dengan konflik yang cukup relate dengan kehidupan sehari-hari. Kritik sosial mengenai kriminalitas dan faktor ekonomi juga disampaikan secara halus tanpa membuat film kehilangan sisi hiburannya.Dari sisi pemain, mereka memiliki chemistry yang natural dan solid.Sementara dari sisi teknis, sinematografi yang matang, serta transisi antarscene yang detail dan estetik membuat film ini terasa dikerjakan dengan serius.Operasi Pesta Copet bukan hanya tentang mencopet di sebuah konser. Film ini berbicara tentang pilihan hidup, persahabatan, kondisi sosial, dan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam situasi yang memaksanya mengambil keputusan sulit.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre persahabatan, heist, crime, komedi dan musikal , film ini wajib banget buat kalian tonton.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Aug 2026