Logo KTF KupasTuntasFilm

Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Film Aplikasi Iblis tayang mulai 15 Oktober 2026 di bioskop

Jakarta, 31 Agustus 2026 — Dimas Anggara menandai penyutradaraan debut horornya lewat film terbaru persembahan NIH Pictures berjudul Aplikasi Iblis. Film ini dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.

Film Aplikasi Iblis membawa genre urban supernatural horror yang akan mengisahkan tentang seorang pria yang mencoba kembali terhubung dengan kekasihnya yang telah meninggal melalui sebuah aplikasi misterius. Namun, justru membuka pintu bagi sesuatu yang ingin memanfaatkannya.

Dalam teaser trailer yang dirilis, Arya (diperankan Junior Roberts) ingin melamar kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, keduanya justru harus terpisah dan berbeda dunia untuk selamanya. Arya masih ditemani arwah Laras, tapi, apakah itu benar-benar Laras?

Sementara itu, di teaser poster yang dirilis juga secara jelas menampilkan sosok menyeramkan di layar ponsel. Menandakan sebuah teror yang akan datang, saat kita mencoba menggunakan aplikasi yang disebut bisa menghubungkan dengan arwah orang mati tersebut.

“Film Aplikasi Iblis akan mengikuti kisah Arya. Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dan masih sangat rindu dan percaya orang yang telah pergi bisa kembali. Di film ini, saya menggabungkan unsur drama romance tapi juga teror horor yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika kita semua pakai sebuah aplikasi untuk bisa terkoneksi dengan orang yang kita sayangi, apapun jenis aplikasinya. Tapi bedanya, aplikasi di film ini bisa menghubungkan dengan arwah orang yang sudah meninggal,” ujar sutradara Dimas Anggara.

“Buat aku cerita Arya dan Laras itu seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan sesuatu yang indah tapi malah berakhir menjadi tragedi,” ujar pemeran Arya, Junior Roberts.

Sebelumnya, Dimas Anggara telah menyutradarai film #OOTD yang diproduksi oleh NIH Pictures. Kali ini, Dimas kembali mengeksplorasi gagasan kreatifnya sebagai sutradara horor lewat Aplikasi Iblis. Sebuah horor dengan cerita tentang teknologi, kehilangan, dan teror supernatural.

Ikuti terus perkembangan film Aplikasi Iblis melalui media sosial Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictues. Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

More Recommendations

VIDEO
Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!
MOVIE
3.3

Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!

Film horor Asia kembali menghadirkan kisah pengusiran roh lewat The Tao Exorcist (2026) yang di garap oleh sutradara Hau-Jou Chiou. Dibintangi oleh Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang, film ini mencoba memadukan unsur horor supranatural, misteri keluarga, serta ritual pengusiran setan khas budaya Taoisme.Meski mengusung premis yang cukup familiar, The Tao Exorcist tetap menawarkan pengalaman menonton yang seru berkat atmosfer mencekam dan misteri yang perlahan terungkap sepanjang cerita.Cerita yang Sederhana, tetapi Tetap Menarik DiikutiDari segi cerita, The Tao Exorcist sebenarnya tidak menghadirkan alur yang terlalu rumit. Premis tentang pengusiran roh jahat dan balas dendam dari masa lalu memang sudah cukup sering digunakan dalam genre horor Asia.Namun, film ini berhasil mengemas konfliknya dengan cukup baik. Misteri demi misteri dibuka secara bertahap, sehingga penonton tetap memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan para karakternya hingga akhir film.Meskipun beberapa twist terasa mudah ditebak, penyajian ceritanya masih cukup efektif dalam menjaga rasa penasaran. Tempo yang tidak terlalu cepat juga membantu penonton memahami hubungan antara para karakter dan latar belakang konflik yang menjadi inti cerita.Akting Para Pemain Yang Cukup BagusPenampilan Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang berhasil membawa karakter masing-masing dengan cukup meyakinkan. Interaksi antar karakter terasa natural, terutama ketika mereka harus menghadapi situasi penuh teror dan ketegangan.Walaupun tidak menghadirkan penampilan yang benar-benar luar biasa, para pemain mampu menjalankan perannya dengan baik dan mendukung jalannya cerita.Jumpscare & Adegan Gore yang Cukup EfektifSebagai film horor, The Tao Exorcist cukup berhasil menghadirkan suasana mencekam. Beberapa adegan jumpscare mampu memberikan efek kejut tanpa terasa berlebihan atau dipaksakan.Selain itu, film ini juga menyisipkan sejumlah adegan gore yang meskipun tidak terlalu eksplisit, tetap mampu menghadirkan rasa tidak nyaman dan shock bagi penonton. Adegan-adegan tersebut berhasil memperkuat nuansa menyeramkan yang dibangun sepanjang film.Perpaduan antara ritual pengusiran roh, kemunculan sosok menyeramkan, serta unsur gore membuat film ini tetap terasa intens, terutama bagi penggemar horor supranatural Asia.Visual dan Sinematografi yang Cukup Menunjang AtmosferDari sisi visual, Hau-Jou Chiou menghadirkan sinematografi yang cukup baik dalam membangun atmosfer horor. Penggunaan pencahayaan gelap, komposisi gambar yang sempit, serta desain lokasi yang suram mampu menciptakan rasa tegang di beberapa adegan penting.Sayangnya, secara keseluruhan visual film ini masih terasa kurang maksimal untuk meninggalkan kesan mendalam. Ada beberapa momen yang sebenarnya memiliki potensi untuk tampil lebih ikonik, tetapi kurang dieksplorasi secara maksimal.Meski begitu, kualitas visual yang ditawarkan tetap mampu mendukung cerita dan menjaga nuansa horor sepanjang film.KesimpulanThe Tao Exorcist (2026) memang bukan film horor terbaik tahun ini, tetapi juga jauh dari kata mengecewakan. Ceritanya sederhana, namun tetap menarik untuk diikuti hingga akhir. Unsur pengusiran roh yang diangkat berhasil memberikan nuansa khas, sementara jumpscare dan adegan gore menghadirkan beberapa momen yang cukup mengejutkan.Untuk SOBAT KTF penggemar film horor Asia yang menyukai cerita tentang kutukan, ritual pengusiran roh, dan misteri masa lalu yang perlahan terungkap, The Tao Exorcist cocok banget menjadi pilihan yang menghibur bagi kalian yang sedang mencari tontonan horor ringan dengan sentuhan misteri dan supranatural.

Abdul Haris 08 Aug 2026
VIDEO
Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City
MOVIE
3.5

Balas Dendam Brutal Alan Ritchson yang Bicara Lewat Aksi Di Film Motor City

Motor City bukan film aksi yang meminta penonton untuk duduk nyaman, mendengarkan dialog panjang, lalu menunggu karakter menjelaskan siapa dirinya dan apa yang sedang terjadi. Film garapan Potsy Ponciroli ini justru melakukan hal sebaliknya. Ia memaksa penonton membaca wajah, gerakan tubuh, suara mesin, dentuman musik, tatapan, darah, dan kekerasan sebagai bagian dari bahasa cerita.Berlatar Detroit tahun 1977, film ini mengikuti John Miller, seorang mantan narapidana dan veteran Vietnam yang berusaha memulai kembali kehidupannya setelah keluar dari penjara. Ia ingin hidup sederhana bersama Sophia, perempuan yang dicintainya. Namun harapan tersebut runtuh ketika John kembali berhadapan dengan dunia kriminal yang pernah menjebaknya.Dari titik itulah Motor City berubah menjadi perjalanan balas dendam yang sangat personal.Alan Ritchson menjadi pusat dari semuanya. Setelah dikenal luas sebagai sosok aksi lewat Reacher, Ritchson kembali memanfaatkan fisiknya yang besar, tetapi kali ini dengan pendekatan yang berbeda. John bukan karakter yang banyak bicara. Bahkan, salah satu eksperimen terbesar film ini adalah hampir menghilangkan dialog dari keseluruhan narasi. Beberapa sumber menyebut film ini hanya memiliki sedikit sekali percakapan verbal.Dan keputusan tersebut ternyata memiliki konsekuensi besar.John Miller: Pria yang Kehilangan Kesempatan untuk Menjadi Orang BiasaMenariknya, John sebenarnya bukan sekadar mesin pembunuh.Pada awal cerita, ia diperlihatkan sebagai seseorang yang ingin keluar dari kehidupan lamanya.Ia sudah menjalani hukuman. Ia mencoba kembali bekerja. Ia memiliki hubungan romantis. Bahkan ada gambaran bahwa John ingin membangun kehidupan normal bersama Sophia.Inilah bagian yang membuat karakter John menjadi lebih menarik dibanding sekadar tokoh protagonis dalam film balas dendam.John sebenarnya sudah memiliki kesempatan untuk menjadi orang biasa.Tetapi masa lalu tidak membiarkannya.Ketika kehidupan yang baru dibangun tersebut dihancurkan. Bukan Film Tanpa Suara, Melainkan Film yang Mengganti Dialog dengan Bahasa VisualKesalahan terbesar jika masuk ke Motor City dengan ekspektasi sebagai film bisu adalah menganggap film ini hanya menghilangkan dialog.Tidak.Film ini tetap sangat “berisik”.Suara pukulan, deru kendaraan, suara senjata, langkah kaki, napas karakter, suara kota dan terutama musik menjadi pengganti percakapan. Musik bahkan memiliki fungsi seperti narator yang tidak terlihat.Ini membuat Motor City terasa lebih dekat dengan sebuah pertunjukan audiovisual daripada film kriminal konvensional.Ben Foster dan Ancaman yang Tidak Selalu Membutuhkan Banyak PenjelasanBen Foster memainkan Reynolds, sosok kriminal yang menjadi pusat konflik John.Foster sebenarnya memiliki kualitas akting yang sangat cocok untuk karakter seperti ini: ekspresif, tidak stabil, dan mampu membuat karakter terasa berbahaya bahkan ketika tidak melakukan apa-apa.Namun film juga memperlihatkan salah satu masalah dari konsep minim dialog.Karakter antagonis membutuhkan ruang untuk menjelaskan motivasi, hubungan kekuasaan, dan psikologinya.Di Motor City, informasi tersebut sebagian besar harus disampaikan melalui tindakan.Hasilnya memang membuat film bergerak cepat, tetapi kedalaman karakter tertentu menjadi terbatas.Ini menjadi salah satu paradoks film: semakin sedikit karakter berbicara, semakin banyak penonton harus menafsirkan.Shailene Woodley dan Karakter SophiaSophia seharusnya menjadi salah satu elemen emosional terpenting dalam perjalanan John.Ia bukan sekadar pasangan protagonisIa adalah representasi dari kehidupan normal yang sebenarnya diinginkan John.Karena itu, hubungan John dan Sophia memiliki fungsi penting dalam struktur cerita: Sophia memperlihatkan bahwa John sebenarnya masih memiliki sisi manusia yang ingin diselamatkan. Namun karakter ini juga menjadi salah satu bagian yang terasa kurang berkembang.Minimnya dialog membuat hubungan mereka lebih banyak dibangun melalui visual daripada percakapan.Secara konsep memang menarik.Tetapi secara emosional, film terkadang membuat penonton harus menerima begitu saja bahwa hubungan mereka sangat dalam tanpa memberikan cukup ruang untuk benar-benar merasakan proses kedekatan tersebut.Detroit 1977 Bukan Sekadar LatarSalah satu kekuatan Motor City adalah bagaimana Detroit tahun 1977 digunakan sebagai atmosfer.Film tidak mencoba membuat Detroit hanya sebagai lokasi tempat karakter bergerak.Kota tersebut terasa seperti bagian dari identitas film.Lingkungan yang kasar, warna visual yang terasa kusam, kendaraan klasik, pakaian, interior, serta musik periode 1970-an menciptakan atmosfer retro yang kuat.Penonton harus “membaca” dunia yang ditampilkan.Detroit dalam film terasa seperti kota yang sedang mengalami luka, dan John seolah menjadi representasi dari luka tersebut.Itulah sebabnya judul Motor City terasa lebih tepat daripada sekadar nama lokasi.Motor, jalan raya, bengkel, mobil, dan kekerasan semuanya menjadi bagian dari identitas visual film.Kekerasan yang Tidak Sekadar Dipakai untuk GayaMotor City tidak malu memperlihatkan kekerasan ,Pukulan terasa berat, Benturan terasa menyakitkan, Darah bukan sekadar aksesoris.Beberapa adegan aksinya bahkan terasa seperti sengaja dirancang untuk membuat penonton meringis.Namun yang menarik adalah kekerasan tersebut sering kali digunakan sebagai bentuk komunikasi.Karena John tidak bisa mengatakan “aku marah”, film membuatnya memukul.Karena ia tidak bisa menjelaskan bahwa dirinya telah kehilangan kendali, tubuhnya menunjukkan hal tersebut, Karena ia tidak memiliki banyak ruang untuk bernegosiasi, konflik diselesaikan melalui fisik.Dengan demikian, aksi bukan hanya bagian hiburan. Aksi menjadi bahasa John.Kesimpulan Motor City (2026) menawarkan film aksi balas dendam dengan gaya yang berbeda, mengandalkan visual, musik, dan ekspresi karakter dibanding dialog. Meski ceritanya sederhana dan beberapa karakter kurang tergali, Alan Ritchson mampu membawa intensitas film dengan kuat. Bukan film yang sempurna, tetapi punya identitas dan atmosfer yang membuatnya tetap menarik untuk disaksikan.

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
VIDEO
UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast
MOVIE
3.8

UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast

Undertone (2025) menjadi salah satu film horor produksi A24 yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan horor modern pada umumnya. Disutradarai oleh Ian Tuason, film ini tidak mengejar ketakutan instan melalui rentetan jumpscare. Sebaliknya, Undertone memilih membangun rasa cemas secara perlahan melalui atmosfer yang sunyi, desain suara yang presisi, serta tekanan psikologis yang terus meningkat hingga klimaks.Premis yang diangkat terasa segar dan tidak biasa. Cerita berpusat pada sebuah lagu misterius yang diyakini menyimpan pesan tersembunyi ketika diputar secara terbalik. Penemuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam sebuah podcast, namun semakin jauh mereka menyelidikinya, semakin banyak kejadian ganjil yang sulit dijelaskan secara logis. Ide mengenai backmasking dipadukan dengan dunia podcast membuat misteri yang disajikan terasa relevan dengan era digital, sekaligus memberikan identitas tersendiri di tengah banyaknya film horor bertema supranatural.Keheningan Menjadi Kunci Dari FilmYang paling menonjol dari Undertone adalah kemampuannya menciptakan rasa tidak nyaman melalui keheningan. Ian Tuason memahami bahwa rasa takut tidak selalu harus muncul dari sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul di layar. Sebaliknya, kamera yang diam terlalu lama, ruangan yang nyaris tanpa suara, hingga efek audio yang samar mampu membuat penonton terus berada dalam kondisi waspada. Ketegangan dibangun sedikit demi sedikit, sehingga ketika momen-momen penting akhirnya datang, dampaknya terasa jauh lebih efektif.Desain suara menjadi elemen yang sangat vital dalam film ini. Mengingat premisnya berkaitan erat dengan musik dan rekaman audio, setiap detail suara memiliki peran penting dalam membangun atmosfer. Bisikan, dengungan frekuensi rendah, hingga distorsi suara dimanfaatkan bukan sekadar sebagai efek, tetapi menjadi bagian dari narasi yang perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan halusinasi. Penggunaan audio yang minimalis justru memperkuat kesan mencekam dan membuat penonton ikut larut dalam paranoia yang dialami para karakter.Akting Dari Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, Nina Kiri memberikan performa yang sangat kuat sebagai Evy. Ia berhasil menggambarkan perubahan emosi karakternya secara bertahap, mulai dari rasa penasaran, kegelisahan, hingga ketakutan yang perlahan menggerogoti kondisi mentalnya. Ekspresi yang subtil dan permainan emosinya membuat perjalanan psikologis Evy terasa autentik dan mudah diikuti.Di sisi lain, Adam DiMarco sebagai Justin tampil lebih tenang, namun tetap mampu menghadirkan emosi yang dalam. Chemistry antara keduanya terasa natural, sehingga hubungan mereka menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat penonton semakin peduli terhadap nasib para karakter ketika misteri mulai berkembang menjadi ancaman yang nyata.Sinematografi Yang Simpel Namun Tetap TegangSecara visual, sinematografi Undertone juga patut diapresiasi. Dominasi pencahayaan redup, komposisi gambar yang rapi, serta penggunaan ruang kosong dalam banyak adegan berhasil memperkuat kesan isolasi dan kesunyian. Film ini memanfaatkan ruang negatif dengan efektif, membuat penonton terus merasa ada sesuatu yang mengintai meskipun layar tampak kosong. Pendekatan visual seperti ini selaras dengan tema psikologis yang diusung dan menjadi salah satu alasan mengapa atmosfer film terasa begitu melekat.Meski memiliki tempo yang relatif lambat, ritme tersebut justru menjadi bagian dari identitas film. Penonton yang menyukai horor penuh aksi mungkin akan merasa film ini berjalan terlalu perlahan. Namun bagi pencinta horor atmosferik dan psikologis, tempo tersebut memberikan ruang untuk menikmati setiap petunjuk, membangun teori sendiri, sekaligus merasakan tekanan yang terus meningkat hingga akhir cerita.KesimpulanPada akhirnya, Undertone bukan sekadar film tentang kutukan atau fenomena supranatural. Film ini mengeksplorasi rasa takut yang muncul dari obsesi, rasa penasaran, serta bagaimana suara—sesuatu yang biasanya dianggap biasa—dapat berubah menjadi sumber teror yang menghantui pikiran.Dengan penyutradaraan yang matang, desain suara yang luar biasa, sinematografi yang elegan, dan performa akting yang solid, Undertone berhasil menjadi horor psikologis yang meninggalkan kesan mendalam bahkan setelah kredit penutup bergulir.Film ini sukses menghadirkan pengalaman menonton yang menghantui, sekaligus menjadi salah satu horor atmosferik paling menarik di tahun 2025.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Jul 2026
VIDEO
Film Kung Fu Soccer : Stephen Chow Kembali dengan Kekocakan Kung Fu dan Sepak Bola!
MOVIE
3.5

Film Kung Fu Soccer : Stephen Chow Kembali dengan Kekocakan Kung Fu dan Sepak Bola!

Setelah cukup lama tidak menghadirkan film layar lebar sebagai sutradara, Stephen Chow akhirnya kembali dengan Kung Fu Soccer (2026).Film aksi, komedi, dan olahraga ini menjadi salah satu proyek yang paling menarik perhatian karena membawa kembali formula yang pernah membuat Shaolin Soccer (2001) begitu ikonik: sepak bola, seni bela diri, aksi berlebihan, komedi absurd, serta karakter-karakter underdog yang berusaha membuktikan kemampuan mereka. Film ini juga menjadi film layar lebar pertama Chow sebagai sutradara setelah The New King of Comedy (2019).Namun, Kung Fu Soccer bukan sekadar mengulang cerita Shaolin Soccer. Kali ini Stephen Chow mengarahkan cerita kepada sebuah tim sepak bola wanita bernama Emei yang harus menghadapi berbagai tantangan dalam turnamen Supreme Invincible Cup. Tim tersebut dipimpin oleh Shuangshuang yang diperankan Zhang Xiaofei, bersama Yu Long yang diperankan Dilraba Dilmurat dan Xu Feng yang diperankan Yixing Zhang.Kembali Ke Formula Stephen ChowSalah satu alasan utama mengapa Kung Fu Soccer terasa menarik adalah karena film ini benar-benar membawa kembali gaya penyutradaraan Stephen Chow.Stephen Chow masih sangat memahami bagaimana menggabungkan komedi slapstick, ekspresi wajah yang berlebihan, dialog kocak, adegan aksi yang tidak masuk akal, serta momen-momen yang sengaja dibuat absurd. Bahkan ketika pertandingan sepak bola berlangsung serius, selalu ada saja kejadian yang membuat suasananya berubah menjadi komedi. Inilah yang membuat film ini terasa seperti karya Stephen Chow.Ada banyak adegan yang seolah-olah mengatakan kepada penonton bahwa mereka tidak perlu terlalu serius ketika menonton film ini. Logika dan hukum fisika bisa ditinggalkan sementara karena yang ingin diberikan Chow adalah hiburan.Konsep kung fu yang diterapkan ke dalam sepak bola juga menjadi daya tarik tersendiri. Tendangan, gerakan tubuh, dan berbagai teknik bela diri dikemas seperti sebuah pertarungan besar, tetapi tetap dengan sentuhan humor.Buat penggemar Shaolin Soccer, formula seperti ini tentu akan terasa sangat familiar.Bahkan secara konsep, Kung Fu Soccer bisa dianggap sebagai penerus spiritual Shaolin Soccer, bukan sekadar film olahraga biasa. Keduanya sama-sama memadukan seni bela diri dengan sepak bola dan menghadirkan kelompok underdog yang harus berjuang menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih kuat.Akting Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, jajaran pemain Kung Fu Soccer tampil cukup baik.Zhang Xiaofei sebagai Shuangshuang mampu menjadi pusat perhatian sebagai karakter utama. Ia bisa membawa sisi serius ketika cerita membutuhkannya, tetapi juga mampu mengikuti ritme komedi yang menjadi identitas film.Dilraba Dilmurat juga memberikan penampilan yang menyenangkan. Kehadirannya memberikan energi tersendiri, terutama ketika film mulai memasuki bagian pertandingan.Sementara Yixing Zhang juga cukup menarik sebagai bagian penting dari perjalanan tim.Selain ketiganya, film ini diperkuat oleh deretan pemeran pendukung seperti Mi Ai, Jin Au-Yeung, Louis Cheung, Sisley Choi, Jacob Gau, Carina Lau, Jiayue Li, Zhao Lina, Takeru Satoh, Larine Tang, Jimmy O. Yang, dan Isabelle Zhang.Menariknya, film ini juga membawa sejumlah nama besar Asia sebagai bagian dari jajaran pemainnya. Takeru Satoh dan Carina Lau menjadi salah satu nama yang cukup mencuri perhatian dari jajaran cast.Ceritanya Sederhana , Namun KuatDari segi cerita, Kung Fu Soccer tidak mencoba membuat alur yang terlalu rumit.Fokus utamanya adalah perjalanan tim sepak bola wanita Emei dalam menghadapi berbagai rintangan sampai mereka bisa membuktikan kemampuan di kompetisi besar.Cerita seperti ini sebenarnya sangat familiar namun, kesederhanaan tersebut justru membuat film mudah diikuti.Alurnya tidak berbelit-belit dan penonton bisa dengan cepat memahami tujuan setiap karakter. Film juga tidak terlalu sibuk memasukkan banyak konflik yang justru bisa mengganggu fokus utama.Meski begitu, Kung Fu Soccer tetap memberikan beberapa momen emosional sehingga film tidak hanya berisi komedi dari awal sampai akhir.Komedi Yang Kocak & AbsurdKalau ada satu hal yang paling terasa dari Kung Fu Soccer, tentu saja adalah komedinya.Stephen Chow masih menggunakan jenis humor yang menjadi ciri khasnya: absurd, slapstick, spontan, dan terkadang sengaja dibuat berlebihan.Ada beberapa part yang benar-benar berhasil membuat tertawa karena timing komedinya cukup tepat. Bahkan dalam beberapa adegan pertandingan, sesuatu yang awalnya terlihat serius bisa berubah menjadi lelucon hanya karena ekspresi karakter atau situasi yang tidak terduga.Yang menarik, humor dalam film ini tidak hanya muncul dari dialog. Banyak juga komedi visual yang memanfaatkan gerakan tubuh, editing, efek visual, hingga reaksi para karakter.Buat penonton yang memang cocok dengan gaya komedi Stephen Chow, bagian ini kemungkinan besar menjadi salah satu alasan utama menikmati filmnya.Ada Momen Sedih Di Balik KekocakanWalaupun identitas utamanya adalah film komedi, Kung Fu Soccer tidak melupakan sisi emosional.Beberapa bagian cerita memberikan ruang bagi karakter untuk memperlihatkan perjuangan, tekanan, kegagalan, dan alasan mereka tetap bertahan.Momen-momen tersebut membuat karakter terasa sedikit lebih manusiawi.Perubahan suasana dari komedi menuju adegan yang lebih emosional juga cukup menarik. Penonton yang awalnya tertawa bisa tiba-tiba diajak melihat sisi lain dari karakter-karakternya.Memang tidak semua momen emosionalnya memiliki kedalaman yang luar biasa, tetapi cukup untuk memberikan keseimbangan agar film tidak terasa seperti kumpulan sketsa komedi semata.Adegan Musikal Yang Menambah WarnaSelain kung fu, sepak bola, komedi, dan drama, Kung Fu Soccer juga mempunyai beberapa bagian musikal.Elemen ini memang bukan bagian terbesar dari film, tetapi cukup memberikan variasi.Bagian musikal membuat film terasa semakin ringan dan semakin dekat dengan gaya hiburan Stephen Chow yang memang sering mencampurkan berbagai elemen dalam satu film.Ketika sebuah film sudah mempunyai pertandingan sepak bola, aksi kung fu, komedi absurd, dan drama, kehadiran beberapa bagian musikal justru membuat pengalaman menontonnya semakin unik.Punya Sinematografi & CGI Yang BagusSecara visual, Kung Fu Soccer juga tampil cukup menarik.Adegan pertandingan sepak bola dibuat lebih spektakuler dengan penggunaan kamera yang dinamis serta koreografi yang menggabungkan gerakan sepak bola dengan seni bela diri.CGI juga digunakan untuk memperbesar skala aksi. Tendangan yang biasanya hanya terlihat sebagai tendangan biasa dapat dibuat menjadi sebuah serangan dengan efek yang jauh lebih fantastis.Memang, CGI dalam film seperti ini tidak harus selalu terlihat realistis karena sejak awal Kung Fu Soccer memang bermain di wilayah fantasi dan komedi.Justru visual yang berlebihan tersebut menjadi bagian dari identitas film.Hal ini juga mengingatkan kembali pada Shaolin Soccer, yang terkenal dengan penggunaan efek visual untuk membuat pertandingan sepak bola terasa seperti pertarungan superhero.Stephen Chow Masih Punya Sentuhan MagisnyaHal paling menarik dari Kung Fu Soccer adalah bagaimana Stephen Chow masih mampu mempertahankan identitasnya sebagai seorang filmmaker.Setelah bertahun-tahun, gaya khasnya masih sangat mudah dikenali.Film ini tidak berusaha menjadi film sepak bola yang realistis. Tidak juga mencoba menjadi film kung fu yang serius.Dan menurut MINPAS , keputusan tersebut adalah pilihan yang tepat.Film ini mungkin tidak akan memberikan sesuatu yang benar-benar baru bagi penonton yang sudah sangat mengenal karya-karya Stephen Chow. Beberapa formula bahkan terasa seperti nostalgia terhadap karya-karya lamanya. Tetapi justru di situlah kesenangannya.Menonton Kung Fu Soccer seperti kembali melihat Stephen Chow bermain dengan dunia yang absurd, karakter underdog, aksi yang tidak masuk akal, dan komedi yang sengaja dibuat kelewat batas.KesimpulanKung Fu Soccer (2026) adalah comeback yang cukup menyenangkan dari Stephen Chow sebagai sutradara.Cerita yang sederhana dan tidak berbelit-belit membuat film mudah dinikmati.Akting para pemainnya juga cukup bagus, sementara komedi absurd khas Stephen Chow menjadi salah satu kekuatan terbesar film.Untuk SOBAT KTF jangan berharap Kung Fu Soccer bisa sepenuhnya mengulang keajaiban Shaolin Soccer ya...Kung Fu Soccer cukup berhasil membawa kembali formula Stephen Chow ke layar lebar dan jelas terasa seperti surat cinta Stephen Chow kepada salah satu formula paling ikonik dalam kariernya.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Aug 2026
Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova Terhasut oleh Bisikan Suara-Suara di Hutan! Film Horor-Misteri Hasut Karya Sutradara Ilya Sigma Rilis Teaser Trailer & Poster!
NEWS

Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova Terhasut oleh Bisikan Suara-Suara di Hutan! Film Horor-Misteri Hasut Karya Sutradara Ilya Sigma Rilis Teaser Trailer & Poster!

Film Hasut akan tayang mulai 8 Oktober 2026 di bioskop ! Jakarta, 31 Agustus 2026 — Tuta Films merilis official teaser trailer & poster film horor misteri Hasut, yang menjadi debut penyutradaraan penulis-sutradara Ilya Sigma. Dalam teaser trailer yang dirilis, menampilkan empat sahabat berpasangan, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova berada di sebuah hutan. Mereka melakukan sesi meditasi. Ketika keinginan untuk menyembuhkan berubah menjadi kontrol, semuanya pun berubah.Situasi tak terkendali, saat suara-suara mulai terdengar, kecurigaan perlahan mulai tumbuh sehingga batas antara kenyataan dan prasangka pun perlahan menghilang..Tak ada yang benar-benar tahu apa yang nyata, dan setiap orang hanya menuruti apa yang sebenarnya mereka ingin percaya.Namun, dalam official teaser posternya menampilkan ketiga pemeran, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova terkulai. Sementara hanya Karina Salim yang masih sadar. Apa yang terjadi pada mereka? Dan mengapa hanya Karina yang masih terjaga?“Film Hasut terasa personal bagi saya karena berbicara tentang luka, rasa percaya, dan keinginan untuk menyembuhkan orang yang kita sayangi. Film ini mempertanyakan kapan perhatian berubah menjadi kontrol, dan mengapa kita mudah mempercayai sebuah suara ketika suara itu mengatakan sesuatu yang memang ingin kita percaya. Hampir seluruh proses syuting film Hasut berada di outdoor, di tengah hutan. Kami menjelajahi beberapa hutan tanpa kendala berarti.Syutingnya berjalan lancar, dan semua sehat, karena alam ikut menjaga kami,” ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma. “Yang menarik dari Hasut adalah bagaimana film ini membangun rasa takut tanpa menghadirkan hantu. Suara dari HT saja sudah bikin seram. Apalagi cerita tentang healing di hutan ini dekat dengan dunia wellness yang juga saya kenal,” ujar Karina Salim.Diproduksi oleh Tuta Films, Hasut diproduseri oleh Putrama Tuta dan Siera Tamihardja. Film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Ikuti informasi terbaru tentang film Hasut melalui akun Instagram resmi @filmhasut dan @tutafilms.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026
VIDEO
‘Aku Sebelum Aku’ Sebuah Potret Pencarian Jati Diri dan Luka yang Kerap Tak Terucapkan
MOVIE
4.3

‘Aku Sebelum Aku’ Sebuah Potret Pencarian Jati Diri dan Luka yang Kerap Tak Terucapkan

Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai bertanya, "Apa yang selama ini aku lakukan benar-benar untuk diriku sendiri?"Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama dalam Aku Sebelum Aku (2026). Film terbaru garapan Gina S. Noer ini mengisahkan Jati, seorang remaja laki-laki yang tumbuh di bawah didikan ayah yang keras dan penuh ambisi terhadap masa depannya. Sedari kecil, hidup Jati seolah telah dipetakan tentang apa yang harus ia capai, seperti apa ia harus berkembang, hingga jalan hidup seperti apa yang dianggap terbaik untuknya.Sumber : NetflixPremis tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Tidak sedikit dari kita yang pernah berada di posisi Jati, berusaha memenuhi harapan orang tua, mengejar sesuatu karena dianggap "baik", hingga lupa menanyakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya diinginkan.SinopsisFilm Aku Sebelum Aku mengisahkan Jati (Bima Sena), seorang remaja SMP dengan segudang prestasi yang tampak sempurna di kalangan anak sepantarannya. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan kecemasan akibat tuntutan yang diberikan oleh ayahnya, Jaya (Ringgo Agus Rahman). Alhasil, sebuah momen tak terduga menjadi hasil bom waktu akibat kecemasan yang lama ia pendam. Serangan panik yang berakhir mendatangkannya ke dalam perjalanan juga petualangan nan historis dari lingkungan baru.Tempat Untuk Pulang yang Seringkali Menjadi Sumber LukaSalah satu kekuatan terbesar Aku Sebelum Aku terletak pada bagaimana film ini membangun dinamika hubungan antara Jati dan sang ayah. Konflik yang dihadirkan tidak menempatkan salah satu pihak sebagai sosok yang sepenuhnya benar atau salah. Sebaliknya, film memperlihatkan bagaimana cinta dan perhatian terkadang hadir dalam bentuk yang keliru, menciptakan jarak emosional yang perlahan menjadi luka bagi kedua belah pihak.Sumber : NetflixMelalui hubungan tersebut, film mengajak penonton memahami bahwa setiap anggota keluarga membawa harapan, ketakutan, dan caranya masing-masing dalam menunjukkan kasih sayang. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, niat baik pun dapat berubah menjadi tekanan yang membebani.Pendekatan seperti ini membuat konflik keluarga dalam film terasa begitu manusiawi. Banyak momen yang mungkin akan terasa dekat bagi sebagian penonton, terutama mereka yang pernah berada di persimpangan antara memenuhi ekspektasi orang tua dan menemukan jalan hidupnya sendiri.Membuka Ruang Diskusi Tentang Kesehatan Mental dan Sudut Pandang TerbukaDi balik kisah yang diusung, Aku Sebelum Aku juga menyinggung berbagai isu yang relevan dengan kehidupan saat ini, salah satunya mengenai kesehatan mental. Film ini mengajak penonton untuk melihat bahwa pergulatan batin seseorang seringkali jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.Gina S. Noer menghadirkan berbagai sudut pandang yang mendorong penonton untuk lebih terbuka dan berempati terhadap pengalaman orang lain. Alih-alih menawarkan jawaban yang hitam dan putih, film ini justru memberikan ruang untuk berdiskusi, memahami, dan mempertimbangkan perspektif yang mungkin berbeda dari pengalaman pribadi masing-masing.Sumber : NetflixPendekatan tersebut menjadikan Aku Sebelum Aku terasa lebih dari sekadar kisah tentang pencarian jati diri. Film ini juga menjadi pengingat bahwa memahami seseorang seringkali membutuhkan rasa kesediaan untuk mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.Gina S. Noer dalam Meramu Kisah Coming-of-AgeDalam beberapa tahun terakhir, Gina S. Noer menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan cerita-cerita yang dekat dengan pengalaman manusia dan penuh nuansa emosional. Di Aku Sebelum Aku, ia kembali memperlihatkan kemampuannya dalam mengembangkan narasi coming-of-age yang terasa hangat, personal, dan membumi.Konflik yang dibangun berkembang secara natural hingga mencapai penyelesaiannya. Film tidak terburu-buru dalam menyampaikan pesan dengan membiarkan penonton bertumbuh bersama para karakternya dan memahami setiap keputusan yang mereka ambil.Sumber : NetflixPendekatan yang intim tersebut membuat perjalanan Jati terasa autentik, sekaligus memperkuat tema utama film mengenai pencarian identitas dan keberanian untuk mengenal diri sendiri.KesimpulanPada akhirnya, Aku Sebelum Aku bukan sekadar film tentang seorang remaja yang berkonflik dengan ayahnya. Film ini merupakan refleksi mengenai hubungan keluarga, ekspektasi, dan perjalanan panjang untuk memahami siapa diri kita sebenarnya di tengah berbagai tuntutan yang datang dari luar.Dengan premis yang dekat dengan kehidupan banyak orang, penyutradaraan yang matang dari Gina S. Noer, serta keberaniannya mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya empati, Aku Sebelum Aku berhasil menjadi tontonan yang hangat sekaligus mengundang perenungan. Lebih dari itu, film ini terasa cocok untuk ditonton bersama keluarga atau menjadi bahan diskusi dengan orang-orang terdekat.Sumber : NetflixFilm Aku Sebelum Aku sudah dapat ditonton di situs resmi Netflix!

Rachmatya Shabrina Ramadhani 17 Jul 2026
Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan
MOVIE
3.0

Ketika Sebuah Rumah Menjadi Tempat Untuk Menemukan Harapan

Rumah Singgah hadir sebagai film drama yang tidak hanya mengandalkan konflik emosional, tetapi juga berusaha memberikan ruang bagi hampir setiap tokohnya untuk memiliki cerita masing-masing. Digara​​p oleh Dyan Sunu Prastowo dan ditulis oleh Celvin Jaya Hadi, Raditya Kurnia, dan Aryo Wibianto, film ini menawarkan kisah tentang manusia, hubungan, serta arti sebuah tempat yang perlahan bisa berubah menjadi rumah bagi orang-orang yang sedang membutuhkan tempat untuk pulang.Sejak awal, film ini mampu membangun cerita dengan unsur drama yang cukup kuat. Menariknya, Rumah Singgah tidak hanya berfokus pada satu karakter utama, tetapi memberikan kesempatan kepada sejumlah tokohnya untuk diperkenalkan lebih jauh. Masing-masing memiliki latar belakang, persoalan, dan perjalanan emosional yang membuat keberadaan mereka terasa penting terhadap keseluruhan cerita.Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih manusiawi. Penonton tidak hanya diajak mengikuti satu konflik, tetapi juga melihat bagaimana berbagai karakter dengan permasalahan masing-masing bisa saling bertemu, berinteraksi, dan memberikan pengaruh satu sama lain.Bukan Sekadar Tempat PersinggahanSalah satu kekuatan terbesar Rumah Singgah justru terdapat pada judulnya. “Rumah Singgah” memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat untuk tinggal sementara.Rumah dalam film ini menjadi ruang tempat para pasien menemukan sesuatu yang mungkin selama ini mereka butuhkan: keluarga, persahabatan, cinta, harapan, dan alasan untuk tetap tersenyum.Mereka mungkin datang sebagai orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit, tetapi rumah tersebut perlahan mempertemukan mereka dengan orang-orang yang membuat perjalanan hidup terasa sedikit lebih ringan. Dari sinilah film menunjukkan bahwa rumah tidak selalu berbicara tentang bangunan atau tempat tinggal.Rumah bisa berarti orang-orang yang membuat kita merasa diterima.Makna tersebut menjadi salah satu pesan emosional yang membuat Rumah Singgah terasa dekat dengan kehidupan. Ada kalanya seseorang tidak membutuhkan solusi besar untuk menghadapi masalahnya. Terkadang, kehadiran orang lain, sebuah percakapan sederhana, persahabatan, atau bahkan tawa kecil sudah cukup untuk memberikan alasan agar seseorang terus bertahan.Akting & Chemistry Dari Para Pemain Yang BagusFilm ini dibintangi oleh Adhisty Zara sebagai Karla, Devano Danendra sebagai Luki, Ciccio Manassero sebagai Toni, dan Messi Gusti sebagai Pika.Keempatnya mampu memberikan warna berbeda terhadap cerita. Adhisty Zara tampil dengan pembawaan emosional yang mampu membawa penonton lebih dekat dengan karakter Karla. Sementara Devano Danendra memberikan keseimbangan melalui karakter Luki yang memiliki dinamika tersendiri dalam cerita.Chemistry antara para pemain juga menjadi salah satu aspek yang membuat film terasa hidup. Hubungan antarkarakter tidak terasa sekadar dibuat untuk kebutuhan cerita, tetapi berkembang melalui interaksi dan berbagai momen yang mereka lalui bersama.Yang menarik, kekuatan akting film ini tidak hanya berasal dari pemeran utamanya. Para pemain pendukung seperti Aming, Dewi Irawan, Alex Abbad, dan Marthino Lio turut memberikan kontribusi besar terhadap atmosfer emosional film.Kehadiran mereka membuat cerita memiliki lapisan emosi yang lebih luas. Beberapa karakter pendukung bahkan mampu mencuri perhatian melalui ekspresi, dialog, maupun interaksi mereka dengan karakter lainnya.Unsur Drama & Komedi yang Berjalan SeimbangMeski membawa tema yang cukup emosional, Rumah Singgah tidak menjadikan dirinya sebagai film drama yang terus-menerus serius.Unsur komedi disisipkan di beberapa bagian dengan cukup baik sehingga film tidak terasa berat ataupun membosankan. Momen-momen ringan tersebut memberikan jeda dari konflik emosional yang sedang berlangsung.Perpaduan antara drama dan komedi ini menjadi salah satu alasan mengapa film tetap terasa nyaman untuk diikuti. Ketika cerita mulai membawa penonton ke situasi yang emosional, humor hadir untuk memberikan sedikit ruang bernapas sebelum cerita kembali membawa penonton kepada konflik utamanya.Keseimbangan tersebut juga terasa penting karena tema yang diangkat sebenarnya cukup sensitif dan emosional. Dengan adanya komedi, film tidak terasa terlalu melodramatis.Punya Sinematografi Yang Cukup BagusDari sisi visual, Rumah Singgah memiliki sinematografi yang cukup baik dalam mendukung suasana cerita. Pengambilan gambar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi turut membantu membangun atmosfer emosional di beberapa adegan.Salah satu bagian yang cukup menarik adalah scene origami. Adegan tersebut memiliki nilai visual sekaligus emosional yang kuat. Origami yang secara sederhana merupakan aktivitas melipat kertas dapat terasa memiliki makna lebih besar ketika ditempatkan dalam konteks cerita.Visual pada bagian tersebut menjadi salah satu momen yang menunjukkan bahwa Rumah Singgah tidak hanya ingin bercerita melalui dialog. Ada beberapa hal yang disampaikan melalui gambar, gestur, serta objek yang digunakan oleh karakter.Keluarga Bukan Hanya Tentang Ikatan DarahRumah Singgah bukan hanya film mengenai para pasien dan tempat mereka tinggal sementara. Film ini berbicara tentang bagaimana manusia bisa menemukan keluarga di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Keluarga dalam film ini tidak selalu hadir melalui hubungan darah. Ia dapat terbentuk melalui persahabatan, kepedulian, kasih sayang, dan keberanian untuk hadir bagi seseorang ketika mereka sedang berada di titik terendah.Film ini juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik seseorang yang terlihat kuat, bisa saja terdapat perjuangan yang sangat berat. Karena itu, sedikit perhatian dan kepedulian dari orang lain terkadang bisa memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.KesimpulanSecara keseluruhan, Rumah Singgah merupakan film drama yang berhasil menggabungkan cerita emosional, persahabatan, keluarga, cinta, serta komedi dengan cukup baik. Keputusan untuk memberikan cerita kepada hampir setiap karakter membuat dunia film terasa lebih luas dan membuat penonton memiliki kesempatan untuk memahami perjalanan masing-masing tokoh.Akting dan chemistry para pemain juga menjadi kekuatan utama, ditambah dengan sinematografi yang cukup menarik, mRumah Singgah mampu memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh.Film ini ingin menyampaikan pesan bahwa rumah tidak selalu berarti tempat untuk kembali. Terkadang, rumah adalah tempat di mana kita menemukan orang-orang yang membuat kita kembali memiliki alasan untuk berharap.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan film bergenre drama, persahabatan, dan keluarga , film ini bisa jadi tonton wajib buat kalian.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Aug 2026