Logo KTF KupasTuntasFilm

Debut Executive Producer Nikita Mirzani, Film Beautiful Pain akan Tayang 22 Oktober 2026 Di Bioskop!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Kolaborasi Dapur Film milik Hanung Bramantyo dan debut sutradara Dmaz Brodjonegoro, resmi rilis first-look tentang rahasia, luka, dan pengkhianatan.

Jakarta, 26 Agustus 2026 — Di balik senyum hangat sebuah keluarga dan keintiman yang tampak sempurna, selalu ada luka yang disembunyikan rapat-rapat. Rasa sakit itu kini siap disingkap ke layar lebar melalui film drama paling dinanti tahun ini, "Beautiful Pain", yang secara resmi mengumumkan tanggal penayangan serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Bersamaan dengan pengumuman tanggal rilis tersebut, film ini meluncurkan potongan gambar dan cuplikan video perdana (first-look) yang langsung menebar atmosfer penuh tanda tanya, pekat akan ketegangan batin, dan sarat misteri tak terucap. Proyek prestisius ini sekaligus menandai babak baru dalam karier Nikita Mirzani yang mencatatkan debut perdananya sebagai Executive Producer, berdampingan dengan perannya di depan kamera.

Executive Producer sekaligus pemeran Nikita Mirzani membagikan antusiasmenya terhadap debut di belakang layarnya ini. “Melalui film Beautiful Pain, saya akhirnya mengambil langkah baru untuk mendukung sebuah cerita yang penting untuk dibicarakan. Film ini kami buat untuk kita semua yang pernah merasakan disakiti, dan saya berharap film ini dapat menciptakan diskusi yang penting nantinya.”

Dalam penggarapannya, proyek ini menggandeng rumah produksi bereputasi tinggi Dapur Film milik sutradara kawakan Hanung Bramantyo, serta menjadi ajang unjuk kebolehan bagi sutradara debutan berbakat, Dmaz Brodjonegoro, dalam meramu konflik rumah tangga dan drama psikologis yang intens.

Peluncuran materi first-look foto dan video melalui kanal media sosial resmi serta akun para pemeran utama, seperti Raihaanun, Baim Wong, dan Nikita Mirzani, langsung memantik tanda tanya besar. Pada first-look foto yang dirilis menyajikan teka-teki relasi yang kontras: sosok Raihaanun yang merengkuh kedua anaknya di pesisir pantai dengan tatapan dingin, di foto lainnya terlihat dalam momen intim antara Nikita Mirzani dan Baim Wong di ruang temaram, hingga foto yang menggambarkan kegetiran antara Niki dan Raihaanun, yang mengisyaratkan pengkhianatan besar. Sementara pada video first-look yang dirilis memperlihatkan lapisan trauma problematika rumah tangga yang mendalam, yang dialami oleh karakter Raihaanun. Di satu sisi, ia ingin bangkit meski hidup hanya bersama anak-anak, namun di sisi lain ia harus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang pilihan tersebut.

Ikut serta dalam memproduseri film ini, Hanung Bramantyo angkat bicara mengenai alasan yang dimilikinya. “Saya selalu senang dengan adanya suara-suara baru dalam perfilman. Dari awal saya sudah percaya dengan konsep yang dibawa oleh film ini, bagaimana representasi perjuangan sembuh dari trauma yang banyak dari kita pernah lalui. Saya harap film ini dapat menjadi refleksi bagi kita semua."

Apakah kepedihan dan trauma mendalam yang dipikul Raihaanun berakar dari hubungan terlarang yang terjadi antara Baim Wong dan Nikita Mirzani?

Mengusung pesan utama fight the trauma, film ini menyuguhkan sinopsis resmi yang menggetarkan. Beautiful Pain mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal yang berusaha bangkit dari jurang keterpurukan dan menemukan secercah harapan melalui karier barunya sebagai aktris. Namun, harapan itu runtuh seketika saat fitnah keji dan kasus pelecehan seksual menghancurkan nama baiknya hingga merenggut hak asuh atas buah hati tercintanya. Dikelilingi dukungan orang-orang terdekat, ia menolak untuk bungkam dan memilih berdiri teguh melawan ketidakadilan sistem yang bias demi merebut kembali kehormatan, keutuhan keluarga, serta suaranya sebagai seorang perempuan. Isu sensitif seputar KDRT, relasi kuasa, dan kekerasan seksual dibungkus dengan narasi dramatis yang berani dan menyentuh nurani.

Sutradara Dmaz Brodjonegoro memberikan pernyataan mengenai apa yang ingin dibawakannya melalui film ini. “Beautiful Pain bukan hanya tentang trauma, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan merebut kembali suara. Saya berharap film ini mengajak penonton mempertanyakan siapa yang dipercaya, siapa yang dilindungi, dan seperti apa keadilan bagi mereka yang harus memperjuangkannya sendirian.”

Kemegahan cerita Beautiful Pain dihidupkan oleh ansambel pemeran lintas generasi terbaik di industri perfilman Indonesia. Film ini mempertemukan kepiawaian akting Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Tarra Budiman, Nikita Mirzani, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Sha Ine Febriyanti, Anantya Kirana, Evano Zyan, Willem Bevers, Anastasia Herzigova, hingga Berliana Lovell. Sementara di jajaran kreatif, kursi penyutradaraan dipercayakan kepada Dmaz Brodjonegoro dengan Nikita Mirzani sebagai Executive Producer di bawah naungan bendera produksi Dapur Film.

Film Beautiful Pain siap menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam dan menggugah kesadaran masyarakat di seluruh jaringan bioskop Tanah Air mulai 22 Oktober 2026. Pantau terus kabar terbaru, potongan adegan eksklusif, dan jadwal peluncuran trailer resmi melalui Akun media sosial resmi @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

More Recommendations

Ketika Persahabatan, Kriminalitas, dan Pesta Musik Bertemu!
MOVIE
3.0

Ketika Persahabatan, Kriminalitas, dan Pesta Musik Bertemu!

Film Indonesia kembali menghadirkan cerita kriminal dengan pendekatan yang cukup berbeda lewat Operasi Pesta Copet. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Edy Khemod, dengan bantuan Rino Sarjono dalam skenario, film ini tidak hanya menjadikan aksi pencopetan sebagai sumber konflik, tetapi juga mengemasnya menjadi cerita tentang persahabatan, kondisi sosial, ekonomi, dan kehidupan anak muda.Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, Kawai Labiba sebagai Melodi, dan Fauzan Lubis sebagai Silet, film ini terasa seperti sebuah perjalanan bersama sekelompok karakter yang memiliki persoalan dan latar belakang masing-masing.Edy Khemod Berhasil Membuat Cerita yang MenarikSalah satu kekuatan terbesar Operasi Pesta Copet terletak pada bagaimana Edy Khemod membangun cerita. Sebagai penulis sekaligus sutradara, Edy mampu menjaga agar film tidak hanya berfokus pada aksi kriminalnya saja.Cerita berkembang dengan cukup dinamis. Penonton diajak mengikuti karakter-karakternya secara perlahan, memahami hubungan mereka, melihat masalah yang mereka hadapi, sekaligus mengikuti bagaimana sebuah rencana pencopetan di tengah konser kemudian berkembang menjadi konflik yang jauh lebih besar.Menariknya, film ini tidak mencoba menjadikan aksi kriminal sebagai sesuatu yang terlihat keren semata. Ada alasan, tekanan, dan kondisi tertentu yang membuat para karakter mengambil keputusan tersebut. Pendekatan seperti ini membuat cerita terasa lebih manusiawi sekaligus memberikan ruang bagi film untuk menyampaikan kritik sosial.Punya Isu yang Sangat Relate dengan Kehidupan Sehari-hariPremis mengenai pencopetan di sebuah konser musik menjadi salah satu hal yang membuat Operasi Pesta Copet terasa dekat dengan realitas.Konser merupakan tempat yang identik dengan kerumunan, musik, kesenangan, dan euforia. Namun di tengah ribuan orang yang sedang menikmati pertunjukan, selalu ada kemungkinan munculnya tindakan kriminal seperti pencopetan.Film ini kemudian memanfaatkan situasi tersebut sebagai dasar cerita heist yang cukup menarik. Keramaian konser bukan hanya menjadi latar, tetapi juga menjadi bagian penting dari bagaimana aksi dan konflik dalam film berjalan.Hal ini membuat Operasi Pesta Copet memiliki premis yang sederhana tetapi mudah diterima penonton karena mengambil sesuatu yang memang bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Kritik Sosial tentang Ekonomi & KriminalitasDi balik unsur komedi dan keseruannya, film ini juga menyelipkan kritik sosial yang cukup terasa.Operasi Pesta Copet memperlihatkan bagaimana persoalan ekonomi dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan kriminal. Film tidak serta-merta membenarkan tindakan tersebut, tetapi mencoba memperlihatkan bahwa kriminalitas terkadang lahir dari permasalahan sosial yang lebih kompleks.Inilah yang membuat konflik dalam film terasa lebih relevan dengan kondisi sosial di Indonesia. Ada sindiran-sindiran kecil mengenai kehidupan masyarakat, kesenjangan, kebutuhan ekonomi, serta bagaimana seseorang bisa berada dalam kondisi yang membuat pilihan hidupnya menjadi semakin sulit.Kritiknya memang tidak disampaikan secara terlalu berat. Justru film memilih menyampaikannya secara halus melalui dialog, situasi, dan perjalanan karakter sehingga pesan sosial tersebut tetap bisa diterima tanpa menghilangkan sisi hiburannya.Chemistry Pemain yang Natural & SolidDari sisi akting, Operasi Pesta Copet mendapatkan dukungan kuat dari jajaran pemainnya.Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal mampu menjadi salah satu pusat perhatian dengan pembawaan karakter yang terasa natural. Iqbaal berhasil membawa sisi serius sekaligus emosional dari karakternya tanpa membuatnya terasa berlebihan.Kemudian ada Kristo Immanuel sebagai Adut yang memberikan warna tersendiri. Interaksinya dengan Ijal menjadi salah satu elemen yang membuat dinamika persahabatan dalam film terasa hidup.Zulfa Maharani sebagai Tia juga tampil solid dan mampu memberikan keseimbangan dalam kelompok karakter utama. Sementara Kawai Labiba sebagai Melodi memberikan energi yang membuat dinamika kelompok semakin berwarna.Yang paling menarik adalah bagaimana kelima pemain tersebut memiliki chemistry yang terasa natural. Hubungan Ijal, Adut, Tia, Melodi, dan Silet tidak terasa seperti sekadar sekumpulan karakter yang dipertemukan oleh kebutuhan cerita, tetapi benar-benar seperti sebuah kelompok yang sudah memiliki hubungan dan dinamika satu sama lain.Fauzan Lubis Tampil Menjanjikan dalam Debut FilmSalah satu nama yang patut mendapatkan perhatian adalah Fauzan Lubis sebagai Silet.Operasi Pesta Copet menjadi debut Fauzan Lubis dalam sebuah film. Meski merupakan pengalaman pertamanya bermain dalam film, penampilannya tidak terasa kaku.Fauzan mampu mengikuti ritme permainan pemain lainnya dan memiliki kehadiran yang cukup kuat ketika berada dalam satu frame bersama Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, maupun Kawai Labiba.Untuk ukuran debut film, penampilan Fauzan bisa dibilang cukup bagus dan menjanjikan. Ia mampu memberikan identitas pada karakter Silet sekaligus menjadi bagian penting dari chemistry kelompok utama.Komedi Yang Berhasil Sampai ke PenontonSelain crime dan heist, Operasi Pesta Copet juga mengandalkan komedi sebagai salah satu daya tariknya.Komedi dalam film ini banyak lahir dari dialog dan interaksi antarkarakter. Candaan yang muncul tidak selalu terasa dipaksakan karena sebagian besar humor berasal dari kepribadian dan hubungan masing-masing karakter.Hal ini membuat komedinya terasa lebih natural. Beberapa dialog bahkan berhasil memberikan jeda di tengah situasi yang sedang menegangkan sehingga film tidak terasa terlalu berat.Keseimbangan antara drama, kriminalitas, persahabatan, dan komedi menjadi salah satu aspek yang membuat film ini tetap menghibur.Persahabatan Menjadi Jantung CeritaMeskipun membawa elemen heist dan crime, pada akhirnya Operasi Pesta Copet merupakan film yang sangat kuat berbicara mengenai persahabatan.Hubungan antara Ijal, Adut, Tia, Melodi, dan Silet menjadi bagian yang membuat perjalanan mereka terasa emosional. Penonton tidak hanya dibuat penasaran dengan bagaimana aksi mereka akan berakhir, tetapi juga dibuat peduli terhadap hubungan yang terbentuk di antara mereka.Ada rasa saling percaya, konflik, perbedaan pendapat, dan momen ketika mereka harus menentukan apakah akan tetap bersama atau memilih jalan masing-masing.Karena itu, aspek persahabatan dalam film terasa sebagai fondasi utama yang mengikat seluruh cerita.Punya Sinematografi & Transisi yang MatangSecara visual, Operasi Pesta Copet juga memberikan perhatian besar terhadap bagaimana sebuah konser musik ditampilkan.Salah satu hal yang menarik adalah penggunaan hampir 500 extras untuk menciptakan atmosfer konser yang besar dan meyakinkan. Jumlah extras tersebut membantu membangun suasana kerumunan sehingga adegan konser terasa lebih hidup dan tidak seperti sekadar latar buatan.Atmosfer yang ingin dihadirkan juga dibuat menyerupai pengalaman berada di konser PESTA PORA, sehingga penonton dapat merasakan bagaimana hiruk-pikuk, kepadatan, dan energi sebuah festival musik menjadi bagian dari cerita.Sinematografinya pun dibuat dengan cukup matang. Kamera tidak hanya digunakan untuk merekam aksi karakter, tetapi juga menangkap skala kerumunan dan energi konser..Yang juga patut diapresiasi adalah transisi antar-scene. Perpindahan dari satu adegan ke adegan berikutnya dibuat dengan cukup detail dan memiliki gaya visual yang estetik. Beberapa transisi terasa seperti dirancang secara khusus agar perpindahan adegan tetap memiliki ritme dan tidak terasa monoton.Pendekatan visual tersebut membuat Operasi Pesta Copet memiliki identitas tersendiri sebagai film yang memadukan cerita kriminal dengan atmosfer konser musik.Perpaduan Heist, Crime, Komedi, dan Musikal. Salah satu keberhasilan film ini adalah kemampuannya memadukan beberapa genre tanpa membuat salah satunya terasa terlalu dominan.Unsur heist memberikan rasa penasaran terhadap bagaimana aksi pencopetan tersebut dilakukan. Unsur crime memberikan konflik dan konsekuensi. Sementara komedi membuat perjalanan karakter terasa lebih ringan.Di sisi lain, unsur musikal dan latar konser memberikan pengalaman visual serta atmosfer yang berbeda dari film kriminal Indonesia pada umumnya.Semua elemen tersebut kemudian dipersatukan melalui tema persahabatan yang menjadi inti emosional film..KesimpulanOperasi Pesta Copet merupakan film yang berhasil memanfaatkan premis sederhana tentang pencopetan di konser menjadi sebuah cerita yang lebih luas mengenai persahabatan, kriminalitas, kondisi ekonomi, dan kehidupan sosial.Edy Khemod sebagai penulis sekaligus sutradara berhasil membuat cerita yang menarik dengan konflik yang cukup relate dengan kehidupan sehari-hari. Kritik sosial mengenai kriminalitas dan faktor ekonomi juga disampaikan secara halus tanpa membuat film kehilangan sisi hiburannya.Dari sisi pemain, mereka memiliki chemistry yang natural dan solid.Sementara dari sisi teknis, sinematografi yang matang, serta transisi antarscene yang detail dan estetik membuat film ini terasa dikerjakan dengan serius.Operasi Pesta Copet bukan hanya tentang mencopet di sebuah konser. Film ini berbicara tentang pilihan hidup, persahabatan, kondisi sosial, dan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam situasi yang memaksanya mengambil keputusan sulit.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre persahabatan, heist, crime, komedi dan musikal , film ini wajib banget buat kalian tonton.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Aug 2026
Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026!
NEWS

Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026!

Laut Bercerita tayang mulai 29 Oktober 2026 di bioskop IndonesiaJakarta, 3 September 2026 — Film debut Pal8 Pictures, Laut Bercerita arahan sutradara Yosep Anggi Noen terpilih untuk berkompetisi dalam program utama di Busan International Film Festival (BIFF) 2026). Dengan demikian, artinya film ini akan berkompetisi melawan berbagai film internasional lainnya untuk meraih penghargaan Film Terbaik (Best Film) di festival yang akan berlangsung pada 6–15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan.Penayangan film Laut Bercerita di BIFF 2026 ini sekaligus menjadi momen penayangan perdana (World Premiere), sebelum film ini tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.“Busan International Film Festival adalah platform yang tepat untuk penonton pertama yang menyaksikan film ini. Sebuah film membawa cerita tentang Indonesia, disaksikan oleh penonton sinema Asia dan internasional. Kami berharap penayangan di Busan juga bisa memantik percakapan yang lebih meluas di kawasan Asia mengapa cerita ini penting untuk digarap,” ujar produser Gita Fara. “Busan adalah festival yang besar dan penting untuk perfilman Asia dan dunia. Berada dalam kompetisi utama, Laut Bercerita mengusung kisah yang penting disuarakan ke dunia. 19 tahun lalu, di awal karier film, saya ikut workshop film pemula di Busan dan sekarang saya sangat senang kembali ke Busan membawa film ini,” ujar sutradara Yosep Anggi Noen.“Film-film Indonesia saat ini tersebar di seluruh dunia, bukti bahwa kisah-kisah dari Indonesia relevan secara global. Di sisi lain, kualitasnya semakin baik karena mampu disandingkan dengan film-film kelas dunia,” tambah Anggi.Tahun 2026 adalah BIFF edisi ke-31 dan merupakan satu-satunya festival film di Asia yang diakui sejajar dengan Cannes, Venesia, Berlin, Sundance, dan Toronto untuk memenuhi persyaratan masuk ke ajang Academy Awards.The Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) telah mengumumkan perubahan peraturan untuk ajang Academy Awards ke-99 dengan memperluas jalur kelayakan untuk kategori Best International Feature Film. Dengan demikian, pemenang Best Film di BIFF dapat diajukan untuk dipertimbangkan di kategori Best International Feature Film, terpisah dari proses perwakilan resmi negara.Diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Skenario film juga ditulis oleh Yosep Anggi Noen bersama Leila Chudori ini. Dibintangi oleh Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Kautsar, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, Afrian Arisandy.Produser film ini adalah Gita Fara, Leila S.Chudori dan Budi Setyarso. Film ini diproduksi oleh Pal8 Pictures dan didukung oleh VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, dan Brandlink.Ikuti perkembangan terbaru Laut Bercerita melalui media sosial resmi.Instagram : @filmlautbercerita, @lautbercerita, @pal8picturesFacebook : Film Laut BerceritaThreads : @filmlautberceritaHashtag : #lautbercerita #filmlautbercerita #lautberceritamovie

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
Ketika Warisan Gaib Berubah Menjadi Ancaman bagi Keluarga!
MOVIE
3.2

Ketika Warisan Gaib Berubah Menjadi Ancaman bagi Keluarga!

Khadam merupakan film horor Malaysia garapan Shamyl Othman dengan skenario yang ditulis oleh Fariza Azlina. Dibintangi Aghniny Haque, Remy Ishak, Siti Khadijah Halim, Zarra Zaff, Karl El, dan June Lojong, film ini menjadi salah satu kolaborasi perfilman Malaysia dan Indonesia yang membawa cerita tentang kepercayaan terhadap makhluk gaib serta warisan turun-temurun ke dalam sebuah horor bernuansa drama keluarga. Berlatar pada era 1950-an, Khadam mengikuti kisah Melor (Aghniny Haque), seorang ibu yang harus menghadapi warisan mistis keluarganya setelah sang ibu meninggal dunia. Khadam yang diwariskan tersebut bukan sekadar makhluk gaib yang dapat memberikan perlindungan atau membantu kehidupan pemiliknya, tetapi memiliki konsekuensi yang perlahan mulai mengancam kehidupan Melor dan keluarganya.Warisan Gaib yang Tidak Pernah Benar-Benar GratisSalah satu hal menarik dari Khadam adalah bagaimana film ini membangun gagasan mengenai makhluk gaib yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada awalnya, keberadaan Khadam dapat dipandang sebagai sesuatu yang menguntungkan. Makhluk tersebut dipercaya dapat membantu pemiliknya, memberikan perlindungan, menyembuhkan luka, membantu pekerjaan hingga memberikan kemudahan dalam kehidupan. Namun, semua kemudahan tersebut ternyata memiliki harga yang harus dibayar. Dari sinilah film mulai membangun konflik utamanya. Apa yang semula terlihat seperti sebuah warisan justru berubah menjadi beban yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.Konsep tersebut membuat Khadam tidak hanya berbicara mengenai teror makhluk gaib, tetapi juga mengenai konsekuensi dari keputusan generasi sebelumnya. Sesuatu yang mungkin pernah dianggap sebagai jalan keluar pada masa lalu justru menjadi sumber masalah bagi keluarga di kemudian hari.Horor yang Tidak Sekadar Mengandalkan JumpscareKhadam juga cukup berhasil menghadirkan horor yang tidak semata-mata bergantung pada jumpscare.Memang terdapat beberapa momen yang dirancang untuk memberikan kejutan, tetapi film lebih banyak membangun rasa tidak nyaman melalui suasana, misteri, dan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Melor dan keluarganya.Pendekatan tersebut membuat ketegangan terasa lebih bertahap. Penonton tidak langsung diberikan seluruh jawaban, melainkan diajak mengikuti berbagai petunjuk sebelum memahami hubungan antara Melor, keluarganya, dan Khadam.Ada pula beberapa perkembangan cerita yang cukup tidak terduga. Konsekuensi dari keberadaan Khadam ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat pada awal film.Dengan demikian, Khadam tidak berhenti pada formula sederhana makhluk gaib muncul → karakter ketakutan → jumpscare → selesai, tetapi berusaha membangun konsekuensi yang lebih panjang terhadap kehidupan para karakternya.Cerita yang Perlahan Membuka MisterinyaPada bagian awal, Khadam memang membutuhkan waktu untuk membangun dunianya. Penonton mungkin masih bertanya-tanya mengenai arah cerita dan bagaimana sebenarnya hubungan setiap karakter dengan Khadam. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai potongan informasi mulai terhubung.Beberapa hal sengaja disimpan oleh film dan baru diperlihatkan secara perlahan. Strategi tersebut membuat rasa penasaran tetap terjaga karena penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan Melor hingga akhir.Hal yang menarik adalah bagaimana konflik supernatural tersebut kemudian tidak hanya menjadi ancaman terhadap keselamatan fisik, tetapi juga mulai mengganggu identitas, keluarga, dan posisi Melor sebagai seorang ibu serta istri. Premis resmi film bahkan menggambarkan bagaimana Khadam perlahan mengambil alih peran Melor sebagai istri dan ibu, sehingga konflik yang dihadapi bukan sekadar bagaimana mengalahkan makhluk gaib, tetapi bagaimana mempertahankan kehidupannya sendiri.Aghniny Haque Menjadi Kekuatan UtamaSalah satu kekuatan terbesar Khadam berada pada penampilan Aghniny Haque sebagai Melor.Karakter Melor merupakan peran yang cukup menantang karena sebagian besar emosinya harus disampaikan tanpa mengandalkan dialog. Aghniny diketahui menjalani pelatihan intensif untuk mempelajari bahasa isyarat yang dikembangkan secara khusus untuk kebutuhan film. Hasilnya cukup terasa dalam film.Aghniny mampu membawa Melor sebagai karakter yang tidak hanya berada di tengah-tengah cerita horor, tetapi juga memiliki pergulatan emosional yang kuat sebagai seorang ibu yang berusaha melindungi keluarganya. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta perubahan emosinya menjadi bagian penting dalam menyampaikan kondisi Melor. Hal tersebut membuat karakternya terasa lebih hidup dan membantu menjaga intensitas film, terutama ketika cerita mulai memasuki bagian yang lebih gelap. Penampilan Aghniny juga menjadi semakin menarik karena Khadam merupakan debutnya dalam perfilman Malaysia. Chemistry Para PemainSelain Aghniny Haque, jajaran pemain lainnya juga memberikan kontribusi yang cukup kuat.Remy Ishak sebagai Awang mampu memberikan keseimbangan terhadap karakter Melor. Hubungan keduanya menjadi salah satu elemen emosional yang membantu membuat konflik keluarga dalam film terasa lebih personal. Sementara itu, Siti Khadijah Halim sebagai Manis juga memberikan warna tersendiri. Interaksinya dengan karakter-karakter lain membuat konflik keluarga dalam Khadam terasa semakin kompleks.Zarra Zaff sebagai Puteh, Karl El sebagai Hitam, serta June Lojong sebagai Nek Mak juga memberikan performa yang mendukung atmosfer film. Keenam pemeran utama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarkarakter yang nantinya berpengaruh terhadap perkembangan konflik.Chemistry antara Aghniny dan Remy juga mendapat perhatian dalam pemberitaan seputar film. Remy sendiri menyebut bahwa mereka dapat membangun keserasian dalam waktu relatif singkat selama proses produksi. Kolaborasi Malaysia dan Indonesia yang MenarikSebagai film hasil kolaborasi lintas negara, Khadam juga menarik untuk diperhatikan dari sisi perpaduan elemen Indonesia dan Malaysia. Film ini diproduksi oleh rumah produksi Malaysia Red Communications dan Komet Productions, dengan keterlibatan pihak Indonesia dalam produksi dan distribusinya. Perpaduan tersebut terasa cukup natural karena cerita Khadam sendiri berangkat dari unsur budaya dan folklor Melayu/Nusantara yang memiliki kedekatan dengan masyarakat di kedua negara.Latar era 1950-an juga membantu membangun identitas visual film. Suasana pedesaan, kehidupan keluarga, serta kepercayaan terhadap hal-hal mistis membuat Khadam memiliki atmosfer yang cukup khas.Sutradara Shamyl Othman juga menjelaskan bahwa cerita film ini berangkat dari keinginan penulis untuk mengeksplorasi kepercayaan dan folklor Melayu mengenai saka. Proses pengembangan ceritanya turut melibatkan riset dengan masyarakat desa dan tokoh agama.KesimpulanSecara keseluruhan, Khadam merupakan film horor yang cukup berhasil menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian jumpscare.Film ini memiliki premis yang menarik mengenai warisan makhluk gaib dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya. Ceritanya memang membutuhkan waktu untuk membuka seluruh misterinya, tetapi pendekatan tersebut justru membuat penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan Melor. Kolaborasi Malaysia–Indonesia yang dihadirkan pun terasa cukup apik. Khadam mampu memanfaatkan kedekatan budaya dan folklor kedua negara tanpa kehilangan identitasnya sebagai film horor Malaysia.Pada akhirnya, Khadam bukan film yang sekadar mengandalkan formula “makhluk gaib muncul, penonton dikagetkan, kemudian cerita selesai.” Ada cerita mengenai keluarga, warisan, pengorbanan seorang ibu, serta konsekuensi dari sesuatu yang sejak awal terlihat memberikan keuntungan.Dan setelah melihat apa yang terjadi kepada Melor, satu hal yang mungkin terlintas setelah menonton film ini adalah: beberapa warisan memang sebaiknya tidak pernah diterima.Film ini cocok dan recomended untuk SOBAT KTF yang suka horor dengan unsur mistis , drama , dan penuh rahasia.

Abdul Haris 20 Sep 2026
VIDEO
IP MAN : KUNG FU LEGEND Versi Ip Man Yang Berbeda Tapi Tetap Seru Di Nikmati
MOVIE
4.0

IP MAN : KUNG FU LEGEND Versi Ip Man Yang Berbeda Tapi Tetap Seru Di Nikmati

Nama Ip Man tentu sudah sangat melekat dengan sosok Donnie Yen melalui empat film yang sukses memperkenalkan seni bela diri Wing Chun kepada penonton

Abdul Haris 20 Jul 2026
VIDEO
Baru Sepekan Tayang, Cela yang Dibintangi Putri Amy Search Jadi Nomor Satu di Viu Malaysia!
NEWS

Baru Sepekan Tayang, Cela yang Dibintangi Putri Amy Search Jadi Nomor Satu di Viu Malaysia!

Nama Amy Search lekat dengan perjalanan musik rock Malaysia yang pernah memiliki banyak penggemar di Indonesia. Lagu “Isabella” yang dibawakannya bersama grup Search menjadi salah satu lagu Malaysia yang populer di Indonesia pada awal 1990-an. Kini, perhatian datang melalui putri sulungnya, Nabila Huda, yang membintangi drama Cela.Drama thriller psikologis yang juga sudah tayang di Viu Indonesia tersebut menempati posisi pertama di Viu Malaysia dalam waktu kurang dari satu minggu setelah mulai tayang pada 20 Agustus 2026. Cela sekaligus berada di atas sejumlah tayangan Korea di platform tersebut.Dikutip dari Malay Mail, Cela mengungguli Running Man 2026, Dream to You, dan The Affair Was Just the Beginning. Perhatian terhadap Cela tidak berhenti pada platform streaming. Konten mengenai drama tersebut mencatatkan hampir 50 juta tayangan di media sosial dalam waktu kurang dari satu minggu. Angka itu merupakan akumulasi tayangan konten terkait Cela, seperti trailer, cuplikan adegan, dan materi promosi, bukan jumlah penayangan episode lengkapnya.Keberhasilan Cela juga membuat produksi lokal menempati dua posisi teratas di Viu Malaysia. Posisi kedua diduduki Cinta Dalam Sekam, drama Malaysia lain yang diproduksi Global Film Station. Pencapaian ini memperlihatkan kemampuan cerita lokal bersaing dengan tayangan Korea di pasar streaming Malaysia.Nabila Huda membawa karakter yang berbedaBagi penonton Indonesia, Nabila Huda mungkin belum sepopuler ayahnya. Namun, ia telah membangun karier aktingnya sendiri selama lebih dari dua dekade. Nabila merupakan putri sulung Amy Search. Dalam Cela, Nabila memerankan Dato’ Anees, perempuan kaya, berpengaruh, dan sulit ditebak. Penampilannya jauh dari figur pelindung yang terlihat pada awal cerita. Di balik perhatian yang diberikannya kepada Kaer, Anees menyimpan kepentingan dan rahasia yang berkaitan dengan tragedi keluarga pemuda tersebut.Lawan mainnya adalah Hun Haqeem, yang memerankan Kaer, siswa sekolah menengah yang hidupnya berubah setelah kematian sang ayah. Kaer dan ibunya yang sedang mengalami depresi kemudian ditampung oleh pasangan kaya Dato’ Arshad dan Dato’ Anees.Dalam masa duka, Kaer melihat Anees sebagai seseorang yang memahami dan memberinya tempat untuk bersandar. Perhatian tersebut perlahan berkembang menjadi keterikatan emosional yang sulit ia pahami. Kaer tidak segera menyadari bahwa hubungan mereka dibentuk oleh ketimpangan kekuasaan dan permainan psikologis. Situasinya berubah ketika Kaer menemukan bahwa Anees memiliki hubungan dengan tragedi yang menghancurkan keluarganya. Pemuda itu kemudian terjebak di antara perasaannya, pengkhianatan yang baru diketahui, dan keinginan mengungkap kebenaran.Bukan sekadar romansa beda usiaPerbedaan usia antara kedua pemeran dan sejumlah adegan dalam trailernya memang menarik perhatian. Namun, Cela tidak hanya menawarkan romansa terlarang antara perempuan dewasa dan laki-laki muda. Hubungan Anees dan Kaer menjadi pintu masuk untuk memperlihatkan bagaimana seseorang yang sedang berduka dapat menjadi rentan terhadap perhatian dari orang yang lebih berkuasa. Anees tidak hanya memiliki usia dan pengalaman lebih banyak. Ia juga mempunyai uang, status, serta kendali atas tempat tinggal Kaer dan ibunya. Perpaduan duka keluarga, manipulasi, obsesi, cinta terlarang, dan pembalasan membuat Cela bergerak lebih gelap daripada drama romantis biasa. Penonton bukan hanya diajak mempertanyakan perasaan Kaer terhadap Anees, tetapi juga mencari tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian ayahnya.Selain Nabila Huda dan Hun Haqeem, Cela dibintangi Zarif Ghazzi, Datuk Seri Eizlan Yusof, Lisdawati, Zain Saidin, dan Ellyza Azizi. Serial sepanjang 12 episode ini disutradarai Feroz Kader dan ditulis Liza Nur. Cela dapat disaksikan di Viu dengan subtitle Indonesia. Episode baru hadir setiap Kamis dan Jumat.

Admin Kupas Tuntas Film 05 Sep 2026
VIDEO
Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal
MOVIE
4.5

Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal

Selama lebih dari empat dekade, waralaba Evil Dead selalu identik dengan Necronomicon, Deadites yang sadis, darah berlimpah, serta perpaduan horor dan gore yang tak kenal ampun. Namun melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vanicek bersama penulis Florent Bernard menghadirkan sesuatu yang terasa berbeda tanpa menghilangkan identitas utama franchise ini.Alih-alih sekadar menghadirkan pertarungan manusia melawan iblis, film ini justru menjadikan hubungan keluarga yang retak sebagai sumber teror utama. Hasilnya adalah sebuah film Evil Dead yang jauh lebih emosional, psikologis, sekaligus tetap mempertahankan kebrutalan yang menjadi ciri khas waralaba.Cerita yang Lebih Personal dan Penuh Luka LamaHal paling menonjol dari Evil Dead Burn adalah pendekatan ceritanya yang lebih intim. Film ini tidak hanya mengisahkan tentang teror iblis yang memburu korbannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka masa lalu, rasa bersalah, dendam, dan kebencian antar anggota keluarga menjadi “bahan bakar” bagi kekuatan jahat.Saat satu per satu karakter mulai dirasuki Deadites, ancaman yang muncul bukan hanya berupa kekerasan fisik. Iblis memanfaatkan rahasia tergelap setiap anggota keluarga sebagai senjata psikologis. Trauma masa kecil, konflik keluarga yang belum selesai, hingga isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga diungkap secara kejam untuk menghancurkan mental para korban sebelum menghancurkan tubuh mereka.Pendekatan ini membuat horor dalam film terasa jauh lebih mengganggu dibanding sekadar jumpscare atau adegan gore. Penonton dibuat ikut merasakan tekanan emosional yang dialami setiap karakter, sehingga setiap pertikaian memiliki bobot dramatis yang kuat.Senjata Kuno Melawan Ilmu HitamPerubahan menarik lainnya adalah bagaimana film ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mitologi Necronomicon sebagai pusat konflik.Kali ini cerita berfokus pada penelitian sang kakek mengenai keberadaan Kandarian Dagger, sebuah belati kuno yang dipercaya mampu memusnahkan iblis untuk selamanya. Premis ini memberikan nuansa petualangan sekaligus misteri yang menyegarkan bagi franchise.Konsep pertarungan antara senjata kuno melawan ilmu hitam membuat konflik terasa lebih luas dan menghadirkan lapisan mitologi baru dalam semesta Evil Dead. Penonton tidak hanya disuguhi upaya bertahan hidup, tetapi juga pencarian artefak yang menjadi harapan terakhir untuk menghentikan teror Deadites.Perubahan arah cerita ini berhasil memperluas dunia Evil Dead tanpa menghilangkan akar horornya.Akting Totalitas dan Sangat Meyakinkan Dari Para PemainDeretan pemain tampil luar biasa dalam membangun intensitas cerita. Souheila Yacoub sebagai Alice menjadi pusat emosional film. Ia mampu menampilkan karakter yang rapuh namun perlahan berubah menjadi sosok yang berani menghadapi mimpi buruk keluarganya. Perjalanan emosinya terasa alami dan berhasil mengikat perhatian penonton sejak awal.Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, Maude Davey sebagai Polly, hingga George Pullar sebagai Will sama-sama memberikan penampilan yang sangat total. Ketika karakter mereka mulai dirasuki iblis, perubahan ekspresi, bahasa tubuh, hingga cara berbicara benar-benar terasa mengerikan tanpa kehilangan sisi manusia yang membuat konflik semakin menyakitkan.Interaksi antar pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karena fondasi hubungan keluarga dibangun dengan baik, setiap pengkhianatan, pertengkaran, hingga kematian memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar dibanding film-film Evil Dead sebelumnya.Horor Psikologis Berpadu Gore Khas Evil DeadMeski membawa pendekatan yang lebih dramatis, Evil Dead Burn sama sekali tidak melupakan identitas franchiseAdegan gore tetap brutal, penuh darah, dan sangat kreatif. Namun kali ini kekerasan fisik dipadukan dengan penyiksaan psikologis yang membuat setiap adegan terasa lebih menyiksa untuk ditonton.Ketegangan dibangun perlahan melalui percakapan yang dipenuhi kecurigaan sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan berdarah yang sangat intens. Perpaduan horor psikologis dan gore ekstrem inilah yang membuat film terasa segar sekaligus tetap memuaskan bagi penggemar lama.Visual Kelam yang Sangat AtmosferikSébastien Vanicek menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer lewat pendekatan visual yang suram.Dominasi warna abu-abu, hitam, dan rona kekuningan menciptakan kesan dunia yang perlahan membusuk. Hampir setiap lokasi terasa lembap, dingin, dan tidak memberikan rasa aman bagi para karakternya.Sinematografi dipenuhi framing sempit yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama para korban, sementara penggunaan bayangan dan pencahayaan redup membuat ancaman terasa selalu mengintai dari setiap sudut.Editing dengan teknik smash cut digunakan secara agresif namun efektif untuk mempertahankan ritme ketegangan. Transisi yang mendadak membuat penonton sulit merasa nyaman, sehingga rasa cemas terus terjaga bahkan sebelum adegan horor benar-benar dimulai.Seluruh elemen visual tersebut berpadu dengan desain suara yang menghantui, menghasilkan pengalaman menonton yang intens sejak menit pertama hingga penutup.Dua After-Credit yang Wajib DitungguSOBAT KTF jangan terburu-buru meninggalkan kursi setelah kredit utama mulai bergulir yaa, Evil Dead Burn menghadirkan dua adegan after-credit yang sama-sama layak ditunggu.Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead.KesimpulanEvil Dead Burn (2026) berhasil membuktikan bahwa sebuah waralaba Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead. legendaris masih bisa berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.Dengan menjadikan trauma keluarga sebagai inti cerita, memperkenalkan mitologi baru melalui Kandarian Dagger, serta menghadirkan konflik yang lebih emosional dan psikologis, film ini terasa berbeda dari pendahulunya namun tetap mempertahankan ciri khas Evil Dead berupa gore brutal, Deadites yang mengerikan, dan teror tanpa ampun!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
VIDEO
Trailer & Poster Ungkap Visual yang Menawan Film Empat Musim Pertiwi Membawa Cinematic Experience yang Belum Pernah Tersaji di Layar Sinema Indonesia dari Sutradara Gadis Kretek Kamila Andini!
NEWS

Trailer & Poster Ungkap Visual yang Menawan Film Empat Musim Pertiwi Membawa Cinematic Experience yang Belum Pernah Tersaji di Layar Sinema Indonesia dari Sutradara Gadis Kretek Kamila Andini!

Empat Musim Pertiwi tayang mulai 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia! Jakarta, 10 September 2026 — Forka Films merilis trailer dan poster film Empat Musim Pertiwi, yang menjadi karya terbaru dari sutradara Gadis Kretek, Kamila Andini. Melalui trailernya, Empat Musim Pertiwi menunjukkan skala produksi terbesar Forka Films, dengan penjelajahan artistik yang eksploratif, yang akan menawarkan cinematic experience yang hanya dapat dinikmati di layar bioskop.Mengikuti perjalanan Pertiwi (Putri Marino), yang pulang ke tanah kelahirannya, setelah puluhan tahun pergi. Pertiwi bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya, baik yang memberinya musim baik hingga mereka yang menjadi musim terburuk dalam hidupnya.Sementara itu, poster Empat Musim Pertiwi menampilkan sosok Pertiwi sebagai perempuan yang tampak telah melalui berbagai fase kehidupannya dan siap menghadapi berbagai peristiwa. Empat Musim Pertiwi, yang memiliki judul internasional Four Seasons in Java akan tayang perdana (world premiere) di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September ini. TIFF juga menandai kembalinya Kamila ke festival tersebut, setelah bersama film Yuni (2021) yang memenangkan Platform Prize.Dalam waktu yang bersamaan dengan rilisnya di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026, Empat Musim Pertiwi juga akan tayang di Busan International Film Festival (BIFF) 2026. Di BIFF, Empat Musim Pertiwi akan tayang dalam program A Window On Asian Cinema, sebuah program yang mempresentasikan karya-karya yang akan menjadi zeitgeist dari para sineas Asia yang telah menepakkan jejaknya di peta sinema internasional serta para sineas Asia pendatang baru. “Senang rasanya film Empat Musim Pertiwi dapat tayang di bioskop Indonesia dalam waktu yang berdekatan ketika filmnya World Premiere di Toronto dan dalam waktu yang bersamaan dengan tayangnya di Busan. Kami berharap penonton dapat merasakan bersama perjalanan pulang Pertiwi dalam menemui musim-musim dalam hidupnya, lewat penjelajahan artistik terbaru Kamila Andini, yang juga didukung oleh jajaran kru yang telah bekerja sama sejak Gadis Kretek,” ujar produser Ifa Isfansyah.“Syutingnya dilakukan pada tahun 2025, dan ini menjadi skala produksi terbesar Forka Films. Kami syuting hampir sepenuhnya di Bromo, dengan berbagai titik yang kami gunakan mulai dari area permukiman, area persawahan, dan tentunya titik berpasir. Untuk berpindah dari satu titik ke titik lain tentu membutuhkan logistik yang besar. Belum lagi, secara post-production, kami juga memasukkan banyak detail yang membuat desain produksinya besar,” tambah Ifa.Bagi Kamila, membuat film selalu menjadi ruang pembelajaran baru baginya untuk memahami dunia sekitar bekerja. Di film Empat Musim Pertiwi, ia juga berupaya untuk menyuarakan apa yang tengah menjadi keresahannya, melalui balutan cross-genre yang menjadi alat untuk menyampaikan pesan. Di film ini, salah satu yang baru baginya adalah sci-fi.“Sebenarnya, secara personal saya sangat menyukai film-film sci-fi. Namun, baru sekarang saya merasa punya kebutuhan untuk menampilkan sesuatu lewat sci-fi secara yang lebih luas dan universal. Setiap cerita memiliki kebutuhannya sendiri, dan bagi saya ini juga akan menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikan apa yang menjadi perjalanan Pertiwi dan orang-orang di sekitarnya,” ujar sutradara Kamila Andini.Ide pembuatan Empat Musim Pertiwi sudah ada sejak 2017, jauh sebelum Gadis Kretek dan Before, Now & Then. Putri Marino, sejak awal juga sudah diplot untuk menjadi Pertiwi. Saat itu, pendekatan awal terjadi pada saat Ifa mengerjakan film Losmen Bu Broto. Film ini sekaligus menandai reuninya tim Gadis Kretek antara Kamila Andini, Ifa Isfansyah, Putri Marino, serta Arya Saloka.Selain Putri dan Arya, film ini dibintangi oleh Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti. Dwika merupakan aktor dengan vitiligo, dan Hanna merupakan aktor tuli. Keterlibatan keduanya juga menjadi representasi keberagaman di film ini. Bagi Putri, untuk memerankan karakter Pertiwi cukup berat dan menguras energi.Putri pun kemudian mendapat bantuan dari Kamila untuk mendiskusikan tentang desain karakternya, salah satunya saat ia diberikan novel karya perempuan penulis Mesir, Nawal el-Saadawi.Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin. Salah satu yang juga sebenarnya membantuku untuk mengembangkan karakter Pertiwi adalah saat aku diberi bahan bacaan buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi, dan aku akhirnya bisa memahami apa yang dilalui Pertiwi,” ujar Putri Marino.Menjadi proyek terbesar Forka Films, Empat Musim Pertiwi menjadi ko-produksi enam negara, Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia. Film ini juga turut didukung dan kolaborasi bersama dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros. Flm ini juga turut disponsori oleh Oriflame.Empat Musim Pertiwi juga resmi mendapatkan representasi internasional dari Goodfellas, salah satu international sales agent asal Prancis yang dikenal melalui katalog film-film auteur dengan perjalanan kuat di festival film dunia.Keputusan Goodfellas untuk menangani Empat Musim Pertiwi menjadi bagian penting dari perjalanan film ini. Bagi Forka Films, partnership tersebut bukan sekadar langkah distribusi internasional, tetapi juga sebuah bentuk kepercayaan terhadap kualitas artistik, skala produksi, dan potensi internasional film Indonesia.Goodfellas selama ini dikenal bekerja bersama filmmaker dengan visi artistik yang kuat dan menangani film-film yang memiliki perjalanan penting di festival internasional, termasuk karya-karya yang mendapat pengakuan di Cannes Film Festival dan Academy Awards.Empat Musim Pertiwi kini berada dalam katalog internasional yang sama dengan berbagai film auteur dari berbagai belahan dunia. Beberapa film yang sebelumnya ditangani oleh Goodfellas di antaranya adalah Pemenang Piala Oscar Pan’s Labyrinth (2006) karya Guillermo del Toro dan The Artist (2011) karya Michel Hazanavicius, dan film peraih Palme d’Or di Cannes Film Festival seperti Shoplifter (2018) karya Koreeda Hirokazu, Titane karya Julia Ducournau (2021) dan Fjord karya Cristian Mungiu (2026).Saksikan di layar lebar saat Pertiwi pulang. Empat Musim Pertiwi tayang 8 Oktober 2026. Ikuti perkembangan terbaru film Empat Musim Pertiwi melalui akun media sosial Instagram @forkafilms dan saksikan filmnya di bioskop pada tahun 2026!

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026