Logo KTF KupasTuntasFilm

Cerita Para Kreator dan Pemeran Film Aku Sebelum Aku

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita

By Alpian | | 47 views

Netflix akan segera menghadirkan Film Original Indonesia terbaru berjudul Aku Sebelum Aku karya sutradara Gina S. Noer. Mulai tayang pada 16 Juli 2026 secara global, film ini mengikuti kisah seorang remaja berprestasi yang memenangkan kompetisi sekolah bergengsi dan malah mengalami serangan panik. Di tengah tekanan yang semakin menyesakkan, ia harus berjuang menemukan kembali dirinya sebelum ambisi sang ayah memutuskan ikatan keluarga mereka.

Dibintangi Bima Sena dan Ringgo Agus Rahman, film ini dengan peka mengurai hubungan orang tua dan anak dengan sejumlah masalahnya, luka batin yang belum selesai, peran ekosistem sebagai ruang belajar yang manusiawi, serta memahami jati diri melalui masa lalu.

NETFLIX

Dalam konferensi pers yang Netflix selenggarakan hari ini di Jakarta sebagai bagian dari acara Netflix Family Festival 2026: World of Wonder, sutradara Gina S. Noer berbagi cerita mengenai gagasannya untuk film ini dan apa yang dirasa membekas dari proses menulisnya. “Ini film yang personal buat saya karena dimulai dari pertanyaan anak kedua saya yang sangat suka sejarah. Beberapa tahun lalu saat berumur 14 tahun dia bertanya pada ibu saya yang kelahiran tahun 1945 tentang apa rasanya lahir saat Indonesia belum merdeka dan tumbuh ketika Indonesia baru merdeka. Pertanyaan itu membuat saya sadar bahwa saya tidak benar-benar mengetahui sejarah keluarga saya atau tidak pernah dengan sungguh-sungguh melihat seperti apa situasi orang tua saat mereka dibesarkan, hingga bagaimana kolonialisme membentuk hubungan-hubungan kita sampai sekarang.”

Kredit foto: Netflix

Ia menambahkan, “Film ini untuk semua orang yang dirinya terpicu ingin mengenal dirinya dengan lebih baik, memberikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk saling menyayangi, melihat sejarah lebih luas dari hafalan di sekolah, dan mendorong diri kita jadi keluarga besar yang saling menolong.”

NETFLIX

Prastiwi Dwiarti yang berperan sebagai Ambu Asih, ibu dari Jati yang kerap berada di tengah ketegangan suami dan anaknya, menyampaikan pandangannya tentang sosok tersebut. “Di film ini saya banyak sekali belajar tentang seorang ibu dan istri yang ada tanpa harus banyak berkata. Bukan dia tidak memiliki pendapat atau keinginan, tapi lebih ke selalu ada dan hadir, berusaha menjadi tempat pulang yang paling aman dan nyaman bagi anak dan suaminya,” jawabnya.

Kredit foto: Netflix

Aming yang memainkan karakter guru Pak Zai dan Pak Juned juga berbagi mengenai pengaruh keberadaan guru bagi anak didiknya. “Peranan lingkungan sangat penting, selain keberadaan keluarga dan guru. Elemen-elemen ini dibutuhkan seorang anak untuk bertumbuh dan menemukan jati diri, karena seorang anak tidak bisa mengatasi masalahnya sendirian. Film ini mengajarkan saya pentingnya orang tua memberikan pendampingan, pengarahan, dan meregulasi emosi. Ini merupakan salah satu film yang penting ditonton kita semua,” terangnya.

NETFLIX

Kredit foto: Netflix

Poppy Sovia yang berperan sebagai ibu dari Asa, teman Jati, mengutarakan perspektifnya dalam berbagai dinamika antara orang tua dan anak. “Banyak sekali hal yang saya pelajari dari berperan di film ini, yang saya ambil untuk pola pengasuhan. Yang bisa dilihat dari sosok Asa adalah ia seorang anak yang penuh dengan kasih sayang dan tercukupi kasih sayangnya, sehingga dia punya fondasi yang kokoh untuk menghadapi apa pun, termasuk ketika ia menghadapi sesuatu yang tak terduga,” katanya.

NETFLIX

Kredit foto: Netflix

Widuri Puteri yang memainkan karakter Asa, teman Jati, mengungkapkan cara ia mendalami peran tersebut. “Asa adalah orang yang jujur, sangat giat mencari kebenaran, dan semua yang dia ungkapkan itu berdasarkan fakta sehingga dia mengharapkan yang sama dari orang lain. Selama proses reading, syuting, sampai post production aku banyak mengobrol dan bertanya pada Tante Gina tentang Asa. Selama memerankan karakter ini aku jadi belajar banyak tentang diriku sendiri, belajar untuk lebih jujur ke diri sendiri dan ke orang lain,” ujarnya.

NETFLIX

Kredit foto: Netflix Indonesia

Gina menekankan bahwa Aku Sebelum Aku merupakan surat cinta darinya untuk semua orang yang berada di dalam situasi sulit dan mereka yang memilih untuk pulih serta tumbuh lebih bahagia. “Di tengah dunia yang berjalan begitu cepat, film yang dan ceritanya bisa membantu kita untuk mengecek lagi diri kita di tengah hiruk-pikuk dunia. Manusia menciptakan cerita untuk membantu kita memahami pola-pola kemanusiaan. Film dapat membantu memberikan nuansa dan refleksi dalam hidup kita,” tutupnya.

Gina S. Noer dikenal sebagai penulis, produser, dan sutradara yang meraih dua Piala Citra sebagai penulis naskah film Keluarga Cemara dan Dua Garis Biru. Ringgo Agus Rahman, penerima dua Piala Citra sebagai aktor dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-film dan Panggil Aku Ayah, menghadirkan penampilan yang menyentuh sebagai ayah di Aku Sebelum Aku.

Aku Sebelum Aku akan tayang perdana secara global dan eksklusif di Netflix pada 16 Juli 2026.

More Recommendations

Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova Terhasut oleh Bisikan Suara-Suara di Hutan! Film Horor-Misteri Hasut Karya Sutradara Ilya Sigma Rilis Teaser Trailer & Poster!
NEWS

Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova Terhasut oleh Bisikan Suara-Suara di Hutan! Film Horor-Misteri Hasut Karya Sutradara Ilya Sigma Rilis Teaser Trailer & Poster!

Film Hasut akan tayang mulai 8 Oktober 2026 di bioskop ! Jakarta, 31 Agustus 2026 — Tuta Films merilis official teaser trailer & poster film horor misteri Hasut, yang menjadi debut penyutradaraan penulis-sutradara Ilya Sigma. Dalam teaser trailer yang dirilis, menampilkan empat sahabat berpasangan, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova berada di sebuah hutan. Mereka melakukan sesi meditasi. Ketika keinginan untuk menyembuhkan berubah menjadi kontrol, semuanya pun berubah.Situasi tak terkendali, saat suara-suara mulai terdengar, kecurigaan perlahan mulai tumbuh sehingga batas antara kenyataan dan prasangka pun perlahan menghilang..Tak ada yang benar-benar tahu apa yang nyata, dan setiap orang hanya menuruti apa yang sebenarnya mereka ingin percaya.Namun, dalam official teaser posternya menampilkan ketiga pemeran, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova terkulai. Sementara hanya Karina Salim yang masih sadar. Apa yang terjadi pada mereka? Dan mengapa hanya Karina yang masih terjaga?“Film Hasut terasa personal bagi saya karena berbicara tentang luka, rasa percaya, dan keinginan untuk menyembuhkan orang yang kita sayangi. Film ini mempertanyakan kapan perhatian berubah menjadi kontrol, dan mengapa kita mudah mempercayai sebuah suara ketika suara itu mengatakan sesuatu yang memang ingin kita percaya. Hampir seluruh proses syuting film Hasut berada di outdoor, di tengah hutan. Kami menjelajahi beberapa hutan tanpa kendala berarti.Syutingnya berjalan lancar, dan semua sehat, karena alam ikut menjaga kami,” ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma. “Yang menarik dari Hasut adalah bagaimana film ini membangun rasa takut tanpa menghadirkan hantu. Suara dari HT saja sudah bikin seram. Apalagi cerita tentang healing di hutan ini dekat dengan dunia wellness yang juga saya kenal,” ujar Karina Salim.Diproduksi oleh Tuta Films, Hasut diproduseri oleh Putrama Tuta dan Siera Tamihardja. Film Hasut akan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Ikuti informasi terbaru tentang film Hasut melalui akun Instagram resmi @filmhasut dan @tutafilms.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026
VIDEO
Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!
MOVIE
4.0

Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!

Ada film yang sejak awal memang ingin membuat penontonnya menangis. Namun, ada juga film yang tidak perlu melakukan itu karena ceritanya sendiri sudah cukup kuat untuk membuat kita tersentuh. Dear You (2026) termasuk salah satunya.Disutradarai sekaligus ditulis oleh Hongchun Lan, Leng Yang, Xuanxuan Zheng, dan Liyun Zhu, film ini menghadirkan sebuah cerita yang terasa hangat dan manusiawi.Dibintangi oleh Sitong Li sebagai Xie Nanzhi, Yantong Wang sebagai Zheng Musheng, Shaoqing Wu sebagai Old Ye Shurou, Runqi Zheng sebagai Xiaowei, Xiaohui Wang sebagai Young Ye Shurou, Shuguang Zhao sebagai Xie Zehua, Deru Li sebagai Auntie Ru, Shuhao Li sebagai Father of Chuyuan, serta Usha Seamkhum sebagai Old Xie Nanzhi, film ini perlahan mengajak penonton mengikuti perjalanan hidup para karakternya.Film ini tidak menawarkan cerita yang spektakuler atau penuh kejutan, tetapi karena film ini berhasil memberikan banyak rasa dalam satu cerita.Filmnya Terasa Hangat Hal pertama yang paling terasa dari Dear You adalah kehangatannya.Film ini punya kemampuan untuk membuat penonton tersenyum, tertawa, terharu, bahkan merasa sedikit sesak di beberapa momen. Menariknya, semua emosi tersebut muncul dengan cukup natural.Film ini tidak terasa seperti sedang memaksa kita untuk menangis. Tidak ada adegan yang terasa sengaja dibuat terlalu melodramatis hanya demi mendapatkan air mata penonton. Sebaliknya, emosi dibangun perlahan melalui hubungan antarkarakter, pengalaman hidup, pilihan yang mereka ambil, serta berbagai hal sederhana yang mereka lalui.Justru karena tidak terlalu memaksa, ketika sebuah adegan emosional datang, dampaknya terasa lebih kuat.Ada sesuatu yang sederhana tetapi relatable dari perjalanan para karakternya. Kita bisa melihat bagaimana waktu, keadaan, hubungan, dan berbagai keputusan dalam hidup perlahan membentuk seseorang.Dan ketika melihat perjalanan tersebut sampai ke titik tertentu, kita sebagai penonton seolah ikut merasakan perjalanan hidup mereka.Jalan Ceritanya Mudah Untuk DiikutiSalah satu kekuatan Dear You adalah cara film ini bercerita.Alurnya memang cenderung pelan. Jadi, buat penonton yang terbiasa dengan film dengan tempo cepat atau cerita yang dipenuhi konflik besar, mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian.Namun, menurut minpas justru tempo yang pelan ini menjadi salah satu kekuatan film.Dear You tidak terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Film memberikan cukup banyak ruang bagi para karakter untuk berkembang dan bagi penonton untuk mengenal mereka.Ceritanya juga tidak dipenuhi twist yang aneh-aneh atau kejutan yang sengaja dimasukkan hanya untuk membuat penonton terkejut.Sebaliknya, film memilih untuk membangun cerita dari hal-hal sederhana.Setiap adegan terasa memiliki fungsi. Perlahan-lahan kita mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.Karena itulah ketika cerita akhirnya sampai pada bagian-bagian emosionalnya, kita sudah cukup peduli terhadap karakter-karakternya.Jadi, meskipun secara premis cerita Dear You mungkin terdengar sederhana, eksekusinya membuat perjalanan tersebut tetap menarik untuk diikuti.Akting Para Pemain yang MeyakinkanDari sisi akting, para pemain Dear You juga memberikan performa yang cukup solid.Sitong Li sebagai Xie Nanzhi mampu membawa karakter tersebut dengan cukup natural. Begitu juga dengan Yantong Wang sebagai Zheng Musheng yang mampu memberikan dinamika menarik dalam hubungan antarkarakter.Namun, salah satu hal yang menurut MINPAS patut diapresiasi adalah pemilihan pemeran untuk karakter dalam versi muda dan tua.Kemiripan fisik antara pemeran karakter ketika masih muda dengan versi mereka ketika sudah tua terasa cukup meyakinkan. Hal ini memang terlihat seperti detail kecil, tetapi sangat membantu menjaga kontinuitas cerita.Ketika sebuah karakter diperlihatkan dalam dua fase kehidupan yang berbeda, kita tidak merasa sedang melihat dua orang yang benar-benar berbeda. Ada kemiripan dari wajah maupun aura yang membuat perjalanan waktu dalam cerita terasa lebih masuk akal.Selain itu, performa para pemain juga terasa pas dengan karakter masing-masing. Tidak ada yang terasa terlalu berlebihan atau berusaha mencuri perhatian.Semuanya bermain dalam porsinya masing-masing dan saling melengkapi.Punya Visual yang CantikSelain ceritanya yang hangat, Dear You juga menawarkan visual yang cantik.Film ini membawa penonton kembali ke atmosfer China pada era 1950-an hingga 1970-an, dan detail periodenya terasa cukup hidup.Mulai dari kostum, lingkungan, suasana kota, interior tempat tinggal, hingga berbagai detail kecil yang ada di dalam frame, semuanya membantu membangun atmosfer zamannya.Film tidak hanya sekadar mengganti pakaian karakter dengan kostum klasik, tetapi juga berusaha membuat dunianya terasa seperti sebuah tempat yang benar-benar ditinggali oleh para karakter.Sinematografinya pun terasa nyaman untuk dinikmati, penggunaan warna dan pencahayaan mendukung nuansa hangat yang menjadi salah satu identitas film ini. Ada banyak shot yang terasa sederhana, tetapi tetap indah karena mampu menangkap atmosfer dan emosi dari sebuah adegan.Visualnya tidak terasa terlalu berlebihan atau dibuat hanya untuk terlihat cantik. Justru kesederhanaannya yang membuat Dear You terasa semakin dekat dengan cerita yang ingin disampaikan.Film Yang Punya Banyak RasaHal menarik lainnya adalah bagaimana Dear You mampu mencampurkan berbagai macam emosi tanpa membuatnya terasa berantakan.Ada komedi yang bisa membuat kita tersenyum, ada juga momen-momen romantis yang terasa manis.Ada pula drama keluarga dan kehidupan yang perlahan membawa cerita ke arah yang lebih emosional.Perpindahan dari satu emosi ke emosi lainnya juga terasa cukup natural. Film tidak terus-terusan berada dalam suasana sedih, sehingga ketika sebuah momen emosional datang, efeknya justru terasa lebih kuat.Inilah salah satu alasan mengapa Dear You bisa terasa begitu hangat.Film ini seperti mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah hanya berisi satu jenis emosi.Ada bahagia, ada sedih, ada kehilangan, ada tawa, ada penyesalan, dan ada kenangan yang tetap tinggal meskipun waktu terus berjalanEnding yang PasBagian ending juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini berhasil.Dear You tidak memilih untuk menutup ceritanya dengan cara yang terlalu berlebihan, film ini memberikan sebuah penyelesaian yang terasa sesuai dengan perjalanan yang sudah dibangun sejak awal, tidak perlu terlalu banyak drama tambahan atau memaksakan twist besar, tapi setelah film selesai, ada perasaan seperti masih ingin memikirkan perjalanan mereka.KesimpulanDear You adalah salah satu film Asia yang paling berkesan tahun ini. Film ini memang sederhana, alurnya juga cenderung pelan dan tidak menawarkan banyak kejutan besar , justru kesederhanaan tersebut yang menjadi kekuatannya.Dear You adalah film yang hangat, lucu, sedih, romantis, dan menyentuh tanpa terasa menggurui.Film ini tidak memaksa kita untuk mencintai karakternya tapi film ini hanya memberikan waktu kepada kita untuk mengenal mereka, mengikuti perjalanan mereka, dan akhirnya membiarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan genre film keluarga yang hangat, Dear You layak banget masuk daftar tontonan kalian.

Abdul Haris 08 Aug 2026
Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!
NEWS

Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!

Tonton film Agensi Rumah Tangga mulai 10 September 2026 di bioskop!! Jakarta, 3 September 2026 — Setelah sukses dengan drama komedi dan drama keluarga, sutradara pencetak blockbuster Naya Anindita kini menggarap film komedi perdananya, Agensi Rumah Tangga, persembahan Starvision, bekerjasama dengan Legacy Pictures, Vortera Studios, dan Navvaros, dari produser Chand Parwez Servia. Film Agensi Rumah Tangga diadaptasi dari novel best seller Almira Bastari, dengan naskah yang ditulis oleh Upi dan Ayu Anggraini Putri. Film ini membawa kisah yang hangat dari Katia (Enzy Storia), yang kena PHK dan akhirnya membangun bisnis agensi penyaluran pekerja rumah tangga. Film Agensi Rumah Tangga menjadi eksplorasi terbaru Naya dengan genre komedi, yang menampilkan jajaran komika perempuan sebagai para ART yang ikonik. Mereka berhasil menyampaikan komedi-komedi baik secara dialog hingga adegan dengan penuh kekacauan yang membuat penonton terhibur dan ngakak.“Ini pertama kalinya ada 7 komika perempuan bermain dalam satu judul film. Agensi Rumah Tangga akan membuat penonton menikmatinya dengan cerita yang seru, komedi yang kocak, dan drama yang menyentuh,” ujar produser Chand Parwez Servia.Tak hanya menampilkan komedi, film Agensi Rumah Tangga juga membawa isu yang penting dan dekat. Lewat jajaran para pekerja rumah tangga serta para karakter pekerja perempuan, film ini juga berbicara mengenai pentingnya memberikan kelayakan hak untuk para pekerja domestik.“Aku melihat ART itu terkadang dianggap seperti sebuah fasilitas dalam rumah tangga. Padahal mereka ini juga pekerja, staf, sama seperti kita yang juga pekerja. Untuk itu, film ini juga ingin memantik diskusi bahwa sudah seharusnya kita memperlakukan para ART juga sama seperti kita. Film ini membawa kisah yang penting, meski dikemas dengan ringan dan komedi,” ujar sutradara Naya Anindita.Agensi Rumah Tangga dibintangi oleh Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, Unique Priscilla, Tike Priatnakusumah, Nada Novia, Dea Panendra, Astrid Juwita, Nury Zhafira, Farrell Rafisqy, Khalif Al Juna, Sheila Dara, Hesti Purwadinata, Lulu Tobing, Febby Rastanty, Dayu Wijanto, Nazira C Noer, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Niky Putra, Mario Caesar, Kev, Oline Mendeng, Yono Bakrie, Marchella FP, Rendha Rais, Reza Chandika, Arvino Ramadhan, Oki DM, Anyun Cadel, Elia Margaretha, Yudha Brajamusti, McDanny, Shela Lala, Vadie Akbar, Dian Iyoy, dll. Sementara itu, jajaran komika perempuan terbanyak hadir di film ini, mereka di antaranya adalah Ummi Quary, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Nury Zhafira, dan Mega Salsabila.“Ini cerita yang relate dan semoga untuk yang menonton jadi lebih bisa menghargai kerja para ART yang sudah banyak membantu pekerjaan sehari-hari kita. Film ini juga punya komedi yang sangat lucu dengan komedi-komedi yang diberikan para komika perempuannya. Semoga hangat dan tawanya sampai ke hati penonton,” ujar Enzy Storia.“Film Agensi Rumah Tangga menjadi penanda yang spesial bagi saya karena bertepatan dengan 18 tahun saya merayakan perjalanan bermusik. Di tahun ini, Naya memberikan kesempatan saya untuk mengeksplorasi tantangan baru lewat peran Kafka di film ini, bergabung bersama para pemeran yang luar biasa, dan ceritanya yang hangat, komedinya juga sangat menghibur,” ujar Afgansyah Reza.Ikuti perkembangan terbaru film Agensi Rumah Tangga melalui Instagram @FilmAgensiRumahTangga, @Starvisionplus, @LegacyPictures, @VorteraStudios, @Navvaros.entertainment dan TikTok @StarvisionOfficial.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!
MOVIE
3.0

MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!

Munafik: Melawan Iblis hadir sebagai film horor religi yang membawa kembali salah satu cerita horor populer asal Malaysia ke layar lebar Indonesia. Film ini digarap oleh Angger Yudha Setiawan dan Guntur Soeharjanto, dengan skenario yang ditulis oleh M. Ali Ghifari dan Syamsul Yusof.Sebagai sebuah remake dari film yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis memiliki tantangan tersendiri. Film tidak hanya dituntut untuk menghadirkan kembali elemen-elemen yang sudah dikenal oleh penggemar versi aslinya, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman yang tetap terasa relevan bagi penonton Indonesia. Untungnya, film ini cukup berhasil menjalankan tugas tersebut.Alur yang Sederhana tetapi Cukup KuatSalah satu hal yang membuat Munafik: Melawan Iblis menarik adalah bagaimana film ini membangun ceritanya dengan alur yang relatif sederhana, tetapi tetap mampu memberikan rasa penasaran.Film tidak mencoba memasukkan terlalu banyak konflik secara bersamaan. Cerita lebih banyak diarahkan pada perjalanan karakter dalam menghadapi gangguan supernatural sekaligus pergulatan batin yang mereka alami.Pendekatan tersebut membuat film terasa cukup mudah untuk diikuti. Penonton tidak dibuat terlalu sibuk memahami berbagai macam aturan dunia supernatural yang rumit. Sebaliknya, fokus utama tetap berada pada karakter, konflik spiritual, serta bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka. Sebagai sebuah remake, film ini juga masih mempertahankan identitas utama Munafik sebagai horor religi. Namun, sentuhan produksi Indonesia membuat film memiliki karakter tersendiri sehingga tidak sekadar terasa seperti memindahkan cerita dari satu negara ke negara lainnya.Akting Para Pemain yang Apik dan TotalKekuatan lain dari film ini terletak pada jajaran pemainnya.Arya Saloka sebagai Ustad Adam mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai sosok yang harus berhadapan dengan konflik spiritual sekaligus persoalan dalam dirinya sendiri. Karakternya tidak hanya dituntut untuk tampil sebagai seorang tokoh agama yang kuat, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ketakutan, keraguan, dan kelemahan.Sementara itu, Acha Septriasa memberikan performa yang cukup emosional sebagai Fitri. Ekspresi, gestur, dan perubahan emosinya mampu membuat karakter tersebut terasa hidup.Dimas Aditya juga tampil solid sebagai Ustad Anwar. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam dinamika cerita, terutama ketika film mulai mempertemukan persoalan agama, kepercayaan, dan teror supernatural. Begitu pula dengan Muhammad Faqih Alaydrus, Donny Damara, Nova Eliza, dan Izabel Jahja yang masing-masing memberikan penampilan yang cukup total terhadap karakter mereka.Menariknya, akting dalam film ini tidak hanya mengandalkan adegan teriakan atau ekspresi ketakutan. Beberapa adegan justru terasa lebih efektif ketika para pemain menampilkan ketakutan melalui ekspresi wajah, tatapan, maupun gestur tubuh.Hal tersebut membuat teror terasa lebih manusiawi dan tidak berlebihan.Make Up Horor yang Tidak BerlebihanSalah satu keputusan yang patut diapresiasi dari Munafik: Melawan Iblis adalah penggunaan make up horornya.Film tidak terlalu bergantung pada tampilan wajah menyeramkan yang berlebihan. Karakter-karakter yang mengalami gangguan supernatural tidak selalu dibuat dengan visual yang ekstrem atau penuh efek khusus.Pendekatan seperti ini justru membuat beberapa momen terasa lebih meyakinkan.Horor tidak harus selalu memperlihatkan sosok dengan wajah mengerikan. Terkadang, ekspresi manusia yang terlihat tidak normal, perubahan gestur tubuh, atau kehadiran sosok dalam kondisi yang tidak seharusnya sudah cukup untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Film ini memahami hal tersebut dan menggunakan make up horor secara cukup terukur.Atmosfer Horor yang “Sunyi” dan MencekamJika ada satu elemen yang cukup menonjol dari Munafik: Melawan Iblis, atmosfer horornya adalah salah satunya.Alih-alih terus-menerus memberikan kejutan atau jumpscare, film lebih banyak memanfaatkan kesunyian untuk membangun ketegangan. Ruang kosong, suasana malam, pencahayaan yang minim, serta momen ketika karakter berada dalam keadaan sendirian menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa takut.Kesunyian tersebut justru membuat penonton merasa seperti sedang menunggu sesuatu terjadi.Dan ketika sebuah suara, gerakan, atau sosok akhirnya muncul, efeknya menjadi terasa lebih kuat karena ketegangan sudah dibangun sebelumnya.Pendekatan ini juga membuat horornya terasa lebih atmosferik. Penonton tidak hanya disuguhi sesuatu yang menakutkan secara visual, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan melalui suasana yang dibangun sepanjang film.Horor yang Tidak Hanya Berbicara Tentang IblisDi balik segala teror supernaturalnya, Munafik: Melawan Iblis sebenarnya membawa pembahasan yang lebih dalam mengenai manusia dan dirinya sendiri. Film tidak hanya menempatkan iblis sebagai sumber kejahatan yang harus dikalahkan. Konflik spiritual yang dihadirkan juga menjadi gambaran mengenai bagaimana manusia berhadapan dengan rasa takut, keraguan, dosa, kelemahan, dan berbagai sisi gelap dalam dirinya sendiri.Dari sinilah pesan moral film terasa cukup kuat:Kemenangan melawan iblis harus dimulai dari melawan diri sendiri.”Pesan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita.Sebab, sebelum manusia mampu menghadapi sesuatu yang berada di luar dirinya, mereka terlebih dahulu harus mampu mengalahkan ketakutan, kesombongan, keraguan, serta kelemahan yang ada di dalam diri. Dengan begitu, iblis dalam film ini tidak hanya dapat dimaknai sebagai sosok supernatural, tetapi juga sebagai simbol dari berbagai hal buruk yang dapat menguasai manusia ketika mereka kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Remake yang Berhasil Memiliki Identitas SendiriSebagai film remake yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis tentu akan selalu dibandingkan dengan versi aslinya.Namun, film ini cukup berhasil berdiri dengan identitasnya sendiri.Kekuatan utamanya bukan terletak pada usaha untuk membuat sesuatu yang sepenuhnya berbeda, melainkan bagaimana cerita yang sudah dikenal dapat dikemas kembali dengan pendekatan produksi dan karakter yang sesuai dengan penonton Indonesia.Hasilnya adalah sebuah film horor religi yang masih memiliki nuansa Munafik, tetapi tetap terasa sebagai film yang memiliki wajah baru.Kesimpulan Munafik: Melawan Iblis merupakan remake horor religi yang cukup berhasil menghadirkan cerita dengan alur yang menarik dan mudah diikuti. Film ini tidak hanya mengandalkan teror supernatural, tetapi juga memberikan ruang yang cukup besar untuk perkembangan karakter dan konflik batin. Film ini mengajak penonton melihat bahwa terkadang musuh terbesar manusia bukanlah sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan kelemahan yang ada di dalam dirinya sendiri.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre Horor Religi & Supernatural, film ini cukup bagus dan sangat recommended untuk masuk ke watchlist kalian!

Rahmadandi Desky Prayuda 04 Sep 2026
VIDEO
Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal
MOVIE
4.5

Evolusi Baru Waralaba Evil Dead yang Lebih Kelam & Brutal

Selama lebih dari empat dekade, waralaba Evil Dead selalu identik dengan Necronomicon, Deadites yang sadis, darah berlimpah, serta perpaduan horor dan gore yang tak kenal ampun. Namun melalui Evil Dead Burn (2026), sutradara Sébastien Vanicek bersama penulis Florent Bernard menghadirkan sesuatu yang terasa berbeda tanpa menghilangkan identitas utama franchise ini.Alih-alih sekadar menghadirkan pertarungan manusia melawan iblis, film ini justru menjadikan hubungan keluarga yang retak sebagai sumber teror utama. Hasilnya adalah sebuah film Evil Dead yang jauh lebih emosional, psikologis, sekaligus tetap mempertahankan kebrutalan yang menjadi ciri khas waralaba.Cerita yang Lebih Personal dan Penuh Luka LamaHal paling menonjol dari Evil Dead Burn adalah pendekatan ceritanya yang lebih intim. Film ini tidak hanya mengisahkan tentang teror iblis yang memburu korbannya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana luka masa lalu, rasa bersalah, dendam, dan kebencian antar anggota keluarga menjadi “bahan bakar” bagi kekuatan jahat.Saat satu per satu karakter mulai dirasuki Deadites, ancaman yang muncul bukan hanya berupa kekerasan fisik. Iblis memanfaatkan rahasia tergelap setiap anggota keluarga sebagai senjata psikologis. Trauma masa kecil, konflik keluarga yang belum selesai, hingga isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga diungkap secara kejam untuk menghancurkan mental para korban sebelum menghancurkan tubuh mereka.Pendekatan ini membuat horor dalam film terasa jauh lebih mengganggu dibanding sekadar jumpscare atau adegan gore. Penonton dibuat ikut merasakan tekanan emosional yang dialami setiap karakter, sehingga setiap pertikaian memiliki bobot dramatis yang kuat.Senjata Kuno Melawan Ilmu HitamPerubahan menarik lainnya adalah bagaimana film ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mitologi Necronomicon sebagai pusat konflik.Kali ini cerita berfokus pada penelitian sang kakek mengenai keberadaan Kandarian Dagger, sebuah belati kuno yang dipercaya mampu memusnahkan iblis untuk selamanya. Premis ini memberikan nuansa petualangan sekaligus misteri yang menyegarkan bagi franchise.Konsep pertarungan antara senjata kuno melawan ilmu hitam membuat konflik terasa lebih luas dan menghadirkan lapisan mitologi baru dalam semesta Evil Dead. Penonton tidak hanya disuguhi upaya bertahan hidup, tetapi juga pencarian artefak yang menjadi harapan terakhir untuk menghentikan teror Deadites.Perubahan arah cerita ini berhasil memperluas dunia Evil Dead tanpa menghilangkan akar horornya.Akting Totalitas dan Sangat Meyakinkan Dari Para PemainDeretan pemain tampil luar biasa dalam membangun intensitas cerita. Souheila Yacoub sebagai Alice menjadi pusat emosional film. Ia mampu menampilkan karakter yang rapuh namun perlahan berubah menjadi sosok yang berani menghadapi mimpi buruk keluarganya. Perjalanan emosinya terasa alami dan berhasil mengikat perhatian penonton sejak awal.Hunter Doohan sebagai Joseph, Luciane Buchanan sebagai Thya, Tandi Wright sebagai Susan, Erroll Shand sebagai Edgar, Maude Davey sebagai Polly, hingga George Pullar sebagai Will sama-sama memberikan penampilan yang sangat total. Ketika karakter mereka mulai dirasuki iblis, perubahan ekspresi, bahasa tubuh, hingga cara berbicara benar-benar terasa mengerikan tanpa kehilangan sisi manusia yang membuat konflik semakin menyakitkan.Interaksi antar pemain menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karena fondasi hubungan keluarga dibangun dengan baik, setiap pengkhianatan, pertengkaran, hingga kematian memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar dibanding film-film Evil Dead sebelumnya.Horor Psikologis Berpadu Gore Khas Evil DeadMeski membawa pendekatan yang lebih dramatis, Evil Dead Burn sama sekali tidak melupakan identitas franchiseAdegan gore tetap brutal, penuh darah, dan sangat kreatif. Namun kali ini kekerasan fisik dipadukan dengan penyiksaan psikologis yang membuat setiap adegan terasa lebih menyiksa untuk ditonton.Ketegangan dibangun perlahan melalui percakapan yang dipenuhi kecurigaan sebelum akhirnya meledak menjadi kekacauan berdarah yang sangat intens. Perpaduan horor psikologis dan gore ekstrem inilah yang membuat film terasa segar sekaligus tetap memuaskan bagi penggemar lama.Visual Kelam yang Sangat AtmosferikSébastien Vanicek menunjukkan kepiawaiannya dalam membangun atmosfer lewat pendekatan visual yang suram.Dominasi warna abu-abu, hitam, dan rona kekuningan menciptakan kesan dunia yang perlahan membusuk. Hampir setiap lokasi terasa lembap, dingin, dan tidak memberikan rasa aman bagi para karakternya.Sinematografi dipenuhi framing sempit yang membuat penonton merasa ikut terjebak bersama para korban, sementara penggunaan bayangan dan pencahayaan redup membuat ancaman terasa selalu mengintai dari setiap sudut.Editing dengan teknik smash cut digunakan secara agresif namun efektif untuk mempertahankan ritme ketegangan. Transisi yang mendadak membuat penonton sulit merasa nyaman, sehingga rasa cemas terus terjaga bahkan sebelum adegan horor benar-benar dimulai.Seluruh elemen visual tersebut berpadu dengan desain suara yang menghantui, menghasilkan pengalaman menonton yang intens sejak menit pertama hingga penutup.Dua After-Credit yang Wajib DitungguSOBAT KTF jangan terburu-buru meninggalkan kursi setelah kredit utama mulai bergulir yaa, Evil Dead Burn menghadirkan dua adegan after-credit yang sama-sama layak ditunggu.Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead.KesimpulanEvil Dead Burn (2026) berhasil membuktikan bahwa sebuah waralaba Keduanya bukan sekadar pemanis, melainkan memberikan petunjuk penting yang memperluas mitologi film sekaligus membuka kemungkinan arah baru bagi waralaba Evil Dead. legendaris masih bisa berevolusi tanpa kehilangan identitasnya.Dengan menjadikan trauma keluarga sebagai inti cerita, memperkenalkan mitologi baru melalui Kandarian Dagger, serta menghadirkan konflik yang lebih emosional dan psikologis, film ini terasa berbeda dari pendahulunya namun tetap mempertahankan ciri khas Evil Dead berupa gore brutal, Deadites yang mengerikan, dan teror tanpa ampun!

Rahmadandi Desky Prayuda 24 Jul 2026
Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!
NEWS

Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!

Suasana megah di CGV Grand Indonesia mendadak pecah oleh isak tangis histeris pada penyelenggaraan Gala Premiere film layar lebar paling dinantikan tahun ini, dari Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon.Ruang bioskop yang disulap berhiaskan instalasi pohon sakura mekar, sebagai tribut mengenang mendiang Hajime Kondoh, berubah menjadi lautan air mata sesaat setelah film selesai diputar.Puncaknya terjadi pada sesi press conference usai penayangan. Sambil mendekap erat sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz, content creator Fanny Kondoh melontarkan pengakuan mengharukan yang seketika membuat ratusan pasang mata yang hadir di studio meneteskan air mata."Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa," ucap Fanny dengan suara bergetar dan berurai air mata, membuat seluruh awak media dan tamu undangan ikut menangis tersedu-sedu. Momen haru tersebut sekaligus menjadi saksi pertaruhan besar karier Denny Sumargo. Bersama sang istri, Olivia Sumargo, Denny resmi menandai debut perdana mereka sebagai produser di industri film Indonesia.Bukan hanya modal nama, Densu bahkan rela memangkas habis rambutnya hingga botak licin dan menonton rekaman sakratul maut asli mendiang Hajime demi menyajikan akting yang menghipnotis penonton."Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan. Alasan terbesar saya bikin film ini cuma satu: nggak mau mengecewakan amanah Fanny dan Hajime. Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan," tegas Denny Sumargo, Produser dari Sumargo Film, di hadapan awak media."Kami amat bangga bisa membawa film Baby Udon ke penonton Indonesia. Semoga cerita yang mengharukan dan indah dari Bu Fanny Kondoh dan Almarhum Bapak Hajime Kondoh bisa memberikan kesan yang baik dan menginspirasi banyak orang," kata Andi Suryanto, selaku Produser dari LYTO Pictures.Gala Premiere spektakuler ini turut dihadiri sederet bintang ternama tanah air, mulai dari jajaran produser Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella Daryanani, hingga deretan pemeran utama seperti Caitlin Halderman, Ayya Renita, Putri Ayudya, Alfie Alfandy, Miyu Okazaki, Hiroaki Kato, Royhan Hidayat, Hafni Thalib, dan Alexandra Valerie.Selain di Jakarta, film ‘Baby Udon’ telah menggelar Gala Premiere di 7 (Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Banjarmasin, Palembang, Medan) kota sampai saat ini. Tidak berhenti di sini, tur Gala Premiere dan Meet & Greet masih akan berlanjut ke Makassar (Nipah XXI) dan akan ditutup di Bali (Level 21 XXI).Film Baby Udon dipastikan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Penonton juga bisa menikmati promo terbatas Buy One Get One Free (BOGOF) khusus untuk hari pertama penayangan di aplikasi tiket MTIX.Intip cuplikan viral, trailer resmi, dan informasi tiket di akun Instagram @filmbabyudon, @sumargofilm, dan @lytopictures.

Admin Kupas Tuntas Film 30 Aug 2026
Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”
NEWS

Sentilan Budi Doremi Lewat “Cinta Diri Sendiri”

Ini Statement, Aku Yang Paling SelfLove.Jakarta, Agustus 2026 – Budi Doremi kembali. Masih ngomongin cinta, tapi plot twist: kali ini bukan tentang dia. Kali ini tentang lo, tentang kapan lo harus berhenti mengejar dan mulai memilih diri sendiri.Lewat single terbarunya, “Cinta Diri Sendiri”, Budi kayak lagi menyentil pelan tapi nusuk: mungkin selama ini lo terlalu sibuk jadi “orang baik”, sibuk ngerti orang lain, sibuk memperjuangkan sesuatu yang nggak pernah benar-benar memilih lo atau menjadikan lo prioritas, sampai lupa satu hal kecil yang ternyata penting juga: lo juga harus baik ke diri sendiri.Kalau biasanya Budi identik sama lagu yang bikin dada sesek, kali ini auranya beda. Lebih ringan, lebih hangat, lebih “hidup”. Ada ukulele, ada biola, ada vibe santai yang bikin lo tanpa sadar ikut ngangguk, lalu beberapa detik kemudian mikir, “Iya juga ya… gue ngapain segininya banget sih?!”.Karena kadang hidup bukan soal seberapa lama lo bisa bertahan atau seberapa keras lo berusaha sampai sesuatu akhirnya berpihak sama lo. Ada hal-hal yang cukup lo sayangin, lo perjuangin semampunya, lalu memang harus lo lepas. Tahu kapan harus terus jalan dan kapan harus berhenti mungkin justru salah satu bentuk cinta ke diri sendiri yang paling sederhana.Di video musiknya, Budi ngajak Ardit Erwandha, Zoul Pandjoul, dan Shanika Ancita—tiga energi beda yang kalau digabung malah jadi chaos yang seru. Shooting-nya hidup, hasilnya juga dapet: visual yang ringan, fresh, tapi diam-diam nyentil.Lagu ini juga bukan berdiri sendiri. “Cinta Diri Sendiri” adalah lanjutan dari “Ada Untukmu”, dan jadi bagian dari mini album/ EP yang akan datang. Di sini, lagu ini terasa seperti tombol reset. Momen ketika lo berhenti ngejar validasi, terus mulai mikir, “Eh, gue bukan figuran, ya!” Dari situ semuanya mulai geser—cara lo ngelihat cinta, cara lo ngelihat diri sendiri, sampai akhirnya lo ngerti bahwa diri lo sendiri itu penting.“Cinta Diri Sendiri” sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Video musiknya juga bisa disaksikan di YouTube: Budi Doremi. Siapa tahu, abis dengerin dan nonton, lo nggak cuma merasa relate, tapi juga akhirnya sadar satu hal: nggak semua hal perlu dikejar.Official Music Video :https://openyoutu.be/M-Kap_WNKbM?si=8YJG7HInunxFuj5RStreaming On All Platforms :Spotify :https://open.spotify.com/track/69G3PsqyDpxfs0RwCRPu1JYoutube Music :https://music.youtube.com/watch?v=3XYbSjirko4&si=5LjU2d6f2N3TUMJRiTunes :https://music.apple.com/id/song/cinta-diri-sendiri/6795851580Meta :https://www.instagram.com/reels/audio/4722470927986672TikTok :https://www.tiktok.com/music/Cinta-Diri-Sendiri-7663100250153338896

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026