Logo KTF KupasTuntasFilm

Bertabur Bintang MAXStream TV dan iQIYI Hadirkan Series Bunga di Tepi Jurang, Kisah Yang Dekat Dengan Kehidupan Masyarakat

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Series

By Admin Kupas Tuntas Film | | 46 views

Original series ini menghadirkan kisah perjuangan untuk bangkit dan memperkaya pilihan konten lokal berkualitas


Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tontonan lokal yang berkualitas dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, MAXStream TV bersama iQIYI resmi memperkenalkan original series terbaru, Bunga di Tepi Jurang. Mengangkat kisah tentang perjuangan, harapan, dan ketangguhan seorang perempuan, series ini menjadi langkah terbaru bagi kedua platform dalam menghadirkan tontonan yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia. 

Menggandeng Leo Pictures selaku rumah produksi, series Bunga di Tepi Jurang menjadi wujud komitmen ketiga pihak untuk terus menghadirkan original series Indonesia berkualitas sekaligus mendukung pertumbuhan industri kreatif nasional. Melalui distribusi lintas platform, masyarakat dapat menikmati karya lokal yang semakin mudah dijangkau kapan saja dan di mana saja.

VP Digital Lifestyle Telkomsel, Kemas M Fadhli, mengatakan, "Kami percaya kolaborasi bersama iQIYI menjadi bagian penting dalam menyuguhkan pilihan hiburan digital yang semakin beragam bagi masyarakat. Melalui semangat Melayani Sepenuh Hati, kami ingin menghadirkan pengalaman digital yang semakin relevan bagi pelanggan, termasuk akses ke konten berkualitas yang dapat dinikmati dengan mudah melalui ekosistem digital Telkomsel.”

Bunga di Tepi Jurang mengisahkan Andini yang diperankan oleh Claresta Taufan, seorang perempuan yang berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya demi membangun kehidupan yang ia pilih. Cerita ini mengangkat tema perjuangan, harapan, dan keberanian untuk bangkit dari berbagai tantangan hidup.

Andini adalah karakter yang sangat manusiawi dan penuh perjuangan. Saya berharap perjalanan hidupnya dapat memberikan inspirasi sekaligus membuat penonton bisa ikut merasakan setiap emosi yang ia lalui," ucap Claresta Taufan

Dengan konflik yang kompleks dan karakter yang terus berkembang, Bunga di Tepi Jurang menghadirkan pengalaman menonton yang emosional sekaligus penuh ketegangan. Melalui perjalanan Andini menghadapi berbagai tekanan dalam hidup, mulai dari keluarga dan relasi yang rumit hingga pencarian jati diri, penonton diajak menyaksikan kisah tentang keberanian untuk bangkit, melangkah maju, dan menentukan arah hidupnya sendiri.

Bunga di Tepi Jurang didukung oleh jajaran aktor dan aktris ternama Indonesia, termasuk Stefan William, Aliando Syarief, Derby Romero, hingga aktor legendaris Anjasmara dan aktor muda yang sedang naik daun, Raden Rakha. Kolaborasi lintas generasi ini menyuguhkan dinamika antar karakter yang memperkaya emosi dan konflik dalam cerita.

Senior Managing Director for Southeast Asia iQIYI, Dinesh Ratnam, menambahkan "Melalui Bunga di Tepi Jurang, kami ingin menghadirkan kisah tentang perjuangan, pilihan hidup, dan ketangguhan seorang perempuan. Series ini menjadi bagian dari upaya kami untuk terus mengembangkan original Indonesian storytelling yang berkualitas serta mampu membangun koneksi emosional yang kuat dengan penonton.

Bunga di Tepi Jurang dapat disaksikan mulai 31 Juli 2026 melalui MAXStream TV dan iQIYI lewat aplikasi mobile, smart TV, hingga platform streaming berbasis internet lainnya. Didukung jaringan Telkomsel yang andal, pelanggan dapat menikmati tayangan secara lancar dan nyaman, sehingga pengalaman menikmati hiburan digital berkualitas menjadi semakin mudah diakses kapan saja dan di mana saja.

More Recommendations

VIDEO
WARGA RUSUN 609 Rilis Trailer dan Poster Resmi, Ketika Hantu Tak Mau Pergi Bertemu Warga yang Tak Mau Digusur!
NEWS

WARGA RUSUN 609 Rilis Trailer dan Poster Resmi, Ketika Hantu Tak Mau Pergi Bertemu Warga yang Tak Mau Digusur!

Film komedi horor terlucu dari Rapi Films akan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026 !Jakarta, 31 Agustus 2026 - Film terbaru dari Rapi Films, dengan kolaborasi bersama Sky Media Films, Vortera Studios, dan Legacy Pictures, sebuah komedi horor berjudul Warga Rusun 609 hari ini resmi merilis poster dan trailer yang memperlihatkan kekacauan para warga penghuni rusun ketika harus berhadapan dengan arwah Bunga sekaligus ancaman relokasi dari Pak Bahlil. Disutradarai oleh Herwin Novianto dengan penulisan skenario oleh Upi, film ini mempertemukan komedi dan horor dalam dinamika bertetangga di sebuah rusun ke dalam sebuah suguhan yang penuh kejutan dan kelucuan.Warga Rusun 609 akan tayang di bioskop mulai 1 Oktober 2026.Melalui trailernya, penonton diajak mengenal lebih dekat dengan film Warga Rusun 609 yang bercerita tentang ARKA (Morgan Oey), mahasiswa populer dan kaya raya yang menghancurkan hubungannya dengan BUNGA (Ranty Maria) karena sebuah taruhan bodoh. Ketika Bunga ditemukan tewas dan arwahnya menghantui kamar 609, warga rusun yang penuh tingkah pun dibuat kalang kabut. Di saat yang sama, mereka harus menghadapi PAK BAHLIL (David Nurbianto) yang mengancam akan merelokasi mereka. Hantu yang tidak mau pergi bertemu dengan warga yang tidak mau digusur. Kekacauan pun tak terhindarkan.Sebagai adaptasi dari film horor komedi Thailand, Buppah Rahtree, Warga Rusun 609 tidak hanya memindahkan ceritanya ke Indonesia. Dunia rusun menjadi ruang yang membuat ceritanya terasa sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita. Ketika teror muncul, para warga bereaksi dengan caranya masing-masing, ada yang panik, bergosip, berdebat, mencari orang pintar, saling menyalahkan, sampai akhirnya terpaksa menghadapi masalah itu bersama-sama. Dari situlah komedi Warga Rusun 609 tumbuh.“Yang membuat kami tertarik bukan hanya hantunya. Kami membayangkan, kalau kejadian seperti ini benar-benar terjadi di sebuah rusun di Indonesia, bagaimana warga kita akan bereaksi? Pasti ada yang takut, ada yang sok berani, ada yang cari orang pintar, ada yang bergosip, dan semuanya ikut campur.Dari situ kami merasa cerita Buppah Rahtree bisa punya kehidupan yang sangat berbeda ketika dibawa ke Indonesia,” ujar produser Sunil Samtani.Kekuatan tersebut semakin terasa melalui deretan pemeran yang menghidupkan karakter-karakterWarga Rusun 609 yang mempertemukan aktor, komedian, stand-up comedian, sampai figur internet dalam satu lingkungan rusun. Selain Morgan Oey dan Ranty Maria, film ini juga menghadirkan Gita Bhebhita, Sarah Sechan, Aming, hingga Dustin Tiffani. Film Warga Rusun 609 mengandalkan kekacauan ensemble cast yang akan membuat penonton tertawa dan terhibur.Melalui Warga Rusun 609, Herwin Novianto kembali mengeksplorasi pertemuan horor dan komedi, kali ini dalam dunia sebuah rusun yang dihuni oleh warga dengan segala tingkah dan persoalannya.Sementara itu, bagi Morgan Oey, kesempatan bermain dalam komedi horor garapan Rapi Films dan disutradarai Herwin Novianto memberikan pengalaman yang berbeda, terutama karena ia harus berada di tengah dinamika pemain yang begitu beragam.“Warga Rusun 609 punya kombinasi yang menarik. Horornya ada banget, tapi cara para karakter menghadapi situasi yang mereka alami membuat semuanya menjadi sangat kocak dan menghibur.Pengalaman bekerja bersama Mas Herwin juga menjadi pengalaman baru yang menyenangkan karena Mas Herwin punya teknik pendekatan yang kuat dalam mempertemukan horor dan komedi. Saya menikmati prosesnya, terutama ketika harus membangun karakter Arka di tengah warga-warga rusun lainnya yang punya energi dan warna masing-masing,” ungkap Morgan Oey.Warga Rusun 609 merupakan film persembahan Rapi Films berkolaborasi dengan Sky Media Films, Vortera Studios dan Legacy Pictures, karya sutradara Herwin Novianto dan penulis skenario Upi. WargaRusun 609 dibintangi oleh Morgan Oey, Ranty Maria, Gita Bhebhita, Galabby, Sarah Sechan, Riyuka Bunga, Aming, Keanu, Papham Ashari, Yono Bakrie, Danang Suryonegoro, Tanta Ginting, Dustin Tiffani, Dian Sidik, David Nurbianto, dan Adzana Ashel. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026. Ikuti perkembangan Warga Rusun 609 melalui akun-akun resmi media sosialnya.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026
VIDEO
Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!
MOVIE
4.0

Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!

Ada film yang sejak awal memang ingin membuat penontonnya menangis. Namun, ada juga film yang tidak perlu melakukan itu karena ceritanya sendiri sudah cukup kuat untuk membuat kita tersentuh. Dear You (2026) termasuk salah satunya.Disutradarai sekaligus ditulis oleh Hongchun Lan, Leng Yang, Xuanxuan Zheng, dan Liyun Zhu, film ini menghadirkan sebuah cerita yang terasa hangat dan manusiawi.Dibintangi oleh Sitong Li sebagai Xie Nanzhi, Yantong Wang sebagai Zheng Musheng, Shaoqing Wu sebagai Old Ye Shurou, Runqi Zheng sebagai Xiaowei, Xiaohui Wang sebagai Young Ye Shurou, Shuguang Zhao sebagai Xie Zehua, Deru Li sebagai Auntie Ru, Shuhao Li sebagai Father of Chuyuan, serta Usha Seamkhum sebagai Old Xie Nanzhi, film ini perlahan mengajak penonton mengikuti perjalanan hidup para karakternya.Film ini tidak menawarkan cerita yang spektakuler atau penuh kejutan, tetapi karena film ini berhasil memberikan banyak rasa dalam satu cerita.Filmnya Terasa Hangat Hal pertama yang paling terasa dari Dear You adalah kehangatannya.Film ini punya kemampuan untuk membuat penonton tersenyum, tertawa, terharu, bahkan merasa sedikit sesak di beberapa momen. Menariknya, semua emosi tersebut muncul dengan cukup natural.Film ini tidak terasa seperti sedang memaksa kita untuk menangis. Tidak ada adegan yang terasa sengaja dibuat terlalu melodramatis hanya demi mendapatkan air mata penonton. Sebaliknya, emosi dibangun perlahan melalui hubungan antarkarakter, pengalaman hidup, pilihan yang mereka ambil, serta berbagai hal sederhana yang mereka lalui.Justru karena tidak terlalu memaksa, ketika sebuah adegan emosional datang, dampaknya terasa lebih kuat.Ada sesuatu yang sederhana tetapi relatable dari perjalanan para karakternya. Kita bisa melihat bagaimana waktu, keadaan, hubungan, dan berbagai keputusan dalam hidup perlahan membentuk seseorang.Dan ketika melihat perjalanan tersebut sampai ke titik tertentu, kita sebagai penonton seolah ikut merasakan perjalanan hidup mereka.Jalan Ceritanya Mudah Untuk DiikutiSalah satu kekuatan Dear You adalah cara film ini bercerita.Alurnya memang cenderung pelan. Jadi, buat penonton yang terbiasa dengan film dengan tempo cepat atau cerita yang dipenuhi konflik besar, mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian.Namun, menurut minpas justru tempo yang pelan ini menjadi salah satu kekuatan film.Dear You tidak terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Film memberikan cukup banyak ruang bagi para karakter untuk berkembang dan bagi penonton untuk mengenal mereka.Ceritanya juga tidak dipenuhi twist yang aneh-aneh atau kejutan yang sengaja dimasukkan hanya untuk membuat penonton terkejut.Sebaliknya, film memilih untuk membangun cerita dari hal-hal sederhana.Setiap adegan terasa memiliki fungsi. Perlahan-lahan kita mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.Karena itulah ketika cerita akhirnya sampai pada bagian-bagian emosionalnya, kita sudah cukup peduli terhadap karakter-karakternya.Jadi, meskipun secara premis cerita Dear You mungkin terdengar sederhana, eksekusinya membuat perjalanan tersebut tetap menarik untuk diikuti.Akting Para Pemain yang MeyakinkanDari sisi akting, para pemain Dear You juga memberikan performa yang cukup solid.Sitong Li sebagai Xie Nanzhi mampu membawa karakter tersebut dengan cukup natural. Begitu juga dengan Yantong Wang sebagai Zheng Musheng yang mampu memberikan dinamika menarik dalam hubungan antarkarakter.Namun, salah satu hal yang menurut MINPAS patut diapresiasi adalah pemilihan pemeran untuk karakter dalam versi muda dan tua.Kemiripan fisik antara pemeran karakter ketika masih muda dengan versi mereka ketika sudah tua terasa cukup meyakinkan. Hal ini memang terlihat seperti detail kecil, tetapi sangat membantu menjaga kontinuitas cerita.Ketika sebuah karakter diperlihatkan dalam dua fase kehidupan yang berbeda, kita tidak merasa sedang melihat dua orang yang benar-benar berbeda. Ada kemiripan dari wajah maupun aura yang membuat perjalanan waktu dalam cerita terasa lebih masuk akal.Selain itu, performa para pemain juga terasa pas dengan karakter masing-masing. Tidak ada yang terasa terlalu berlebihan atau berusaha mencuri perhatian.Semuanya bermain dalam porsinya masing-masing dan saling melengkapi.Punya Visual yang CantikSelain ceritanya yang hangat, Dear You juga menawarkan visual yang cantik.Film ini membawa penonton kembali ke atmosfer China pada era 1950-an hingga 1970-an, dan detail periodenya terasa cukup hidup.Mulai dari kostum, lingkungan, suasana kota, interior tempat tinggal, hingga berbagai detail kecil yang ada di dalam frame, semuanya membantu membangun atmosfer zamannya.Film tidak hanya sekadar mengganti pakaian karakter dengan kostum klasik, tetapi juga berusaha membuat dunianya terasa seperti sebuah tempat yang benar-benar ditinggali oleh para karakter.Sinematografinya pun terasa nyaman untuk dinikmati, penggunaan warna dan pencahayaan mendukung nuansa hangat yang menjadi salah satu identitas film ini. Ada banyak shot yang terasa sederhana, tetapi tetap indah karena mampu menangkap atmosfer dan emosi dari sebuah adegan.Visualnya tidak terasa terlalu berlebihan atau dibuat hanya untuk terlihat cantik. Justru kesederhanaannya yang membuat Dear You terasa semakin dekat dengan cerita yang ingin disampaikan.Film Yang Punya Banyak RasaHal menarik lainnya adalah bagaimana Dear You mampu mencampurkan berbagai macam emosi tanpa membuatnya terasa berantakan.Ada komedi yang bisa membuat kita tersenyum, ada juga momen-momen romantis yang terasa manis.Ada pula drama keluarga dan kehidupan yang perlahan membawa cerita ke arah yang lebih emosional.Perpindahan dari satu emosi ke emosi lainnya juga terasa cukup natural. Film tidak terus-terusan berada dalam suasana sedih, sehingga ketika sebuah momen emosional datang, efeknya justru terasa lebih kuat.Inilah salah satu alasan mengapa Dear You bisa terasa begitu hangat.Film ini seperti mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah hanya berisi satu jenis emosi.Ada bahagia, ada sedih, ada kehilangan, ada tawa, ada penyesalan, dan ada kenangan yang tetap tinggal meskipun waktu terus berjalanEnding yang PasBagian ending juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini berhasil.Dear You tidak memilih untuk menutup ceritanya dengan cara yang terlalu berlebihan, film ini memberikan sebuah penyelesaian yang terasa sesuai dengan perjalanan yang sudah dibangun sejak awal, tidak perlu terlalu banyak drama tambahan atau memaksakan twist besar, tapi setelah film selesai, ada perasaan seperti masih ingin memikirkan perjalanan mereka.KesimpulanDear You adalah salah satu film Asia yang paling berkesan tahun ini. Film ini memang sederhana, alurnya juga cenderung pelan dan tidak menawarkan banyak kejutan besar , justru kesederhanaan tersebut yang menjadi kekuatannya.Dear You adalah film yang hangat, lucu, sedih, romantis, dan menyentuh tanpa terasa menggurui.Film ini tidak memaksa kita untuk mencintai karakternya tapi film ini hanya memberikan waktu kepada kita untuk mengenal mereka, mengikuti perjalanan mereka, dan akhirnya membiarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan genre film keluarga yang hangat, Dear You layak banget masuk daftar tontonan kalian.

Abdul Haris 08 Aug 2026
Petualangan Magis yang Hangat dengan Balutan Mitologi Filipina
MOVIE
4.2

Petualangan Magis yang Hangat dengan Balutan Mitologi Filipina

DreamWorks Animation kembali menghadirkan film animasi original melalui Forgotten Island sebuah film petualangan fantasi yang terasa berbeda karena membawa penonton masuk ke dunia mitologi dan cerita rakyat Filipina.Film ini ditulis sekaligus disutradarai oleh Joel Crawford dan Januel P. Mercado, duo yang sebelumnya bekerja sama dalam Puss in Boots: The Last Wish. Kali ini, keduanya membawa sebuah kisah tentang persahabatan, keluarga, perpisahan, dan kenangan dengan latar dunia mistis bernama Nakali..Yang membuat Forgotten Island terasa fresh adalah keberaniannya menjadikan budaya dan mitologi Filipina sebagai bagian penting dari dunia cerita. Bukan sekadar tempelan visual atau nama karakter, berbagai makhluk dari folklore Filipina menjadi bagian dari petualangan Jo dan Raissa.Mengangkat Mitologi Filipina dengan Cara yang FreshCerita Forgotten Island berpusat pada Jo dan Raissa, dua sahabat yang sudah berteman sejak kecil. Keduanya sedang berada di titik perubahan dalam hidup karena setelah lulus sekolah mereka akan menjalani jalan masing-masing.Ketika sedang merayakan malam terakhir mereka bersama, sebuah portal misterius membawa keduanya menuju Nakali, sebuah pulau fantastis yang dipenuhi berbagai makhluk mitologi dan legenda yang selama ini mereka dengar dari keluarga mereka.Di sinilah Forgotten Island mulai menunjukkan identitasnya. Film ini menghadirkan berbagai elemen dari folklore Filipina, termasuk Manananggal, makhluk yang dalam legenda dikenal mampu memisahkan bagian atas tubuhnya dan terbang. Dalam film, sosok tersebut diwujudkan melalui karakter Manang, yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi Jo dan Raissa.Selain Manananggal, dunia Nakali juga diisi dengan berbagai makhluk fantastis lainnya, termasuk Bungi yang merupakan Tiyanak, Raww yang merupakan weredog, serta Batiba yang memiliki hubungan dengan kenangan. Penggunaan mitologi seperti ini membuat Forgotten Island terasa berbeda dari formula film animasi fantasi pada umumnya. DreamWorks tidak hanya menggunakan dunia fantasi sebagai tempat petualangan, tetapi menjadikannya sebagai cara untuk memperkenalkan kekayaan cerita rakyat Filipina kepada penonton yang lebih luas.Film ini juga terasa personal karena Crawford dan Mercado mengambil inspirasi dari hubungan mereka dengan orang-orang terdekat, termasuk keluarga dan persahabatan yang mereka miliki. Mercado bahkan mengambil inspirasi dari saudara perempuannya, sementara Crawford menyebut istrinya dan hubungan anak-anak mereka dengan sahabat sebagai bagian dari inspirasi cerita.Jo dan Raissa: Persahabatan yang Menjadi Jantung CeritaWalaupun Forgotten Island memiliki banyak monster, dunia magis dan petualangan besar, inti sebenarnya dari film ini adalah hubungan Jo dan Raissa.Jo merupakan sosok yang imajinatif, suka bercerita, penuh energi, tetapi juga cukup impulsif. Sementara Raissa lebih pintar, berhati-hati dan penuh perhitungan.Perbedaan karakter tersebut justru membuat hubungan mereka terasa hidup.Keduanya seperti dua pribadi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Hubungan tersebut menjadi semakin menarik karena mereka sedang menghadapi kenyataan bahwa setelah lulus sekolah, hidup mereka mungkin akan membawa mereka ke arah yang berbeda.Hal ini membuat konflik dalam film terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang mungkin pernah mengalami situasi ketika sahabat yang sudah bersama sejak kecil harus berpisah karena sekolah, pekerjaan, keluarga, atau pilihan hidup.DreamWorks kemudian membawa persoalan sederhana tersebut ke dalam sebuah konsep fantasi yang jauh lebih besar: bagaimana jika untuk pulang kita harus mengorbankan semua kenangan bersama orang yang paling kita sayangi?Di titik inilah konsep Forgotten Island menjadi cukup emosional.Voice Acting yang Menghidupkan KarakterSalah satu kekuatan Forgotten Island adalah jajaran voice actor yang mampu memberikan karakter dan kepribadian yang berbeda pada setiap tokohnya.H.E.R. sebagai Jo terasa cocok dengan karakter Jo yang penuh imajinasi, spontan, dan terkadang impulsif. Energi vokalnya membuat Jo terasa seperti remaja yang benar-benar memiliki rasa ingin tahu besar terhadap dunia di sekitarnya.Sementara Liza Soberano sebagai Raissa memberikan karakter yang lebih tenang dan terukur. Raissa bukan hanya menjadi teman Jo, tetapi juga menjadi sosok yang mampu menyeimbangkan sifat Jo yang terkadang bertindak tanpa berpikir panjang.Chemistry H.E.R. dan Liza menjadi salah satu elemen penting karena hubungan Jo dan Raissa adalah pusat emosional film.Kemudian ada Dave Franco sebagai Raww, karakter weredog yang menjadi salah satu sumber komedi. Raww memiliki kepribadian yang lucu, agak ceroboh, dan mudah terpancing emosi. Konsep weredog ini juga memberikan jenis humor fisik yang berbeda dibanding karakter monster pada umumnya. Jenny Slate sebagai Batiba juga memberikan warna tersendiri. Batiba merupakan makhluk yang memiliki hubungan dengan kenangan dan menjadi karakter yang secara konsep cukup menarik karena berkaitan langsung dengan tema utama film: kehilangan dan rasa takut ditinggalkan.Sementara Manny Jacinto sebagai Bungi menjadi salah satu karakter yang paling mudah mencuri perhatian. Bungi merupakan Tiyanak berukuran besar dengan sifat seperti bayi yang lucu, menggemaskan, sekaligus bisa membawa kekacauan ke dalam kelompok.. Namun, salah satu penampilan yang paling menonjol adalah Lea Salonga sebagai Manang.Manang merupakan sosok Manananggal yang kuat, misterius, dan menakutkan. Menariknya, peran Lea tidak hanya mengandalkan dialog. Suara,napas, dan elemen vokalnya ikut digunakan untuk membangun identitas Manang dalam film. Komposer Nathan Matthew David bahkan menjelaskan bahwa vokal Lea digunakan untuk menciptakan dunia suara khusus bagi karakter tersebut.Hasilnya adalah Manang terasa seperti karakter yang kehadirannya bisa dirasakan bahkan ketika ia tidak banyak berbicara.Visual Animasi yang Magis dan Memanjakan MataSecara visual, Forgotten Island juga menjadi salah satu daya tarik terbesarnya.DreamWorks mampu menciptakan Nakali sebagai sebuah dunia yang terasa sangat berbeda dari dunia manusia. Pulau tersebut dipenuhi warna, bentuk, karakter, makhluk fantastis, hingga lingkungan yang membuat setiap bagian terasa seperti dunia dongeng yang hidup.Menariknya, film ini juga mampu menggabungkan berbagai pendekatan visual dalam satu film. Desain karakter manusia dibuat ekspresif dan mudah dikenali, sementara makhluk-makhluk mitologi mendapatkan bentuk yang jauh lebih bebas dan imajinatif.Hal tersebut membuat setiap kemunculan karakter baru terasa seperti menemukan sesuatu yang berbeda.Gaya visualnya juga memiliki sentuhan yang mengingatkan pada pendekatan Puss in Boots: The Last Wish, terutama dalam keberanian bermain dengan bentuk, gerakan, ekspresi, serta bahasa visual yang tidak selalu mengikuti realisme animasi 3D tradisional.Hasil akhirnya adalah sebuah film yang terasa magis, colorful, dinamis, sekaligus kaya detail.Bagi penonton yang menyukai film animasi dengan world-building kuat, Nakali menjadi salah satu bagian paling menyenangkan untuk dieksplorasi.Drama Keluarga, Persahabatan, Komedi dan PetualanganWalaupun dikemas sebagai film keluarga, Forgotten Island tidak hanya mengandalkan humor dan petualangan.Ada drama mengenai keluarga, perubahan hidup, persahabatan, serta ketakutan menghadapi masa depan.Jo dan Raissa sedang berada di fase ketika masa sekolah mereka berakhir. Apa yang sebelumnya terasa permanen seperti persahabatan mereka mulai menghadapi kemungkinan perubahan.Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam konflik fantasi yang cukup sederhana tetapi efektif.Di Nakali, kenangan bukan sekadar sesuatu yang tersimpan di kepala. Kenangan menjadi sesuatu yang memiliki nilai dan bisa hilang.Karena itu, petualangan Jo dan Raissa bukan hanya tentang menemukan jalan pulang. Mereka juga harus berusaha mempertahankan sesuatu yang jauh lebih penting: hubungan mereka sebagai sahabat.Di sisi lain, kehadiran Raww, Batiba, Bungi dan karakter lainnya memberikan keseimbangan agar film tidak menjadi terlalu serius.Humornya membantu menjaga Forgotten Island tetap terasa sebagai film keluarga, sementara sisi emosionalnya membuat cerita memiliki bobot lebih.Pesan tentang Perpisahan dan KenanganPesan terbesar yang terasa dari Forgotten Island adalah tentang perpisahan.Dalam kehidupan, tidak semua hubungan bisa berlangsung dalam bentuk yang sama selamanya.Ada sahabat yang akhirnya harus pergi. Ada keluarga yang berpindah tempat. Ada orang yang kita sayangi yang akhirnya memiliki jalan hidup sendiri.Dan terkadang, kita tidak bisa menghentikan perubahan tersebut.Forgotten Island kemudian mengajak penonton untuk melihat perpisahan bukan semata-mata sebagai kehilangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup.Yang membuat sebuah hubungan berarti bukan hanya berapa lama kita bisa bersama seseorang, tetapi kenangan dan pengalaman yang kita ciptakan ketika masih bersama.Itulah yang membuat konflik Jo dan Raissa terasa cukup relate.Mereka bukan hanya takut kehilangan jalan pulang. Mereka takut suatu hari nanti tidak lagi mengingat mengapa persahabatan mereka begitu berarti.KesimpulanForgotten Island menjadi salah satu film animasi DreamWorks yang terasa fresh karena berani membawa mitologi dan folklore Filipina ke dalam sebuah petualangan fantasi keluarga. Joel Crawford dan Januel P. Mercado berhasil menggabungkan cerita tentang persahabatan dan perpisahan dengan dunia Nakali yang penuh makhluk mitologi, humor, petualangan, serta visual yang memanjakan mata. Kekuatan lainnya datang dari jajaran voice actor yang mampu memerankan karakter mereka dengan bagus dan total.Pada akhirnya, Forgotten Island bukan hanya berbicara tentang monster, pulau mistis, atau bagaimana cara kembali ke rumah.Film ini berbicara tentang persahabatan, keluarga, kenangan dan keberanian menerima bahwa dalam hidup pasti akan ada perpisahan, bahkan dengan sahabat atau seseorang yang sangat kita sayangi.Dan mungkin, justru karena perpisahan itulah setiap momen bersama menjadi begitu berharga. Film keluarga ini cocok dan recommended untuk SOBAT KTF yang suka dengan film animasi dengan cerita yang baru, unsur persahabatan yang hangat, serta petualangan yang seru.

Rahmadandi Desky Prayuda 28 Sep 2026
VIDEO
Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!
MOVIE
3.3

Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!

Film horor Asia kembali menghadirkan kisah pengusiran roh lewat The Tao Exorcist (2026) yang di garap oleh sutradara Hau-Jou Chiou. Dibintangi oleh Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang, film ini mencoba memadukan unsur horor supranatural, misteri keluarga, serta ritual pengusiran setan khas budaya Taoisme.Meski mengusung premis yang cukup familiar, The Tao Exorcist tetap menawarkan pengalaman menonton yang seru berkat atmosfer mencekam dan misteri yang perlahan terungkap sepanjang cerita.Cerita yang Sederhana, tetapi Tetap Menarik DiikutiDari segi cerita, The Tao Exorcist sebenarnya tidak menghadirkan alur yang terlalu rumit. Premis tentang pengusiran roh jahat dan balas dendam dari masa lalu memang sudah cukup sering digunakan dalam genre horor Asia.Namun, film ini berhasil mengemas konfliknya dengan cukup baik. Misteri demi misteri dibuka secara bertahap, sehingga penonton tetap memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan para karakternya hingga akhir film.Meskipun beberapa twist terasa mudah ditebak, penyajian ceritanya masih cukup efektif dalam menjaga rasa penasaran. Tempo yang tidak terlalu cepat juga membantu penonton memahami hubungan antara para karakter dan latar belakang konflik yang menjadi inti cerita.Akting Para Pemain Yang Cukup BagusPenampilan Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang berhasil membawa karakter masing-masing dengan cukup meyakinkan. Interaksi antar karakter terasa natural, terutama ketika mereka harus menghadapi situasi penuh teror dan ketegangan.Walaupun tidak menghadirkan penampilan yang benar-benar luar biasa, para pemain mampu menjalankan perannya dengan baik dan mendukung jalannya cerita.Jumpscare & Adegan Gore yang Cukup EfektifSebagai film horor, The Tao Exorcist cukup berhasil menghadirkan suasana mencekam. Beberapa adegan jumpscare mampu memberikan efek kejut tanpa terasa berlebihan atau dipaksakan.Selain itu, film ini juga menyisipkan sejumlah adegan gore yang meskipun tidak terlalu eksplisit, tetap mampu menghadirkan rasa tidak nyaman dan shock bagi penonton. Adegan-adegan tersebut berhasil memperkuat nuansa menyeramkan yang dibangun sepanjang film.Perpaduan antara ritual pengusiran roh, kemunculan sosok menyeramkan, serta unsur gore membuat film ini tetap terasa intens, terutama bagi penggemar horor supranatural Asia.Visual dan Sinematografi yang Cukup Menunjang AtmosferDari sisi visual, Hau-Jou Chiou menghadirkan sinematografi yang cukup baik dalam membangun atmosfer horor. Penggunaan pencahayaan gelap, komposisi gambar yang sempit, serta desain lokasi yang suram mampu menciptakan rasa tegang di beberapa adegan penting.Sayangnya, secara keseluruhan visual film ini masih terasa kurang maksimal untuk meninggalkan kesan mendalam. Ada beberapa momen yang sebenarnya memiliki potensi untuk tampil lebih ikonik, tetapi kurang dieksplorasi secara maksimal.Meski begitu, kualitas visual yang ditawarkan tetap mampu mendukung cerita dan menjaga nuansa horor sepanjang film.KesimpulanThe Tao Exorcist (2026) memang bukan film horor terbaik tahun ini, tetapi juga jauh dari kata mengecewakan. Ceritanya sederhana, namun tetap menarik untuk diikuti hingga akhir. Unsur pengusiran roh yang diangkat berhasil memberikan nuansa khas, sementara jumpscare dan adegan gore menghadirkan beberapa momen yang cukup mengejutkan.Untuk SOBAT KTF penggemar film horor Asia yang menyukai cerita tentang kutukan, ritual pengusiran roh, dan misteri masa lalu yang perlahan terungkap, The Tao Exorcist cocok banget menjadi pilihan yang menghibur bagi kalian yang sedang mencari tontonan horor ringan dengan sentuhan misteri dan supranatural.

Abdul Haris 08 Aug 2026
Debut Executive Producer Nikita Mirzani, Film Beautiful Pain akan Tayang 22 Oktober 2026 Di Bioskop!
NEWS

Debut Executive Producer Nikita Mirzani, Film Beautiful Pain akan Tayang 22 Oktober 2026 Di Bioskop!

Kolaborasi Dapur Film milik Hanung Bramantyo dan debut sutradara Dmaz Brodjonegoro, resmi rilis first-look tentang rahasia, luka, dan pengkhianatan.Jakarta, 26 Agustus 2026 — Di balik senyum hangat sebuah keluarga dan keintiman yang tampak sempurna, selalu ada luka yang disembunyikan rapat-rapat. Rasa sakit itu kini siap disingkap ke layar lebar melalui film drama paling dinanti tahun ini, "Beautiful Pain", yang secara resmi mengumumkan tanggal penayangan serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.Bersamaan dengan pengumuman tanggal rilis tersebut, film ini meluncurkan potongan gambar dan cuplikan video perdana (first-look) yang langsung menebar atmosfer penuh tanda tanya, pekat akan ketegangan batin, dan sarat misteri tak terucap. Proyek prestisius ini sekaligus menandai babak baru dalam karier Nikita Mirzani yang mencatatkan debut perdananya sebagai Executive Producer, berdampingan dengan perannya di depan kamera.Executive Producer sekaligus pemeran Nikita Mirzani membagikan antusiasmenya terhadap debut di belakang layarnya ini. “Melalui film Beautiful Pain, saya akhirnya mengambil langkah baru untuk mendukung sebuah cerita yang penting untuk dibicarakan. Film ini kami buat untuk kita semua yang pernah merasakan disakiti, dan saya berharap film ini dapat menciptakan diskusi yang penting nantinya.”Dalam penggarapannya, proyek ini menggandeng rumah produksi bereputasi tinggi Dapur Film milik sutradara kawakan Hanung Bramantyo, serta menjadi ajang unjuk kebolehan bagi sutradara debutan berbakat, Dmaz Brodjonegoro, dalam meramu konflik rumah tangga dan drama psikologis yang intens. Peluncuran materi first-look foto dan video melalui kanal media sosial resmi serta akun para pemeran utama, seperti Raihaanun, Baim Wong, dan Nikita Mirzani, langsung memantik tanda tanya besar. Pada first-look foto yang dirilis menyajikan teka-teki relasi yang kontras: sosok Raihaanun yang merengkuh kedua anaknya di pesisir pantai dengan tatapan dingin, di foto lainnya terlihat dalam momen intim antara Nikita Mirzani dan Baim Wong di ruang temaram, hingga foto yang menggambarkan kegetiran antara Niki dan Raihaanun, yang mengisyaratkan pengkhianatan besar. Sementara pada video first-look yang dirilis memperlihatkan lapisan trauma problematika rumah tangga yang mendalam, yang dialami oleh karakter Raihaanun. Di satu sisi, ia ingin bangkit meski hidup hanya bersama anak-anak, namun di sisi lain ia harus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang pilihan tersebut.Ikut serta dalam memproduseri film ini, Hanung Bramantyo angkat bicara mengenai alasan yang dimilikinya. “Saya selalu senang dengan adanya suara-suara baru dalam perfilman. Dari awal saya sudah percaya dengan konsep yang dibawa oleh film ini, bagaimana representasi perjuangan sembuh dari trauma yang banyak dari kita pernah lalui. Saya harap film ini dapat menjadi refleksi bagi kita semua."Apakah kepedihan dan trauma mendalam yang dipikul Raihaanun berakar dari hubungan terlarang yang terjadi antara Baim Wong dan Nikita Mirzani?Mengusung pesan utama fight the trauma, film ini menyuguhkan sinopsis resmi yang menggetarkan. Beautiful Pain mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal yang berusaha bangkit dari jurang keterpurukan dan menemukan secercah harapan melalui karier barunya sebagai aktris. Namun, harapan itu runtuh seketika saat fitnah keji dan kasus pelecehan seksual menghancurkan nama baiknya hingga merenggut hak asuh atas buah hati tercintanya. Dikelilingi dukungan orang-orang terdekat, ia menolak untuk bungkam dan memilih berdiri teguh melawan ketidakadilan sistem yang bias demi merebut kembali kehormatan, keutuhan keluarga, serta suaranya sebagai seorang perempuan. Isu sensitif seputar KDRT, relasi kuasa, dan kekerasan seksual dibungkus dengan narasi dramatis yang berani dan menyentuh nurani.Sutradara Dmaz Brodjonegoro memberikan pernyataan mengenai apa yang ingin dibawakannya melalui film ini. “Beautiful Pain bukan hanya tentang trauma, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan merebut kembali suara. Saya berharap film ini mengajak penonton mempertanyakan siapa yang dipercaya, siapa yang dilindungi, dan seperti apa keadilan bagi mereka yang harus memperjuangkannya sendirian.”Kemegahan cerita Beautiful Pain dihidupkan oleh ansambel pemeran lintas generasi terbaik di industri perfilman Indonesia. Film ini mempertemukan kepiawaian akting Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Tarra Budiman, Nikita Mirzani, Dimas Aditya, Siti Fauziah, Sha Ine Febriyanti, Anantya Kirana, Evano Zyan, Willem Bevers, Anastasia Herzigova, hingga Berliana Lovell. Sementara di jajaran kreatif, kursi penyutradaraan dipercayakan kepada Dmaz Brodjonegoro dengan Nikita Mirzani sebagai Executive Producer di bawah naungan bendera produksi Dapur Film.Film Beautiful Pain siap menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam dan menggugah kesadaran masyarakat di seluruh jaringan bioskop Tanah Air mulai 22 Oktober 2026. Pantau terus kabar terbaru, potongan adegan eksklusif, dan jadwal peluncuran trailer resmi melalui Akun media sosial resmi @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
VIDEO
LASTRI : ARWAH KEMBANG DESA
MOVIE
3.5

LASTRI : ARWAH KEMBANG DESA

Horor Bernuansa Legenda yang Menghadirkan Dendam, Luka, dan Teror dari Masa LaluSinopsis : Ketika Masa Lalu Menolak untuk DilupakanLastri: Arwah Kembang Desa membawa penonton ke sebuah desa yang tampak tenang, tetapi menyimpan sejarah kelam yang tak pernah benar-benar terkubur. Berawal dari serangkaian kejadian ganjil yang mengusik kehidupan warga, perlahan terungkap sebuah tragedi puluhan tahun silam yang melibatkan seorang perempuan bernama Lastri.Lastri dikenal sebagai perempuan baik hati dan cantik yang menjadi kebanggaan desanya. Namun, kehidupan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi mimpi buruk ketika fitnah, kecemburuan, dan kepentingan orang-orang di sekitarnya menghancurkan masa depannya. Sejak saat itu, nama Lastri berubah menjadi legenda yang terus menghantui desa dan menjadi simbol dendam yang belum menemukan akhir.Alur Cerita: Misteri yang Dibangun PerlahanFilm ini tidak terburu-buru memperlihatkan seluruh misterinya. Penonton diajak mengikuti potongan demi potongan peristiwa yang perlahan menyusun gambaran utuh tentang tragedi Lastri.Pendekatan seperti ini membuat rasa penasaran terus terjaga. Setiap babak menghadirkan informasi baru yang mengubah sudut pandang penonton terhadap karakter maupun konflik. Ketika fakta-fakta mulai terungkap, film memperlihatkan bahwa akar teror bukan sekadar kehadiran makhluk gaib, melainkan kesalahan manusia yang terus menghantui generasi berikutnya.Tempo yang perlahan memang membutuhkan kesabaran, tetapi justru memberi ruang bagi penonton untuk memahami hubungan emosional antar karakter sebelum memasuki puncak konflik.Naskah: Horor yang Dibangun Lewat Drama ManusiaSalah satu kekuatan utama film ini ada pada naskahnya. Cerita tidak hanya berbicara mengenai arwah penasaran, tetapi juga mengenai bagaimana fitnah dapat menghancurkan hidup seseorang.Konflik yang muncul terasa relevan karena berasal dari sifat-sifat manusia seperti iri hati, ambisi, dendam, dan ketamakan. Film ini memperlihatkan bahwa keputusan-keputusan kecil yang didorong oleh ego mampu melahirkan tragedi besar yang dampaknya bertahan selama puluhan tahun.Pendekatan tersebut membuat unsur horor terasa lebih bermakna. Penonton tidak hanya dibuat takut, tetapi juga diajak merenungkan akibat dari kebencian dan ketidakadilan.Pendalaman Karakter: Setiap Tokoh Memiliki PerannyaLastri menjadi pusat dari seluruh cerita. Karakternya berkembang dari sosok perempuan yang penuh harapan menjadi simbol penderitaan dan dendam. Perjalanan emosionalnya menjadi inti yang menggerakkan seluruh konflik dalam film.Karakter-karakter pendukung juga memiliki fungsi yang jelas. Mereka bukan hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi menjadi penyebab sekaligus korban dari keputusan-keputusan yang mereka ambil sendiri. Hubungan antar tokoh terasa saling berkaitan sehingga konflik berkembang secara alami.Inilah yang membuat cerita memiliki dimensi emosional yang cukup kuat dibandingkan film horor yang hanya berfokus pada teror.Akting: Emosi Menjadi Senjata TerbesarPara pemain berhasil membangun emosi yang dibutuhkan cerita. Adegan-adegan dramatis terasa lebih menonjol karena dimainkan dengan intensitas yang tepat.Sosok Lastri tampil sebagai karakter yang mampu mengundang simpati sekaligus menghadirkan rasa takut ketika terornya mulai muncul. Sementara para karakter lain berhasil memperlihatkan konflik batin, rasa bersalah, hingga kepanikan yang semakin memperkuat atmosfer cerita.Chemistry antarpemain juga menjadi salah satu nilai tambah karena hubungan mereka terasa meyakinkan sejak awal hingga akhir film.Atmosfer Horor: Teror yang Tidak Bergantung pada JumpscareFilm ini lebih memilih membangun rasa tidak nyaman daripada mengejutkan penonton setiap beberapa menit.Suasana desa yang sunyi, rumah-rumah tua, area pemakaman, hingga lokasi tambang menjadi elemen visual yang memperkuat nuansa mistis. Tata suara juga berperan besar dalam menciptakan ketegangan. Bahkan ketika tidak ada penampakan, penonton tetap dibuat merasa waswas karena atmosfer yang berhasil dibangun.Pendekatan seperti ini membuat horor terasa lebih matang dan tidak cepat terlupakan.Visual dan Sinematografi: Keindahan yang Menyimpan KengerianDari sisi visual, film ini menampilkan sinematografi yang mampu memanfaatkan lanskap pedesaan sebagai bagian dari cerita.Komposisi gambar, pencahayaan yang redup, serta penggunaan kabut dan ruang kosong berhasil menghadirkan kesan mencekam tanpa harus berlebihan. Tata artistik juga cukup meyakinkan dalam menggambarkan latar waktu sehingga dunia yang dibangun terasa hidup.Visual tidak hanya menjadi pemanis, tetapi benar-benar membantu memperkuat narasi.Pesan Moral: Luka yang Berasal dari ManusiaDi balik seluruh terornya, Lastri: Arwah Kembang Desa menyampaikan pesan bahwa kebencian, fitnah, dan ketidakadilan sering kali menjadi awal dari sebuah tragedi.Film ini menunjukkan bahwa tindakan manusia dapat meninggalkan luka yang begitu dalam hingga seolah terus hidup dari generasi ke generasi. Horor di sini bukan hanya tentang arwah, melainkan tentang rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar selesai.Pesan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa film ini terasa lebih emosional dibandingkan kebanyakan film horor lokal.Kelebihan FilmFilm berhasil membangun atmosfer yang konsisten sejak awal hingga akhir. Ceritanya memiliki fondasi drama yang kuat sehingga konflik terasa lebih bermakna. Penampilan para pemain mendukung perkembangan karakter, sementara sinematografi dan tata suara mampu memperkuat nuansa horor tanpa bergantung pada efek kejut semata.Kekurangan FilmBeberapa bagian memiliki ritme yang cenderung lambat, terutama pada babak awal ketika film masih memperkenalkan karakter dan konflik. Selain itu, sebagian alur masih mengikuti formula horor yang cukup familiar sehingga beberapa kejutan dapat diprediksi oleh penonton yang sudah sering menikmati film horor Indonesia.KesimpulanLastri: Arwah Kembang Desa bukan sekadar film tentang arwah penasaran, tetapi juga kisah tragis mengenai fitnah, pengkhianatan, dan konsekuensi dari dosa masa lalu. Dengan perpaduan drama yang kuat, atmosfer mencekam, visual yang menarik, serta karakter yang memiliki kedalaman emosi, film ini menawarkan pengalaman horor yang lebih dari sekadar menakutkan.Bagi pencinta horor dengan cerita yang memiliki makna dan konflik emosional, Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi salah satu tontonan yang layak masuk dalam daftar film horor Indonesia tahun 2026 ini.

Admin 11 Jul 2026
VIDEO
Cerita Keluarga Indonesia Film Desember Jani akan World Premiere di Tokyo International Film Festival 2026!
NEWS

Cerita Keluarga Indonesia Film Desember Jani akan World Premiere di Tokyo International Film Festival 2026!

Dari percakapan yang tertunda di rumah hingga panggung internasional, filmterbaru Palari Films membawa kisah empat perempuan dari tiga generasi ke Tokyo sebelum tayang di bioskop Indonesia 10 Desember 2026.Jakarta, Jumat , 2 Oktober 2026 - Film Desember Jani produksi Palari Films terpilih menggelar World Premiere di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39, 26 Oktober hingga 4 November 2026. Film panjang pertama sutradara Ariani Darmawan ini akan hadir dalam program kompetisi Asian Future, sebelum tayang di bioskop Indonesia mulai 10 Desember 2026. Film Desember Jani akan diputar di Tokyo International Film Festival pada 27 Oktober 2206 pukul 17.10 dan pada 29 Oktober 2026 pukul 13.30 waktu setempat.Film ini bercerita tentang Jani (Chempa Puteri), 13 tahun, yang menunggu kakaknya, Julia (Hyori Mika), pulang setelah Julia pergi dari rumah tanpa pamit. Jani menyalahkan ibunya, Winnie (Sigi Wimala), ibu tunggal yang terus bekerja sebagai tulang punggung keluarga sambil menyimpan rasa bersalah. Tempat Jani merasa paling nyaman adalah Oma (Tutie Kirana), yang sehari-hari berjualan lumpia. Namun Jani menyimpan rahasia: ia tahu Julia baik-baik saja dan diam-diam masih berkomunikasi dengannya. Dalam empat hari di bulan Desember, pilihan Jani untuk tetap diam atau berterus terang mengantarkan empat perempuan dalam keluarga tersebut pada percakapan yang selama ini mereka hindari."Buat saya, yang menarik dari keluarga justru hal-hal kecil yang kita alami setiap hari. Ada rasa sayang, marah, kecewa, gengsi, tetapi kadang kita tidak tahu bagaimana cara mengatakan atau bahkan menghadapinya. Saya berharap penonton, di Tokyo maupun di Indonesia, bisa mengenali dan merasakan sebagian dari keluarga mereka sendiri di dalam keluarga Jani," ujar Ariani Darmawan.Ariani mengembangkan cerita ini selama tiga tahun bersama penulis dan penyair Cyntha Hariadi, setelah membaca kumpulan cerpen Cyntha, Manifesto Flora. Film ini menjadi skenario film panjang pertama Cyntha."Anak bisa merasa tidak didengar, sementara orang tua merasa semua yang dilakukannya adalah untuk keluarga. Keduanya bisa sama-sama menyayangi, tetapi tetap tidak saling memahami. Kami ingin mereka tidak menjadi karakter yang sepenuhnya benar atau salah," kata Cyntha Hariadi."Winnie sangat manusiawi buat saya. Dia sayang kepada anak-anaknya, tetapi rasa sayang tidak otomatis membuat seseorang selalu tahu cara yang paling tepat untuk menjadi ibu," ungkap Sigi Wimala.Sebelum Tokyo, proyek ini mengikuti Hong Kong Asia Film Financing Forum (HAF) pada Maret 2026."Sejak awal kami membuat Desember Jani untuk berbicara kepada penonton di sini, kepada anak, ibu, kakak, adik, dan keluarga yang mungkin pernah mengalami sulitnya memulai sebuah percakapan. Perjalanan ke Tokyo justru menunjukkan bahwa cerita yang sangat lokal juga bisa berbicara kepada penonton dari tempat yang berbeda," ujar produser Meiske Taurisia.Setelah Tokyo, perjalanan Desember Jani kembali ke rumah: bioskop Indonesia, mulai 10 Desember 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Oct 2026