Logo KTF KupasTuntasFilm

Aghniny Haque Terisolasi Dan Terjebak Teror Kutukan Di Desa Gringsing Ungkap Rahasia Kelam Dari Masa Lalu

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 47 views

Dibintangi Aghniny Haque, Surya Saputra, dan pendatang baru Fatmah Nahdi, film Bisikan Desa Gringsing tayang di bioskop mulai 24 September 2026 !

Film horor misteri Bisikan Desa Gringsing meluncurkan poster dan trailer resminya. Karya penulis dan sutradara Ivander Tedjasukmana ini adalah sebuah kolaborasi produksi dari Mandela Pictures dan Oceanus Media Global (OMG Studios) yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Film Bisikan Desa Gringsing adalah film horor Indonesia pertama yang diproduksi dengan teknologi virtual production untuk memberikan pengalaman sinematik yang maksimal bagi penonton.

Official poster film Bisikan Desa Gringsing menampilkan dua wajah close up dari dua karakter utamanya, yaitu Hesti (Aghniny Haque) dan Fatimah (Fatmah Nahdi). Keduanya menampilkan ekspresi yang kontras, Hesti dengan sorot mata yang penuh kengerian, sementara Fatimah dengan ekspresi yang dingin dan jika dilihat dari jarak dekat, di matanya terlihat sosok-sosok warga Desa Gringsing. Keduanya menyiratkan misteri dan rahasia yang terselubung di Desa Gringsing.

Official trailer merupakan pengembangan dari video teaser yang telah dipublikasikan pada Juli lalu. Di kesempatan ini, cerita Bisikan Desa Gringsing mulai tersajikan. Dari Hesti yang mencari ayahnya yang hilang ke Desa Gringsing, sosok arwah Fatimah yang mengurung warga desa dan membunuh semua yang mencoba keluar dari desa, sampai kehadiran tokoh-tokoh lain yang menyimpan rahasianya masing-masing. Ada Gagan (Surya Saputra), Melati (Hesti Putri), Sukri (Kiki Narendra), Rudi (Iskak Khivano), dan masih banyak lagi. Potongan lagu karya Kunto Aji berjudul “Perjalanan Menawar Racun” kembali terdengar di official trailer ini, setelah muncul sebelumnya dalam video teaser yang lalu. Trailer ditutup dengan ucapan dari Melati, ”tidak akan ada dendam yang tak terbalaskan.”

“Melalui official trailer ini, kami mengajak penonton untuk masuk ke dunia Bisikan Desa Gringsing yang penuh dengan misteri. Penonton akan mengenali karakter-karakter di Desa Gringsing yang masing-masing menyimpan potongan cerita dan misteri yang mengikat seluruh warga Desa Gringsing.

Lagu 'Perjalanan Menawar Racun' dari Kunto Aji, yang menjadi soundtrack film ini, kami hadirkan lagi di sini untuk memperkuat atmosfer emosional dan nuansa misteri dari Bisikan Desa Gringsing,” tutur Manoj Samtani, produser Mandela Pictures.

“Ketika Manoj dan Lavesh pertama kali menceritakan kisah ini kepada saya, saya tahu bahwa kami harus menjadi bagian dari project ini. Aghniny dan Fatmah menghadirkan sesuatu yang luar biasa dalam memerankan Hesti dan Fatimah, mereka memberikan penampilan yang akan terus membekas bahkan setelah credit title berakhir. Di OMG, kami bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan para storyteller Indonesia, membawa visi-visi ambisius seperti ini kepada penonton di seluruh dunia,” ujar Nick GC Tan, Founder & CEO, Oceanus Media Global (OMG Studios).

Film Bisikan Desa Gringsing bercerita tentang HESTI (Aghniny Haque) yang mencari ayahnya yang hilang.

Pencarian membawanya ke sebuah tempat bernama Desa Gringsing, sebuah desa di mana semua warganya tinggal dalam ketakutan karena teror arwah bernama FATIMAH (Fatmah Nahdi) yang mengurung mereka. Siapa saja yang berusaha keluar dari desa, akan mati. Sementara keberadaan ayah Hesti masih misteri, rahasia demi rahasia di Desa Gringsing mulai terungkap, yang ternyata berkaitan dengan trauma masa lalu yang dialami Hesti.

“Yang menarik buat saya dari Bisikan Desa Gringsing bukan hanya misteri tentang apa yang terjadi di desa itu, tapi juga rahasia yang disimpan oleh setiap karakternya. Karena satu rahasia membuka rahasia yang lain. Saya berharap penonton mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi di Desa Gringsing?” ujar penulis dan sutradara Ivander Tedjasukmana.

Bisikan Desa Gringsing dibintangi oleh Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, dan Nazhira Rizka. Film Bisikan Desa Gringsing tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026, dilanjutkan perilisan di Malaysia, Singapura, Turki, dansosialnya Azerbaijan. Ikuti perkembangan Bisikan Desa Gringsing melalui akun-akun resmi media sosialnya.


More Recommendations

VIDEO
UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast
MOVIE
3.8

UNDERTONE Horor Psikologis Sunyi Lewat Sebuah Podcast

Undertone (2025) menjadi salah satu film horor produksi A24 yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan horor modern pada umumnya. Disutradarai oleh Ian Tuason, film ini tidak mengejar ketakutan instan melalui rentetan jumpscare. Sebaliknya, Undertone memilih membangun rasa cemas secara perlahan melalui atmosfer yang sunyi, desain suara yang presisi, serta tekanan psikologis yang terus meningkat hingga klimaks.Premis yang diangkat terasa segar dan tidak biasa. Cerita berpusat pada sebuah lagu misterius yang diyakini menyimpan pesan tersembunyi ketika diputar secara terbalik. Penemuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam sebuah podcast, namun semakin jauh mereka menyelidikinya, semakin banyak kejadian ganjil yang sulit dijelaskan secara logis. Ide mengenai backmasking dipadukan dengan dunia podcast membuat misteri yang disajikan terasa relevan dengan era digital, sekaligus memberikan identitas tersendiri di tengah banyaknya film horor bertema supranatural.Keheningan Menjadi Kunci Dari FilmYang paling menonjol dari Undertone adalah kemampuannya menciptakan rasa tidak nyaman melalui keheningan. Ian Tuason memahami bahwa rasa takut tidak selalu harus muncul dari sosok mengerikan yang tiba-tiba muncul di layar. Sebaliknya, kamera yang diam terlalu lama, ruangan yang nyaris tanpa suara, hingga efek audio yang samar mampu membuat penonton terus berada dalam kondisi waspada. Ketegangan dibangun sedikit demi sedikit, sehingga ketika momen-momen penting akhirnya datang, dampaknya terasa jauh lebih efektif.Desain suara menjadi elemen yang sangat vital dalam film ini. Mengingat premisnya berkaitan erat dengan musik dan rekaman audio, setiap detail suara memiliki peran penting dalam membangun atmosfer. Bisikan, dengungan frekuensi rendah, hingga distorsi suara dimanfaatkan bukan sekadar sebagai efek, tetapi menjadi bagian dari narasi yang perlahan mengaburkan batas antara kenyataan dan halusinasi. Penggunaan audio yang minimalis justru memperkuat kesan mencekam dan membuat penonton ikut larut dalam paranoia yang dialami para karakter.Akting Dari Para Pemain Yang ApikDari sisi akting, Nina Kiri memberikan performa yang sangat kuat sebagai Evy. Ia berhasil menggambarkan perubahan emosi karakternya secara bertahap, mulai dari rasa penasaran, kegelisahan, hingga ketakutan yang perlahan menggerogoti kondisi mentalnya. Ekspresi yang subtil dan permainan emosinya membuat perjalanan psikologis Evy terasa autentik dan mudah diikuti.Di sisi lain, Adam DiMarco sebagai Justin tampil lebih tenang, namun tetap mampu menghadirkan emosi yang dalam. Chemistry antara keduanya terasa natural, sehingga hubungan mereka menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat penonton semakin peduli terhadap nasib para karakter ketika misteri mulai berkembang menjadi ancaman yang nyata.Sinematografi Yang Simpel Namun Tetap TegangSecara visual, sinematografi Undertone juga patut diapresiasi. Dominasi pencahayaan redup, komposisi gambar yang rapi, serta penggunaan ruang kosong dalam banyak adegan berhasil memperkuat kesan isolasi dan kesunyian. Film ini memanfaatkan ruang negatif dengan efektif, membuat penonton terus merasa ada sesuatu yang mengintai meskipun layar tampak kosong. Pendekatan visual seperti ini selaras dengan tema psikologis yang diusung dan menjadi salah satu alasan mengapa atmosfer film terasa begitu melekat.Meski memiliki tempo yang relatif lambat, ritme tersebut justru menjadi bagian dari identitas film. Penonton yang menyukai horor penuh aksi mungkin akan merasa film ini berjalan terlalu perlahan. Namun bagi pencinta horor atmosferik dan psikologis, tempo tersebut memberikan ruang untuk menikmati setiap petunjuk, membangun teori sendiri, sekaligus merasakan tekanan yang terus meningkat hingga akhir cerita.KesimpulanPada akhirnya, Undertone bukan sekadar film tentang kutukan atau fenomena supranatural. Film ini mengeksplorasi rasa takut yang muncul dari obsesi, rasa penasaran, serta bagaimana suara—sesuatu yang biasanya dianggap biasa—dapat berubah menjadi sumber teror yang menghantui pikiran.Dengan penyutradaraan yang matang, desain suara yang luar biasa, sinematografi yang elegan, dan performa akting yang solid, Undertone berhasil menjadi horor psikologis yang meninggalkan kesan mendalam bahkan setelah kredit penutup bergulir.Film ini sukses menghadirkan pengalaman menonton yang menghantui, sekaligus menjadi salah satu horor atmosferik paling menarik di tahun 2025.

Rahmadandi Desky Prayuda 14 Jul 2026
MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!
MOVIE
3.0

MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!

Munafik: Melawan Iblis hadir sebagai film horor religi yang membawa kembali salah satu cerita horor populer asal Malaysia ke layar lebar Indonesia. Film ini digarap oleh Angger Yudha Setiawan dan Guntur Soeharjanto, dengan skenario yang ditulis oleh M. Ali Ghifari dan Syamsul Yusof.Sebagai sebuah remake dari film yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis memiliki tantangan tersendiri. Film tidak hanya dituntut untuk menghadirkan kembali elemen-elemen yang sudah dikenal oleh penggemar versi aslinya, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman yang tetap terasa relevan bagi penonton Indonesia. Untungnya, film ini cukup berhasil menjalankan tugas tersebut.Alur yang Sederhana tetapi Cukup KuatSalah satu hal yang membuat Munafik: Melawan Iblis menarik adalah bagaimana film ini membangun ceritanya dengan alur yang relatif sederhana, tetapi tetap mampu memberikan rasa penasaran.Film tidak mencoba memasukkan terlalu banyak konflik secara bersamaan. Cerita lebih banyak diarahkan pada perjalanan karakter dalam menghadapi gangguan supernatural sekaligus pergulatan batin yang mereka alami.Pendekatan tersebut membuat film terasa cukup mudah untuk diikuti. Penonton tidak dibuat terlalu sibuk memahami berbagai macam aturan dunia supernatural yang rumit. Sebaliknya, fokus utama tetap berada pada karakter, konflik spiritual, serta bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka. Sebagai sebuah remake, film ini juga masih mempertahankan identitas utama Munafik sebagai horor religi. Namun, sentuhan produksi Indonesia membuat film memiliki karakter tersendiri sehingga tidak sekadar terasa seperti memindahkan cerita dari satu negara ke negara lainnya.Akting Para Pemain yang Apik dan TotalKekuatan lain dari film ini terletak pada jajaran pemainnya.Arya Saloka sebagai Ustad Adam mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai sosok yang harus berhadapan dengan konflik spiritual sekaligus persoalan dalam dirinya sendiri. Karakternya tidak hanya dituntut untuk tampil sebagai seorang tokoh agama yang kuat, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ketakutan, keraguan, dan kelemahan.Sementara itu, Acha Septriasa memberikan performa yang cukup emosional sebagai Fitri. Ekspresi, gestur, dan perubahan emosinya mampu membuat karakter tersebut terasa hidup.Dimas Aditya juga tampil solid sebagai Ustad Anwar. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam dinamika cerita, terutama ketika film mulai mempertemukan persoalan agama, kepercayaan, dan teror supernatural. Begitu pula dengan Muhammad Faqih Alaydrus, Donny Damara, Nova Eliza, dan Izabel Jahja yang masing-masing memberikan penampilan yang cukup total terhadap karakter mereka.Menariknya, akting dalam film ini tidak hanya mengandalkan adegan teriakan atau ekspresi ketakutan. Beberapa adegan justru terasa lebih efektif ketika para pemain menampilkan ketakutan melalui ekspresi wajah, tatapan, maupun gestur tubuh.Hal tersebut membuat teror terasa lebih manusiawi dan tidak berlebihan.Make Up Horor yang Tidak BerlebihanSalah satu keputusan yang patut diapresiasi dari Munafik: Melawan Iblis adalah penggunaan make up horornya.Film tidak terlalu bergantung pada tampilan wajah menyeramkan yang berlebihan. Karakter-karakter yang mengalami gangguan supernatural tidak selalu dibuat dengan visual yang ekstrem atau penuh efek khusus.Pendekatan seperti ini justru membuat beberapa momen terasa lebih meyakinkan.Horor tidak harus selalu memperlihatkan sosok dengan wajah mengerikan. Terkadang, ekspresi manusia yang terlihat tidak normal, perubahan gestur tubuh, atau kehadiran sosok dalam kondisi yang tidak seharusnya sudah cukup untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Film ini memahami hal tersebut dan menggunakan make up horor secara cukup terukur.Atmosfer Horor yang “Sunyi” dan MencekamJika ada satu elemen yang cukup menonjol dari Munafik: Melawan Iblis, atmosfer horornya adalah salah satunya.Alih-alih terus-menerus memberikan kejutan atau jumpscare, film lebih banyak memanfaatkan kesunyian untuk membangun ketegangan. Ruang kosong, suasana malam, pencahayaan yang minim, serta momen ketika karakter berada dalam keadaan sendirian menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa takut.Kesunyian tersebut justru membuat penonton merasa seperti sedang menunggu sesuatu terjadi.Dan ketika sebuah suara, gerakan, atau sosok akhirnya muncul, efeknya menjadi terasa lebih kuat karena ketegangan sudah dibangun sebelumnya.Pendekatan ini juga membuat horornya terasa lebih atmosferik. Penonton tidak hanya disuguhi sesuatu yang menakutkan secara visual, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan melalui suasana yang dibangun sepanjang film.Horor yang Tidak Hanya Berbicara Tentang IblisDi balik segala teror supernaturalnya, Munafik: Melawan Iblis sebenarnya membawa pembahasan yang lebih dalam mengenai manusia dan dirinya sendiri. Film tidak hanya menempatkan iblis sebagai sumber kejahatan yang harus dikalahkan. Konflik spiritual yang dihadirkan juga menjadi gambaran mengenai bagaimana manusia berhadapan dengan rasa takut, keraguan, dosa, kelemahan, dan berbagai sisi gelap dalam dirinya sendiri.Dari sinilah pesan moral film terasa cukup kuat:Kemenangan melawan iblis harus dimulai dari melawan diri sendiri.”Pesan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita.Sebab, sebelum manusia mampu menghadapi sesuatu yang berada di luar dirinya, mereka terlebih dahulu harus mampu mengalahkan ketakutan, kesombongan, keraguan, serta kelemahan yang ada di dalam diri. Dengan begitu, iblis dalam film ini tidak hanya dapat dimaknai sebagai sosok supernatural, tetapi juga sebagai simbol dari berbagai hal buruk yang dapat menguasai manusia ketika mereka kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Remake yang Berhasil Memiliki Identitas SendiriSebagai film remake yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis tentu akan selalu dibandingkan dengan versi aslinya.Namun, film ini cukup berhasil berdiri dengan identitasnya sendiri.Kekuatan utamanya bukan terletak pada usaha untuk membuat sesuatu yang sepenuhnya berbeda, melainkan bagaimana cerita yang sudah dikenal dapat dikemas kembali dengan pendekatan produksi dan karakter yang sesuai dengan penonton Indonesia.Hasilnya adalah sebuah film horor religi yang masih memiliki nuansa Munafik, tetapi tetap terasa sebagai film yang memiliki wajah baru.Kesimpulan Munafik: Melawan Iblis merupakan remake horor religi yang cukup berhasil menghadirkan cerita dengan alur yang menarik dan mudah diikuti. Film ini tidak hanya mengandalkan teror supernatural, tetapi juga memberikan ruang yang cukup besar untuk perkembangan karakter dan konflik batin. Film ini mengajak penonton melihat bahwa terkadang musuh terbesar manusia bukanlah sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan kelemahan yang ada di dalam dirinya sendiri.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre Horor Religi & Supernatural, film ini cukup bagus dan sangat recommended untuk masuk ke watchlist kalian!

Rahmadandi Desky Prayuda 04 Sep 2026
VIDEO
Perpaduan Survival, Teror Hiu, dan Drama Keluarga yang Menegangkan
MOVIE
4.0

Perpaduan Survival, Teror Hiu, dan Drama Keluarga yang Menegangkan

Disutradarai oleh Renny Harlin dan ditulis oleh Pete Bridges, Shayne Armstrong, serta S.P. Krause, Deep Water (2026) hadir sebagai film thriller survival yang memadukan ketegangan bencana, drama keluarga, dan teror hiu dalam satu paket yang intens. Film ini dibintangi oleh Aaron Eckhart sebagai Ben, Ben Kingsley sebagai Rich, Angus Sampson sebagai Dan, Lucy Barrett sebagai Penny, Richard Crouchley sebagai Matt, Molly Belle Wright sebagai Cora, Wenhan Li sebagai Sam, Rosie Simei Zhao sebagai Lilly, Nashi sebagai Zoe, dan Lakota Jri sebagai Hutch.Sejak menit-menit awal, film ini langsung membangun atmosfer yang mencekam. Ceritanya berhasil menjaga tempo dengan sangat baik, membuat penonton terus dibuat penasaran mengenai nasib para karakter yang terjebak di tengah lautan setelah sebuah kecelakaan besar terjadi. Renny Harlin, yang dikenal lewat berbagai film aksi dan thriller, kembali menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan adegan-adegan penuh tekanan yang membuat jantung berdebar.Akting Dari Para Pemain Yang ApikAaron Eckhart tampil sangat meyakinkan sebagai Ben, sosok yang harus berjuang mempertahankan hidup sekaligus melindungi orang-orang di sekitarnya. Karisma dan emosi yang ia tampilkan terasa kuat sepanjang film. Ben Kingsley juga memberikan performa yang solid sebagai Rich, menghadirkan karakter yang berwibawa sekaligus emosional.Namun, salah satu kejutan terbesar justru datang dari para pemeran pendukung, terutama Molly Belle Wright sebagai Cora. Aktingnya sebagai karakter anak-anak terasa sangat natural dan menyentuh. Ia berhasil menyampaikan rasa takut, kepanikan, hingga kesedihan dengan sangat baik, sehingga membuat penonton semakin terhubung secara emosional dengan cerita. Interaksi antara para karakter dewasa dan anak-anak menjadi salah satu kekuatan utama film ini.Punya Visual Yang Menegangkan Salah satu adegan terbaik dalam Deep Water tentu saja adalah momen jatuhnya pesawat. Adegan tersebut disajikan dengan sangat intens, dramatis, dan menegangkan. Kamera bergerak cepat mengikuti kepanikan para penumpang, sementara efek suara dan musik latar semakin memperkuat suasana mencekam. Penonton akan dibuat seolah ikut merasakan ketakutan dan kepanikan para karakter saat berusaha bertahan hidup di tengah situasi yang semakin memburuk.Dari sisi visual, CGI yang digunakan juga patut mendapatkan apresiasi. Efek air, ombak, reruntuhan pesawat, hingga kemunculan hiu terlihat cukup realistis dan mampu mendukung atmosfer film. Renny Harlin berhasil memanfaatkan teknologi visual untuk menghadirkan adegan-adegan aksi yang spektakuler tanpa terasa berlebihan.Punya Sisi Komedi & EmosionalMeskipun didominasi oleh ketegangan, film ini tetap menyisipkan beberapa momen komedi ringan yang membuat suasana sedikit mencair. Humor yang muncul tidak mengganggu alur cerita, justru memberikan jeda bagi penonton sebelum kembali dibawa ke situasi yang menegangkan.Tak hanya menawarkan aksi survival, Deep Water juga menyimpan beberapa adegan emosional yang cukup menyentuh. Hubungan antar-karakter, pengorbanan, dan perjuangan untuk bertahan hidup berhasil menghadirkan momen-momen sedih yang terasa tulus dan menyayat hati.Serangan Hiu Yang BrutalTentu saja, elemen yang paling ditunggu adalah serangan hiunya. Film ini berhasil menghadirkan teror yang brutal dan sulit ditebak. Setiap kemunculan hiu selalu dibangun dengan ketegangan yang efektif, membuat penonton tidak pernah merasa aman. Beberapa adegan serangan bahkan hadir secara tiba-tiba dan mengejutkan, memberikan sensasi horor yang intens sepanjang film.KesimpulanDeep Water (2026) adalah film thriller survival yang sukses menghadirkan kombinasi aksi, drama, ketegangan, dan emosi dalam porsi yang seimbang. Dengan adegan pesawat jatuh yang spektakuler, performa para pemain yang solid, CGI yang memukau, serta teror hiu yang brutal dan tidak terduga, film ini menjadi tontonan yang layak bagi para penggemar film survival dan thriller.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film seperti The Shallows, 47 Meters Down, atau The Reef, Deep Water menawarkan pengalaman menonton yang seru, menegangkan, dan penuh kejutan dari awal hingga akhir.

Rahmadandi Desky Prayuda 31 Jul 2026
VIDEO
Cerita Keluarga Indonesia Film Desember Jani akan World Premiere di Tokyo International Film Festival 2026!
NEWS

Cerita Keluarga Indonesia Film Desember Jani akan World Premiere di Tokyo International Film Festival 2026!

Dari percakapan yang tertunda di rumah hingga panggung internasional, filmterbaru Palari Films membawa kisah empat perempuan dari tiga generasi ke Tokyo sebelum tayang di bioskop Indonesia 10 Desember 2026.Jakarta, Jumat , 2 Oktober 2026 - Film Desember Jani produksi Palari Films terpilih menggelar World Premiere di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-39, 26 Oktober hingga 4 November 2026. Film panjang pertama sutradara Ariani Darmawan ini akan hadir dalam program kompetisi Asian Future, sebelum tayang di bioskop Indonesia mulai 10 Desember 2026. Film Desember Jani akan diputar di Tokyo International Film Festival pada 27 Oktober 2206 pukul 17.10 dan pada 29 Oktober 2026 pukul 13.30 waktu setempat.Film ini bercerita tentang Jani (Chempa Puteri), 13 tahun, yang menunggu kakaknya, Julia (Hyori Mika), pulang setelah Julia pergi dari rumah tanpa pamit. Jani menyalahkan ibunya, Winnie (Sigi Wimala), ibu tunggal yang terus bekerja sebagai tulang punggung keluarga sambil menyimpan rasa bersalah. Tempat Jani merasa paling nyaman adalah Oma (Tutie Kirana), yang sehari-hari berjualan lumpia. Namun Jani menyimpan rahasia: ia tahu Julia baik-baik saja dan diam-diam masih berkomunikasi dengannya. Dalam empat hari di bulan Desember, pilihan Jani untuk tetap diam atau berterus terang mengantarkan empat perempuan dalam keluarga tersebut pada percakapan yang selama ini mereka hindari."Buat saya, yang menarik dari keluarga justru hal-hal kecil yang kita alami setiap hari. Ada rasa sayang, marah, kecewa, gengsi, tetapi kadang kita tidak tahu bagaimana cara mengatakan atau bahkan menghadapinya. Saya berharap penonton, di Tokyo maupun di Indonesia, bisa mengenali dan merasakan sebagian dari keluarga mereka sendiri di dalam keluarga Jani," ujar Ariani Darmawan.Ariani mengembangkan cerita ini selama tiga tahun bersama penulis dan penyair Cyntha Hariadi, setelah membaca kumpulan cerpen Cyntha, Manifesto Flora. Film ini menjadi skenario film panjang pertama Cyntha."Anak bisa merasa tidak didengar, sementara orang tua merasa semua yang dilakukannya adalah untuk keluarga. Keduanya bisa sama-sama menyayangi, tetapi tetap tidak saling memahami. Kami ingin mereka tidak menjadi karakter yang sepenuhnya benar atau salah," kata Cyntha Hariadi."Winnie sangat manusiawi buat saya. Dia sayang kepada anak-anaknya, tetapi rasa sayang tidak otomatis membuat seseorang selalu tahu cara yang paling tepat untuk menjadi ibu," ungkap Sigi Wimala.Sebelum Tokyo, proyek ini mengikuti Hong Kong Asia Film Financing Forum (HAF) pada Maret 2026."Sejak awal kami membuat Desember Jani untuk berbicara kepada penonton di sini, kepada anak, ibu, kakak, adik, dan keluarga yang mungkin pernah mengalami sulitnya memulai sebuah percakapan. Perjalanan ke Tokyo justru menunjukkan bahwa cerita yang sangat lokal juga bisa berbicara kepada penonton dari tempat yang berbeda," ujar produser Meiske Taurisia.Setelah Tokyo, perjalanan Desember Jani kembali ke rumah: bioskop Indonesia, mulai 10 Desember 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Oct 2026
Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal
NEWS

Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal

Film Aplikasi Iblis tayang mulai 15 Oktober 2026 di bioskopJakarta, 31 Agustus 2026 — Dimas Anggara menandai penyutradaraan debut horornya lewat film terbaru persembahan NIH Pictures berjudul Aplikasi Iblis. Film ini dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.Film Aplikasi Iblis membawa genre urban supernatural horror yang akan mengisahkan tentang seorang pria yang mencoba kembali terhubung dengan kekasihnya yang telah meninggal melalui sebuah aplikasi misterius. Namun, justru membuka pintu bagi sesuatu yang ingin memanfaatkannya.Dalam teaser trailer yang dirilis, Arya (diperankan Junior Roberts) ingin melamar kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, keduanya justru harus terpisah dan berbeda dunia untuk selamanya. Arya masih ditemani arwah Laras, tapi, apakah itu benar-benar Laras?Sementara itu, di teaser poster yang dirilis juga secara jelas menampilkan sosok menyeramkan di layar ponsel. Menandakan sebuah teror yang akan datang, saat kita mencoba menggunakan aplikasi yang disebut bisa menghubungkan dengan arwah orang mati tersebut.“Film Aplikasi Iblis akan mengikuti kisah Arya. Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dan masih sangat rindu dan percaya orang yang telah pergi bisa kembali. Di film ini, saya menggabungkan unsur drama romance tapi juga teror horor yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika kita semua pakai sebuah aplikasi untuk bisa terkoneksi dengan orang yang kita sayangi, apapun jenis aplikasinya. Tapi bedanya, aplikasi di film ini bisa menghubungkan dengan arwah orang yang sudah meninggal,” ujar sutradara Dimas Anggara.“Buat aku cerita Arya dan Laras itu seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan sesuatu yang indah tapi malah berakhir menjadi tragedi,” ujar pemeran Arya, Junior Roberts. Sebelumnya, Dimas Anggara telah menyutradarai film #OOTD yang diproduksi oleh NIH Pictures. Kali ini, Dimas kembali mengeksplorasi gagasan kreatifnya sebagai sutradara horor lewat Aplikasi Iblis. Sebuah horor dengan cerita tentang teknologi, kehilangan, dan teror supernatural.Ikuti terus perkembangan film Aplikasi Iblis melalui media sosial Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictues. Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026
Arya Saloka Deg-Degan Baca Al-Qur’an, Ternyata Sudah Pendalaman Jadi Ustaz Duluan Sebelum Main Film Munafik: Melawan Iblis!
NEWS

Arya Saloka Deg-Degan Baca Al-Qur’an, Ternyata Sudah Pendalaman Jadi Ustaz Duluan Sebelum Main Film Munafik: Melawan Iblis!

Tonton film Munafik: Melawan Iblis di bioskop sekarang!Jakarta, 3 September 2026 — Film horor Munafik: Melawan Iblis persembahan Unlimited Production tayang mulai hari ini, 3 September 2026 di seluruh bioskopIndonesia! Sebelumnya, Munafik: Melawan Iblis sudah mendapat respons positif dengan terjual habis seluruh tiket special screening di berbagai kota.Film yang dibintangi Arya Saloka, Acha Septriasa, Dimas Aditya, Donny Damara, dan Nova Eliza ini membawa kisah yang menyentuh tentang keikhlasan dari takdir yang diberikan, dengan kemasan horor yang juga memberikan hiburan.Salah satu yang menarik di film ini adalah saat Arya Saloka berproses menjadi karakter utama, Ustaz Adam. Banyak penonton memuji perannya sebagai Ustaz Adam karena tampil meyakinkan dan mampu melafalkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara fasih.Namun, sebenarnya, untuk mencapai titik itu, Arya sempat harus belajar ulang bahkan dari level Iqro’. Arya juga selalu deg-degan saat membaca ayat Al-Qur’an di film Munafik: Melawan Iblis.“Yang membuat saya deg-degan adalah pelafalan saya membaca ayat-ayat Al-Qur’an.Selama persiapan, saya punya teman stres, dengan Dimas Aditya. Proses itulah yang sangat menyenangkan buat saya dari reading naskah, belajar tentang rukiah dan belajar dengan seorang ustaz yang membimbing dalam hafalan Al-Qur’an,” ujar Arya Saloka.“Saya belajar ulang dari Iqro’, jadi membenarkan pelafalan. Banyak obstacle, panjang-pendek, huruf per huruf, agar betul-betul ketika yang nonton film ini bisa merasakan bahwa kami memang seorang ustaz, dan fasih dalam membaca, jangan cuma sekadarnya,” tambah Arya.“Alhamdulillah saat proses ADR untuk dubbing ulang, untuk bacaan Al-Qur’annya minim sekali dubbing ulang, hampir semuanya murni dengan pelafalan kami yang ada di set syuting.”Sementara itu, Dimas Aditya, yang memerankan Ustaz Anwar di film ini, yang menjadi rekan rukiah Ustaz Adam, mengungkapkan bahwa Arya Saloka juga sebenarnya sudah lebih dulu melakukan pendalaman secara spiritual sebelum film Munafik: Melawan Iblis. Sehingga menurut Dimas, Arya sangat cocok menjadi Ustaz Adam dan ia takjub dengan hafalan Al-Qur’annya yang sangat cepat dalam waktu singkat.Saat memerankan Ustaz Adam yang mampu merukiah, Arya pun memiliki perspektif baru tentang proses rukiah. Sebelumnya, Arya melihat rukiah hanya sebagai proses pengusiran setan atau iblis di dalam tubuh manusia.“Saat saya masih kecil, pernah lihat langsung rukiah, di masjid dekat rumah saya saat ada rukiah massal. Dan memang yang terjadi ya orang-orang meraung, saat itu yang ada di kepala saya, yang saya lihat, mungkin hampir sama seperti tontonan yang ada di televisi. Namun ternyata setelah mempelajari secara khusus di film Munafik: Melawan Iblis, rukiah lebih dari itu, dan bukan soal pengusiran iblis. Tapi bagaimana proses rukiah juga berkaitan dengan psikologi,” terang Arya. Bagi Arya, film Munafik: Melawan Iblis memiliki kedekatan cerita dengan banyak orang. Film ini tak hanya mengandalkan horor jumpscare yang menakut-nakuti, tapi juga memiliki kedalaman cerita.“Mungkin hampir banyak manusia di alam ini masih dalam kategori munafik. Saya juga ada di dalam golongan itu, tapi mudah-mudahan Allah hindarkan. Terkadang apa yang kita bicarakan belum tentu sesuai dengan perilakunya. Di film ini tidak cuma masalah horor, ketakutannya, jumpscare, tapi lengkap. Dan dari karakter Ustaz Adam, kita bisa belajar untuk menerima dan ikhlas,” tutup Arya.Tonton film Munafik: Melawan Iblis di bioskop sekarang! Ikuti informasi terbaru melalui akun media sosial Instagram resmi @unlimited_production dan @film.munafik

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
VIDEO
Pasukan 1000 Janda Ungkap Kisah Historical Fantasy Action Tentang Perempuan yang Menjadikan Kehilangan Sebagai Kekuatan
NEWS

Pasukan 1000 Janda Ungkap Kisah Historical Fantasy Action Tentang Perempuan yang Menjadikan Kehilangan Sebagai Kekuatan

Film Pasukan 1000 Janda tayang mulai 12 November 2026 di bioskop! Jakarta, 2 Oktober 2026 — Sutradara Archie Hekagery bersama rumah produksi Manara Films mempersembahkan film yang akan menyegarkan perfilman Indonesia lewat film berjudul Pasukan 1000 Janda, yang dikemas dengan genre historical fantasy action. Film ini akan mengikuti kisah Laksamana Malahayati dari Aceh, bersama pasukan Inong Balee, yang dengan berani melawan para penjajah.Dalam trailer terbaru yang dirilis, Pasukan 1000 Janda menampilkan pertempuran epik para perempuan bersenjatakan rencong dan ilmu beladiri, menghadapi armada kapal perang Belanda dengan meriam.Kita diajak untuk melihat dunia Aceh di masa lampau, yang diterjemahkan dari kisah perang di atas kapal, di tengah ombak laut, dan pertarungan pedang penuh ketegangan. Film Pasukan 1000 Janda menjanjikan pengalaman visual kolosal nan epik yang akan membawa penonton masuk ke dunia sejarah lewat pengalaman sinematik yang imersif dan menghibur. Poster film Pasukan 1000 Janda turut melengkapi nuansa pertempuran epik dari Tanah Aceh yang mengikuti Laksamana perempuan pertama di dunia, Malahayati, bersama pasukan perempuan Inong Balee, yang kehilangan suami mereka.“Lewat film Pasukan 1000 Janda, saya ingin membuat penonton merasakan bagaimana kalau kisah Laksamana Malahayati hadir sebagai sebuah action movie yang epik dan sinematik. Sejarah Indonesia memiliki cerita sebesar film action,” ujar sutradara Archie Hekagery.Disutradarai Archie Hekagery, film ini diproduseri oleh Yuda Wirafianto dengan ko-produser Mifta Nur Rizki, dan produser eksekutif Bunga Mentari. Film ini dibintangi oleh jajaran aktris ternama dan berbakat Indonesia.Atiqah Hasiholan dipercaya sebagai Laksamana Malahayati yang perkasa dan berani memimpin pasukan. Sementara itu, para pasukan Inong Balee di antaranya diperankan oleh Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani. Turut bergabung di jajaran pemeran di film ini, Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, dan Ron Smoorenburg, aktor laga internasional aktor internasional asal Belanda yang pernah menjadi lawan Jackie Chan di film Who Am I?.Bagi Atiqah Hasiholan, Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee mencerminkan bahwa sejak ratusan tahun lalu hingga saat ini. Semangat Laksamana Malahayati dan Inong Balee tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.Nilai tentang perempuan yang berani memimpin, mengambil keputusan dan menentukan hidupnya sendiri tetap relevan dengan perempuan Indonesia hari ini.“400 tahun berlalu. Perempuan tetap punya alasan untuk berdiri dan memimpin. Malahayati adalah seorang laksamana, warrior, namun juga seorang perempuan, ibu, dan istri. Kompleksitas itulah yang membuat sosoknya menarik untuk dibawa ke layar lebar, dan perannya sebagai perempuan yang serba bisa melakukan apapun serta berjuang meski harus mengalami rasa kehilangan itulah yang juga tetap relevan dengan para perempuan sekarang,” ujar Atiqah Hasiholan.Sementara itu, Tasha Siahaan, yang memerankan Dahlia, salah satu pasukan Inong Balee, menambahkan, Pasukan 1000 Janda juga memberinya banyak hal baru.Termasuk belajar aksen dialek Aceh, belajar koreografi action, hingga mempelajari sejarah perjuangan perempuan.“Bagiku film Pasukan 1000 Janda sangat relevan dengan kondisi saat ini. Sampai sekarang kita masih sering melihat banyak kelompok perempuan yang berani bersuara dan melawan saat tanah kelahiran dan tanah tinggalnya terancam.Semangat juang para perempuan ini yang akan menghidupkan dan memberikan nilai lebih dari kisah historical fantasy action di layar lebar,” ujar Tasha Siahaan.Film Pasukan 1000 Janda akan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026. Terinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, film Pasukan 1000 Janda akan menghadirkan kisah epik pertempuran para perempuan yang kehilangan melawan penjajah.Ikuti informasi terbaru melalui Instagram @pasukan1000janda & @manara.studios.

Admin Kupas Tuntas Film 02 Oct 2026