Logo KTF KupasTuntasFilm

Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

Suasana megah di CGV Grand Indonesia mendadak pecah oleh isak tangis histeris pada penyelenggaraan Gala Premiere film layar lebar paling dinantikan tahun ini, dari Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon.

Ruang bioskop yang disulap berhiaskan instalasi pohon sakura mekar, sebagai tribut mengenang mendiang Hajime Kondoh, berubah menjadi lautan air mata sesaat setelah film selesai diputar.

Puncaknya terjadi pada sesi press conference usai penayangan. Sambil mendekap erat sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz, content creator Fanny Kondoh melontarkan pengakuan mengharukan yang seketika membuat ratusan pasang mata yang hadir di studio meneteskan air mata.

"Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa," ucap Fanny dengan suara bergetar dan berurai air mata, membuat seluruh awak media dan tamu undangan ikut menangis tersedu-sedu.

Momen haru tersebut sekaligus menjadi saksi pertaruhan besar karier Denny Sumargo. Bersama sang istri, Olivia Sumargo, Denny resmi menandai debut perdana mereka sebagai produser di industri film Indonesia.

Bukan hanya modal nama, Densu bahkan rela memangkas habis rambutnya hingga botak licin dan menonton rekaman sakratul maut asli mendiang Hajime demi menyajikan akting yang menghipnotis penonton.

"Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan. Alasan terbesar saya bikin film ini cuma satu: nggak mau mengecewakan amanah Fanny dan Hajime. Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan," tegas Denny Sumargo, Produser dari Sumargo Film, di hadapan awak media.

"Kami amat bangga bisa membawa film Baby Udon ke penonton Indonesia. Semoga cerita yang mengharukan dan indah dari Bu Fanny Kondoh dan Almarhum Bapak Hajime Kondoh bisa memberikan kesan yang baik dan menginspirasi banyak orang," kata Andi Suryanto, selaku Produser dari LYTO Pictures.

Gala Premiere spektakuler ini turut dihadiri sederet bintang ternama tanah air, mulai dari jajaran produser Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella Daryanani, hingga deretan pemeran utama seperti Caitlin Halderman, Ayya Renita, Putri Ayudya, Alfie Alfandy, Miyu Okazaki, Hiroaki Kato, Royhan Hidayat, Hafni Thalib, dan Alexandra Valerie.

Selain di Jakarta, film ‘Baby Udon’ telah menggelar Gala Premiere di 7 (Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Banjarmasin, Palembang, Medan) kota sampai saat ini. Tidak berhenti di sini, tur Gala Premiere dan Meet & Greet masih akan berlanjut ke Makassar (Nipah XXI) dan akan ditutup di Bali (Level 21 XXI).

Film Baby Udon dipastikan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Penonton juga bisa menikmati promo terbatas Buy One Get One Free (BOGOF) khusus untuk hari pertama penayangan di aplikasi tiket MTIX.

Intip cuplikan viral, trailer resmi, dan informasi tiket di akun Instagram @filmbabyudon, @sumargofilm, dan @lytopictures.

More Recommendations

VIDEO
Aghniny Haque Diteror Penjaga Gaib dalam Debut Internasionalnya, Film Horor Khadam Resmi Tayang di Bioskop Indonesia 16 September 2026!
NEWS

Aghniny Haque Diteror Penjaga Gaib dalam Debut Internasionalnya, Film Horor Khadam Resmi Tayang di Bioskop Indonesia 16 September 2026!

Jakarta, 3 September 2026 — Kabar gembira bagi para penikmat sinema horor di tanah air. Film debut internasional dari aktris berbakat Aghniny Haque, Khadam, secara resmi mengumumkan tanggal penayangannya di bioskop seluruh Indonesia, yakni mulai 16 September 2026.Sebagai proyek kolaborasi ambisius lintas negara antara Malaysia dan Indonesia, Khadam menyajikan narasi horor mencekam mengenai perjuangan seorang ibu yang harus menyelamatkan keluarganya saat entitas gaib yang seharusnya menjadi “penjaga” justru berbalik arah untuk menyingkirkan dan menggantikan posisinya.Didistribusikan untuk bioskop Indonesia melalui CBI Pictures, film ini diproduksi oleh Red Communications dan Komet Productions, serta menggandeng dua rumah produksi ternama asal Indonesia, MAGMA Entertainment dan VMS Studios. Skala internasional film ini kian solid dengan dukungan dari deretan studio besar kawasan Asia, meliputi Sil Metropole Organisation (China), Applause Entertainment (India), serta Golden Screen Cinemas, dan Primeworks Studios dari Malaysia.Menghadapi Teror Ekstrem sebagai Sosok IbuDalam Khadam, Aghniny Haque bertransformasi memerankan karakter Melor, seorang ibu yang tidak bisa berbicara, yang hidup damai bersama kedua anaknya. Namun, kehidupannya berubah menjadi mimpi buruk saat ia harus berhadapan dengan sebuah entitas "penjaga" mistis yang perlahan berusaha merebut identitas serta menggantikan perannya di dalam keluarga.Perjuangan Melor yang sunyi namun sarat ketegangan mengajak penonton menyelami premis psikologis yang menghantui: “Bagaimana jika penjagamu justru berusaha menggantikanmu?”Terkait perannya di film ini, Aghniny Haque mengungkapkan rasa antusias dan tantangan mendalam yang dihadapinya.“Aku sangat bersyukur bisa dapat kesempatan untuk memerankan Melor, karena ini adalah sebuah peran yang sangat-sangat menantang. Sepanjang film aku harus bisa menjalani 2 karakter dengan ekspresi emosi yang berubah setiap saat,” ujar Aghniny.Reaksi Gemilang dan Pujian Kritikus InternasionalSebelum menyapa penonton tanah air, Khadam telah lebih dulu mencuri perhatian dan menuai pujian luas sejak rilis di bioskop Malaysia pada 11 Juni 2026, Kamboja pada 27 Juli 2026, dan Singapura pada 27 Agustus 2026 lalu, hingga digadang-gadang sebagai salah satu film horor terbaik tahun ini. Film ini sukses meraih penjualan tiket lebih dari USD1,3 juta dari perilisannya di Malaysia.Penampilan akting Aghniny Haque pun sukses menjadi sorotan utama bagi para kritikus dan penikmat film regional. Media kenamaan Malaysia, The Star, turut memuji kepiawaian aktingnya dengan menuliskan, “Penampilan Aghniny, yang sebagian besar dalam film memerankan sebuah karakter bisu sangat brilian.Selain Aghniny Haque, Khadam turut diperkuat oleh jajaran aktor papan atas Malaysia, di antaranya Remy Ishak, Siti Khadijah Halim, Zarra Zaff, Karl El, dan aktris kawakan June Lojong. Film ini juga dijadwalkan untuk tayang di Hong Kong dan Makau pada Oktober 2026 nanti.Saksikan teror dan perjuangan Melor mempertahankan keluarganya dalam film Khadam, serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai 16 September 2026. Informasi terbaru serta materi promosi resmi dapat diakses melalui akun media sosial resmi @khadamthemovie dan @cbipictures.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
VIDEO
Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!
MOVIE
4.0

Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!

Ada film yang sejak awal memang ingin membuat penontonnya menangis. Namun, ada juga film yang tidak perlu melakukan itu karena ceritanya sendiri sudah cukup kuat untuk membuat kita tersentuh. Dear You (2026) termasuk salah satunya.Disutradarai sekaligus ditulis oleh Hongchun Lan, Leng Yang, Xuanxuan Zheng, dan Liyun Zhu, film ini menghadirkan sebuah cerita yang terasa hangat dan manusiawi.Dibintangi oleh Sitong Li sebagai Xie Nanzhi, Yantong Wang sebagai Zheng Musheng, Shaoqing Wu sebagai Old Ye Shurou, Runqi Zheng sebagai Xiaowei, Xiaohui Wang sebagai Young Ye Shurou, Shuguang Zhao sebagai Xie Zehua, Deru Li sebagai Auntie Ru, Shuhao Li sebagai Father of Chuyuan, serta Usha Seamkhum sebagai Old Xie Nanzhi, film ini perlahan mengajak penonton mengikuti perjalanan hidup para karakternya.Film ini tidak menawarkan cerita yang spektakuler atau penuh kejutan, tetapi karena film ini berhasil memberikan banyak rasa dalam satu cerita.Filmnya Terasa Hangat Hal pertama yang paling terasa dari Dear You adalah kehangatannya.Film ini punya kemampuan untuk membuat penonton tersenyum, tertawa, terharu, bahkan merasa sedikit sesak di beberapa momen. Menariknya, semua emosi tersebut muncul dengan cukup natural.Film ini tidak terasa seperti sedang memaksa kita untuk menangis. Tidak ada adegan yang terasa sengaja dibuat terlalu melodramatis hanya demi mendapatkan air mata penonton. Sebaliknya, emosi dibangun perlahan melalui hubungan antarkarakter, pengalaman hidup, pilihan yang mereka ambil, serta berbagai hal sederhana yang mereka lalui.Justru karena tidak terlalu memaksa, ketika sebuah adegan emosional datang, dampaknya terasa lebih kuat.Ada sesuatu yang sederhana tetapi relatable dari perjalanan para karakternya. Kita bisa melihat bagaimana waktu, keadaan, hubungan, dan berbagai keputusan dalam hidup perlahan membentuk seseorang.Dan ketika melihat perjalanan tersebut sampai ke titik tertentu, kita sebagai penonton seolah ikut merasakan perjalanan hidup mereka.Jalan Ceritanya Mudah Untuk DiikutiSalah satu kekuatan Dear You adalah cara film ini bercerita.Alurnya memang cenderung pelan. Jadi, buat penonton yang terbiasa dengan film dengan tempo cepat atau cerita yang dipenuhi konflik besar, mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian.Namun, menurut minpas justru tempo yang pelan ini menjadi salah satu kekuatan film.Dear You tidak terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Film memberikan cukup banyak ruang bagi para karakter untuk berkembang dan bagi penonton untuk mengenal mereka.Ceritanya juga tidak dipenuhi twist yang aneh-aneh atau kejutan yang sengaja dimasukkan hanya untuk membuat penonton terkejut.Sebaliknya, film memilih untuk membangun cerita dari hal-hal sederhana.Setiap adegan terasa memiliki fungsi. Perlahan-lahan kita mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.Karena itulah ketika cerita akhirnya sampai pada bagian-bagian emosionalnya, kita sudah cukup peduli terhadap karakter-karakternya.Jadi, meskipun secara premis cerita Dear You mungkin terdengar sederhana, eksekusinya membuat perjalanan tersebut tetap menarik untuk diikuti.Akting Para Pemain yang MeyakinkanDari sisi akting, para pemain Dear You juga memberikan performa yang cukup solid.Sitong Li sebagai Xie Nanzhi mampu membawa karakter tersebut dengan cukup natural. Begitu juga dengan Yantong Wang sebagai Zheng Musheng yang mampu memberikan dinamika menarik dalam hubungan antarkarakter.Namun, salah satu hal yang menurut MINPAS patut diapresiasi adalah pemilihan pemeran untuk karakter dalam versi muda dan tua.Kemiripan fisik antara pemeran karakter ketika masih muda dengan versi mereka ketika sudah tua terasa cukup meyakinkan. Hal ini memang terlihat seperti detail kecil, tetapi sangat membantu menjaga kontinuitas cerita.Ketika sebuah karakter diperlihatkan dalam dua fase kehidupan yang berbeda, kita tidak merasa sedang melihat dua orang yang benar-benar berbeda. Ada kemiripan dari wajah maupun aura yang membuat perjalanan waktu dalam cerita terasa lebih masuk akal.Selain itu, performa para pemain juga terasa pas dengan karakter masing-masing. Tidak ada yang terasa terlalu berlebihan atau berusaha mencuri perhatian.Semuanya bermain dalam porsinya masing-masing dan saling melengkapi.Punya Visual yang CantikSelain ceritanya yang hangat, Dear You juga menawarkan visual yang cantik.Film ini membawa penonton kembali ke atmosfer China pada era 1950-an hingga 1970-an, dan detail periodenya terasa cukup hidup.Mulai dari kostum, lingkungan, suasana kota, interior tempat tinggal, hingga berbagai detail kecil yang ada di dalam frame, semuanya membantu membangun atmosfer zamannya.Film tidak hanya sekadar mengganti pakaian karakter dengan kostum klasik, tetapi juga berusaha membuat dunianya terasa seperti sebuah tempat yang benar-benar ditinggali oleh para karakter.Sinematografinya pun terasa nyaman untuk dinikmati, penggunaan warna dan pencahayaan mendukung nuansa hangat yang menjadi salah satu identitas film ini. Ada banyak shot yang terasa sederhana, tetapi tetap indah karena mampu menangkap atmosfer dan emosi dari sebuah adegan.Visualnya tidak terasa terlalu berlebihan atau dibuat hanya untuk terlihat cantik. Justru kesederhanaannya yang membuat Dear You terasa semakin dekat dengan cerita yang ingin disampaikan.Film Yang Punya Banyak RasaHal menarik lainnya adalah bagaimana Dear You mampu mencampurkan berbagai macam emosi tanpa membuatnya terasa berantakan.Ada komedi yang bisa membuat kita tersenyum, ada juga momen-momen romantis yang terasa manis.Ada pula drama keluarga dan kehidupan yang perlahan membawa cerita ke arah yang lebih emosional.Perpindahan dari satu emosi ke emosi lainnya juga terasa cukup natural. Film tidak terus-terusan berada dalam suasana sedih, sehingga ketika sebuah momen emosional datang, efeknya justru terasa lebih kuat.Inilah salah satu alasan mengapa Dear You bisa terasa begitu hangat.Film ini seperti mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah hanya berisi satu jenis emosi.Ada bahagia, ada sedih, ada kehilangan, ada tawa, ada penyesalan, dan ada kenangan yang tetap tinggal meskipun waktu terus berjalanEnding yang PasBagian ending juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini berhasil.Dear You tidak memilih untuk menutup ceritanya dengan cara yang terlalu berlebihan, film ini memberikan sebuah penyelesaian yang terasa sesuai dengan perjalanan yang sudah dibangun sejak awal, tidak perlu terlalu banyak drama tambahan atau memaksakan twist besar, tapi setelah film selesai, ada perasaan seperti masih ingin memikirkan perjalanan mereka.KesimpulanDear You adalah salah satu film Asia yang paling berkesan tahun ini. Film ini memang sederhana, alurnya juga cenderung pelan dan tidak menawarkan banyak kejutan besar , justru kesederhanaan tersebut yang menjadi kekuatannya.Dear You adalah film yang hangat, lucu, sedih, romantis, dan menyentuh tanpa terasa menggurui.Film ini tidak memaksa kita untuk mencintai karakternya tapi film ini hanya memberikan waktu kepada kita untuk mengenal mereka, mengikuti perjalanan mereka, dan akhirnya membiarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan genre film keluarga yang hangat, Dear You layak banget masuk daftar tontonan kalian.

Abdul Haris 08 Aug 2026
Ketika Warisan Gaib Berubah Menjadi Ancaman bagi Keluarga!
MOVIE
3.2

Ketika Warisan Gaib Berubah Menjadi Ancaman bagi Keluarga!

Khadam merupakan film horor Malaysia garapan Shamyl Othman dengan skenario yang ditulis oleh Fariza Azlina. Dibintangi Aghniny Haque, Remy Ishak, Siti Khadijah Halim, Zarra Zaff, Karl El, dan June Lojong, film ini menjadi salah satu kolaborasi perfilman Malaysia dan Indonesia yang membawa cerita tentang kepercayaan terhadap makhluk gaib serta warisan turun-temurun ke dalam sebuah horor bernuansa drama keluarga. Berlatar pada era 1950-an, Khadam mengikuti kisah Melor (Aghniny Haque), seorang ibu yang harus menghadapi warisan mistis keluarganya setelah sang ibu meninggal dunia. Khadam yang diwariskan tersebut bukan sekadar makhluk gaib yang dapat memberikan perlindungan atau membantu kehidupan pemiliknya, tetapi memiliki konsekuensi yang perlahan mulai mengancam kehidupan Melor dan keluarganya.Warisan Gaib yang Tidak Pernah Benar-Benar GratisSalah satu hal menarik dari Khadam adalah bagaimana film ini membangun gagasan mengenai makhluk gaib yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada awalnya, keberadaan Khadam dapat dipandang sebagai sesuatu yang menguntungkan. Makhluk tersebut dipercaya dapat membantu pemiliknya, memberikan perlindungan, menyembuhkan luka, membantu pekerjaan hingga memberikan kemudahan dalam kehidupan. Namun, semua kemudahan tersebut ternyata memiliki harga yang harus dibayar. Dari sinilah film mulai membangun konflik utamanya. Apa yang semula terlihat seperti sebuah warisan justru berubah menjadi beban yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.Konsep tersebut membuat Khadam tidak hanya berbicara mengenai teror makhluk gaib, tetapi juga mengenai konsekuensi dari keputusan generasi sebelumnya. Sesuatu yang mungkin pernah dianggap sebagai jalan keluar pada masa lalu justru menjadi sumber masalah bagi keluarga di kemudian hari.Horor yang Tidak Sekadar Mengandalkan JumpscareKhadam juga cukup berhasil menghadirkan horor yang tidak semata-mata bergantung pada jumpscare.Memang terdapat beberapa momen yang dirancang untuk memberikan kejutan, tetapi film lebih banyak membangun rasa tidak nyaman melalui suasana, misteri, dan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Melor dan keluarganya.Pendekatan tersebut membuat ketegangan terasa lebih bertahap. Penonton tidak langsung diberikan seluruh jawaban, melainkan diajak mengikuti berbagai petunjuk sebelum memahami hubungan antara Melor, keluarganya, dan Khadam.Ada pula beberapa perkembangan cerita yang cukup tidak terduga. Konsekuensi dari keberadaan Khadam ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat pada awal film.Dengan demikian, Khadam tidak berhenti pada formula sederhana makhluk gaib muncul → karakter ketakutan → jumpscare → selesai, tetapi berusaha membangun konsekuensi yang lebih panjang terhadap kehidupan para karakternya.Cerita yang Perlahan Membuka MisterinyaPada bagian awal, Khadam memang membutuhkan waktu untuk membangun dunianya. Penonton mungkin masih bertanya-tanya mengenai arah cerita dan bagaimana sebenarnya hubungan setiap karakter dengan Khadam. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai potongan informasi mulai terhubung.Beberapa hal sengaja disimpan oleh film dan baru diperlihatkan secara perlahan. Strategi tersebut membuat rasa penasaran tetap terjaga karena penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan Melor hingga akhir.Hal yang menarik adalah bagaimana konflik supernatural tersebut kemudian tidak hanya menjadi ancaman terhadap keselamatan fisik, tetapi juga mulai mengganggu identitas, keluarga, dan posisi Melor sebagai seorang ibu serta istri. Premis resmi film bahkan menggambarkan bagaimana Khadam perlahan mengambil alih peran Melor sebagai istri dan ibu, sehingga konflik yang dihadapi bukan sekadar bagaimana mengalahkan makhluk gaib, tetapi bagaimana mempertahankan kehidupannya sendiri.Aghniny Haque Menjadi Kekuatan UtamaSalah satu kekuatan terbesar Khadam berada pada penampilan Aghniny Haque sebagai Melor.Karakter Melor merupakan peran yang cukup menantang karena sebagian besar emosinya harus disampaikan tanpa mengandalkan dialog. Aghniny diketahui menjalani pelatihan intensif untuk mempelajari bahasa isyarat yang dikembangkan secara khusus untuk kebutuhan film. Hasilnya cukup terasa dalam film.Aghniny mampu membawa Melor sebagai karakter yang tidak hanya berada di tengah-tengah cerita horor, tetapi juga memiliki pergulatan emosional yang kuat sebagai seorang ibu yang berusaha melindungi keluarganya. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta perubahan emosinya menjadi bagian penting dalam menyampaikan kondisi Melor. Hal tersebut membuat karakternya terasa lebih hidup dan membantu menjaga intensitas film, terutama ketika cerita mulai memasuki bagian yang lebih gelap. Penampilan Aghniny juga menjadi semakin menarik karena Khadam merupakan debutnya dalam perfilman Malaysia. Chemistry Para PemainSelain Aghniny Haque, jajaran pemain lainnya juga memberikan kontribusi yang cukup kuat.Remy Ishak sebagai Awang mampu memberikan keseimbangan terhadap karakter Melor. Hubungan keduanya menjadi salah satu elemen emosional yang membantu membuat konflik keluarga dalam film terasa lebih personal. Sementara itu, Siti Khadijah Halim sebagai Manis juga memberikan warna tersendiri. Interaksinya dengan karakter-karakter lain membuat konflik keluarga dalam Khadam terasa semakin kompleks.Zarra Zaff sebagai Puteh, Karl El sebagai Hitam, serta June Lojong sebagai Nek Mak juga memberikan performa yang mendukung atmosfer film. Keenam pemeran utama tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarkarakter yang nantinya berpengaruh terhadap perkembangan konflik.Chemistry antara Aghniny dan Remy juga mendapat perhatian dalam pemberitaan seputar film. Remy sendiri menyebut bahwa mereka dapat membangun keserasian dalam waktu relatif singkat selama proses produksi. Kolaborasi Malaysia dan Indonesia yang MenarikSebagai film hasil kolaborasi lintas negara, Khadam juga menarik untuk diperhatikan dari sisi perpaduan elemen Indonesia dan Malaysia. Film ini diproduksi oleh rumah produksi Malaysia Red Communications dan Komet Productions, dengan keterlibatan pihak Indonesia dalam produksi dan distribusinya. Perpaduan tersebut terasa cukup natural karena cerita Khadam sendiri berangkat dari unsur budaya dan folklor Melayu/Nusantara yang memiliki kedekatan dengan masyarakat di kedua negara.Latar era 1950-an juga membantu membangun identitas visual film. Suasana pedesaan, kehidupan keluarga, serta kepercayaan terhadap hal-hal mistis membuat Khadam memiliki atmosfer yang cukup khas.Sutradara Shamyl Othman juga menjelaskan bahwa cerita film ini berangkat dari keinginan penulis untuk mengeksplorasi kepercayaan dan folklor Melayu mengenai saka. Proses pengembangan ceritanya turut melibatkan riset dengan masyarakat desa dan tokoh agama.KesimpulanSecara keseluruhan, Khadam merupakan film horor yang cukup berhasil menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian jumpscare.Film ini memiliki premis yang menarik mengenai warisan makhluk gaib dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya. Ceritanya memang membutuhkan waktu untuk membuka seluruh misterinya, tetapi pendekatan tersebut justru membuat penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan Melor. Kolaborasi Malaysia–Indonesia yang dihadirkan pun terasa cukup apik. Khadam mampu memanfaatkan kedekatan budaya dan folklor kedua negara tanpa kehilangan identitasnya sebagai film horor Malaysia.Pada akhirnya, Khadam bukan film yang sekadar mengandalkan formula “makhluk gaib muncul, penonton dikagetkan, kemudian cerita selesai.” Ada cerita mengenai keluarga, warisan, pengorbanan seorang ibu, serta konsekuensi dari sesuatu yang sejak awal terlihat memberikan keuntungan.Dan setelah melihat apa yang terjadi kepada Melor, satu hal yang mungkin terlintas setelah menonton film ini adalah: beberapa warisan memang sebaiknya tidak pernah diterima.Film ini cocok dan recomended untuk SOBAT KTF yang suka horor dengan unsur mistis , drama , dan penuh rahasia.

Abdul Haris 20 Sep 2026
Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan
MOVIE
2.3

Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan

Film horor Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam menyampaikan rasa takut. Tidak semuanya harus mengandalkan jumpscare atau sosok menyeramkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Hasut mencoba mengambil jalur tersebut dengan menghadirkan psychological horror yang lebih banyak bermain dengan pikiran, ketakutan, prasangka, serta kondisi psikologis para karakternya.Film ini digarap sekaligus ditulis oleh Ilya Sigma, dengan bantuan Priesnanda Dwisatria. Hasut mencoba membangun kengerian melalui kondisi mental karakter dan bagaimana sebuah pikiran negatif dapat berkembang menjadi sesuatu yang semakin mengganggu.Psychological Horror yang Bermain dengan PikiranSalah satu hal yang cukup menarik dari Hasut adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan jumpscare sebagai sumber ketakutan. Film ini lebih banyak mengajak penonton masuk ke dalam kondisi psikologis karakter dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.Rasa takut dalam film ini muncul dari ketidakpastian. Penonton diajak untuk ikut merasakan kegelisahan, kecurigaan, dan tekanan yang dialami oleh karakter-karakternya. Pendekatan seperti ini membuat Hasut terasa berbeda dibandingkan film horor yang lebih konvensional.Ketika sebuah film psychological horror berhasil membuat penonton mempertanyakan apakah sesuatu yang terjadi benar-benar nyata atau justru merupakan bagian dari kondisi psikologis karakter, di situlah rasa tidak nyaman mulai terbentuk.Hasut memiliki beberapa momen yang mencoba memainkan hal tersebut. Film tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, sehingga penonton harus memperhatikan situasi dan perubahan karakter untuk memahami apa yang sedang terjadi.Musuh Terbesar Bisa Datang dari Pikiran SendiriPesan yang paling terasa dari Hasut adalah bagaimana terkadang musuh terbesar kita justru adalah pikiran kita sendiri.Ketakutan, prasangka, kecemasan, dan pikiran negatif yang terus berkembang dapat memengaruhi cara seseorang melihat keadaan di sekitarnya. Sesuatu yang awalnya mungkin terlihat sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan ketika terus dipenuhi oleh rasa takut dan kecurigaan.Inilah salah satu aspek yang membuat Hasut cukup menarik untuk dibahas. Film ini tidak hanya berusaha membuat penonton takut terhadap sesuatu yang berada di luar diri mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pikiran manusia sendiri dapat menjadi sumber teror.Konsep tersebut sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan. Ketika ketakutan dan pikiran negatif mulai mengambil alih, batas antara realitas dan persepsi menjadi semakin sulit dibedakan. Akting Dari Para PemainDari sisi pemain, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova mampu memberikan penampilan yang cukup bagus.Keempat pemain berhasil membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan, terutama ketika harus menunjukkan sisi emosional dan tekanan psikologis yang menjadi bagian penting dari film.Karena Hasut lebih banyak bermain pada kondisi mental karakter, ekspresi, gestur, serta perubahan emosi menjadi bagian yang cukup penting. Para pemain mampu memberikan energi yang sesuai dengan atmosfer film sehingga ketegangan yang dibangun tetap terasa.Chemistry antarpemain juga cukup membantu dalam membuat hubungan antarkarakter terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi bagian dari cerita horor.Sayangnya, Tidak Semua Misteri Terjawab dengan Memuaskan. Meskipun memiliki konsep yang menarik, Hasut masih memiliki beberapa kekurangan dalam eksekusinya.Ada beberapa elemen cerita yang terasa belum dijelaskan dengan cukup jelas. Latar belakang beberapa karakter juga terasa terlalu singkat sehingga perkembangan dan motivasi mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup. Hal tersebut kemudian membuat beberapa bagian film terasa menyisakan pertanyaan. Setelah film selesai, masih ada beberapa hal yang membuat bertanya-tanya mengenai maksud maupun alasan di balik kejadian tertentu.Sebenarnya, meninggalkan pertanyaan kepada penonton bukan sesuatu yang selalu menjadi masalah dalam film psychological horror. Justru, film dengan genre seperti ini memang sering memberikan ruang untuk interpretasi.Namun, perbedaannya adalah antara misteri yang sengaja dibiarkan terbuka dengan informasi yang terasa seperti belum mendapatkan penjelasan yang cukup. Hasut terkadang berada di antara keduanya, sehingga beberapa bagian terasa kurang maksimal dalam menyampaikan keseluruhan ceritanya.KesimpulanDengan konsep psychological horror yang menarik, pesan yang cukup kuat, serta penampilan para pemain yang solid, Hasut berhasil memberikan pendekatan horor yang berbeda. Namun, eksekusinya masih memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam memberikan penjelasan terhadap sejumlah elemen cerita dan latar belakang karakter.Film ini cocok untuk SOBAT KTF yang menyukai film horor psychological, cerita yang bermain dengan kondisi mental karakter, serta horor yang membuat penonton ikut berpikir dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pieter Siaahan 02 Oct 2026
MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!
MOVIE
3.0

MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!

Munafik: Melawan Iblis hadir sebagai film horor religi yang membawa kembali salah satu cerita horor populer asal Malaysia ke layar lebar Indonesia. Film ini digarap oleh Angger Yudha Setiawan dan Guntur Soeharjanto, dengan skenario yang ditulis oleh M. Ali Ghifari dan Syamsul Yusof.Sebagai sebuah remake dari film yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis memiliki tantangan tersendiri. Film tidak hanya dituntut untuk menghadirkan kembali elemen-elemen yang sudah dikenal oleh penggemar versi aslinya, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman yang tetap terasa relevan bagi penonton Indonesia. Untungnya, film ini cukup berhasil menjalankan tugas tersebut.Alur yang Sederhana tetapi Cukup KuatSalah satu hal yang membuat Munafik: Melawan Iblis menarik adalah bagaimana film ini membangun ceritanya dengan alur yang relatif sederhana, tetapi tetap mampu memberikan rasa penasaran.Film tidak mencoba memasukkan terlalu banyak konflik secara bersamaan. Cerita lebih banyak diarahkan pada perjalanan karakter dalam menghadapi gangguan supernatural sekaligus pergulatan batin yang mereka alami.Pendekatan tersebut membuat film terasa cukup mudah untuk diikuti. Penonton tidak dibuat terlalu sibuk memahami berbagai macam aturan dunia supernatural yang rumit. Sebaliknya, fokus utama tetap berada pada karakter, konflik spiritual, serta bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka. Sebagai sebuah remake, film ini juga masih mempertahankan identitas utama Munafik sebagai horor religi. Namun, sentuhan produksi Indonesia membuat film memiliki karakter tersendiri sehingga tidak sekadar terasa seperti memindahkan cerita dari satu negara ke negara lainnya.Akting Para Pemain yang Apik dan TotalKekuatan lain dari film ini terletak pada jajaran pemainnya.Arya Saloka sebagai Ustad Adam mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai sosok yang harus berhadapan dengan konflik spiritual sekaligus persoalan dalam dirinya sendiri. Karakternya tidak hanya dituntut untuk tampil sebagai seorang tokoh agama yang kuat, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ketakutan, keraguan, dan kelemahan.Sementara itu, Acha Septriasa memberikan performa yang cukup emosional sebagai Fitri. Ekspresi, gestur, dan perubahan emosinya mampu membuat karakter tersebut terasa hidup.Dimas Aditya juga tampil solid sebagai Ustad Anwar. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam dinamika cerita, terutama ketika film mulai mempertemukan persoalan agama, kepercayaan, dan teror supernatural. Begitu pula dengan Muhammad Faqih Alaydrus, Donny Damara, Nova Eliza, dan Izabel Jahja yang masing-masing memberikan penampilan yang cukup total terhadap karakter mereka.Menariknya, akting dalam film ini tidak hanya mengandalkan adegan teriakan atau ekspresi ketakutan. Beberapa adegan justru terasa lebih efektif ketika para pemain menampilkan ketakutan melalui ekspresi wajah, tatapan, maupun gestur tubuh.Hal tersebut membuat teror terasa lebih manusiawi dan tidak berlebihan.Make Up Horor yang Tidak BerlebihanSalah satu keputusan yang patut diapresiasi dari Munafik: Melawan Iblis adalah penggunaan make up horornya.Film tidak terlalu bergantung pada tampilan wajah menyeramkan yang berlebihan. Karakter-karakter yang mengalami gangguan supernatural tidak selalu dibuat dengan visual yang ekstrem atau penuh efek khusus.Pendekatan seperti ini justru membuat beberapa momen terasa lebih meyakinkan.Horor tidak harus selalu memperlihatkan sosok dengan wajah mengerikan. Terkadang, ekspresi manusia yang terlihat tidak normal, perubahan gestur tubuh, atau kehadiran sosok dalam kondisi yang tidak seharusnya sudah cukup untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Film ini memahami hal tersebut dan menggunakan make up horor secara cukup terukur.Atmosfer Horor yang “Sunyi” dan MencekamJika ada satu elemen yang cukup menonjol dari Munafik: Melawan Iblis, atmosfer horornya adalah salah satunya.Alih-alih terus-menerus memberikan kejutan atau jumpscare, film lebih banyak memanfaatkan kesunyian untuk membangun ketegangan. Ruang kosong, suasana malam, pencahayaan yang minim, serta momen ketika karakter berada dalam keadaan sendirian menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa takut.Kesunyian tersebut justru membuat penonton merasa seperti sedang menunggu sesuatu terjadi.Dan ketika sebuah suara, gerakan, atau sosok akhirnya muncul, efeknya menjadi terasa lebih kuat karena ketegangan sudah dibangun sebelumnya.Pendekatan ini juga membuat horornya terasa lebih atmosferik. Penonton tidak hanya disuguhi sesuatu yang menakutkan secara visual, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan melalui suasana yang dibangun sepanjang film.Horor yang Tidak Hanya Berbicara Tentang IblisDi balik segala teror supernaturalnya, Munafik: Melawan Iblis sebenarnya membawa pembahasan yang lebih dalam mengenai manusia dan dirinya sendiri. Film tidak hanya menempatkan iblis sebagai sumber kejahatan yang harus dikalahkan. Konflik spiritual yang dihadirkan juga menjadi gambaran mengenai bagaimana manusia berhadapan dengan rasa takut, keraguan, dosa, kelemahan, dan berbagai sisi gelap dalam dirinya sendiri.Dari sinilah pesan moral film terasa cukup kuat:Kemenangan melawan iblis harus dimulai dari melawan diri sendiri.”Pesan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita.Sebab, sebelum manusia mampu menghadapi sesuatu yang berada di luar dirinya, mereka terlebih dahulu harus mampu mengalahkan ketakutan, kesombongan, keraguan, serta kelemahan yang ada di dalam diri. Dengan begitu, iblis dalam film ini tidak hanya dapat dimaknai sebagai sosok supernatural, tetapi juga sebagai simbol dari berbagai hal buruk yang dapat menguasai manusia ketika mereka kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Remake yang Berhasil Memiliki Identitas SendiriSebagai film remake yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis tentu akan selalu dibandingkan dengan versi aslinya.Namun, film ini cukup berhasil berdiri dengan identitasnya sendiri.Kekuatan utamanya bukan terletak pada usaha untuk membuat sesuatu yang sepenuhnya berbeda, melainkan bagaimana cerita yang sudah dikenal dapat dikemas kembali dengan pendekatan produksi dan karakter yang sesuai dengan penonton Indonesia.Hasilnya adalah sebuah film horor religi yang masih memiliki nuansa Munafik, tetapi tetap terasa sebagai film yang memiliki wajah baru.Kesimpulan Munafik: Melawan Iblis merupakan remake horor religi yang cukup berhasil menghadirkan cerita dengan alur yang menarik dan mudah diikuti. Film ini tidak hanya mengandalkan teror supernatural, tetapi juga memberikan ruang yang cukup besar untuk perkembangan karakter dan konflik batin. Film ini mengajak penonton melihat bahwa terkadang musuh terbesar manusia bukanlah sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan kelemahan yang ada di dalam dirinya sendiri.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre Horor Religi & Supernatural, film ini cukup bagus dan sangat recommended untuk masuk ke watchlist kalian!

Rahmadandi Desky Prayuda 04 Sep 2026
Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius  Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!
NEWS

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur MisteriAda dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam. Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal
NEWS

Dimas Anggara Debut Sutradarai Film Horor Berjudul Aplikasi Iblis, Dibintangi Junior Roberts, Saat Aplikasi Bisa Menghubungkan dengan Arwah Orang yang Sudah Meninggal

Film Aplikasi Iblis tayang mulai 15 Oktober 2026 di bioskopJakarta, 31 Agustus 2026 — Dimas Anggara menandai penyutradaraan debut horornya lewat film terbaru persembahan NIH Pictures berjudul Aplikasi Iblis. Film ini dibintangi oleh Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, serta penampilan spesial Della Dartyan.Film Aplikasi Iblis membawa genre urban supernatural horror yang akan mengisahkan tentang seorang pria yang mencoba kembali terhubung dengan kekasihnya yang telah meninggal melalui sebuah aplikasi misterius. Namun, justru membuka pintu bagi sesuatu yang ingin memanfaatkannya.Dalam teaser trailer yang dirilis, Arya (diperankan Junior Roberts) ingin melamar kekasihnya, Laras (Dosma Hazenbosch). Namun, keduanya justru harus terpisah dan berbeda dunia untuk selamanya. Arya masih ditemani arwah Laras, tapi, apakah itu benar-benar Laras?Sementara itu, di teaser poster yang dirilis juga secara jelas menampilkan sosok menyeramkan di layar ponsel. Menandakan sebuah teror yang akan datang, saat kita mencoba menggunakan aplikasi yang disebut bisa menghubungkan dengan arwah orang mati tersebut.“Film Aplikasi Iblis akan mengikuti kisah Arya. Dia baru saja kehilangan kekasihnya, dan masih sangat rindu dan percaya orang yang telah pergi bisa kembali. Di film ini, saya menggabungkan unsur drama romance tapi juga teror horor yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini. Ketika kita semua pakai sebuah aplikasi untuk bisa terkoneksi dengan orang yang kita sayangi, apapun jenis aplikasinya. Tapi bedanya, aplikasi di film ini bisa menghubungkan dengan arwah orang yang sudah meninggal,” ujar sutradara Dimas Anggara.“Buat aku cerita Arya dan Laras itu seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan sesuatu yang indah tapi malah berakhir menjadi tragedi,” ujar pemeran Arya, Junior Roberts. Sebelumnya, Dimas Anggara telah menyutradarai film #OOTD yang diproduksi oleh NIH Pictures. Kali ini, Dimas kembali mengeksplorasi gagasan kreatifnya sebagai sutradara horor lewat Aplikasi Iblis. Sebuah horor dengan cerita tentang teknologi, kehilangan, dan teror supernatural.Ikuti terus perkembangan film Aplikasi Iblis melalui media sosial Instagram @aplikasiiblisfilm dan @nihpictues. Film Aplikasi Iblis tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 31 Aug 2026