Logo KTF KupasTuntasFilm

Banyak Rahasia di “Rumah Tangga” Acha Septriasa dan Darius Sinathrya, Series Baru iQIYI, ‘Dalam Suka dan Dusta’ Segera Tayang!

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Series

By Admin Kupas Tuntas Film | | 0 views

iQIYI merilis trailer perdana series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, yang mengangkat realitas di balik manisnya hubungan couple goals.

Jakarta, 10 September 2026 — iQIYI resmi merilis trailer perdana iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, original series Indonesia terbaru yang memadukan drama percintaan, perselingkuhan dan kompleksnya hubungan keluarga. Bekerjasama dengan rumah produksi RRK Pictures & Unlimited Production, series ini mengangkat kisah pasangan selebritis yang selama ini dipandang sebagai couple goals dengan kehidupan rumah tangga yang tampak ideal. Namun, di balik sorotan dan citra sempurna yang mereka tampilkan, tersimpan rahasia, kebohongan, serta persoalan lain yang perlahan menguji hubungan dan keluarga mereka.

Melalui trailer iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, penonton diajak menyingkap kilasan keretakan kehidupan rumah tangga Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa). Demi mempertahankan keutuhan keluarga sekaligus reputasi mereka di mata publik, keduanya mempertimbangkan sebuah jalan pintas yang tak biasa: open marriage. Keputusan tersebut pun menyisakan tanda tanya bagi penonton: mampukah open marriage menyelamatkan rumah tangga Duta dan Citra atau justru memicu konflik yang jauh lebih besar?

“Dibandingkan kisah perselingkuhan pada umumnya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta terasa berbeda karena hadir dengan cerita yang lebih kompleks, menggabungkan sorotan dunia selebriti, drama rumah tangga, hingga elemen misteri yang cukup kental.” ujar Ikhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI.

Keretakan Hubungan yang Sempurna dan Unsur Misteri

Ada dua sisi cerita yang menjadi kekuatan utama series ini. Pertama, gambaran citra sempurna pasangan selebriti, seperti bagaimana sorotan publik, dan ekspektasi sosial memaksa Duta dan Citra terus mempertahankan topeng kebahagiaan meski hubungan mereka retak dari dalam.

Kedua, sisi hubungan yang penuh skandal, kesepakatan open marriage dan perselingkuhan yang perlahan berkembang menjadi bom waktu, membawa cerita ke arah yang lebih gelap dan tak terduga.

Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dapat mengubah dinamika pernikahan mereka. Duta diam-diam menjalin hubungan dengan Vania (Shania Gracia), sementara Citra perlahan mulai dekat Konflik dalam hubungan Duta dan Citra dimulai ketika keduanya menghadapi pilihan-pilihan yang dengan Denis (Ciccio Manassero), sosok pria menawan yang hadir di tengah kerumitan hidupnya. Untuk menyelamatkan masalah rumah tangganya, Citra mengajukan sebuah solusi yang mengaburkan batas kesetiaan dan kebebasan dalam pernikahan kepada Duta.

Kehadiran Shania Gracia dan Ciccio Manassero turut menambah warna baru pada dinamika series ini. Chemistry keduanya dengan para pemain utama membuat hubungan semakin kompleks, sekaligus membuka berbagai kemungkinan konflik baru. Seiring konflik perselingkuhan yang memanas, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta perlahan mengungkap elemen misteri yang berpotensi semakin mengguncang keluarga serta reputasi Duta dan Citra.

Nantikan 10 episode dari iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta yang akan resmi tayang mulai 25 September 2026, hanya di iQIYI. Trailer perdana dan poster series ini dapat disaksikan melalui kanal media sosial resmi iQIYI Indonesia.

More Recommendations

VIDEO
Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!
MOVIE
3.3

Film The Tao Exorcist (2026) Horor Pengusiran Roh dengan Misteri Masa Lalu yang Menarik!

Film horor Asia kembali menghadirkan kisah pengusiran roh lewat The Tao Exorcist (2026) yang di garap oleh sutradara Hau-Jou Chiou. Dibintangi oleh Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang, film ini mencoba memadukan unsur horor supranatural, misteri keluarga, serta ritual pengusiran setan khas budaya Taoisme.Meski mengusung premis yang cukup familiar, The Tao Exorcist tetap menawarkan pengalaman menonton yang seru berkat atmosfer mencekam dan misteri yang perlahan terungkap sepanjang cerita.Cerita yang Sederhana, tetapi Tetap Menarik DiikutiDari segi cerita, The Tao Exorcist sebenarnya tidak menghadirkan alur yang terlalu rumit. Premis tentang pengusiran roh jahat dan balas dendam dari masa lalu memang sudah cukup sering digunakan dalam genre horor Asia.Namun, film ini berhasil mengemas konfliknya dengan cukup baik. Misteri demi misteri dibuka secara bertahap, sehingga penonton tetap memiliki alasan untuk terus mengikuti perjalanan para karakternya hingga akhir film.Meskipun beberapa twist terasa mudah ditebak, penyajian ceritanya masih cukup efektif dalam menjaga rasa penasaran. Tempo yang tidak terlalu cepat juga membantu penonton memahami hubungan antara para karakter dan latar belakang konflik yang menjadi inti cerita.Akting Para Pemain Yang Cukup BagusPenampilan Virginia Chien, Kaiser Chuang, Kuang-Yao Fan, Tien-Hsin, Yu-Ning Tsao, dan Chloe Xiang berhasil membawa karakter masing-masing dengan cukup meyakinkan. Interaksi antar karakter terasa natural, terutama ketika mereka harus menghadapi situasi penuh teror dan ketegangan.Walaupun tidak menghadirkan penampilan yang benar-benar luar biasa, para pemain mampu menjalankan perannya dengan baik dan mendukung jalannya cerita.Jumpscare & Adegan Gore yang Cukup EfektifSebagai film horor, The Tao Exorcist cukup berhasil menghadirkan suasana mencekam. Beberapa adegan jumpscare mampu memberikan efek kejut tanpa terasa berlebihan atau dipaksakan.Selain itu, film ini juga menyisipkan sejumlah adegan gore yang meskipun tidak terlalu eksplisit, tetap mampu menghadirkan rasa tidak nyaman dan shock bagi penonton. Adegan-adegan tersebut berhasil memperkuat nuansa menyeramkan yang dibangun sepanjang film.Perpaduan antara ritual pengusiran roh, kemunculan sosok menyeramkan, serta unsur gore membuat film ini tetap terasa intens, terutama bagi penggemar horor supranatural Asia.Visual dan Sinematografi yang Cukup Menunjang AtmosferDari sisi visual, Hau-Jou Chiou menghadirkan sinematografi yang cukup baik dalam membangun atmosfer horor. Penggunaan pencahayaan gelap, komposisi gambar yang sempit, serta desain lokasi yang suram mampu menciptakan rasa tegang di beberapa adegan penting.Sayangnya, secara keseluruhan visual film ini masih terasa kurang maksimal untuk meninggalkan kesan mendalam. Ada beberapa momen yang sebenarnya memiliki potensi untuk tampil lebih ikonik, tetapi kurang dieksplorasi secara maksimal.Meski begitu, kualitas visual yang ditawarkan tetap mampu mendukung cerita dan menjaga nuansa horor sepanjang film.KesimpulanThe Tao Exorcist (2026) memang bukan film horor terbaik tahun ini, tetapi juga jauh dari kata mengecewakan. Ceritanya sederhana, namun tetap menarik untuk diikuti hingga akhir. Unsur pengusiran roh yang diangkat berhasil memberikan nuansa khas, sementara jumpscare dan adegan gore menghadirkan beberapa momen yang cukup mengejutkan.Untuk SOBAT KTF penggemar film horor Asia yang menyukai cerita tentang kutukan, ritual pengusiran roh, dan misteri masa lalu yang perlahan terungkap, The Tao Exorcist cocok banget menjadi pilihan yang menghibur bagi kalian yang sedang mencari tontonan horor ringan dengan sentuhan misteri dan supranatural.

Abdul Haris 08 Aug 2026
VIDEO
Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!
MOVIE
4.0

Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!

Ada film yang sejak awal memang ingin membuat penontonnya menangis. Namun, ada juga film yang tidak perlu melakukan itu karena ceritanya sendiri sudah cukup kuat untuk membuat kita tersentuh. Dear You (2026) termasuk salah satunya.Disutradarai sekaligus ditulis oleh Hongchun Lan, Leng Yang, Xuanxuan Zheng, dan Liyun Zhu, film ini menghadirkan sebuah cerita yang terasa hangat dan manusiawi.Dibintangi oleh Sitong Li sebagai Xie Nanzhi, Yantong Wang sebagai Zheng Musheng, Shaoqing Wu sebagai Old Ye Shurou, Runqi Zheng sebagai Xiaowei, Xiaohui Wang sebagai Young Ye Shurou, Shuguang Zhao sebagai Xie Zehua, Deru Li sebagai Auntie Ru, Shuhao Li sebagai Father of Chuyuan, serta Usha Seamkhum sebagai Old Xie Nanzhi, film ini perlahan mengajak penonton mengikuti perjalanan hidup para karakternya.Film ini tidak menawarkan cerita yang spektakuler atau penuh kejutan, tetapi karena film ini berhasil memberikan banyak rasa dalam satu cerita.Filmnya Terasa Hangat Hal pertama yang paling terasa dari Dear You adalah kehangatannya.Film ini punya kemampuan untuk membuat penonton tersenyum, tertawa, terharu, bahkan merasa sedikit sesak di beberapa momen. Menariknya, semua emosi tersebut muncul dengan cukup natural.Film ini tidak terasa seperti sedang memaksa kita untuk menangis. Tidak ada adegan yang terasa sengaja dibuat terlalu melodramatis hanya demi mendapatkan air mata penonton. Sebaliknya, emosi dibangun perlahan melalui hubungan antarkarakter, pengalaman hidup, pilihan yang mereka ambil, serta berbagai hal sederhana yang mereka lalui.Justru karena tidak terlalu memaksa, ketika sebuah adegan emosional datang, dampaknya terasa lebih kuat.Ada sesuatu yang sederhana tetapi relatable dari perjalanan para karakternya. Kita bisa melihat bagaimana waktu, keadaan, hubungan, dan berbagai keputusan dalam hidup perlahan membentuk seseorang.Dan ketika melihat perjalanan tersebut sampai ke titik tertentu, kita sebagai penonton seolah ikut merasakan perjalanan hidup mereka.Jalan Ceritanya Mudah Untuk DiikutiSalah satu kekuatan Dear You adalah cara film ini bercerita.Alurnya memang cenderung pelan. Jadi, buat penonton yang terbiasa dengan film dengan tempo cepat atau cerita yang dipenuhi konflik besar, mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian.Namun, menurut minpas justru tempo yang pelan ini menjadi salah satu kekuatan film.Dear You tidak terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Film memberikan cukup banyak ruang bagi para karakter untuk berkembang dan bagi penonton untuk mengenal mereka.Ceritanya juga tidak dipenuhi twist yang aneh-aneh atau kejutan yang sengaja dimasukkan hanya untuk membuat penonton terkejut.Sebaliknya, film memilih untuk membangun cerita dari hal-hal sederhana.Setiap adegan terasa memiliki fungsi. Perlahan-lahan kita mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.Karena itulah ketika cerita akhirnya sampai pada bagian-bagian emosionalnya, kita sudah cukup peduli terhadap karakter-karakternya.Jadi, meskipun secara premis cerita Dear You mungkin terdengar sederhana, eksekusinya membuat perjalanan tersebut tetap menarik untuk diikuti.Akting Para Pemain yang MeyakinkanDari sisi akting, para pemain Dear You juga memberikan performa yang cukup solid.Sitong Li sebagai Xie Nanzhi mampu membawa karakter tersebut dengan cukup natural. Begitu juga dengan Yantong Wang sebagai Zheng Musheng yang mampu memberikan dinamika menarik dalam hubungan antarkarakter.Namun, salah satu hal yang menurut MINPAS patut diapresiasi adalah pemilihan pemeran untuk karakter dalam versi muda dan tua.Kemiripan fisik antara pemeran karakter ketika masih muda dengan versi mereka ketika sudah tua terasa cukup meyakinkan. Hal ini memang terlihat seperti detail kecil, tetapi sangat membantu menjaga kontinuitas cerita.Ketika sebuah karakter diperlihatkan dalam dua fase kehidupan yang berbeda, kita tidak merasa sedang melihat dua orang yang benar-benar berbeda. Ada kemiripan dari wajah maupun aura yang membuat perjalanan waktu dalam cerita terasa lebih masuk akal.Selain itu, performa para pemain juga terasa pas dengan karakter masing-masing. Tidak ada yang terasa terlalu berlebihan atau berusaha mencuri perhatian.Semuanya bermain dalam porsinya masing-masing dan saling melengkapi.Punya Visual yang CantikSelain ceritanya yang hangat, Dear You juga menawarkan visual yang cantik.Film ini membawa penonton kembali ke atmosfer China pada era 1950-an hingga 1970-an, dan detail periodenya terasa cukup hidup.Mulai dari kostum, lingkungan, suasana kota, interior tempat tinggal, hingga berbagai detail kecil yang ada di dalam frame, semuanya membantu membangun atmosfer zamannya.Film tidak hanya sekadar mengganti pakaian karakter dengan kostum klasik, tetapi juga berusaha membuat dunianya terasa seperti sebuah tempat yang benar-benar ditinggali oleh para karakter.Sinematografinya pun terasa nyaman untuk dinikmati, penggunaan warna dan pencahayaan mendukung nuansa hangat yang menjadi salah satu identitas film ini. Ada banyak shot yang terasa sederhana, tetapi tetap indah karena mampu menangkap atmosfer dan emosi dari sebuah adegan.Visualnya tidak terasa terlalu berlebihan atau dibuat hanya untuk terlihat cantik. Justru kesederhanaannya yang membuat Dear You terasa semakin dekat dengan cerita yang ingin disampaikan.Film Yang Punya Banyak RasaHal menarik lainnya adalah bagaimana Dear You mampu mencampurkan berbagai macam emosi tanpa membuatnya terasa berantakan.Ada komedi yang bisa membuat kita tersenyum, ada juga momen-momen romantis yang terasa manis.Ada pula drama keluarga dan kehidupan yang perlahan membawa cerita ke arah yang lebih emosional.Perpindahan dari satu emosi ke emosi lainnya juga terasa cukup natural. Film tidak terus-terusan berada dalam suasana sedih, sehingga ketika sebuah momen emosional datang, efeknya justru terasa lebih kuat.Inilah salah satu alasan mengapa Dear You bisa terasa begitu hangat.Film ini seperti mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah hanya berisi satu jenis emosi.Ada bahagia, ada sedih, ada kehilangan, ada tawa, ada penyesalan, dan ada kenangan yang tetap tinggal meskipun waktu terus berjalanEnding yang PasBagian ending juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini berhasil.Dear You tidak memilih untuk menutup ceritanya dengan cara yang terlalu berlebihan, film ini memberikan sebuah penyelesaian yang terasa sesuai dengan perjalanan yang sudah dibangun sejak awal, tidak perlu terlalu banyak drama tambahan atau memaksakan twist besar, tapi setelah film selesai, ada perasaan seperti masih ingin memikirkan perjalanan mereka.KesimpulanDear You adalah salah satu film Asia yang paling berkesan tahun ini. Film ini memang sederhana, alurnya juga cenderung pelan dan tidak menawarkan banyak kejutan besar , justru kesederhanaan tersebut yang menjadi kekuatannya.Dear You adalah film yang hangat, lucu, sedih, romantis, dan menyentuh tanpa terasa menggurui.Film ini tidak memaksa kita untuk mencintai karakternya tapi film ini hanya memberikan waktu kepada kita untuk mengenal mereka, mengikuti perjalanan mereka, dan akhirnya membiarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan genre film keluarga yang hangat, Dear You layak banget masuk daftar tontonan kalian.

Abdul Haris 08 Aug 2026
HADIRKAN TARKAM YANG UNIK DAN PENUH INTRIK, FILM BAPAKMU KIPER SIAP TAYANG 3 SEPTEMBER 2026 !
NEWS

HADIRKAN TARKAM YANG UNIK DAN PENUH INTRIK, FILM BAPAKMU KIPER SIAP TAYANG 3 SEPTEMBER 2026 !

Jakarta, 3 September 206 - Entelekey Media Indonesia dan Entelekey Sinema Indonesia (ESI) menghadirkan Film Bapakmu Kiper yang tidak sekadar menghadirkan pertandingan sepak bola sebagai latar cerita. Lewat dunia sepak bola antar kampung alias tarkam, film arahan sutradara Ody Harahap itu, mengangkat sisi yang selama ini jarang tersentuh layar lebar, sisi yang penuh warna, gengsi, dan drama tersendiri di luar hasil akhir pertandingan yang siap tayang di bioskop pada 3 September 2026. Tarkam dikenal luas sebagai denyut nadi sepak bola akar rumput Indonesia. Di balik kesederhanaan lapangan sederhana, ada rivalitas antar kampung yang kerap membawa gengsi dan kebanggaan lokal, hingga tradisi saweran, di mana penonton menyawer pemain yang tampil apik langsung di lapangan sebagai bentuk apresiasi. Tak jarang pula, pertandingan tarkam turut diramaikan pemain dari liga profesional yang sengaja turun kelas demi honor tambahan sekaligus menjaga performa di luar musim kompetisi resminya.Segala bumbu dan intrik khas tarkam inilah yang menurut sutradara Ody Harahap menjadi daya tarik utama untuk diangkat ke layar lebar"Di balik pertandingan, ada persaingan, ada hiburan, bahkan fenomena unik seperti saweran," ujar Ody.Ia menambahkan bahwa hal-hal semacam itulah yang membuat setiap laga tarkam terasa lebih hidup dibanding sekadar hasil skor akhir, lengkap dengan tekanan, harapan, dan relasi sosial yang tumbuh di lingkungan kampung.Kekayaan cerita di balik dunia tarkam ini pula yang menjadi salah satu alasan ESI mantap menjadikannya proyek produksi mandiri pertama mereka. Garnet Geraldine Tanja, Direktur Utama ESI sekaligus produser Bapakmu Kiper, melihat sisi otentik tarkam sebagai kekuatan cerita yang jarang dimiliki film bertema olahraga lainnya."Tarkam itu bukan cuma soal menang kalah di lapangan. Ada gengsi kampung, ada drama di pinggir lapangan, bahkan ada saweran yang bikin suasana makin seru. Semua bumbu itu yangGarnet justru bikin kami yakin ceritanya akan dekat di hati penonton Indonesia," ujar Garnet.Perpaduan antara drama keluarga dan warna-warni dunia tarkam inilah yang diharapkan menjadikan Bapakmu Kiper sebagai tontonan yang menghibur sekaligus merepresentasikan sisi lain sepak bola Indonesia yang selama ini jarang terekspos ke publik luas.Semua bumbu dan intrik itu terangkum dalam perjalanan Dino (Ali Fikry), remaja 18 tahun yang menyimpan kemarahan mendalam pada ayahnya, Warto (Fedi Nuril), mantan jago tarkam yang juga dikenal sebagai penjudi. Dino menganggap ayahnya sebagai penyebab kematian sang ibu, luka yang membuatnya menjaga jarak selama bertahun-tahun. Titik balik muncul ketika Dino mendapat kesempatan mengikuti Tarkam Super Cup, ajang yang bisa membuka jalannya menuju sepak bola profesional sekaligus mengubah hidupnya. Namun jelang babak final, tim andalan Dino justru direbut pihak lain, memaksa Warto turun tangan membentuk tim baru berisi para pemain senior dengan segala keterbatasan mereka. Bapakmu Kiper juga ingin menghadirkan bentuk apresiasi yang terasa nyata. Sosok seperti Warto merepresentasikan banyak kepala keluarga di kehidupan sehari-hari, mereka yang tidak selalu tampil menonjol seperti mencetak gol, namun perannya bertahan menjaga keluarga di tengah kerasnya hidup justru menjadi fondasi yang paling krusial.“Warto ini kayak gambaran banyak ayah di luar sana, yang perannya sering nggak kelihatan tapi sebenarnya paling krusial. Nggak harus selalu mencetak gol, yang penting selalu ada buat bertahan dan melindungi keluarganya,” ujar Fedi.Sudut pandang berbeda datang dari Ali Fikry yang memerankan Dino. Baginya, proses syuting justru menjadi pengingat bahwa kemarahan yang Dino simpan bertahun-tahun bukan satu-satunya jalan, dan setiap orang, termasuk karakter yang ia perankan, selalu punya kesempatan kedua untuk berdamai dengan masa lalunya."Memaafkan enggak akan selalu jadi proses yang mudah, tapi selalu layak untuk diusahakan," kata Ali.Perjalanan menuju Tarkam Super Cup ini pun menjadi lebih dari sekadar pertandingan. Ia menjelma perjalanan menghadapi masa lalu, memperjuangkan masa depan, dan memperbaiki hubungan yang lama retak antara seorang ayah dan anak.Bapakmu Kiper disutradarai oleh Ody Harahap, naskah ditulis Titien Wattimena dan Aaron Hart bersama tim Katatinut. Selain Fedi Nuril, dan Ali fikry, Bapakmu Kiper menghadirkan Tanta Ginting, Augie Fantinus, dan pria yang dijuluki Raja Tarkam, King Polo. Bapakmu Kiper tayang serentak di bioskop mulai 3 September 2026.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026
MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!
MOVIE
3.0

MUNAFIK : Melawan Iblis Horor Religi yang Sunyi, Mencekam, dan Penuh Perlawanan Batin!

Munafik: Melawan Iblis hadir sebagai film horor religi yang membawa kembali salah satu cerita horor populer asal Malaysia ke layar lebar Indonesia. Film ini digarap oleh Angger Yudha Setiawan dan Guntur Soeharjanto, dengan skenario yang ditulis oleh M. Ali Ghifari dan Syamsul Yusof.Sebagai sebuah remake dari film yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis memiliki tantangan tersendiri. Film tidak hanya dituntut untuk menghadirkan kembali elemen-elemen yang sudah dikenal oleh penggemar versi aslinya, tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman yang tetap terasa relevan bagi penonton Indonesia. Untungnya, film ini cukup berhasil menjalankan tugas tersebut.Alur yang Sederhana tetapi Cukup KuatSalah satu hal yang membuat Munafik: Melawan Iblis menarik adalah bagaimana film ini membangun ceritanya dengan alur yang relatif sederhana, tetapi tetap mampu memberikan rasa penasaran.Film tidak mencoba memasukkan terlalu banyak konflik secara bersamaan. Cerita lebih banyak diarahkan pada perjalanan karakter dalam menghadapi gangguan supernatural sekaligus pergulatan batin yang mereka alami.Pendekatan tersebut membuat film terasa cukup mudah untuk diikuti. Penonton tidak dibuat terlalu sibuk memahami berbagai macam aturan dunia supernatural yang rumit. Sebaliknya, fokus utama tetap berada pada karakter, konflik spiritual, serta bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan mereka. Sebagai sebuah remake, film ini juga masih mempertahankan identitas utama Munafik sebagai horor religi. Namun, sentuhan produksi Indonesia membuat film memiliki karakter tersendiri sehingga tidak sekadar terasa seperti memindahkan cerita dari satu negara ke negara lainnya.Akting Para Pemain yang Apik dan TotalKekuatan lain dari film ini terletak pada jajaran pemainnya.Arya Saloka sebagai Ustad Adam mampu memberikan penampilan yang meyakinkan sebagai sosok yang harus berhadapan dengan konflik spiritual sekaligus persoalan dalam dirinya sendiri. Karakternya tidak hanya dituntut untuk tampil sebagai seorang tokoh agama yang kuat, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ketakutan, keraguan, dan kelemahan.Sementara itu, Acha Septriasa memberikan performa yang cukup emosional sebagai Fitri. Ekspresi, gestur, dan perubahan emosinya mampu membuat karakter tersebut terasa hidup.Dimas Aditya juga tampil solid sebagai Ustad Anwar. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam dinamika cerita, terutama ketika film mulai mempertemukan persoalan agama, kepercayaan, dan teror supernatural. Begitu pula dengan Muhammad Faqih Alaydrus, Donny Damara, Nova Eliza, dan Izabel Jahja yang masing-masing memberikan penampilan yang cukup total terhadap karakter mereka.Menariknya, akting dalam film ini tidak hanya mengandalkan adegan teriakan atau ekspresi ketakutan. Beberapa adegan justru terasa lebih efektif ketika para pemain menampilkan ketakutan melalui ekspresi wajah, tatapan, maupun gestur tubuh.Hal tersebut membuat teror terasa lebih manusiawi dan tidak berlebihan.Make Up Horor yang Tidak BerlebihanSalah satu keputusan yang patut diapresiasi dari Munafik: Melawan Iblis adalah penggunaan make up horornya.Film tidak terlalu bergantung pada tampilan wajah menyeramkan yang berlebihan. Karakter-karakter yang mengalami gangguan supernatural tidak selalu dibuat dengan visual yang ekstrem atau penuh efek khusus.Pendekatan seperti ini justru membuat beberapa momen terasa lebih meyakinkan.Horor tidak harus selalu memperlihatkan sosok dengan wajah mengerikan. Terkadang, ekspresi manusia yang terlihat tidak normal, perubahan gestur tubuh, atau kehadiran sosok dalam kondisi yang tidak seharusnya sudah cukup untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Film ini memahami hal tersebut dan menggunakan make up horor secara cukup terukur.Atmosfer Horor yang “Sunyi” dan MencekamJika ada satu elemen yang cukup menonjol dari Munafik: Melawan Iblis, atmosfer horornya adalah salah satunya.Alih-alih terus-menerus memberikan kejutan atau jumpscare, film lebih banyak memanfaatkan kesunyian untuk membangun ketegangan. Ruang kosong, suasana malam, pencahayaan yang minim, serta momen ketika karakter berada dalam keadaan sendirian menjadi bagian penting dalam menciptakan rasa takut.Kesunyian tersebut justru membuat penonton merasa seperti sedang menunggu sesuatu terjadi.Dan ketika sebuah suara, gerakan, atau sosok akhirnya muncul, efeknya menjadi terasa lebih kuat karena ketegangan sudah dibangun sebelumnya.Pendekatan ini juga membuat horornya terasa lebih atmosferik. Penonton tidak hanya disuguhi sesuatu yang menakutkan secara visual, tetapi juga diajak merasakan ketidaknyamanan melalui suasana yang dibangun sepanjang film.Horor yang Tidak Hanya Berbicara Tentang IblisDi balik segala teror supernaturalnya, Munafik: Melawan Iblis sebenarnya membawa pembahasan yang lebih dalam mengenai manusia dan dirinya sendiri. Film tidak hanya menempatkan iblis sebagai sumber kejahatan yang harus dikalahkan. Konflik spiritual yang dihadirkan juga menjadi gambaran mengenai bagaimana manusia berhadapan dengan rasa takut, keraguan, dosa, kelemahan, dan berbagai sisi gelap dalam dirinya sendiri.Dari sinilah pesan moral film terasa cukup kuat:Kemenangan melawan iblis harus dimulai dari melawan diri sendiri.”Pesan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita.Sebab, sebelum manusia mampu menghadapi sesuatu yang berada di luar dirinya, mereka terlebih dahulu harus mampu mengalahkan ketakutan, kesombongan, keraguan, serta kelemahan yang ada di dalam diri. Dengan begitu, iblis dalam film ini tidak hanya dapat dimaknai sebagai sosok supernatural, tetapi juga sebagai simbol dari berbagai hal buruk yang dapat menguasai manusia ketika mereka kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Remake yang Berhasil Memiliki Identitas SendiriSebagai film remake yang berasal dari Malaysia, Munafik: Melawan Iblis tentu akan selalu dibandingkan dengan versi aslinya.Namun, film ini cukup berhasil berdiri dengan identitasnya sendiri.Kekuatan utamanya bukan terletak pada usaha untuk membuat sesuatu yang sepenuhnya berbeda, melainkan bagaimana cerita yang sudah dikenal dapat dikemas kembali dengan pendekatan produksi dan karakter yang sesuai dengan penonton Indonesia.Hasilnya adalah sebuah film horor religi yang masih memiliki nuansa Munafik, tetapi tetap terasa sebagai film yang memiliki wajah baru.Kesimpulan Munafik: Melawan Iblis merupakan remake horor religi yang cukup berhasil menghadirkan cerita dengan alur yang menarik dan mudah diikuti. Film ini tidak hanya mengandalkan teror supernatural, tetapi juga memberikan ruang yang cukup besar untuk perkembangan karakter dan konflik batin. Film ini mengajak penonton melihat bahwa terkadang musuh terbesar manusia bukanlah sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan kelemahan yang ada di dalam dirinya sendiri.Untuk SOBAT KTF yang menyukai film bergenre Horor Religi & Supernatural, film ini cukup bagus dan sangat recommended untuk masuk ke watchlist kalian!

Rahmadandi Desky Prayuda 04 Sep 2026
Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan
MOVIE
2.3

Ketika Pikiran Sendiri Menjadi Sumber Ketakutan

Film horor Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan berbagai pendekatan baru dalam menyampaikan rasa takut. Tidak semuanya harus mengandalkan jumpscare atau sosok menyeramkan untuk membuat penonton merasa tidak nyaman. Hasut mencoba mengambil jalur tersebut dengan menghadirkan psychological horror yang lebih banyak bermain dengan pikiran, ketakutan, prasangka, serta kondisi psikologis para karakternya.Film ini digarap sekaligus ditulis oleh Ilya Sigma, dengan bantuan Priesnanda Dwisatria. Hasut mencoba membangun kengerian melalui kondisi mental karakter dan bagaimana sebuah pikiran negatif dapat berkembang menjadi sesuatu yang semakin mengganggu.Psychological Horror yang Bermain dengan PikiranSalah satu hal yang cukup menarik dari Hasut adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan jumpscare sebagai sumber ketakutan. Film ini lebih banyak mengajak penonton masuk ke dalam kondisi psikologis karakter dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.Rasa takut dalam film ini muncul dari ketidakpastian. Penonton diajak untuk ikut merasakan kegelisahan, kecurigaan, dan tekanan yang dialami oleh karakter-karakternya. Pendekatan seperti ini membuat Hasut terasa berbeda dibandingkan film horor yang lebih konvensional.Ketika sebuah film psychological horror berhasil membuat penonton mempertanyakan apakah sesuatu yang terjadi benar-benar nyata atau justru merupakan bagian dari kondisi psikologis karakter, di situlah rasa tidak nyaman mulai terbentuk.Hasut memiliki beberapa momen yang mencoba memainkan hal tersebut. Film tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, sehingga penonton harus memperhatikan situasi dan perubahan karakter untuk memahami apa yang sedang terjadi.Musuh Terbesar Bisa Datang dari Pikiran SendiriPesan yang paling terasa dari Hasut adalah bagaimana terkadang musuh terbesar kita justru adalah pikiran kita sendiri.Ketakutan, prasangka, kecemasan, dan pikiran negatif yang terus berkembang dapat memengaruhi cara seseorang melihat keadaan di sekitarnya. Sesuatu yang awalnya mungkin terlihat sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan ketika terus dipenuhi oleh rasa takut dan kecurigaan.Inilah salah satu aspek yang membuat Hasut cukup menarik untuk dibahas. Film ini tidak hanya berusaha membuat penonton takut terhadap sesuatu yang berada di luar diri mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pikiran manusia sendiri dapat menjadi sumber teror.Konsep tersebut sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas untuk dikembangkan. Ketika ketakutan dan pikiran negatif mulai mengambil alih, batas antara realitas dan persepsi menjadi semakin sulit dibedakan. Akting Dari Para PemainDari sisi pemain, Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova mampu memberikan penampilan yang cukup bagus.Keempat pemain berhasil membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan, terutama ketika harus menunjukkan sisi emosional dan tekanan psikologis yang menjadi bagian penting dari film.Karena Hasut lebih banyak bermain pada kondisi mental karakter, ekspresi, gestur, serta perubahan emosi menjadi bagian yang cukup penting. Para pemain mampu memberikan energi yang sesuai dengan atmosfer film sehingga ketegangan yang dibangun tetap terasa.Chemistry antarpemain juga cukup membantu dalam membuat hubungan antarkarakter terasa lebih hidup dan tidak sekadar menjadi bagian dari cerita horor.Sayangnya, Tidak Semua Misteri Terjawab dengan Memuaskan. Meskipun memiliki konsep yang menarik, Hasut masih memiliki beberapa kekurangan dalam eksekusinya.Ada beberapa elemen cerita yang terasa belum dijelaskan dengan cukup jelas. Latar belakang beberapa karakter juga terasa terlalu singkat sehingga perkembangan dan motivasi mereka tidak selalu mendapatkan ruang yang cukup. Hal tersebut kemudian membuat beberapa bagian film terasa menyisakan pertanyaan. Setelah film selesai, masih ada beberapa hal yang membuat bertanya-tanya mengenai maksud maupun alasan di balik kejadian tertentu.Sebenarnya, meninggalkan pertanyaan kepada penonton bukan sesuatu yang selalu menjadi masalah dalam film psychological horror. Justru, film dengan genre seperti ini memang sering memberikan ruang untuk interpretasi.Namun, perbedaannya adalah antara misteri yang sengaja dibiarkan terbuka dengan informasi yang terasa seperti belum mendapatkan penjelasan yang cukup. Hasut terkadang berada di antara keduanya, sehingga beberapa bagian terasa kurang maksimal dalam menyampaikan keseluruhan ceritanya.KesimpulanDengan konsep psychological horror yang menarik, pesan yang cukup kuat, serta penampilan para pemain yang solid, Hasut berhasil memberikan pendekatan horor yang berbeda. Namun, eksekusinya masih memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam memberikan penjelasan terhadap sejumlah elemen cerita dan latar belakang karakter.Film ini cocok untuk SOBAT KTF yang menyukai film horor psychological, cerita yang bermain dengan kondisi mental karakter, serta horor yang membuat penonton ikut berpikir dan mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pieter Siaahan 02 Oct 2026
VIDIO SPORTS FESTIVAL KEMBALI SEBAGAI AJANG OLAHRAGA TERBESAR DI INDONESIA, SATUKAN BERAGAM IP SKALA GLOBAL DAN NASIONAL!
NEWS

VIDIO SPORTS FESTIVAL KEMBALI SEBAGAI AJANG OLAHRAGA TERBESAR DI INDONESIA, SATUKAN BERAGAM IP SKALA GLOBAL DAN NASIONAL!

Datangkan Atlet Legendaris Bola Dunia Christian Vieri dan Hadirkan Tiga Piala BergengsiDunia (Premier League, Serie A, Ligue 1) dan Indonesia (BRI Super League) dalam Satu Festival ! Jakarta, 10 September 2026 – Setelah sukses menghadirkan festival olahraga pada tahun lalu, Vidio Sports Festival 2026 kembali pada 26–27 September 2026 di Plaza Parkir Timur Senayan, Jakarta, gratis tanpa dikenakan biaya masuk. Mengusung konsep sportainment, festival ini mempertemukan 10 IP olahraga global dan lokal, atlet legendaris dan atlet, komunitas, selebriti, serta para fans dalam satu ruang yang dirancang untuk menambah cara penggemar menikmati olahraga, lebih dari sekedar menonton, tetapi bisa bermain, berinteraksi, dan merasakan langsung atmosfer olahraga yang selama ini hadir melalui layar.Sebagai Home of Sports, Vidio menghadirkan beragam dunia olahraga dalam satu festival, mulai dari sepak bola, motorsport, badminton, voli, hingga padel. Deretan IP dan mitra olahraga seperti Premier League, Serie A, Paris Saint-Germain (PSG), Formula 1 (beIN Sports, MotoGP, BRI Super League, Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI), Badminton World Federation (BWF), Triumph Fight, dan LaLiga (beIN Sports) akan membawa pengalaman khas masing-masing lebih dekat kepada fans. Mulai dari berfoto bersama trofi kompetisi sepak bola bergengsi Eropa, bertemu atlet legendaris dunia Christian Vieri, menjajal simulator Formula 1, hingga berpartisipasi langsung dalam pertandingan bersama para atlet legendaris Indonesia Bambang Pamungkas dan Greysia Polii, serta atlet sepakbola Mauro Zijlstra; Atlet voli Wilda, Doni Haryono, Maya Indri; dan deretan selebriti.Pengalaman tersebut semakin lengkap dengan Trophy Showcase, yang menghadirkan trofi dari berbagai kompetisi bergengsi. Pengunjung dapat melihat dari dekat dan mengabadikan momen bersama Trofi Premier League, Serie A, Ligue 1, dan Super League, membawa ikon yang selama ini hanya terlihat melalui layar ke ruang interaksi langsung dengan fans.Dikemas dalam dua hari penuh dengan experience menarik, Vidio Sports Festival 2026 membagi area festival ke dalam 8 zona aktivitas utama:1. Trophy Showcase & Fanmeet AreaAreaSesi jumpa fans bersama atlet internasional Christian Vieri, atlet nasional, serta selebriti seperti Maria Theodore dan Brandon Salim. 2. Sports ProgramRangkaian program kesehatan dan kompetisi cabang olahraga interaktif. 3. Game CornerZona permainan untuk umum, termasuk simulator F1. 4. Liga AkamsiTurnamen sepak bola usia dini untuk mendukung pembinaan bakat-bakat muda Indonesia5. F1 Watch PartyArea nonton bareng (nobar) Formula 1 dengan atmosfer balap yang meriah. 6. Sports BazaarArea belanja serba ada yang menghadirkan apparel olahraga, makanan/minuman, serta merchandise olahraga. 7. Zumba SessionSesi senam Zumba masal di pagi hari yang dapat diikuti oleh seluruh pengunjung secara gratis. 8. Music Performance StagePanggung utama musik yang menghadirkan hiburan lintas genre.Format kompetisi program utama di Vidio Sports Festival 2026 dirancang untuk menyoroti nilaikebersamaan, semangat olahraga, serta inklusivitas. Adapun 4 pilar pertandingan utama mencakup:1. 5v5 Fun Football (1 Atlet + 1 Selebriti + 6 Warga dalam 1 tim) :Pertandingan sepak bola mini yang mempertemukan kombinasi atlet legendaris tanah air Bambang Pamungkas, talenta muda Mauro Zijlstra, content creator Wancoy, serta aktor Antonio Blanco, akan bermain bersama bersama 6 warga terpilih di setiap timnya.2. 2v2 Padel (1 Selebriti + 2 Warga dalam 1 tim) : Mewadahi tren olahraga padel yang tengah digandrungi, Vidio Sports Festival 2026 menggelar turnamen ganda padel. Figur publik seperti Daffa Ariq dan Pasming Based siap berpasangan langsung dengan warga untuk menunjukkan kemampuan mereka di lapangan padel. 3. 6v6 Volleyball (1 Atlet + 1 Selebriti + 8 Warga dalam 1 tim) :Cabor voli yang menarik perhatian besar masyarakat Indonesia akan menampilkan deretan atlet voli nasional seperti Wilda Nurfadhilah, Doni Haryono, dan Maya Indri bermain bersama 8 warga terpilih dalam format laga voli lapangan yang sengit dan seru.4. 2v2 Badminton (1 Atlet + 2 Warga dalam 1 tim) :Arena bulu tangkis Vidio Sports Festival 2026 akan menghadirkan peraih medali emas Olimpiade Greysia Polii, pemain bertalenta Agrippina, serta selebriti ternama Brandon Salim dan Maria Theodore. Dua Warga terpilih akan merasakan pengalaman berpasangan langsung dengan para juara di atas lapangan.Untuk menandai pembukaan rangkaian acara ini, Vidio menyelenggarakan acara Press Conference Vidio Sports Festival 2026 pada Rabu, 9 September 2026 bersama dengan perwakilan Vidio, I.League sebagai salah satu mitra IP olahraga Indonesia, dan atlet legendaris Bambang Pamungkas dan Greysia Polii.Teguh Wicaksono, Chief Marketing Officer Vidio, mengatakan dengan pilihan IP olahraga global dan lokal yang luas, Vidio konsisten membawa olahraga lebih dekat kepada masyarakat Indonesia, “Melalui Vidio Sports Festival (VSF) 2026, kami ingin mewujudkan misi tersebut tidak hanya melalui streaming, tetapi juga dengan memberikan kesempatan bagi fans dan masyarakat luas untuk berpartisipasi, lebih dekat dengan olahraga yang mereka cintai.Melanjutkan kesuksesan tahun lalu dengan lebih banyak mitra IP global dan lokal, kami membawa trofi ikonik, atlet legendaris, dan berbagai hiburan kepada fans yang menjadikan Vidio Sports Festival sebagai bagian dari budaya olahraga.Bambang Pamungkas, atlet legendaris sepakbola Indonesia, mengatakan bahwa Vidio Sports Festival merupakan wadah nyata untuk mempererat komunitas olahraga Indonesia.“Olahraga adalah bahasa universal yang punya kekuatan untuk menyatukan kita. Vidio Sports Festival menghadirkan ruang bagi fans, atlet, dan legenda untuk bertemu dan bermain bersama, sekaligus merayakan semangat olahraga sebagai sebuah komunitas.”Magdalene Ng, Executive Vice President, Marketing, Growth & Consumer, APAC beIN Sports, antusias menyambut kembalinya beIN SPORTS ke Vidio Sports Festival serta kesempatan untuk menghubungkan olahraga global dengan basis penggemar Indonesia yang beragam dan penuh antusiasme. “Indonesia memiliki salah satu komunitas penggemar olahraga yang paling antusias dan aktif di kawasan Asia Tenggara, dengan semakin banyak penggemar yang ingin merasakan pengalaman olahraga lebih dari sekadar menyaksikannya di layar. Melalui Vidio Sports Festival, beIN SPORTS dan Vidio membawa penggemar lebih dekat dengan olahraga yang mereka cintai, menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif, imersif, dan relevan dengan cara mereka menikmati serta terlibat dalam olahraga saat ini.”Sadikin Aksa, Direktur Komersial I.League, mengatakan kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk membawa semangat sepak bola lokal lebih dekat kepada komunitas penggemarnya,“Sepak bola adalah soal rasa memiliki. Melalui Vidio Sports Festival, I.League dapat membawa semangat sepak bola nasional lebih dekat kepada fans dan menciptakan ruang bagi mereka untuk berinteraksi langsung dengan ekosistem sepak bola yang mereka dukung"Selama dua hari, pengunjung juga berkesempatan membawa pulang hadiah dengan total nilai Rp50 juta melalui pengumpulan stamp di berbagai zona festival. Keseruan semakin lengkap dengan penampilan JKT48, Five Minutes, The Changcuters, Reality Club, Bernadya, dan Morfem yang akan mengisi panggung hiburan Vidio Sports Festival 2026.Saatnya membawa passion terhadap olahraga keluar dari layar. Hadir, bermain, bertemu para idola, dan rasakan langsung bagaimana olahraga, entertainment, dan komunitas bertemu di Vidio Sports Festival 2026 pada 26–27 September di Plaza Parkir Timur Senayan.

Admin Kupas Tuntas Film 10 Sep 2026
Jangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti
NEWS

Jangan Tertipu Image Couple Goals! iQIYI Original ‘Dalam Suka dan Dusta’ Ungkap Sisi Gelap di Balik Pernikahan Selebriti

Para pemeran series iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta berbagi pengalaman membangun chemistry antar pemain sekaligus mendalami karakter dengan pilihan dan konflik yang tidak sederhana.Jakarta, 24 September 2026 — iQIYI menggelar Gala Premiere iQIYI Original Dalam Suka Dan Dusta di CGV Pacific Place, Jakarta, yang dihadiri oleh jajaran pemeran utama: Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Ciccio Manassero, dan Shania Gracia. Dalam Gala Premiere tersebut, para pemain membagikan cerita di balik layar mengenai chemistry, dinamika hubungan hingga tantangan mengeksplorasi karakter dengan sisi dan pilihan yang beragam pada series yang disutradarai Hanny Saputra ini.Dalam screening eksklusif dua episode pertama, iQIYI Original Dalam Suka Dan Dusta memperlihatkan bahwa kehidupan couple goals selebritas Duta (Darius Sinathrya) dan Citra (Acha Septriasa) yang terlihat sempurna di depan layar, namun di belakang layar ternyata menyimpan konflik yang jauh lebih kompleks. Setelah perselingkuhan terungkap, keduanya mengambil keputusan yang tidak biasa, yaitu menjalani open marriage demi mempertahankan keluarga sekaligus citra mereka di depan publik.Alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan tersebut justru membuat hubungan mereka semakin kacau.Duta Bikin Penonton Naik Darah, Citra Justru Mengundang SimpatiDua episode pertama dalam iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta langsung memberikan gambaran bahwa Duta bukan suami green flag seperti yang terlihat di depan layar. Justru sebaliknya, Duta kerap memainkan emosi Citra melalui gaslighting, manipulasi, dan guilt-tripping, membuat Citra terus mempertanyakan dirinya sekaligus merasa bersalah atas situasi hubungan mereka.Di sisi lain, Citra juga sedang berusaha untuk mempertahankan citranya sebagai artis papan atas panutan penggemar. Ia harus menghadapi tantangan di industri hiburan, termasuk gosip dan pemberitaan miring mengenai hubungannya dengan Duta yang berpotensi menghancurkan image Citra di hadapan publik.Kondisi tersebut membuat Citra menjadi karakter yang tidak hanya mengundang rasa gemas, tapi juga simpati dari penonton. Di satu sisi, penonton dibuat bertanya-tanya mengapa Citra masih bertahan dalam hubungan toxic dengan Duta. Namun di sisi lain, terlihat jelas bahwa ada banyak hal yang Citra pertaruhkan, dari pernikahan, anak, keluarga, hingga karirnya.Menariknya, iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta juga menjadi pengalaman pertama Acha Septriasa membintangi series modern setelah sebelumnya lebih banyak dikenal melalui film. Menurut Acha, perbedaan proses kerja antara film dan series justru menjadi salah satu tantangan yang menarik dalam memerankan Citra.Waktu berdiskusi dengan Mas Hanny sebagai sutradara, saya baru menyadari bahwa proses mengerjakan film dan series ternyata cukup berbeda. Kalau di film, saya biasanya harus sudah memahami karakter dan latar belakang perjalanannya sejak awal. Di series karakter justru berkembang secara bertahap, layer demi layer. Jadi, saya juga tertantang untuk tidak langsung memahami Citra secara keseluruhan, tetapi benar-benar menemukan karakternya seiring cerita berjalan. Citra adalah karakter yang kompleks dengan berbagai keputusan yang mungkin tidak mudah dipahami penonton, jadi tantangan terbesar buat saya adalah memahami Citra tanpa menghakiminya,” ungkap Acha.Sementara itu, Darius Sinathrya mengaku justru menikmati tantangan memerankan Duta yang memiliki karakter sangat berbeda dari dirinya. “Saya suka banget sama karakter Duta. Dia tuh brengsek Bahkan kadang sebagai Darius saya ingin bilang, ‘Duta, jangan begitu lah, Bro.’ Tapi justru itu yang menantang!” kata Darius.Dari hari pertama syuting, Darius dan Acha berusaha membedah karakter Duta dan Citra bersama-sama, termasuk memahami background dan perjalanan mereka, supaya benar-benar tahu kenapa karakter ini mengambil keputusan tertentu. Setelah dibedah bersama, mereka jadi lebih clear seperti apa Duta dan Citra sebenarnya.Karakter Denis yang Membawa “Angin Segar” dan Vania yang Bikin Situasi MemanasDi tengah hubungan Duta dan Citra yang semakin retak, hadir Denis (Ciccio Manassero) yang membawa warna baru dalam kehidupan Citra. Sebagai sosok yang lebih muda dari Citra, Denis hadir dengan perhatian dan pendekatan yang membuat Citra nyaman, terutama ketika ia membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa dihakimi.Denis memang hadir untuk Citra di ruang-ruang ketika dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan tidak menghakiminya. Apalagi Denis lebih muda dari Citra, jadi tantangannya adalah bagaimana membuat hubungan mereka terasa natural. Yang menarik, di balik sosok Denis yang terlihat supportive dan green flag, ternyata ada banyak layer dalam dirinya yang cukup sulit saya pahami. Itu yang membuat karakter ini challenging untuk saya mainkan,” kata Ciccio.Sementara itu, Vania (Shania Gracia) hadir sebagai sosok yang ambisius dan berani mengejar apa yang diinginkannya. Karakter ini menjadi tantangan baru bagi Shania karena memiliki kepribadian yang jauh berbeda dari dirinya maupun citra yang selama ini dikenal publik.“Jujur, waktu pertama ditawari karakter Vania, saya sempat kaget dan bertanya-tanya apakah saya bisa membawakannya. Vania sangat berbeda dari diri saya dan image saya selama ini. Dia sangat ambisius, dan ketika mencintai seseorang, dia ingin orang tersebut menjadi miliknya sepenuhnya. Justru karena itu, saya merasa Vania menjadi tantangan baru buat saya dan banyak belajar dari Mas Hanny sebagai sutradara serta para cast senior selama prosesnya,” ucap Shania.Ketika Masalah Rumah Tangga Membuka Rahasia yang Lebih BesarIkhsan Sasmita, Head of Original Content Indonesia iQIYI, menjelaskan bahwa iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta menghadirkan kisah unik dengan mengangkat tema yang masih jarang dieksplorasi di Indonesia.Konsep open marriage adalah hal yang tabu dan cenderung dihindari dalam percakapan, meskipun fenomena ini menjadi bagian dari dinamika hubungan di masyarakat modern. Di sisi lain, kami melihat besarnya ketertarikan masyarakat terhadap seluk-beluk kehidupan selebritas. Melalui iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta, kami memadukan kedua fenomena sosial tersebut menjadi sebuah cerita yang kuat, relevan, dan penuh intrik,” ungkap Ikhsan.Ikhsan berharap series ini tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat mengajak penonton melihat kompleksitas sebuah hubungan dari berbagai sudut pandang serta membuka ruang diskusi mengenai kepercayaan, komitmen, dan pilihan dalam kehidupan pernikahan.Jangan lewatkan bagaimana kisah Citra, Duta, Denis, dan Vania berkembang hingga berbagai rahasia mulai terungkap. Saksikan 10 episode iQIYI Original Dalam Suka dan Dusta mulai 25 September 2026. Episode baru hadir setiap hari Jumat eksklusif di iQIYI.

Admin Kupas Tuntas Film 24 Sep 2026