Logo KTF KupasTuntasFilm

Aghniny Haque Terisolasi Dan Terjebak Teror Kutukan Di Desa Gringsing Ungkap Rahasia Kelam Dari Masa Lalu

PRESS RELEASE Indonesia Liputan Berita Movie

By Admin Kupas Tuntas Film | | 48 views

Dibintangi Aghniny Haque, Surya Saputra, dan pendatang baru Fatmah Nahdi, film Bisikan Desa Gringsing tayang di bioskop mulai 24 September 2026 !

Film horor misteri Bisikan Desa Gringsing meluncurkan poster dan trailer resminya. Karya penulis dan sutradara Ivander Tedjasukmana ini adalah sebuah kolaborasi produksi dari Mandela Pictures dan Oceanus Media Global (OMG Studios) yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Film Bisikan Desa Gringsing adalah film horor Indonesia pertama yang diproduksi dengan teknologi virtual production untuk memberikan pengalaman sinematik yang maksimal bagi penonton.

Official poster film Bisikan Desa Gringsing menampilkan dua wajah close up dari dua karakter utamanya, yaitu Hesti (Aghniny Haque) dan Fatimah (Fatmah Nahdi). Keduanya menampilkan ekspresi yang kontras, Hesti dengan sorot mata yang penuh kengerian, sementara Fatimah dengan ekspresi yang dingin dan jika dilihat dari jarak dekat, di matanya terlihat sosok-sosok warga Desa Gringsing. Keduanya menyiratkan misteri dan rahasia yang terselubung di Desa Gringsing.

Official trailer merupakan pengembangan dari video teaser yang telah dipublikasikan pada Juli lalu. Di kesempatan ini, cerita Bisikan Desa Gringsing mulai tersajikan. Dari Hesti yang mencari ayahnya yang hilang ke Desa Gringsing, sosok arwah Fatimah yang mengurung warga desa dan membunuh semua yang mencoba keluar dari desa, sampai kehadiran tokoh-tokoh lain yang menyimpan rahasianya masing-masing. Ada Gagan (Surya Saputra), Melati (Hesti Putri), Sukri (Kiki Narendra), Rudi (Iskak Khivano), dan masih banyak lagi. Potongan lagu karya Kunto Aji berjudul “Perjalanan Menawar Racun” kembali terdengar di official trailer ini, setelah muncul sebelumnya dalam video teaser yang lalu. Trailer ditutup dengan ucapan dari Melati, ”tidak akan ada dendam yang tak terbalaskan.”

“Melalui official trailer ini, kami mengajak penonton untuk masuk ke dunia Bisikan Desa Gringsing yang penuh dengan misteri. Penonton akan mengenali karakter-karakter di Desa Gringsing yang masing-masing menyimpan potongan cerita dan misteri yang mengikat seluruh warga Desa Gringsing.

Lagu 'Perjalanan Menawar Racun' dari Kunto Aji, yang menjadi soundtrack film ini, kami hadirkan lagi di sini untuk memperkuat atmosfer emosional dan nuansa misteri dari Bisikan Desa Gringsing,” tutur Manoj Samtani, produser Mandela Pictures.

“Ketika Manoj dan Lavesh pertama kali menceritakan kisah ini kepada saya, saya tahu bahwa kami harus menjadi bagian dari project ini. Aghniny dan Fatmah menghadirkan sesuatu yang luar biasa dalam memerankan Hesti dan Fatimah, mereka memberikan penampilan yang akan terus membekas bahkan setelah credit title berakhir. Di OMG, kami bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan para storyteller Indonesia, membawa visi-visi ambisius seperti ini kepada penonton di seluruh dunia,” ujar Nick GC Tan, Founder & CEO, Oceanus Media Global (OMG Studios).

Film Bisikan Desa Gringsing bercerita tentang HESTI (Aghniny Haque) yang mencari ayahnya yang hilang.

Pencarian membawanya ke sebuah tempat bernama Desa Gringsing, sebuah desa di mana semua warganya tinggal dalam ketakutan karena teror arwah bernama FATIMAH (Fatmah Nahdi) yang mengurung mereka. Siapa saja yang berusaha keluar dari desa, akan mati. Sementara keberadaan ayah Hesti masih misteri, rahasia demi rahasia di Desa Gringsing mulai terungkap, yang ternyata berkaitan dengan trauma masa lalu yang dialami Hesti.

“Yang menarik buat saya dari Bisikan Desa Gringsing bukan hanya misteri tentang apa yang terjadi di desa itu, tapi juga rahasia yang disimpan oleh setiap karakternya. Karena satu rahasia membuka rahasia yang lain. Saya berharap penonton mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi di Desa Gringsing?” ujar penulis dan sutradara Ivander Tedjasukmana.

Bisikan Desa Gringsing dibintangi oleh Aghniny Haque, Fatmah Nahdi, Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, dan Nazhira Rizka. Film Bisikan Desa Gringsing tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026, dilanjutkan perilisan di Malaysia, Singapura, Turki, dansosialnya Azerbaijan. Ikuti perkembangan Bisikan Desa Gringsing melalui akun-akun resmi media sosialnya.


More Recommendations

VIDEO
IP MAN : KUNG FU LEGEND Versi Ip Man Yang Berbeda Tapi Tetap Seru Di Nikmati
MOVIE
4.0

IP MAN : KUNG FU LEGEND Versi Ip Man Yang Berbeda Tapi Tetap Seru Di Nikmati

Nama Ip Man tentu sudah sangat melekat dengan sosok Donnie Yen melalui empat film yang sukses memperkenalkan seni bela diri Wing Chun kepada penonton

Abdul Haris 20 Jul 2026
The Dangers in My Heart The Movie : Romansa Sederhana yang Lucu, Hangat, dan Bikin Senyum-Senyum Sendiri!
MOVIE
3.0

The Dangers in My Heart The Movie : Romansa Sederhana yang Lucu, Hangat, dan Bikin Senyum-Senyum Sendiri!

The Dangers in My Heart The Movie hadir sebagai versi layar lebar dari salah satu anime romance-comedy yang cukup berhasil mencuri perhatian penonton melalui hubungan unik antara Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada. Film ini digarap oleh Hiroaki Akagi dengan membawa kembali nuansa khas serialnya sekaligus memberikan pengalaman yang lebih padat, fokus, dan sinematik.Bagi penonton yang sudah mengikuti ceritanya hingga Season 2, film ini terasa seperti sebuah perjalanan nostalgia yang kembali mempertemukan kita dengan karakter-karakter yang sudah familiar. Namun bagi yang mengharapkan sebuah cerita yang benar-benar berbeda dari serialnya, film ini mungkin terasa lebih seperti rangkuman yang dikemas ulang dengan beberapa materi baru.Cerita Sederhana, tetapi Dikembangkan dengan Sangat BaikSecara garis besar, cerita The Dangers in My Heart The Movie sebenarnya tidak terlalu rumit. Film ini masih berpusat pada dinamika hubungan Kyotaro Ichikawa dan Anna Yamada, dua karakter dengan kepribadian yang sangat berbeda tetapi perlahan semakin dekat satu sama lain.Tidak ada konflik besar yang harus membuat penonton berpikir keras. Film lebih memilih mengembangkan momen-momen kecil dalam kehidupan mereka menjadi sesuatu yang menarik.Inilah yang menjadi salah satu kekuatan terbesar film.Cerita yang sederhana tersebut mampu dikembangkan dengan baik melalui interaksi karakter, situasi canggung, kesalahpahaman, hingga berbagai kejadian kecil yang terasa relatable. Hubungan Kyotaro dan Anna juga tidak langsung dibuat menjadi romansa yang berlebihan. Perkembangannya terasa bertahap, sehingga penonton bisa menikmati proses keduanya semakin mengenal dan memahami satu sama lain.Yang menarik, kesederhanaan tersebut justru memberikan ruang yang cukup besar bagi film untuk bermain dengan komedi.Komedinya Berhasil Sampai ke PenontonSebagai film bergenre romance comedy, tentu salah satu pertanyaan terpenting adalah apakah jokes yang diberikan mampu membuat penonton tertawa.Jawabannya: cukup berhasil.Berbagai jokes yang muncul terasa menyatu dengan karakter dan situasi yang sedang terjadi. Humor tidak hanya muncul melalui dialog, tetapi juga dari ekspresi wajah, gerakan karakter, timing adegan, serta situasi absurd yang dialami Kyotaro dan teman-temannya.Beberapa momen bahkan terasa semakin lucu karena film mampu membangun situasinya terlebih dahulu sebelum memberikan punchline.Hal tersebut membuat humor yang ada tidak terasa terlalu dipaksakan. Penonton yang sudah mengenal karakter-karakternya sejak serial pun akan mendapatkan pengalaman yang lebih menyenangkan karena sudah memahami sifat dan kebiasaan mereka.Bahkan beberapa adegan sederhana bisa berubah menjadi momen yang membuat penonton ikut tertawa di dalam bioskop.Dan yang paling penting, komedi tersebut tidak menghilangkan sisi romantisnya. Film tetap mampu menjaga keseimbangan antara jokes, momen manis, kecanggungan, dan perkembangan hubungan.Penampilan Para Seiyu Menjadi Salah Satu Kekuatan FilmKekuatan lain datang dari penampilan para pengisi suara yang mampu menghidupkan karakter masing-masing.Ayaka Asai sebagai Chihiro Kobayashi mampu memberikan warna tersendiri terhadap karakternya. Sementara itu, Hina Yomiya sebagai Anna Yamada berhasil menghadirkan sisi Anna yang ceria, polos, sekaligus menggemaskan.Kemudian ada Shun Horie sebagai Kyotaro Ichikawa, yang memberikan karakterisasi suara yang cocok dengan sosok Kyotaro.Kyotaro memang membutuhkan pengisi suara yang mampu menunjukkan dua sisi dirinya: sisi luar yang terlihat pendiam dan canggung, serta sisi dalam dirinya yang sering kali dipenuhi pemikiran absurd dan berlebihan.Karakterisasi tersebut menjadi penting karena sebagian besar daya tarik Kyotaro berasal dari apa yang ada di kepalanya dibandingkan dengan apa yang ia tunjukkan kepada orang lain.Megumi Han sebagai Moeko Sekine juga memberikan performa yang cocok dengan karakter yang diperankannya. Kehadiran para seiyu membuat interaksi antarkarakter terasa hidup dan membantu jokes yang diberikan menjadi lebih efektif.Pada akhirnya, chemistry suara antar karakter menjadi salah satu alasan mengapa berbagai momen sederhana dalam film tetap terasa menyenangkan untuk diikuti.Visual Animasi yang Cukup Memanjakan MataDari sisi visual, The Dangers in My Heart The Movie memang bukan film anime yang menjadikan kualitas animasi spektakuler sebagai daya tarik utamanya.Namun, secara keseluruhan kualitas visualnya lumayan bagus, terutama ketika film memperlihatkan beberapa scene pemandangan dan adegan yang berlangsung di luar ruangan.Penggunaan background, lingkungan sekolah, jalanan, serta beberapa lokasi outdoor mampu memberikan kesan dunia yang lebih hidup. Beberapa adegan juga terasa lebih sinematik dibandingkan ketika menontonnya dalam format serial televisi.Visual tersebut semakin membantu membangun suasana romantis yang menjadi bagian penting dari film.Ketika film membutuhkan suasana hangat dan tenang, visualnya mampu mendukung. Ketika memasuki adegan komedi, ekspresi karakter juga menjadi elemen penting yang membuat humor terasa lebih kuat.Versi Padat yang Lebih Fokus dan SinematikSalah satu hal yang perlu dipahami sebelum menonton film ini adalah bahwa The Dangers in My Heart The Movie bukanlah sebuah cerita yang sepenuhnya berdiri sebagai kelanjutan baru dari serialnya.Film ini lebih terasa sebagai versi padat dari perjalanan cerita yang sudah kita kenal, dengan fokus yang lebih diarahkan pada hubungan dan perkembangan karakter utama.Karena durasinya lebih terbatas dibandingkan dua season serial, beberapa bagian tentunya harus dirangkum atau dipadatkan. Namun, keputusan tersebut justru membuat film terasa lebih fokus.Film dapat memilih momen-momen penting yang ingin ditonjolkan tanpa harus terlalu lama berada pada subplot tertentu.Yang membuatnya semakin menarik adalah adanya beberapa adegan baru setelah Season 2. Materi tambahan tersebut memberikan alasan tersendiri bagi penggemar lama untuk kembali melihat perjalanan Kyotaro dan Anna dalam format layar lebar.Dengan penyajian yang lebih sinematik, beberapa momen yang sebelumnya dinikmati dalam episode serial mendapatkan kesempatan untuk terasa lebih spesial ketika ditempatkan dalam format film.KesimpulanThe Dangers in My Heart The Movie mungkin tidak menawarkan cerita yang kompleks ataupun konflik besar. Namun, film ini membuktikan bahwa sebuah cerita sederhana tetap bisa menjadi tontonan yang menarik apabila dikembangkan dengan karakter yang kuat, chemistry yang bagus, serta komedi yang tepat.Cerita yang sederhana berhasil dikembangkan menjadi kisah romance-comedy yang lucu, hangat, dan menyenangkan. Jokes-jokes yang diberikan juga mampu sampai kepada penonton dan menghasilkan beberapa momen yang benar-benar mengundang tawa.Penampilan para seiyu menjadi nilai tambah karena mampu memerankan karakter mereka dengan cocok dan menjaga chemistry antarkarakter tetap terasa.Bagi penggemar serialnya, film ini bisa menjadi kesempatan untuk kembali menikmati hubungan Kyotaro dan Anna dalam format layar lebar. Sedangkan bagi SOBAT KTF yang menyukai anime romance-comedy dengan humor ringan dan karakter yang menggemaskan, film ini tetap menawarkan pengalaman yang menyenangkan.

Rahmadandi Desky Prayuda 05 Sep 2026
Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!
NEWS

Pesan Menusuk Hati Fanny Kondoh untuk Mendiang Suami Usai Nonton, Bikin Gala Premiere ‘Baby Udon’ di Jakarta Banjir Air Mata!

Suasana megah di CGV Grand Indonesia mendadak pecah oleh isak tangis histeris pada penyelenggaraan Gala Premiere film layar lebar paling dinantikan tahun ini, dari Sumargo Film dan LYTO Pictures, Baby Udon.Ruang bioskop yang disulap berhiaskan instalasi pohon sakura mekar, sebagai tribut mengenang mendiang Hajime Kondoh, berubah menjadi lautan air mata sesaat setelah film selesai diputar.Puncaknya terjadi pada sesi press conference usai penayangan. Sambil mendekap erat sang buah hati, Kazuki atau yang akrab disapa KazKaz, content creator Fanny Kondoh melontarkan pengakuan mengharukan yang seketika membuat ratusan pasang mata yang hadir di studio meneteskan air mata."Teruntuk suami tercintaku, aku berharap kamu bisa melihat sebanyak apa orang di sini yang merayakan kisah cinta dan perjuangan kita untuk KazKaz. Film ini ada untuk mengenangmu, dan agar KazKaz bisa tahu kalau ayahnya adalah sosok yang luar biasa," ucap Fanny dengan suara bergetar dan berurai air mata, membuat seluruh awak media dan tamu undangan ikut menangis tersedu-sedu. Momen haru tersebut sekaligus menjadi saksi pertaruhan besar karier Denny Sumargo. Bersama sang istri, Olivia Sumargo, Denny resmi menandai debut perdana mereka sebagai produser di industri film Indonesia.Bukan hanya modal nama, Densu bahkan rela memangkas habis rambutnya hingga botak licin dan menonton rekaman sakratul maut asli mendiang Hajime demi menyajikan akting yang menghipnotis penonton."Sebagai produser pertama kali, saya nggak nyangka efeknya bakal sehancur ini di hati penonton. Dari tur di berbagai kota kemarin, saya lihat sendiri orang-orang keluar studio sambil nangis sesenggukan. Alasan terbesar saya bikin film ini cuma satu: nggak mau mengecewakan amanah Fanny dan Hajime. Kisah ini bukan sekadar tontonan, tapi pelukan hangat buat siapa pun yang pernah kehilangan," tegas Denny Sumargo, Produser dari Sumargo Film, di hadapan awak media."Kami amat bangga bisa membawa film Baby Udon ke penonton Indonesia. Semoga cerita yang mengharukan dan indah dari Bu Fanny Kondoh dan Almarhum Bapak Hajime Kondoh bisa memberikan kesan yang baik dan menginspirasi banyak orang," kata Andi Suryanto, selaku Produser dari LYTO Pictures.Gala Premiere spektakuler ini turut dihadiri sederet bintang ternama tanah air, mulai dari jajaran produser Denny Sumargo, Olivia Sumargo, Andi Suryanto, dan Marcella Daryanani, hingga deretan pemeran utama seperti Caitlin Halderman, Ayya Renita, Putri Ayudya, Alfie Alfandy, Miyu Okazaki, Hiroaki Kato, Royhan Hidayat, Hafni Thalib, dan Alexandra Valerie.Selain di Jakarta, film ‘Baby Udon’ telah menggelar Gala Premiere di 7 (Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, Banjarmasin, Palembang, Medan) kota sampai saat ini. Tidak berhenti di sini, tur Gala Premiere dan Meet & Greet masih akan berlanjut ke Makassar (Nipah XXI) dan akan ditutup di Bali (Level 21 XXI).Film Baby Udon dipastikan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Penonton juga bisa menikmati promo terbatas Buy One Get One Free (BOGOF) khusus untuk hari pertama penayangan di aplikasi tiket MTIX.Intip cuplikan viral, trailer resmi, dan informasi tiket di akun Instagram @filmbabyudon, @sumargofilm, dan @lytopictures.

Admin Kupas Tuntas Film 30 Aug 2026
Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini
NEWS

Dewan Kesenian Jakarta Hadirkan Pameran Asrul Sani, Membuka Kembali Arsip, Karya, dan Pemikirannya untuk Generasi Hari Ini

Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung 21–30 Agustus 2026, menghadirkan pameran arsip, pemutaran film, diskusi, dan dramatic readingJakarta, 26 Agustus 2026 – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkan pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini tidak hanya menghadirkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani, tetapi juga mempertemukannya dengan publik hari ini melalui pemutaran film, diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, dalam sambutannya pada pembukaan acara, 21 Agustus 2026, mengatakan bahwa menghadirkan kembali Asrul Sani melalui pameran bukan sekadar kegiatan mengenang seorang tokoh, tetapi merupakan usaha untuk mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi hari ini. “Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin. Ia menulis puisi, menerjemahkan karya-karya dunia, membangun pendidikan teater, menulis skenario, menyutradarai film, dan terlibat dalam berbagai institusi kebudayaan. Kami ingin mengajak publik melihat Asrul bukan hanya sebagai nama besar dari masa lalu, tetapi sebagai seorang seniman yang cara berpikir dan keberanian berkaryanya masih penting untuk dibicarakan hari ini. Pameran ini adalah salah satu cara DKJ membuka kembali arsip tersebut agar ia tidak berhenti sebagai ingatan, melainkan menjadi percakapan baru,” katanya.Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan. Karena itu, pameran ini tidak hanya menempatkannya sebagai maestro film, tetapi sebagai seorang polimatik yang bekerja lintas-medium. Melalui arsip dari Komisi Koleksi dan Arsip DKJ, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Sinematek Indonesia, dan arsip keluarga, publik diajak melihat kembali perjalanan gagasan Asrul sekaligus menemukan relevansinya dengan kebudayaan hari ini.Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi rangkaian program yang memperluas pembacaan terhadap Asrul Sani. Pada 22 Agustus, diskusi “Perempuan dalam Karya Asrul Sani” membicarakan bagaimana perempuan hadir dan direpresentasikan dalam karya-karyanya. Sehari kemudian, “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak generasi hari ini membaca kembali karya dan pemikiran Asrul dalam konteks yang berbeda. Pembahasan kemudian bergerak pada persoalan kepengarangan melalui “Asrul Sani sebagai Auteur: Membaca Ulang Visi Penyutradaraan & Skenario”, yang menghadirkan sineas Riri Riza dan Gina S. Noer, serta pada 30 Agustus ditutup dengan diskusi “Asrul Sani dan Inovasi Arsip” yang membicarakan bagaimana warisan kebudayaan dapat dirawat dan dihidupkan kembali.Rangkaian diskusi menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman. Kehadiran mereka mempertemukan perspektif dari keluarga dan generasi penerus, penulis, sineas, hingga pengelola arsip untuk membaca Asrul Sani tidak sebagai sosok yang telah selesai, melainkan sebagai bagian dari percakapan kebudayaan yang masih berlangsung. Rangkaian diskusi dikuratori dalam kerangka pameran oleh S. Metron Masdison.Kurator pameran, S. Metron Masdison, mengatakan bahwa pameran ini melihat Asrul Sani sebagai pengarang yang bergerak lintas-medium. “Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium. Ia seorang polimatik. Karena itu, kepengarangannya dalam film tidak hanya berada pada film-film yang ia sutradarai, tetapi juga pada cerita dan skenario yang ia tulis"Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran film yang memperlihatkan luasnya keterlibatan Asrul dalam sinema Indonesia. Program screening menghadirkan, Terimalah Laguku (1953), Pagar Kawat Berduri (1961), Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969), Jembatan Merah (1973), Ibu Sejati (1973), Kemelut Hidup (1977), Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu) (1982), Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Nagabonar (1987), Omong Besar (1988), dan Nada dan Dakwah (1991). Pemutaran ini menjadi kesempatan bagi publik untuk kembali berhadapan langsung dengan karya-karya yang memperlihatkan perhatian Asrul terhadap manusia, moralitas, perubahan sosial, dan persoalan zamannya.Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan Pembacaan Esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kembali karya dan pengalaman Asrul dengan medium pertunjukan. Program ini sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan kreatif Asrul tidak dapat dipisahkan dari dunia teater yang turut ia bangun melalui Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).Melalui pameran ini, DKJ mengajak publik tidak sekadar mengenang Asrul Sani, tetapi bertemu kembali dengan karya dan pertanyaan yang ia tinggalkan. Dari arsip, film, diskusi, hingga dramatic reading, publik dapat melihat bagaimana seorang seniman yang hidup dan berkarya dalam masa perubahan besar Indonesia terus meninggalkan pengaruh yang dapat dibaca oleh generasi hari ini.Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, terbuka untuk publik dan gratis. Pameran berlangsung 21–30 Agustus 2026 di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Informasi lengkap mengenai jadwal kegiatan dan cara pendaftaran dapat diakses melalui Instagram @jakartacounci

Admin Kupas Tuntas Film 26 Aug 2026
VIDEO
Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!
MOVIE
4.0

Dear You Film Keluarga Yang Hangat, Sederhana, tapi Diam-Diam Menghantam Perasaan!

Ada film yang sejak awal memang ingin membuat penontonnya menangis. Namun, ada juga film yang tidak perlu melakukan itu karena ceritanya sendiri sudah cukup kuat untuk membuat kita tersentuh. Dear You (2026) termasuk salah satunya.Disutradarai sekaligus ditulis oleh Hongchun Lan, Leng Yang, Xuanxuan Zheng, dan Liyun Zhu, film ini menghadirkan sebuah cerita yang terasa hangat dan manusiawi.Dibintangi oleh Sitong Li sebagai Xie Nanzhi, Yantong Wang sebagai Zheng Musheng, Shaoqing Wu sebagai Old Ye Shurou, Runqi Zheng sebagai Xiaowei, Xiaohui Wang sebagai Young Ye Shurou, Shuguang Zhao sebagai Xie Zehua, Deru Li sebagai Auntie Ru, Shuhao Li sebagai Father of Chuyuan, serta Usha Seamkhum sebagai Old Xie Nanzhi, film ini perlahan mengajak penonton mengikuti perjalanan hidup para karakternya.Film ini tidak menawarkan cerita yang spektakuler atau penuh kejutan, tetapi karena film ini berhasil memberikan banyak rasa dalam satu cerita.Filmnya Terasa Hangat Hal pertama yang paling terasa dari Dear You adalah kehangatannya.Film ini punya kemampuan untuk membuat penonton tersenyum, tertawa, terharu, bahkan merasa sedikit sesak di beberapa momen. Menariknya, semua emosi tersebut muncul dengan cukup natural.Film ini tidak terasa seperti sedang memaksa kita untuk menangis. Tidak ada adegan yang terasa sengaja dibuat terlalu melodramatis hanya demi mendapatkan air mata penonton. Sebaliknya, emosi dibangun perlahan melalui hubungan antarkarakter, pengalaman hidup, pilihan yang mereka ambil, serta berbagai hal sederhana yang mereka lalui.Justru karena tidak terlalu memaksa, ketika sebuah adegan emosional datang, dampaknya terasa lebih kuat.Ada sesuatu yang sederhana tetapi relatable dari perjalanan para karakternya. Kita bisa melihat bagaimana waktu, keadaan, hubungan, dan berbagai keputusan dalam hidup perlahan membentuk seseorang.Dan ketika melihat perjalanan tersebut sampai ke titik tertentu, kita sebagai penonton seolah ikut merasakan perjalanan hidup mereka.Jalan Ceritanya Mudah Untuk DiikutiSalah satu kekuatan Dear You adalah cara film ini bercerita.Alurnya memang cenderung pelan. Jadi, buat penonton yang terbiasa dengan film dengan tempo cepat atau cerita yang dipenuhi konflik besar, mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian.Namun, menurut minpas justru tempo yang pelan ini menjadi salah satu kekuatan film.Dear You tidak terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Film memberikan cukup banyak ruang bagi para karakter untuk berkembang dan bagi penonton untuk mengenal mereka.Ceritanya juga tidak dipenuhi twist yang aneh-aneh atau kejutan yang sengaja dimasukkan hanya untuk membuat penonton terkejut.Sebaliknya, film memilih untuk membangun cerita dari hal-hal sederhana.Setiap adegan terasa memiliki fungsi. Perlahan-lahan kita mulai memahami siapa mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.Karena itulah ketika cerita akhirnya sampai pada bagian-bagian emosionalnya, kita sudah cukup peduli terhadap karakter-karakternya.Jadi, meskipun secara premis cerita Dear You mungkin terdengar sederhana, eksekusinya membuat perjalanan tersebut tetap menarik untuk diikuti.Akting Para Pemain yang MeyakinkanDari sisi akting, para pemain Dear You juga memberikan performa yang cukup solid.Sitong Li sebagai Xie Nanzhi mampu membawa karakter tersebut dengan cukup natural. Begitu juga dengan Yantong Wang sebagai Zheng Musheng yang mampu memberikan dinamika menarik dalam hubungan antarkarakter.Namun, salah satu hal yang menurut MINPAS patut diapresiasi adalah pemilihan pemeran untuk karakter dalam versi muda dan tua.Kemiripan fisik antara pemeran karakter ketika masih muda dengan versi mereka ketika sudah tua terasa cukup meyakinkan. Hal ini memang terlihat seperti detail kecil, tetapi sangat membantu menjaga kontinuitas cerita.Ketika sebuah karakter diperlihatkan dalam dua fase kehidupan yang berbeda, kita tidak merasa sedang melihat dua orang yang benar-benar berbeda. Ada kemiripan dari wajah maupun aura yang membuat perjalanan waktu dalam cerita terasa lebih masuk akal.Selain itu, performa para pemain juga terasa pas dengan karakter masing-masing. Tidak ada yang terasa terlalu berlebihan atau berusaha mencuri perhatian.Semuanya bermain dalam porsinya masing-masing dan saling melengkapi.Punya Visual yang CantikSelain ceritanya yang hangat, Dear You juga menawarkan visual yang cantik.Film ini membawa penonton kembali ke atmosfer China pada era 1950-an hingga 1970-an, dan detail periodenya terasa cukup hidup.Mulai dari kostum, lingkungan, suasana kota, interior tempat tinggal, hingga berbagai detail kecil yang ada di dalam frame, semuanya membantu membangun atmosfer zamannya.Film tidak hanya sekadar mengganti pakaian karakter dengan kostum klasik, tetapi juga berusaha membuat dunianya terasa seperti sebuah tempat yang benar-benar ditinggali oleh para karakter.Sinematografinya pun terasa nyaman untuk dinikmati, penggunaan warna dan pencahayaan mendukung nuansa hangat yang menjadi salah satu identitas film ini. Ada banyak shot yang terasa sederhana, tetapi tetap indah karena mampu menangkap atmosfer dan emosi dari sebuah adegan.Visualnya tidak terasa terlalu berlebihan atau dibuat hanya untuk terlihat cantik. Justru kesederhanaannya yang membuat Dear You terasa semakin dekat dengan cerita yang ingin disampaikan.Film Yang Punya Banyak RasaHal menarik lainnya adalah bagaimana Dear You mampu mencampurkan berbagai macam emosi tanpa membuatnya terasa berantakan.Ada komedi yang bisa membuat kita tersenyum, ada juga momen-momen romantis yang terasa manis.Ada pula drama keluarga dan kehidupan yang perlahan membawa cerita ke arah yang lebih emosional.Perpindahan dari satu emosi ke emosi lainnya juga terasa cukup natural. Film tidak terus-terusan berada dalam suasana sedih, sehingga ketika sebuah momen emosional datang, efeknya justru terasa lebih kuat.Inilah salah satu alasan mengapa Dear You bisa terasa begitu hangat.Film ini seperti mengingatkan kita bahwa kehidupan tidak pernah hanya berisi satu jenis emosi.Ada bahagia, ada sedih, ada kehilangan, ada tawa, ada penyesalan, dan ada kenangan yang tetap tinggal meskipun waktu terus berjalanEnding yang PasBagian ending juga menjadi salah satu hal yang membuat film ini berhasil.Dear You tidak memilih untuk menutup ceritanya dengan cara yang terlalu berlebihan, film ini memberikan sebuah penyelesaian yang terasa sesuai dengan perjalanan yang sudah dibangun sejak awal, tidak perlu terlalu banyak drama tambahan atau memaksakan twist besar, tapi setelah film selesai, ada perasaan seperti masih ingin memikirkan perjalanan mereka.KesimpulanDear You adalah salah satu film Asia yang paling berkesan tahun ini. Film ini memang sederhana, alurnya juga cenderung pelan dan tidak menawarkan banyak kejutan besar , justru kesederhanaan tersebut yang menjadi kekuatannya.Dear You adalah film yang hangat, lucu, sedih, romantis, dan menyentuh tanpa terasa menggurui.Film ini tidak memaksa kita untuk mencintai karakternya tapi film ini hanya memberikan waktu kepada kita untuk mengenal mereka, mengikuti perjalanan mereka, dan akhirnya membiarkan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.Untuk SOBAT KTF yang suka dengan genre film keluarga yang hangat, Dear You layak banget masuk daftar tontonan kalian.

Abdul Haris 08 Aug 2026
GJLS: Berapi-Api Rilis Teaser Trailer, Tiba-tiba Hadirkan Arya Saloka, Baim Wong dan Chicco Jerikho!
NEWS

GJLS: Berapi-Api Rilis Teaser Trailer, Tiba-tiba Hadirkan Arya Saloka, Baim Wong dan Chicco Jerikho!

Jakarta, 3 September 2026 — Rumah produksi Amadeus Sinemagna bersama GJLS Entertainment resmi merilis Teaser Trailer film layar lebar kedua mereka, GJLS: Berapi-Api, yang dijadwalkan meluncur serentak di bioskop mulai 5 November 2026.Kini siap melawan si jago merah sebagai pemadam kebakaran (damkar), trio GJLS; Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir, tampil gagah berseragam khas petugas damkar dalam film komedi terbaru mereka ini. Plot Twist Skala Nasional: Kejutan Munculnya Nama 3 Aktor Papan AtasNamun, ilusi kekerenan tersebut runtuh tanpa ampun saat teaser trailer mulai diputar.Bukannya aksi penyelamatan yang dramatis, penonton langsung disuguhi kemunculan mendadak nama-nama para bintang besar perfilman tanah air; Arya Saloka, Baim Wong dan Chicco Jerikho. Ingat ya, hanya kemunculan namanya saja. Di bawah arahan sutradara Monty Tiwa, film ini membuktikan ambisinya meramu formula multi-genre: dinamika persahabatan, intrik misteri misi penyelamatan, ketegangan kobaran api, hingga letupan romansa yang dibalut humor spontan tanpa rem.Untuk film kami kali ini, saya dan teman-teman GJLS harus melewati persiapan yang lebih serius, bahkan sampai harus menjalani pelatihan sebagai pemadam kebakaran. Melalui film ini, kami tidak hanya ingin membawakan komedi khas GJLS saja, tapi juga cerita tentang persahabatan yang bisa dekat dengan semua orang," seloroh Rigen Rakelna, pemeran utama sekaligus salah satu pendiri GJLS Entertainment.Monty Tiwa: Mengharmoniskan Drama, Aksi, dan Kekalapan AlamiSineas kawakan Monty Tiwa kembali dipercaya menjinakkan liarnya dinamika trio ini dari bangku sutradara."Di film kedua ini, menjadikan trio GJLS sebagai petugas damkar itu ibarat menyalakan korek api di samping tabung gas bocor: langsung meledak secara organik. 'GJLS: Berapi-Api' bukan cuma soal komedi slapstick, tapi ada benang merah pertaruhan persahabatan, misteri, serta aksi yang menghibur yang kami kemas rapi," tutur Monty Tiwa. Peringatan Bahaya: Segera Amankan KursimuGJLS: Berapi-Api resmi tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 5 November 2026.Teaser trailer resmi GJLS: Berapi-Api kini sudah mengudara di kanal YouTube Amadeus Sinemagna. Ikuti perkembangan informasi terkini tanpa perlu panik melalui akun Instagram @sinemagna, @gjlsberapiapi, @gjlsentertainment..

Admin Kupas Tuntas Film 04 Sep 2026
Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!
NEWS

Komedinya Gila, Dramanya Bikin Hati Hangat, Film Agensi Rumah Tangga Satukan Enzy Storia dan Afgan dengan Rekor 7 Komika Perempuan di Satu Layar!

Tonton film Agensi Rumah Tangga mulai 10 September 2026 di bioskop!! Jakarta, 3 September 2026 — Setelah sukses dengan drama komedi dan drama keluarga, sutradara pencetak blockbuster Naya Anindita kini menggarap film komedi perdananya, Agensi Rumah Tangga, persembahan Starvision, bekerjasama dengan Legacy Pictures, Vortera Studios, dan Navvaros, dari produser Chand Parwez Servia. Film Agensi Rumah Tangga diadaptasi dari novel best seller Almira Bastari, dengan naskah yang ditulis oleh Upi dan Ayu Anggraini Putri. Film ini membawa kisah yang hangat dari Katia (Enzy Storia), yang kena PHK dan akhirnya membangun bisnis agensi penyaluran pekerja rumah tangga. Film Agensi Rumah Tangga menjadi eksplorasi terbaru Naya dengan genre komedi, yang menampilkan jajaran komika perempuan sebagai para ART yang ikonik. Mereka berhasil menyampaikan komedi-komedi baik secara dialog hingga adegan dengan penuh kekacauan yang membuat penonton terhibur dan ngakak.“Ini pertama kalinya ada 7 komika perempuan bermain dalam satu judul film. Agensi Rumah Tangga akan membuat penonton menikmatinya dengan cerita yang seru, komedi yang kocak, dan drama yang menyentuh,” ujar produser Chand Parwez Servia.Tak hanya menampilkan komedi, film Agensi Rumah Tangga juga membawa isu yang penting dan dekat. Lewat jajaran para pekerja rumah tangga serta para karakter pekerja perempuan, film ini juga berbicara mengenai pentingnya memberikan kelayakan hak untuk para pekerja domestik.“Aku melihat ART itu terkadang dianggap seperti sebuah fasilitas dalam rumah tangga. Padahal mereka ini juga pekerja, staf, sama seperti kita yang juga pekerja. Untuk itu, film ini juga ingin memantik diskusi bahwa sudah seharusnya kita memperlakukan para ART juga sama seperti kita. Film ini membawa kisah yang penting, meski dikemas dengan ringan dan komedi,” ujar sutradara Naya Anindita.Agensi Rumah Tangga dibintangi oleh Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, Unique Priscilla, Tike Priatnakusumah, Nada Novia, Dea Panendra, Astrid Juwita, Nury Zhafira, Farrell Rafisqy, Khalif Al Juna, Sheila Dara, Hesti Purwadinata, Lulu Tobing, Febby Rastanty, Dayu Wijanto, Nazira C Noer, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Niky Putra, Mario Caesar, Kev, Oline Mendeng, Yono Bakrie, Marchella FP, Rendha Rais, Reza Chandika, Arvino Ramadhan, Oki DM, Anyun Cadel, Elia Margaretha, Yudha Brajamusti, McDanny, Shela Lala, Vadie Akbar, Dian Iyoy, dll. Sementara itu, jajaran komika perempuan terbanyak hadir di film ini, mereka di antaranya adalah Ummi Quary, Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, Priska Baru Segu, Nury Zhafira, dan Mega Salsabila.“Ini cerita yang relate dan semoga untuk yang menonton jadi lebih bisa menghargai kerja para ART yang sudah banyak membantu pekerjaan sehari-hari kita. Film ini juga punya komedi yang sangat lucu dengan komedi-komedi yang diberikan para komika perempuannya. Semoga hangat dan tawanya sampai ke hati penonton,” ujar Enzy Storia.“Film Agensi Rumah Tangga menjadi penanda yang spesial bagi saya karena bertepatan dengan 18 tahun saya merayakan perjalanan bermusik. Di tahun ini, Naya memberikan kesempatan saya untuk mengeksplorasi tantangan baru lewat peran Kafka di film ini, bergabung bersama para pemeran yang luar biasa, dan ceritanya yang hangat, komedinya juga sangat menghibur,” ujar Afgansyah Reza.Ikuti perkembangan terbaru film Agensi Rumah Tangga melalui Instagram @FilmAgensiRumahTangga, @Starvisionplus, @LegacyPictures, @VorteraStudios, @Navvaros.entertainment dan TikTok @StarvisionOfficial.

Admin Kupas Tuntas Film 03 Sep 2026